Rabu, 31 Maret 2021

Nasaruddin Umar: Etika Politik dalam Al-Qur'an (30) Humanity Is Only One

Etika Politik dalam Al-Qur'an (30)

Humanity Is Only One

Oleh: Nasaruddin Umar

 

Orang arif pernah menyadarkan kita bahwa "humanity is only one", kemanusiaan itu hanya satu. Apapun jenis kelamin, etnik, agama, kewarganegaraan, warna kulit, dan status sosialnya mempunyai nilai dan harkat kemanuisaan yang sama. Mereka mempunyai hak-haka asasi yang sama. Mereka ingin dimuliakan dan tidak ingin dihina dan didhalimi. Semua manusia memiliki perasaan yang bisa bahagia, senang, dan tertawa. Akan tetapi manusia yang sama juga bisa menderita, sedih, dan menangis. Rasa kemanusiaan itu bersifat universal, lintas geografis, etnik, kultural, agam, dan status social.

 

Allah Swt juga sejak awal mengingatkan kita bahwa diri-Nya juga sangat memuliakan anak-anak amnusia, sebagaimana ditegsakan dalam ayat: Walaqad karramna Bani Adam (Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam). (Q.S. Al-Isra'/17:70). Ayat di atas menggunakakan istilah karramna (memuliakan), bukannya menggunakan kata fadldlalna (menghormati). Yang pertama menekankan aspke kesakralan manusia dan yang kedua menekankan aspek provanitas manusia. Itu artinya Allah Swt menempatkan manusia sebagai makhluk utama, konsisten dan sejalan dengan pernyataannya yang mengatakan manusia diciptakan dalam ciptaan terbaik (ahsan taqwim/Q.S. al-Tin/95:4).


Ayat di atas juga menggunakan kata Bani Adam (anak-anak cucu Adam), tidak dikatakan wa laqad karramna al-muslimun (Allah memuliakan orang-orang Islam). Ayat ini menjelaskan bahwa perbedaan etnik, agama, golongan, dan kewarganegaraan tidak boleh menjadi penghalang untuk berbuat baik antarsesama. Sebaliknya perbedaan itu pula tidak boleh menjadi factor untuk membenci satu sama lain, apalagi kalua hanya perbedaan pilihan dalam politik praktis yang besiklus lima tahunan, seperti Pemilukada yang rutin dilaksanakan di Indonesia. Allah Swt menegaskan: Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) (Q.S. al-Hujurat/49:11). Dalam ayat lain Allah Swt juga mengingatkan kita semua: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. (Q.S. al-Hujurat/49:12).


Luar bisa ayat-ayat tersebut di atas di dalam mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan. Umat Islam yang menjadi adres utama turunnya Al-Qur'an seharusnya menjadi teladan masyarakat dalam hal penghargaan hak-hak asasi manusia. Nabi Muhammad Saw menjadikan dirinya sebagai contoh sebagai seorang pribadi ideal yang sangat menghargai nilai-nilai luhur kemanusiaan tanpa membedakan atribut social. Banyak sekali hadis Nabi yang mengingatkan umatnya agar menyadi manusia itu sesunggunya memiliki hak-hak asasi yang sama. Nabi pernah menegur sahabatnya yang bertugas di Baitul Mal di masjidnya lantaran ada seorang perempuan tua Yahudi sedang kelaparan. Nabi memerintahkan membenatu perempuan tua itu dengan mengambilkan kepbutuhan pokok dari Baitul Mal. Ia menginsyaratkan bahwa perut lapar itu tidak ada agamanya, siapapun orang yang lapar perlu disuplay makanan. Banyak lagi peristiwa serupa dilakukan Nabi dalam lintasan sejarah hidupnya.


Pengalaman yang sama juga dipraktekkan generasi berikutnya seperti Khulafa; al-Rasyidin, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan generasi tabi'in selanjutnya. Kesemuanya itu menunjukkan bahwa Al-Qur'an sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal. Sangat tidak pantas jika ada orang memperatasnamakan Islam, khususnya Al-Qur'an, lalu melakukan kejahatan kemanusiaan seperti terorisme dan ujaran kebencian berdasarkan agama (religious hate speech).
[]

 

DETIK, 21 Oktober 2020

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar