Pertanyaan Abadi dan Eksistensial
Oleh: Komaruddin Hidayat
Dari zaman ke zaman selalu muncul pertanyaan, apakah hidup ini
merupakan anugerah yang mesti disyukuri dan dirayakan? Ataukah tragedi yang
pantas disesali dan diratapi? Atau semua ini hanyalah ketidaksengajaan tanpa
skenario?
Jawaban orang pasti berbeda-beda. Begitu pun dalam mengisi waktu
dan jatah umur, seseorang mungkin saja merasa terlalu singkat, terutama bagi
mereka yang usianya sudah memasuki angka 60 tahun. Tapi bagi mereka yang te-ngah
berada di dalam penjara, jalannya waktu dirasakan sangat lambat. Jadi, ukuran
panjang-pendek umur dan waktu sangat berkaitan dengan suasana psikologis
seseorang.
Pada umumnya kalangan teolog dan filsuf berpandangan positif
tentang hidup sekalipun sulit diingkari ada kesan narasi kitab suci yang
menyiratkan bahwa kehidupan di dunia ini merupakan kelanjutan dari kehidupan
Adam yang terusir dari alam surgawi. Dalam pandangan Islam, Adam telah diampuni
dan anak cucunya tidak terbebani dosa asal. Bahkan manusia diberi mandat dan
predikat wakil Tuhan di bumi (khalifatullah fi al-ardhi).
Meskipun begitu tidak dapat diingkari bahwa hidup memang merupakan
serial suka dan duka. Bagi mereka yang berpandangan negatif-pesimistis,
kehidupan ini merupakan serial derita, diawali dengan jeritan tangis ketika
terlahirkan dan diakhiri dengan kesedihan serta kebisuan di ujung
perjalanannya. Di sana terdapat tiga pandangan tentang kehidupan.
Ada yang melihatnya sebagai derita dan kutukan, yang lain
melihatnya sebagai anugerah Tuhan yang mesti disyukuri dan dirayakan. Lalu,
yang ketiga , mereka tidak begitu peduli pada pertanyaan teologis dan
ontologis, yang penting hidup dijalani dengan kesiapan beradaptasi dengan situasi
baru yang menjemputnya Dunia manusia adalah dunia makna.
Manusia bukan sebuah mesin yang bekerja otomatis tanpa motif dan
nilai-nilai yang menjadi acuan dalam setiap geraknya. Manusia senantiasa
bertanya dan mempertanyakan eksistensinya. Makanya agama selalu hadir dan
diperlukan sepanjang zaman karena agama memberikan acuan makna serta tujuan
hidup sekalipun oleh sebagian orang agama tak lebih sebagai mitos dan dongeng
belaka.
Salah satu ciri dan identitas manusia adalah selalu bertanya,
merasa dirinya dikurung misteri, lalu tak pernah berhenti mencari jawaban di
luar kebutuhan dan aktivitas fisiknya. Setelah kebutuhan fisik terpenuhi,
muncul pertanyaan ontologis, semua yang ada ini akhirnya akan menuju ke mana?
Ada lagi pertanyaan etis, adakah nilai kebaikan dari yang kita perjuangkan dan
raih ini?
Dalam ajaran agama-agama besar dunia terdapat doktrin yang sangat
fundamental, yaitu beriman tentang adanya Tuhan dan adanya kehidupan lanjut
setelah kematian. Keyakinan ini membawa implikasi sangat jauh terhadap pikiran
dan perilaku seseorang. Bagi orang beriman, setiap tindakan lalu diniati
sebagai pengabdian kepada Tuhan karena akan membawa implikasi moral pada
kehidupan akhirat kelak.
Apakah tindakannya akan mendekatkan pada surga ataukah neraka,
pada kebahagiaan ataukah penderitaan? Kesadaran transendental di atas
menjadikan dunia manusia lebih luas, melewati batas ruang dan waktu empiris
yang kita ketahui dan jalani selama ini. Dunia manusia tidak lagi sebatas makan
dan minum layaknya dunia nabati dan hewani.
Hidup dan kehidupan tidak bermula dan berakhir dalam batas dunia
ini. Kalau saja kita mau mengamati, merenung, dan membuat refleksi terhadap
semua realitas di sekeliling kita, satu hal yang pasti: semua benda dan
tindakan selalu berkaitan dengan yang lain. Selalu menimbulkan pertanyaan
eksistensial, awal dan akhir dari semuanya ini, pertanyaan alfa dan omega.
Misalnya kita melihat tukang kayu membuat kursi. Kursi baru benar-benar menjadi
kursi ketika ia diduduki.
Jika ada sebuah kursi tetapi tidak pernah diduduki, ia baru
potensial menjadi sebuah kursi. Ketika ada orang duduk di kursi, pertanyaan pun
muncul, untuk kepentingan apa seseorang duduk? Misalnya saja dia duduk untuk
istirahat dan makan. Pertanyaan berikutnya muncul, setelah makan kenyang untuk
apa? Untuk bekerja, misalnya. Kita bertanya lagi, bekerja apa, untuk apa dan
siapa?
Demikianlah seterusnya, setiap tindakan tidak berhenti di situ,
melainkan selalu berada dalam jejaring alam dan sosial. Tidak mungkin kita
berdiri terlepas dari yang lain. Makanya orang yang bersikap
egois-individualistis hanya menunjukkan kepicikannya. Seakan semuanya bisa
dicukupi oleh diri sendiri. Bahkan ketika orang melamun sendiri, dia tetap
membutuhkan objek di luar dirinya untuk dilamunkan.
Ketika orang berbuat baik ataupun jahat, dia tetap memerlukan
objek di luar dirinya untuk menyalurkan kebaikan atau kejahatannya. Dari sudut
pandang agama, sungguh tepat sabda Nabi Muhammad SAW, sebaik-baik manusia
adalah mereka yang paling banyak memberi manfaat bagi sesamanya. Kalaupun tidak
bisa memberi manfaat, minimal jangan merugikan pihak lain.
Dalam sabdanya yang lain disebutkan, berbicaralah yang baik, kalau
tidak bisa lebih baik diam. Ketika agenda hidup dijalani dengan rutin tanpa kesadaran
maknawi, seseorang sesungguhnya sudah mati sebelum mati. Ketika seorang
eksekutif tengah antusias mengejar karier, misalnya, hal itu mesti disertai
pertanyaan kontemplatif, apa ukuran sukses itu?
Bisa jadi ada orang merasa kayaraya, tetapi ketika hidupnya tidak
sempat menaklukkan hartanya dengan membelanjakan di jalan kebaikan dan
kebenaran untuk membantu meringankan beban hidup sesamanya, jangan-jangan dia
tak ubahnya sebagai centeng atau satpam bagi hartanya.
Dia bukan majikan dari hartanya. Ketika ada mahasiswa tengah
berjuang untuk meraih titel sarjana, muncul pertanyaan etis-teologis, untuk
kepentingan apa dan siapa ilmu dan titel yang dikejarnya? Rasulullah
mengingatkan, sebaik-baik ilmu adalah yang paling banyak mendatangkan manfaat bagi
diri dan orang lain.
Bobot ilmu dan titel sarjana akhirnya terletak pada manfaat yang
dibuatnya, bukan jumlah titel yang dikumpulkan, bukan pula jabatan yang
dipeluknya. Aristoteles pernah dibuat kagum dan tercenung ketika mengamati
kebunnya. Bahwa setiap biji pohon ketika disebar dan ditanam, semuanya mengarah
pada tujuan yang pasti. Ada gerak teleologis , berkembang ke depan sesuai
dengan potensinya.
Biji mangga kalau tumbuh akan jadi pohon mangga. Biji beringin
meskipun kecil akan tumbuh jadi pohon beringin yang besar. Lalu bagaimana
halnya dengan manusia? Ternyata manusia memiliki dimensi dan potensi yang tak
terduga. Manusia memiliki nafsu, intelektualitas, imajinasi, dan kemerdekaan
menentukan langkahnya.
Sejarah manusia penuh dengan eksperimentasi, trial and error.
Beruntunglah bangsa yang mau belajar dari kesalahan masa lalu dan kesalahan
bangsa lain lalu tidak mengulangi tindakan serupa. Kecuali bangsa yang bebal.
[]
KORAN SINDO, 11 Desember 2015
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar