Ketika Jalaluddin Rumi Merindukan Tuhan
Judul
Buku : Ratapan Kerinduan Rumi
Penulis
: Osman Nuri Topbas
Penerbit
: Mizania, Bandung
Cetakan
: Pertama, 2015
Tebal
: 224 Halaman
ISBN
: 978-979-433-868-1
Peresensi
: Moh. Tamimi, mahasiswa Instika Sumenep Prodi PBA semester IV
Kehidupan sufistik sejak dahulu mendominasi
diri manusia bercinta dengan Allah dan Rasulnya. Sebuah kecintaan murni yang
terpancar dari hati terdalam. Ketenangan hati adalah ketika bersama sang
Kholiq.
Demikian juga dengan Jalaluddin Rumi. Ia
adalah satu dari sekian banyak sufi yang mampu melukiskan kerinduannya kepada
Tuhan dengan fasih dan berhasil menuangkannya lewat tulisan yang berjudul
Matsnawi, Jalaluddin Rumi mengibaratkan kerinduan manusia kepada Tuhan
sebagaimana sepotong bambu yang dipisah dari rumpunnya. Ia merelakan dirinya
dipotong-potong, dilubangi, dibentuk sekian rupa oleh manusia demi bisa
melantunkan suara kerinduannya kepada rumpunnya ketika sudah menjadi seruling
bambu.
Sebagaimana halnya ketika Zaid tinggal
bersama Rasulallah, ia mencintai Rasulallah. Sehingga, setelah ia dimerdekakan,
ia tidak mau pulang ke keluarganya karena telah merasakan nikmatnya hidup
berdampingan dengan Rasulallah dan kecintaannya kepada Rasulallah yang takkan
tergantikan oleh siapapun. Ketika Zaid diminta pulang oleh keluarganya, ia
berujar kepada Rasulallah “"O, utusan
Allah! Engkau segalanya bagiku! Bagiku, tidak ada seorangpun di dunia ini yang
lebih aku sukai selain engkau." (hlm. 161)
Di lain kesempatan, Jalaluddin Rumi menulis
sebuah puisi yang menggambarkan kerinduannya kepada sang Kholiq. kerinduan para
pecinta terhadap satu sama lain adalah perilaku yang diberkahi. Khususnya jika
yang merindukan adalah Laila, dan yang dirindukan adalah Majnun.”(hlm. 182). Dalam puisinya ini, seolah-olah Jalaluddin Rumi
ingin menjelaskan bahwa ada yang merindu pastinya ada yang dirindu dan apabila
sudah sangat rindu kepada seseorang atau sesuatu. Maka, seakan-akan membuat
kita menjadi gila. Sebagaimana Qais dan Laila dalam cerita Laila Majnun.
Menurut Osman Nuri Topbes, Matsnawi karya
Jalaluddn Rumi adalah sebuah lautan dengan kedalaman yang tak berujung, makna
tak terbatas dan kandungan rahasia tak terhitung. (hlm. 13)
Sudah selayaknya kitab Matsnawi yang telah
diberi syarah oleh Osman Nur Topbes ini dipresiasi, untuk lebih membeningkan
hati kita. Mengingat cerita-cerita di dalamnya mengandung mutiara hikmah
yang tak ternilai harganya. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar