Kamis, 01 April 2021

Nasaruddin Umar: Etika Politik dalam Al Qur'an (31) Tidak Ada Kekerasan dalam Agama

Etika Politik dalam Al Qur'an (31)

Tidak Ada Kekerasan dalam Agama

Oleh: Nasaruddin Umar

 

Kita masih sering melihat dan mendengar ada orang memaksakan kehendak atas nama agama. Khusus dalam agama Islam tidak bisa dibenarkan seseorang memaksakan kehendaknya terutama untuk mengajak orang lain beragama Islam. Allah Swt dengan tegas mengatakan: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)/Q.S. al-Baqarah/2:256).

 

Urusan keyakinan dan keimanan adalah urusan dan hak prerogatif Allah Swt, sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur'an: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, (Q.S. al-Qashash/28:56). Kita hanya berkewajiban menyampaikan kebenaran dan isi ajaran agama itu. Urusan diterima atau ditolak itu adalah urusan Allah SWT.

 

Di dalam melaksanakan dakwah pun kita harus menggunakan cara-cara bijaksana dan sama sekali tidak dibenarkan menggunakan cara-cara kekerasan, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. al-Nahl/16:125).

 

Pengalaman Nabi Nuh As, yang berusaha memaksa anaknya untuk naik di atas perahu kebenaran yang dikendalikannya, namun Allah Swt menegur Nabi Nuh agar tidak memaksa orang walaupun itu anak kandungnya sendiri, sebagaimana dikatakan dalam ayat: Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya. Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." (Q.S. Nuh/11:45).

 

Berdakwah adalah mulia, apalagi jika dakwah itu menghasilakan banyak orang tertarik masuk dan mengikuti agama Allah Swt, namun lebih dari itu, Allah Swt meminta kita untuk bersabar agar sebaik apapun sebuah tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan itu. Sebetulnya bukan hanya kekerasan, tetapi menanam kebencian kepada orang lain yang kemudian menyebabkan lahirnya pendhaliman terhadap orang itu juga dilarang sebagaimana firman Allah Swt: Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. (Q.S. al-Maidah/5:8).

 

Allah Swt mengingatkan kita untuk tidak menempuh cara-cara kekerasan untuk tujuan apapun. Kita tidak dibenarkan mengorbankan orang lain. Dalam Al-Qur'an ditegaskan: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (Q.S. al-Maidah/5:32).

 

Demikian pula kita tidak dibenarkan mengorbankan diri sendiri di dalam berdakwah atau memperjuangkan sebuah gagasan, sebaik apapun gagasan itu, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. al-Baqarah/2:195). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa atas nama apapun, untuk apapun, dan kepada siapapun, kekerasan tidak ada tempatnya dalam Islam. []

 

DETIK, 22 Oktober 2020

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar