Jumat, 07 September 2018

Nasaruddin Umar: Mungkinkah Nonmuslim ke Tanah Suci Pengalaman Snouck Hurgronje


Mungkinkah Nonmuslim ke Tanah Suci Pengalaman Snouck Hurgronje
Oleh: Nasaruddin Umar

NON MUSLIM sangat tegas dilarang memasuki Kota Suci Mekah. Banyak sekali cerita dari berbagai negara tentang tragisnya orang-orang nonmuslim yang memasuki Kota Suci Mekah. Akan tetapi, ada pertanyaan penting, bagaimana dengan Snouck Hurgronje? Ia yang bernama lengkap Prof Dr Christiaan Snouck Hurgronje (CSH) (yang lahir pada 1857 dan wafat pada 1936), seorang orientalis sejati dan pernah menjadi arsitek pemerintah kolonial Hindia Belanda di kepulauan Nusantara.

Di mata pemerintah Belanda namanya tercatat dengan tinta emas karena pandangan dan sikapnya sangat mendukung garis politik pemerintah Hindia Belanda. Di beberapa tempat di Belanda namanya diabadikan di sejumlah gedung dan aula serbaguna, seperti di Laiden University, foto dan patungnya dipajang.

Mengapa ia bisa lolos masuk ke Tanah Haram Mekah kalau ia nonmuslim. Menurut disertasi Prof Dr H Aqib Suminto di dalam Politik Islam Hindia Belanda, ia tinggal selama 7 bulan (Februari-Agustus 1885) dengan menyamarkan namanya sebagai Abdul Gaffar. Bahkan ia sempat berjumpa dengan Qadhi terkemuka Jeddah, yakni Syekh Ismail Agha.

Ia diyakinkan bahwa Abdul Gaffar betul-betul seorang muslim karena ia telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun sumber lain, kepura-puraannya memeluk Islam hanya untuk ingin mempelajari perilaku jemaah haji dan pelajar Indonesia di Mekah. Mereka sepulangnya dari tanah suci Mekah banyak di antaranya menjadi pemimpin pergerakan melawan kolonialisme Belanda.

Apakah ia sudah mualaf ketika itu baru murtad lagi? Ataukah kepicikannya sebagai seorang arsitek politik dan sekaligus ilmuwan membuatnya bisa menemukan cela memasuki Kota Mekah? Bagaimana pendapat para ulama, sejarawan, dan orang-orang Belanda sendiri tentang kehajian CSH? Siapa dan apa background CSH, mungkin satu-satunya orang yang seunik ini pernah hadir di depan Kabatullah?

Sementara itu, dalam literature Islam, sangat tegas melarang orang-orang nonmuslim memasuki Kota Mekkah. Ada sejumlah ayat dan hadis dijadikan dalil untuk melarang orang-orang nonmuslim ke tanah suci Mekah, antara lain: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana”. (QS al-Taubah/9:28).

Para ulama, termasuk kalangan ulama Syi’ah, sepakat menganggap kelompok Ahli Kitab tidak bisa mendekati atau masuk ke Tanah Haram. Selain ayat di atas, juga sering dirujuk beberapa ayat sebagai berikut:  “Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putra Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putra Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.

Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam. Padahal, mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia.

Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai”. (QS al-Taubah/9:30-32).

Dalam hadis dan praktik para sahabat, tabi’in, dan dinasti-dinasti yang pernah berkuasa di dalam dunia Islam tidak pernah mengizinkan nonmuslim memasuki Tanah Haram. Bahkan banyak cerita misteri orang-orang nonmuslim berusaha menyelinap ke dalam Tanah Haram berakhir dengan kecelakaan tragis. Allahu a’lam. []

MEDIA INDONESIA, 25 Agustus 2018
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar