Merayakan
Kehidupan
Oleh:
Komaruddin Hidayat
Ada
nasihat sederhana. Kalau kita selalu mengenakan kacamata hitam, dunia
sekeliling juga akan terlihat gelap.
Kacamata
hitam itu sekali-sekali diperlukan untuk meredam cahaya panas dan terang yang
menyilaukan mata. Tapi jangan selalu dipakai. Makanya ada orang yang memiliki
beberapa jenis kacamata untuk dipakai sesuai situasi dan keperluan. Yang tidak
mudah berganti adalah kacamata hati dan pikiran atau mindset. Ini terbentuk
antara lain oleh pendidikan, kebiasaan dan sistem kepercayaan yang pada
urutannya membentuk karakter seseorang.
Misalnya
saja, kita dibuat heran mengapa ada orang yang meledakkan bom bunuh diri untuk
memperjuangkan keyakinan agamanya. Tetapi bagi pelakunya, mungkin sekali itu
dianggap pilihan mulia sebagai jalan terdekat masuk surga, satu kehidupan yang
dibayangkan jauh lebih indah ketimbang hidup di dunia yang baginya
menyengsarakan. Sementara ada orang lain yang berusaha mempertahankan hidup
dengan biaya pengobatan dalam jumlah miliaran karena enggan pisah dari dunia.
Jadi,
kacamata kehidupan yang dipakai jelas berbeda. Sekarang dunia semakin plural.
Akibat perang, terjadi diaspora, orang mencari tempat pengungsian dan kehidupan
ke negara lain, seperti korban perang di Palestina, Libya, Tunisia, Suriah,
Irak, dan Afganistan yang mencari suaka ke Eropa. Pluralitas ini semakin
dirasakan bagi mereka yang aktif malang-melintang di dunia maya.
Dengan
mudahnya melakukan ziarah kultural dan intelektual seantero dunia. Tak hanya
ziarah, tetapi seseorang bebas mau shopping ataupun berdebat menghadapi paham
dan keyakinan yang berbeda. Festival kehidupan semakin meriah dan warna-warni.
Jumlahnegara punsemakinbertambah yang diakui oleh badan dunia, Perserikatan
Bangsa- Bangsa (PBB).
Ide dasar
badan itu didirikan pada 1945 memang untuk mempersatukan dan mendamaikan
hubungan antarbangsa dan negara. Jangan sampai meletus Perang Dunia ke-3. Kalau
terjadi, peradaban akan kembali dari nol lagi. Meski tidak terjadi Perang Dunia
ke-3, nyatanya kedamaian dan keadilan universal masih jauh. Mungkin kedamaian
universal itu sebuah utopia. Tanpa utopia dunia manusia memang menjadi flat,
datar, seperti putaran jarum jam.
Salah
satu tugas sains adalah memprediksi dan merekayasa sejarah masa depan. Tapi
yang namanya prediksi, tetaplah prediksi. Sehebat apa pun kemajuan iptek
supermodern, masa depan manusia tetap mengandung misteri. Unpredictable.
Perkembangan dan penyebaran sains modern telah menciptakan enclave komunitas
akademik yang cenderung seragam di seluruh dunia.
Tetapi,
lagi-lagi, universalisme sains tak mampu menghilangkan keunikan, fanatisme dan
militansi kelompok-kelompok ideologis entah itu berakar pada etnis, agama,
bahasa yang bisa saja mengkristal menjadi kekuatan konspirasi sejak dari
tingkat lokal, nasional, regional bahkan global yang ditopang oleh kekuatan
modal material, tekno-logikal, dan intelektual (economical, technological and
intellectual capital). Man is homo festivus. Manusia itu makhluk yang senang
merayakan festival. Masyarakat dan bangsa manapun senang berfestival.
Ada
festival bunga, kembang api, tarian, dan sekian ragam lainnya. Celakanya, ada
sekelompok orang yang memandang perang juga sebagai festival. Mereka sengaja
menciptakan perang. Mengadu domba antarkelompok bangsa dan agama, agar pabrik
senjata laku. Untuk apa pabrik senjata dibangun, ribuan scientist digaji
tinggi, kalau di muka bumi ini tidak ada proyek peperangan yang menggunakan
senjata modern yang mereka produksi agar dagangannya laku?
Berapa
banyak orang menjadi kaya raya berkat jual-beli senjata? Jadi, bagaimana
mestinya merayakan kehidupan? Jawabannya akan dipengaruhi oleh keyakinan agama
dan filsafat hidup seseorang. Akan dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya dan
cita-cita di masa depannya. Saya sendiri memilih untuk mengenakan kacamata
humanisme religius. Bahwa Tuhan menciptakan ini semua untuk manusia.
Meminjam
ungkapan Ibnu Araby, semua ini mewujud karena cinta ilahi. Tanpa energi cinta,
semesta sudah lama hancur. Jejaring kosmos dan sosial terjalin karena energi
cinta. Bahkan persahabatanyangterjalinantara bumi, matahari, air, hewan,
tumbuhan, kesemuanya karena emanasi cinta dari Dia yang rahman dan rahim.
Ketika terjadi krisis cinta, cosmos akan berubah menjadi chaos. Mungkin di situ
tersimpan rahasia ilahi, mengapa setiap perbuatan hendaknya dimulai dengan
ikrar dan manifesto: Bismillahirrahmanirrahim.
Semoga
hati, pikiran, lisan dan seluruh tindakan kita menjadi agen, instrumen dan
transmiter cinta ilahi untuk disebarkan ke seluruh makhluknya sehingga bumi
menjadi panggung festival peradaban dalam berbagai ragam ekspresi dan
artikulasinya. Maka pilihlah kacamata kehidupan yang enak, benar, dan pas
dipakai agar hari-hari akan terasa nyaman dijalani. []
KORAN
SINDO, 18 Desember 2015
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar