Rabu, 28 April 2021

Nasaruddin Umar: Etika Politik dalam Al Qur'an (43) Pelajaran Diplomasi Publik (9): AkhlakBermusyawarah (2)

Etika Politik dalam Al Qur'an (43)

Pelajaran Diplomasi Publik (9): Akhlak Bermusyawarah (2)

Oleh: Nasaruddin Umar

 

8. Menjauhi buruk sangka dan negative thinking.

 

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. al-Hujurat/49:12).

 

9. Menonjolkan titik temu dan menghindari titik perbedaan.

 

(Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. al-Hujurat/49:13).

 

10. Konsisten dan berjuang untuk mencapai tujuan yang sama.

 

(Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar). (Q.S. al-Hujurat/49:15).

 

11. Penuh kejujuran dan meyakini Tuhan Maha Menyaksikan seluruh rahasia hamba-Nya.

 

(Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan). (Q.S. al-Hujurat/49:18).

 

Kalau 10 prinsip berdemokrasi ini diindahkan maka akan tercipta kesalehan sosial, keadaban publik, dan kesantunan politik di dalam kehidupan bermasyarakat. Jika hal ini betul-betul bisa diwujudkan di dalam negeri kita maka insya Allah janji Tuhan akan terwujud: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. al-A'raf/7:96).


Masyarakat demokratis, sebagaimana pernah terwujud di dalam masyarakat Saba", yang pemimpinya sangat demikratis dan masyarakatnya sangat santun, pada akhirnya mendapatkan keutamaan dari Allah Swt sebagai: Baldatun thayyibah wa Rabbun gafur atau negoro kang lohjinawi, toto tentrem kerto raharjo.

 

Menjelang pemilihan Presiden yang akan datang, sungguh terbuka kesempatan bangsa ini untuk mendapatkan prestasi itu. Bangsa kita dihuni oleh umat Islam terbesar di dunia, kandidat Presiden dan Wakil Presiden kita semuanya juga warga muslim taat insya Allah. Keteladanan dan kesantunan politik orang-orang terbaik bangsa kita ini betul-betul ditunggu masyarakat kita untuk menorehkan sejarah demokrasi yang berakhlaqul karimah di negeri ini. Kalau ini bisa diwujudkan maka Indonesia menjadi negara muslim pertama yang mampu menyandingkan prinsip demokrasi dan prinsip Islam. Pengalaman ini juga akan merombak mitos yang mengatakan Islam dan demokrasi tidak mungkin bisa hidup satu atap. Mari kita buktikan bahwa kita bisa mewujudkannya, dan insya Allah kita bisa. []

 

DETIK, 03 November 2020

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar