Natal
Politik Cinta
Oleh:
Yudi Latif
Kemunculan
pemerintahan Joko Widodo dan M Jusuf Kalla ditandai oleh kegairahan musim semi
kesukarelaan yang membangkitkan harapan. Setelah sekian lama jagat politik
Indonesia mengalami lesu darah, kemunculan pemimpin yang saat pemilihan
dipandang relatif otentik mengembalikan darah segar ke jantung politik.
Kehadiran darah segar ini lantas dipompakan ke seluruh tubuh kebangsaan oleh
dorongan semangat perubahan, yang digerakkan simpul-simpul relawan yang
tersebar di seluruh negeri. Tanpa menunggu komando dan janji imbalan,
simpul-simpul relawan ini bergerak serempak, mengatasi keterbatasan logistik
dan jaringan institusi kepartaian. Sontak saja, Indonesia disapu gelombang
partisipasi politik rakyat yang masif, energetik, dan kreatif.
Fenomena
tersebut menunjukkan sumber utama pesimisme dan apatisme publik terhadap
politik di negeri ini tidaklah terletak pada "sisi permintaan" (demand-side) seperti
sering didalihkan para politisi: rendahnya tingkat pendidikan rakyat,
pragmatisme pemilih, serta kurangnya kesadaran politik. Sebaliknya terletak
pada kelemahan "sisi penawaran" (supply-side),
dari ketidakmampuan aktor-aktor politik untuk membangkitkan kepercayaan rakyat.
Sekali ada aktor politik yang dapat dipercaya, kegairahan warga untuk terlibat
secara politik kembali menguat.
Sayang
sekali, bulan madu musim semi pengharapan itu cepat berlalu.
"Pembajakan" kekuasaan oleh kekuatan oportunistik dan investor
politik serta pertikaian berkepanjangan antarkubu politik, yang menyeret
konflik internal dalam lingkaran dalam kekuasaan, meniupkan udara panas ke
jantung politik. Mendapati petinggi politik dengan jiwa kenegarawanan yang
kering, udara panas itu pun cepat membakar ranting jiwa kering, menimbulkan
kebakaran di berbagai lini dengan menyisakan asap tebal di langit kekuasaan.
Ketika
pusat kuasa diliputi kekeringan dan asap tebal yang sulit dipadamkan, sandaran
terakhir yang kita nantikan adalah kedatangan musim hujan penyegaran. Perayaan
Hari Natal bersamaan kembalinya musim hujan semoga bisa membawa hadiah
keberkatan bagi bangsa ini. "Natal tidaklah menjadi Natal tanpa sesuatu
hadiah," tulis novelis Louisa May Alcott. Dan tiada hadiah lebih berharga
daripada cinta. Ia obat bagi yang sakit, lilin bagi kegelapan, harapan bagi
kebuntuan.
Kebanyakan
penyakit ditimbulkan oleh kalbu yang kusut. Kekusutan jiwa dihantarkan ke dalam
tubuh, menimbulkan ketegangan antara hati yang sakit serta tubuh yang sehat,
berujung pada kerontokan. Obat yang paling mujarab untuk sakit mental, menurut
Sigmund Freud, adalah cinta. Sedemikian kuatnya daya kuratif cinta sehingga
Freud memandang "psikoanalisis pada hakikatnya merupakan pengobatan lewat
cinta".
Cinta menimbulkan
banyak perbedaan. Orang yang bangkit dari keterpurukan kerap menuding kasih
orangtua atau gurulah yang memotivasi untuk berubah positif. Secara historis,
Christian compassion
yang mendorong "Politik Etis" di masa kolonial menghadirkan jalan
cinta sebagai koreksi terhadap ketamakan rezim liberalisme. Jalan cinta inilah
yang membuka jalan pembebasan Indonesia.
Cinta
jualah yang menjadi dasar mengada dan menumbuhkan negara-bangsa Indonesia. Bung
Hatta mengingatkan, "Indonesia luas tanahnya, besar daerahnya, dan
tersebar letaknya." Pemerintahan negara semacam itu hanya dapat
diselenggarakan mereka yang mempunyai tanggung jawab yang sebesar-besarnya dan
mempunyai pandangan amat luas. Rasa tanggung jawab itu akan hidup dalam dada
jika kita sanggup hidup dengan memikirkan lebih dahulu kepentingan masyarakat,
keselamatan nusa, dan kehormatan bangsa.
Atas
dasar itu, Bung Karno pernah menyesalkan pudarnya jiwa cinta kerakyatan para
pemimpin kita. "Berapa orangkah dari alam pemimpin Indonesia sekarang ini yang
masih benar-benar 'rakyati' seperti dulu, masih benar-benar 'volks' seperti
dulu?" Padahal, menurut Bung Karno, "Dulu itu kita semua adalah
'rakyati', dulu itu kita semua adalah 'volks'. Api pergerakan kita dulu itu
kita ambil dari dapur apinya rakyat. Segala pikiran dan angan-angan kita dulu
itu kita tujukan kepada kepentingan rakyat. Tujuan pergerakan kita dulu itu
ialah satu masyarakat adil dan makmur bagi rakyat. Segala apa-saja sebagai
hasil penggabungan tenaga rakyat dulu kita pakai sebagai alat perjoangan.
Segenap kekuatan perjoangan kita dulu itu adalah kekuatan rakyat."
Beruntunglah,
di tengah kemarau cinta di aras kekuasaan politik, kita masih menyaksikan
ketahanan daya cinta di masyarakat. Di tengah cengkeraman korupsi, kekerasan,
dan mafioso, negeri ini masih menyimpan banyak pejuang cinta tanpa pamrih, yang
dengan kekuatan cintanya mampu menyirami bumi yang kering, merenda kembali
dunia yang terkoyak. Bahkan Indonesia dinilai sebagai negara yang paling
kreatif dalam menggunakan media sosial untuk gerakan sosial.
Cinta
memperoleh pemenuhannya bukan pada apa yang bisa ia dapatkan, melainkan pada
apa yang bisa ia berikan. Mencintai sesuatu berarti menginginkannya hidup.
"Apa yang kuharap dari anakku, sudahkah kuberikan teladan baginya. Apa yang
kuharap dari rakyatku, sudahkah kupenuhi harapan mereka," ujar Lao Tzu.
Ujian
cinta dibuktikan oleh pengorbanan, seperti Yesus yang siap mengorbankan diri
demi keselamatan warga bumi. Setiap Natal, saatnya mengisi kembali baterai
cinta, dengan menghidupkan jiwa pengorbanan, demi kebaikan dan kesuburan negeri
tercinta. "Cintailah satu sama lain," ujar Yesus dalam Perjanjian
Baru (John 13: 34). Nabi Muhammad menggemakan anjuran ini dengan sabda,
"Engkau akan melihat orang beriman dalam perangai belas kasih, saling
mencintai serta berbagi kebaikan satu sama lain." []
KOMPAS,
29 Desember 2015
Yudi
Latif | Direktur Eksekutif Pusat Studi Pancasila Universitas Pancasila
Tidak ada komentar:
Posting Komentar