Selasa, 25 Mei 2021

Al-Quran di Tanah Betawi (1)

Maraknya kasus ustadz atau muballigh yang melakukan kesalahan dalam membaca Al-Qur’an mengingatkan saya tentang pembalajaran baca Al-Quran di Betawi, yang diistilahkan oleh orang Betawi dengan belajar alip-alipan.

 

Bagi orang Betawi, belajar baca Al-Qur’an itu sebuah keharusan yang dilakukan sejak kanak-kanak. Sejarah tentang Al-Qur’an dan membaca Al-Qur’an di tanah Betawi sama tuanya dengan sejarah masuknya Islam di tanah Betawi.

 

Syekh Quro, Ulama Pembawa Al-Quran Pertama ke Tanah Betawi

 

Awal masuknya Al-Qur’an di tanah Betawi dibawa oleh penyebar pertama agama Islam di Betawi, seorang ulama asal Campa, yang bernama Syekh Quro ke wilayah Karawang. Pandangan ini disampaikan oleh Ridwan Saidi pada acara Halaqah Betawi Corner di JIC, Rabu, 4 Maret 2009 M.

 

Ridwan Saidi menulisnya “Syekh Kuraa”. Sedangkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karawang, Jawa Barat menulisnya dengan Syekh Quro sebagaimana yang dijelaskan dan dokumen tertulis yang diserahkan kepada JIC pada penelitian lanjutan Genealogi Intelektual Ulama Betawi, Senin, 18 Oktober 2010.

 

Menurut Ridwan Saidi, wilayah Karawang termasuk dalam wilayah kebudayaan Betawi. Selain Karawang, wilayah lainnya yang masuk dalam wilayah kebudayaan Betawi adalah Bekasi, Bogor, Depok, Tangerang dan DKI Jakarta.

Diterimanya Syekh Quro oleh orang Betawi di Karawang karena dia adalah orang Campa. Menurut Ridwan Saidi, orang Campa adalah orang Melayu yang pernah memiliki kerajaan. Mereka mempunyai hubungan erat dengan orang-orang Malabar yang juga akrab dengan orang-orang di Jawa bagian barat sejak kurun sebelum Masehi.

 

Orang Campa dan Betawi sudah biasa dengan kehidupan yang pluralis. Maka transformasi nilai-nilai Islam ke aorta komunitas Betawi tidak mengalami kesulitan. (Ridwan Saidi, Potret Budaya Manusia Betawi, [Jakarta, Perkumpulan Renaissance Indonesia: 2011], cetakan ke-1, halaman 117).

 

Kisah orang Campa yang menyiarkan Islam di Karawang tidak hanya berhenti pada Syekh Quro. Di Batu Jaya, Karawang, terdapat sebuah makam yang dihormati berlokasi di tepi kali Citarum. Makam itu adalah makam Guru Toran yang berdarah Campa.

 

Nama lain Syekh Quro adalah Syekh Qurotul `Ain, Syekh Mursyahadatillah, atau Syekh Hasanuddin. Ia dipanggil Syekh Quro karena ia ahli ngaji atau qira`at yang sangat merdu. (Jojo Sukmadilaga, dkk, Ikhthisar Sejarah Singkat Syekh Qurotul`Ain, [Karawang, Mahdita: 2009 M], cetakan ke-1, halaman 10). Tidak diketahui mengapa ia dipanggil Syekh Qurotul`Ain atau Syekh Mursyahadatillah. Sedangkan nama Syekh Hasanuddin diyakini sebagai nama aslinya.

 

Syekh Quro adalah putra dari salah seorang ulama besar di Makkah, yaitu Syekh Yusuf Siddik yang menyebarkan agama Islam di Campa. Syekh Yusuf Siddik masih keturunan Sayidina Husain bin Sayyidina Ali Karamallaahu wajhah.

 

Tidak diketahui dengan pasti tentang riwayat masa kecil Syekh Quro. Sumber tertulis hanya menjelaskan bahwa pada tahun 1409 Masehi, setelah berdakwah di Campa dan Malaka, Syekh Quro mengadakan kunjungan ke daerah Martasinga Pasambangan dan Japura hingga akhirnya sampai ke pelabuhan Muara Jati, Cirebon.

 

Kedatangan Syekh Quro disambut dengan baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati yang masih keturunan dari Prabu Wastu Kencana. Demikian juga masyarakat di daerah tersebut yang sangat tertartik oleh sifat, sikap, dan ajaran yang disampaikan oleh Syekh Quro sehingga mereka banyak yang menyatakan memeluk agama Islam.

 

Kegiatan dakwah yang dilakukan Syekh Quro ini ternyata sangat mencemaskan Raja Pajajaran yang ketika itu dijabat oleh Prabu Anggalarang. Syekh Quro diminta oleh Raja Pajajaran ini untuk menghentikan kegiatan dakwahnya. Permintaan ini dipatuhi oleh Syekh Quro.

 

Tidak lama kemudian, Syekh Quro memohon pamit. Ki Gedeng Tapa sendiri merasa prihatin atas peristiwa yang menimpa ulama-ulama besar itu. Sebab, ia pun ingin menambah pengetahuannya tentang agama Islam. Oleh karenanya, ketika Syekh Quro kembali ke Campa, putrinya yang bernama Nyi Mas Subang Larang dititipkan ke Syekh Quro untuk dididik agama Islam di Campa.

 

Beberapa tahun kemudian, Syekh Quro kembali ke wilayah Pajajaran. Ia kembali bersama pengiringnya menumpang kapal yang dipimpin Laksamana Cheng Ho dalam perjalanannya menuju Majapahit. Dalam pelayarannya itu, armada Cheng Ho tiba di Pura Karawang, Syekh Hasanuddin beserta para penggiringnya turun di Karawang. (Cik Hasan Bisri, Yeti Heryati, dan Eva Rufaidah (ed.), Pergumulan Islam dengan Kebudayaan Lokal di Tatar Sunda, [Bandung, Kaki Langit: 2005 M], cetakan ke-1, halaman 49).

 

Di antara anggota pengiringnya tersebut adalah Nyi Mas Subang Larang, Syekh Abdul Rahman, Syekh Maulana Madzkur, dan Syekh Abdillah Dargom alias Darugem alias Bentong bin Jabir Mudofah.

 

Karena perilaku yang simpatik, pada tahun 1418 M, Syekh Quro dan pengiringnya diberikan izin oleh aparat setempat untuk mendirikan mushalla sebagai sarana ibadah sekaligus tempat tinggal, yang menjadi pondok pesantren di pertama di Karawang bahkan mungkin di Indonesia. Mushalla ini juga menjadi cikal bakal Masjid Agung Karawang sekarang ini. (Sukmadilaga, 2009 M: 11).

 

(bersambung...)

 

Rakhmad Zailani Kiki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar