Surah Al-Hujurat Ayat 13 Itu
Oleh: Syafii Maarif
Adalah Profesor AJ Toynbee (1889-1975), sejarawan pemikir Inggris
itu, yang menulis tentang tradisi Islam mengenai persaudaraan universal umat
manusia puluhan tahun yang silam berikut ini: "tradisi Islam tentang
persaudaraan manusia tampaknya merupakan cita-cita yang lebih baik untuk memenuhi
keperluan sosial masa ini ketimbang tradisi Barat tentang kemerdekaan yang
berdaulat bagi lusinan nasionalitas yang terpisah-pisah." (Lih. AJ
Toynbee, Civilization on
Trial and the World and the West. Cleveland and New York: The World
Publishing Company, 1963, hlm 254).
Diharapkan “penyebaran wabah penyakit politik Barat ini akan dapat
dibendung oleh sebuah kekuatan perasaan tradisi Islam untuk persatuan.”
(Ibid.). Toynbee cukup kritikal terhadap perkembangan peradaban Barat modern
yang terlepas dari kawalan nilai-nilai moral transendental yang diajarkan oleh
semua agama.
Dalam masalah ini, Islam sebagai agama tauhid semestinya berada
pada garda terdepan dalam upaya pengawalan ini. Sayangnya, umat Muslim telah
lama berselancar di pinggir peradaban dengan sikap tertunduk, bingung, dan
perasaan kalah berkepanjangan.
Toynbee juga sangat kritikal terhadap gagasan nasionalisme yang
telah meruntuhkan dan merusak perumahan persaudaraan umat manusia sejagat.
Tetapi harapan kepada tradisi Islam tentang persaudaraan universal itu justru
kemudian telah gagal dibuktikan oleh bangsa-bangsa Muslim, utamanya di dunia
Arab, yang ternyata juga mengidap virus nasionalisme yang memecah belah itu.
Beruntunglah Indonesia, karena nasionalisme bangsa ini dikawal
oleh ajaran “Kemanusiaan yang adil dan beradab,” sehingga nasionalisme di sini
tidak boleh menjurus kepada sovinisme, sebuah paham patriotisme yang sempit dan
melampaui batas yang wajar.
Sekarang mari kita tengok Alquran surah al-Hujurât (49) ayat 13 di
atas yang tergolong surat yang turun pada era Madinah (622-632) tentang tujuan
penciptaan manusia dengan realitas keragaman bangsa dan puak. Ini terjemahan
ayat itu: “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan; dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan
berbagai puak supaya kamu saling mengenal (li
ta’ârafû). Sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah
adalah kamu yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui
Mahasadar.”
Saya tidak tahu apakah A.J. Toynbee pernah membaca ayat yang
sedahsyat ini tentang maksud penciptaan manusia untuk saling berbagi,
berkenalan, saling memberi dan menerima sebagai tafsiran yang lebih mencakup
dari ungkapan li ta’ârafû
itu.
Sekiranya sejarawan ini pernah membacanya, tentu pengamatannya
tentang persaudaraan universal Islam itu bukan semata-mata gejala sejarah yang
tampak di permukaan, melainkan punya landasan teologis yang sangat kuat,
sekalipun si Muslim sendiri tidak selalu hirau dengan ajaran yang begini jelas,
historis, dan menukau.
Terpecah belahnya bangsa-bangsa Muslim adalah pengkhianatan
terbuka terhadap konsep persaudaraan yang pernah menyejarah itu, sekalipun
masih jauh dari sempurna, karena umat Muslim sendiri tidak selalu berpegang
kepada ayat itu.
Tetapi setidak-tidaknya, Toynbee telah menampakkan keresahannya
terhadap kultur Barat modern yang menciptakan virus nasionalisme yang memecah
belah bangsa-bangsa. Dia mengusulkan agar dunia belajar dari tradisi Islam tentang
persaudaraan umat manusia itu.
Sebab, jika nasionalisme ini dibiarkan merajalela tanpa ada
rujukan moral tertinggi yang mempersatukan manusia sejagat, dunia modern tidak
mustahil sedang menggali kuburan masa depannya yang tak terbayangkan melalui ledakan
bom nuklir yang sangat ditakuti itu. Seperti kita ketahui, Toynbee adalah juga
pengagum Ibn Khaldun (1332-1406) dengan karya al-Muqaddimah-nya yang fenomenal itu.
Saya ragu, apakah ada diktum Langit yang demikian terang benderang
seperti tersimpul dalam ayat 13 surah al-Hujurât itu ditemukan juga dalam
dokumen agama-agama lain yang pernah dikenal manusia. Tetapi, ironisnya sekali
lagi, umat yang mengaku memiliki Alquran sebagai pesan Langit terakhir telah terlalu
lama mengembara di dunia lain yang terlepas dari bimbingan Kitab Suci ini.
Fenomena inilah sebenarnya yang menjadi sumber krisis terberat
umat Muslim sekarang dalam meneropong masa depannya yang galau dan kelabu,
sekelabu mata batinnya yang terpisah dari cahaya wahyu dan ajaran kenabian. []
REPUBLIKA, 26 Maret 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar