Rabu, 17 Maret 2021

Buya Syafii: Komputer Tua dan Para Sahabat

Komputer Tua dan Para Sahabat

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

 

Sahabat dalam hidup itu amatlah penting. Penting sekali. Di kala suka, di kala duka, sahabat itu mutlak harus selalu hadir. Alangkah sepi dan gersangnya kehidupan ini manakala para sahabat menjauh dan menyingkir.

 

Mungkin karena egoisme dan ketidakarifan kita dalam merajut pergaulan. Jangan sampai kita melupakan prinsip sosiologi bahwa manusia itu adalah makhluk sosial. 

 

Dengan karunia Allah, jumlah sahabat saya sudah berjibun dalam berbagai lintas. Di antara mereka itu adalah empat nama di bawah ini yang akan ditulis saat saya sedang mondok di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta, 11-20 Februari 2021.

 

Gara-gara OTG (orang tanpa gejala), saya diserang Covid-19, sebagaimana telah ditulis dalam Resonansi Selasa yang lalu. Dalam neraca perbandingan, sebagian para sahabat itu lebih arif dan lebih baik dibandingkan saya.

 

Mungkin virus yang menyerang saya, kata dokter, sudah merupakan bangkai. Yang jadi sasaran tidak merasakannya. Para sahabat semisal DR Sudhmamek AWS (Jakarta) dan DR Sulthon Amien (Surabaya), Prof Muhadjir Effendy (Jakarta), dan Prof Achmad Jainuri (Sidoarjo) sengaja tidak diberi tahu, sekalipun akhirnya tercium juga oleh mereka.

 

Terhadap banyak sahabat yang lain juga demikian. Janganlah hendaknya berita tentang saya ini jadi tambahan beban bagi mereka. Pihak yang semula mengerti hanyalah keluarga inti dan kalangan yang sangat terbatas lainnya. 

 

Salah seorang dokter yang merawat saya, Dr Evan Gintang Kumara SpD suka berbagi ilmu dengan pasien. Termuda di antara para dokter yang lain. Pasien yang awam dalam masalah kesehatan, seperti saya ini, pendekatan Dr Evan ini sungguh menghibur.

 

Bagi dokter ini, angka CT value yang dijadikan ukuran dalam menilai kadar Covid-19 tidaklah teramat penting. Yang terpenting sehat, bukan angka-angka, bukan positif-negatif.

 

Keterangan yang diberikan langsung kepada saya pada 19 Februari itu sangat melegakan pasien. Dada rasanya jadi semakin longgar. Inilah pendekatan psikosomatik dari seorang dokter. Pasien sungguh memerlukan sentuhan kejiwaan semacam ini, terutama saat sakit berat dan berbahaya. Kepada dokter muda ini, saya sarankan agar ilmu psikosomatik diperdalam.

 

Kembali kepada judul di atas. Tujuan menyebut komputer tua milik PKU adalah untuk menunjukkan bahwa saya harus belajar dari kelakuannya yang menuntut kesabaran. Hurufnya yang sering meloncat kian ke mari harus diikuti dengan sabar dan tenang.

 

Telat saja sedikit menyimpan kata atau kalimat yang telah ditulis langsung kabur. Tetapi saya menikmatinya. Sebagai merek ASUS yang memang sudah berumur, bisa dimengerti, tetapi jangan disandingkan dengan usia saya. Komputer ini adalah tipe tahun 2007. Tahun 2021 ini, jika diibaratkan siswa, baru masuk SMP. 

Tetapi bagi komputer yang tak pernah rehat, usia sekian itu sudah cukup lanjut. Adalah DR Sudhamek AWS dengan mengutip pendapat Peter Drucker yang mengatakan: “Never leave yourself unemployed” (Jangan pernah nganggur). Tujuannya agar saya jangan banyak bermenung saat dirawat.

 

Lalu saya katakan telah mulai menulis dengan menggunakan komputer tua. Langsung saja ditanggapi: “Saya kirim laptop baru, ya... kalau berkenan.” Karena Sudhamek kelahiran Jawa, tawaran itu saya jawab dalam bahasa Jawa: “Inggang anyar wonten teng omah, mboten perlu perlu Pak Dhamek. Nuwun sanget.” 

 

Sudhamek masih melanjutkan: “Sebetulnya saya bisa kirim dari anak buah yang di Yogya.” Selain menawarkan komputer, sahabat ini juga telah mengirimkan Clover Honey ke rumah kami. Selama Covid-19, entah sudah berapa kali saya mendapat kiriman macam-macam dari bos Garuda Food Group ini.

 

Sebagai seorang pengusaha kelas hiu, DR Sudhamek sudah banyak memberikan bantuan kepada para intelektual Muslim Indonesia, khususnya untuk kepentingan studi lanjut. Ini sudah berjalan puluhan tahun. 

 

Tidak perlulah nama-nama yang dibantu itu dituliskan di sini. Sebagian sudah wafat. Yang lain belum lama ini juga dibantu, bahkan dicarikan pekerjaan dan tempat tinggal.

 

Maka jika Sudhamek menulis buku: Mindful-Based Business (Berbisnis Dengan Hati Nurani) yang diluncurkan belum lama ini, tidaklah mengejutkan. Apa yang ditulis dalam buku itu rupanya itu pulalah yang dipraktikkan dalam perusahaannya. Keuntungan semakin membesar, tetapi juga untuk berbagi dengan yang lain yang memerlukan, di samping perusahaan dijalankan secara benar.

 

Filosofi bisnis sejenis ini adalah lawan tangguh dari sistem kapitalisme, klasik ataupun modern. Di dunia yang semakin sekuler, corak bisnis yang dijalankan Sudhamek ini mungkin sudah absen lebih dari dua abad dari muka bumi, termasuk di dunia Muslim yang lagi terkapar di pinggir peradaban. Penganut agama Buddha Mahayana ini punya filosofi bisnis dengan landasan spiritual yang dalam dan kuat sekali. 

 

Persahabatannya dengan kami yang sudah berlangsung cukup lama tidak pernah dingin. Selalu hangat. Bagi saya, pengalaman bergaul dengan manusia tipe Sudhamek ini amatlah langka. Bahasa hati yang selalu digunakannya terasa tulus sekali.

 

Tanpa topeng, tanpa sandiwara, tanpa agenda terselubung apa pun. Ibarat tinggal di rumah kaca, semuanya terang benderang. Apa yang terlihat dari luar, itu pulalah yang ada di dalam. Saya “iri”, saya sedih, mengapa sebagian teman seagama saya belum tentu punya sifat semulia itu.

 

Padahal, Islam dalam bacaan saya menyediakan bergudang-gudang ajaran dan pedoman hidup untuk membentuk manusia mulia sampai ke tingkat spiritual tertinggi sekalipun. 

 

Sekarang beralih ke DR Mohammad Sulthon Amien, pengusaha klinik darah Parahita dari Surabaya. Tokoh Muhammadiyah Jawa Timur, di samping ahli pendidikan yang juga mengembangkan teori joyful learning (belajar dengan ceria).

 

Cabang perusahaannya sudah melebar di berbagai kota besar di Indonesia. Saya tidak tahu sudah berapa banyak harta bendanya yang diserahkan untuk kepentingan umum. Perkenalan saya dengan Sulthon sudah berjalan lebih dari 30 tahun. 

 

Kontak tidak pernah putus, sekalipun saya tidak lagi di jajaran pengurus Muhammadiyah. Sulthon juga sebagai Preskom PT Cita Mulia Group. Sulthon adalah contoh hidup dari seorang yang sudah berusia 62 (tahun 2019) masih mau belajar sampai mendapatkan gelar doktor dari Universitas Gadjah Mada pada Januari 2019 dengan predikat cum laude (sangat memuaskan).

 

Ini nasihat Sulthon kepada saya saat dirawat. “Obat yang ada hanya suplemen. Fondasinya fisik dan psikis kita. Makan dan istirahat cukup serta spirit tetap terjaga.”

 

Dalam filosofi bisnis, ada kemiripan antara Sulthon dan Sudhamek. Sulthon mengembangkan apa yang disebutnya sebagai manajemen spiritual. Artinya, dalam berbisnis, nilai-nilai kerohanian harus diutamakan.

Manusia tidak boleh rakus. Harta kekayaan punya fungsi sosial, selain ada kewajiban membayar pajak. Sudhamek yang Buddha, Sulthon yang Muslim punya sikap yang sama terhadap harta. Dengan demikian, antara Budhisme dan Islam jika dipahami secara benar dapat membentuk sikap yang sama terhadap kekayaan. 

 

Saat sampai berita tentang saya lagi dirawat, Sulthon langsung menanyakan kondisi kesehatan saya. Lalu diteruskan apakah kerso (mau) dikirimkan obat herbal berbasis mikroba.

Sulthon berkirim sesuatu kepada saya bukan hanya ketika dirawat ini. Macam-macam sudah dilakukan sebelumnya. Maka pada pagi 17 Februari obat herbal plus sari buah dan jeruk nipis digantungkan pada pintu kamar rawatan saya. 

 

Oh ya, pada 18 Februari siang Menko PMK Prof Muhadjir Effendy juga berkunjung ke PKU Gamping. Sempat kontak via video call dengan saya dan meninggalkan sesuatu, sebagaimana sebelumnya telah berulang dilakukannya. Dan pada 20 Februari Pof Achmad Jainuri juga menitipkan bandeng dan buku di rumah kami.

 

Perhatian mereka terhadap saya demikian besar. Saya tidak mungkin mengimbanginya. Nama sahabat lain yang daftarnya panjang itu tidak akan disebut di sini. Tersebar di berbagai tempat.

 

Matur nuwun para sahabat! Itulah persahabatan, tetapi posisi saya seringkali sebagai tangan di bawah. Sudhamek, Sulthon, Muhadjir, dan Jainuri sebagai tangan di atas. Menurut agama, tangan di atas lebih mulia dan lebih baik daripada tangan di bawah.

 

Akhirnya, terima kasih komputer tua yang telah berjasa membunuh kejenuhan selama saya menjalankan perawatan. []

 

REPUBLIKA, 02 Maret 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar