Jumat, 14 Agustus 2020

(Ngaji of the Day) Ciri-ciri Orang Munafiq dalam Al-Qur’an

Ciri-ciri Orang Munafiq dalam Al-Qur’an

 

Manusia dikaruniai akal dan hati. Karenanya manusia memiliki dua potensi, kadang positif dan kadang negatif. Potensi positif timbul akibat penggunaan anugerah sebagaimana digariskan oleh Allah. Potensi negatif timbul seiring manusia lebih condong pada menuruti hawa nafsunya dibanding mengikuti petunjuk dari Penciptanya. Itulah sebabnya, Allah SWT berfirman:


وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ


Artinya, "Sebagian dari manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir.’ Padahal mereka tiada beriman." (Surat Al-Baqarah ayat 8).


Menurut At-Thabary (w 310 H), para ahli ta’wil bersepakat bahwa Surat Al-Baqarah ayat 8 ini menjelaskan karakteristik kaum munafiq. Al-Baghawy (w 516 H) dalam kitab tafsirnya juga sepakat dengan At-Thabary. Secara khusus, Al-Baghawy menyebut bahwa ayat ini menjelaskan mengenai orang munafiq:

 

نَزَلَتْ فِي الْمُنَافِقِينَ(٢) عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيِّ بْنِ سَلُولٍ، وَمُعَتِّبِ بْنِ قُشَيْرٍ، وَجَدِّ بْنِ قَيْسٍ وَأَصْحَابِهِمْ حَيْثُ أَظْهَرُوا كَلِمَةَ الْإِسْلَامِ لِيَسْلَمُوا مِنَ النَّبِيِّ وَأَصْحَابِهِ وَاعْتَقَدُوا خِلَافَهَا وَأَكْثَرُهُمْ مِنَ الْيَهُودِ


Artinya, “Ayat ini diturunkan untuk menjelaskan kaum munafiqin yaitu Abdullah bin Ubay bin Salul, Mu’attib bin Qusyair, Jad bin Qais beserta rekan-rekannya yang dalam ucapannya telah menyatakan masuk Islam bersama Nabi dan para sahabatnya. Tetapi dalam kenyataan mereka justru memiliki keyakinan sebaliknya. Mayoritas dari kalangan terakhir ini sebelumnya adalah kaum Yahudi,” (Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawy, Ma’alimut Tanzil, [Riyadl, Darut Thayyibah: 1409 H], juz I, halaman 65).


Abu Abdillah Al-Qurthuby (w 671 H) menyebut hal yang sama dengan dua mufassir di atas. Ia menyampaikan sebuah riwayat tafsir dari Mujahid sebagai berikut:


رَوَى ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ: نَزَلَتْ أَرْبَعُ آيَاتٍ مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي الْمُؤْمِنِينَ، وَاثْنَتَانِ فِي نَعْتِ الْكَافِرِينَ، وَثَلَاثَ عَشْرَةَ فِي الْمُنَافِقِينَ


Artinya, “Ibn Juraij telah meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata, ‘Empat ayat Surat Al-Baqarah ini diturunkan dalam menjelaskan kalangan mukminin. Dua di antaranya menjelaskan karakteristik orang kafir. Sedangkan 13 ayat lainnya menjelaskan karakteristik orang kafir,” (Al-Qurthuby, Al-Jami’ul Ahkamil Qur’an, [Beirut, Muassasatur Risalah: 2006 M], jilid I, halaman 293).


Riwayat tafsir ini rupanya juga dipergunakan oleh At-Thabary. Ketika Allah berfirman pada Surat Al-Baqarah ayat 8 ini, yang dengannya disebut “wa minan nas”, maka yang dimaksudkan sebagai an-nas di sini adalah kalangan munafiqin. (Al-Qurthuby, Al-Jami’u li Ahkamil Qur’an, jilid I, halaman 293).

 

Ayat ini masih memiliki korelasi dengan karakteristik orang beriman. Ketika Allah menjelaskan mengenai keutamaan orang-orang mukmin dalam ayat yang diturunkan sebelum-sebelumnya, kaum munafiqin ini membalik-balikkan. Mereka hendak menyebut kesamaan antara mukmin dan kafir. Maka dari itu, Allah membantah pemahaman mereka dengan penggalan ayat:


وما هم بمؤمنين


Artinya, “Tiada mereka termasuk orang-orang yang beriman,” (Surat Al-Baqarah ayat 8).


Orang munafiq Yahudi seolah hendak menyamarkan sifat mulia dari orang beriman ini dengan menggadaikan firman Allah SWT dalam ayat yang lain. Al-Qurthuby menjelaskan pola mereka dalam menggadaikan ayat tersebut sebagai berikut:

 

إِنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَإِنْ لَمْ يَعْتَقِدْ بِالْقَلْبِ، وَاحْتَجُّوا بِقَوْلِهِ تَعَالَى:" فَأَثابَهُمُ اللَّهُ بِما قالُوا" [المائدة: ٨٥]. وَلَمْ يَقُلْ: بِمَا قَالُوا وَأَضْمَرُوا


Artinya, “Sungguh, iman itu adalah pernyataan dengan lisan, meski pun tidak ada keyakinan dalam hati. Mereka berhujjah dengan firman Allah SWT, ‘Allah akan memberi pahala kepada mereka atas pernyataan tersebut,’ (Surat Al-Maidah ayat 85). Mereka tidak mau berkata, ‘Iman itu adalah pernyataan dengan lisan sekaligus yang tersimpan dalam hati mereka,’” (Al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, [Beirut, Muassasatur Risalah: 2006 M], jilid I, halaman 293).


Maka dari itu, Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits mengenai rumusan orang yang beriman, yaitu:


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : (الْإِيمَانُ مَعْرِفَةٌ بِالْقَلْبِ وَقَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ). أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ فِي سُنَنِهِ


Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Iman itu adalah mengenal dengan hati, mengucap secara lisan, dan beramal dengan anggota tubuh,’” (HR Ibnu Majah dalam Kitab Sunannya).


Berdasarkan hadits ini, para ulama sufi berkata:


لَيْسَ الْإِيمَانُ مَا يَتَزَيَّنُ بِهِ الْعَبْدُ قَوْلًا وَفِعْلًا، لَكِنَّ الْإِيمَانَ جَرْيُ السَّعَادَةِ فِي سَوَابِقِ الْأَزَلِ، وَأَمَّا ظُهُورُهُ عَلَى الْهَيَاكِلِ فَرُبَّمَا يَكُونُ عَارِيًّا، وَرُبَّمَا يَكُونُ حَقِيقَةً.


Artinya, “Tiada yang disebut sebagai iman itu adalah cukup dengan menghiasi jiwa seseorang dengan perkataan dan perbuatan, melainkan iman itu adalah melahirkan kebahagiaan dan berlomba-lomba dalam mencapai prestasi negeri akhirat. Pernyataan iman secara lahiriyah saja terkadang menyerupai orang yang telanjang, dan terkadang juga menyatakan hakikat kedirian,” (Al-Qurthuby, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, [Beirut, Muassasatur Risalah: 2006 M], jilid I, halaman 294).


Walhasil, dilihat dari sisi penafsiran versi zaman sekarang, ayat di atas tidak digunakan untuk menghukumi atau menuding orang lain sebagai munafiq atau mukmin. Ayat di atas seolah memberikan gambaran nyata bahwa dalam diri seorang insan ada dua bakat yang saling berseberangan. Bakat itu adalah bakat untuk menjadi seorang mukmin atau sebaliknya bakat menjadi seorang munafiq.


Menurut versi penafsiran ulama sufi yang banyak dinukil oleh Al-Qurthuby, yang dinamakan iman itu bukan penampakan fisik (lahir), melainkan memiliki tiga rukun utama, yaitu, pembenaran dalam hati, mengucap secara lisan, dan beramal dengan memanfaatkan anugerah berupa anggota badan. Wal ‘iyadzu billah min dzalik. Wallahu a’lam bis shawab. []

 

Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah–Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Jawa Timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar