Jumat, 11 Desember 2020

Nasaruddin Umar: Membaca Trend Globalisasi (16) Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Pengembangan Dunia Medis

Membaca Trend Globalisasi (16)

Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Pengembangan Dunia Medis

Oleh: Nasaruddin Umar

 

Dunia Islamlah yang paling pertama memperkenalkan pentingnya ilmu kesehatan masyarakat. Menurut Prof. Osman Bakar, kontribusi kemanusiaan paling besar dunia Islam ialah pengembangan dunia medis. Hal yang sama juga diakui oleh Bammate dalam bukunya: Muslim Contribution to Civilization, sebagaimana dikutip Husain Haryanto, yang mengatakan para dokter muslim memainkan peran di dalam sains medis di dunia barat. Sama yang dikatakan oleh Thomas Goldstein bahwa dari para ilmuan muslim pertama kali dunia Barat mengenal system perawatan medis yang telah berkembang tinggi.

 

Semangat para ilmuan muslim mengembangkan dunia medis terutama dipicu oleh Nabi Muhammad saw sendiri yang telah menegaskan: "Setiap penyakit pasti ada obatnya" (li kulli dain dawa'). Selain memberikan motifasi intelektual, Nabi juga aktif mengembangkan dan sekaligus mencontohkan pola hidup yang hygiene, misalnya melarang membuang kotoran pada sumber air, baik yang tergenang maupun yang mengalir, melarang meludah di sembarang tempat, menekankan bahwa kebersihan separoh dari iman, Nabi selalu mencuci tangan sebelum makan, makan dengan tangan kanan dan membersihkan kotoran dengan tangan kiri, menyerukan untuk selalu memotong dan membersihkan kuku, menganjurkan sekaligus mencontohkan untuk selalu membersihkan gigi, rambut, dan merapikan kumis dan jenggot, menganjurkan untuk rajin mandi, terutama dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti
pasca janabah (selesai berhubungan suami isteri, bermimpi basah, atau selesai menjalani menstruasi bagi perempuan), menjelang shalat Jumat atau sholat 'Id.

 

Nabi juga menganjurkan untuk memperhatikan keseimbangan gizi, misalnya mengkonsumsi madu, yang dikatakannya: "Madu mengobati segala jenis penyakit" (al-'asal daí kulli da'in), menganjurkan untuk mengkonsumsi labu, ketimun, yoghurt, susu murni, melon, kurma, buah ara, dan meminum air zam-zam. Nabi melarang sama sekali mengkonsumsi bangkai, yakni binatang yang mati secara alami tanpa disembelih, melarang makan babi, darah, dan binatang jorok atau binatang lain yang termasuk keluarga karnivora dan binatang ampibi serta mencandu alkohol. Nabi menganjurkan untuk secara rutin makan sayuran segar, daging segar, ikan segar, susum telur, dan unggas.

 

Dalam mengkonsumsi makanan, Nabi mengingatkan agar makan pada saat lapar berhenti sebelum kenyang, tidak mubazir, membaca basmalah sebelum makan dan atau minum, menganjurkan makan berjamaah. Nabi menganjurkan diri untuk berolah raga, dan menganjurkan anak-anak untuk belajar berenang, menunggang kuda, memanah, dan memanjat. Nabi menganjurkan bilamana pergi ke masjid pergi dan pulang dengan jalur yang berbeda, semakin panjang langkah semakin banyak pahala, artinya juga sekaligus membakar kalori yang menumpuk di badan. Nabi sendiri pernah menjadi penantang sang juara bertahan gulat tradisional, yakni Rukanah, di Mekah. Walaupun badan Nabi tidak sebesar Rukanah tetapi mampu menang KO dengan merobohkan Rukanah pada ronde ke tiga.

 

Dilaporkan oleh banyak sahabatnya bahwa Nabi hampir tidak pernah sakit. Akhir hayatnya pun hanya menderita penyakit panas badan (deman). Ia tidak pernah dilaporkan mengeluh kalau sakit. Obat favorit Nabi ialah madu. Nabi sering mengobati para sahabatnya dengan beberapa ramuan, termasuk di antaranya jintan, dan buah atau sayur tertentu lainnya.

 

Dalam menghadapi penyakit, Nabi memilah-milah jenis penyakit. Jika penyakit itu berpotensi menular ia meminta agar menghindari bersentuhan langsung dengan sang pasien. Tetapi jika penyakitnya tidak menular bebas bergaul dengan sang pasien. Motivasi dan keteladanan Nabi yang seperti tadi membuat sahabat lebih kreatif. Manusia produktif tentu mereka yang sehat, "Pikiran yang sehat terletak di dalam tubuh yang sehat" (al-áql al-salim fi al-jism al-salim). []

 

DETIK, 22 Agustus 2020

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar