Mungkinkah
Nonmuslim ke Tanah Suci Pengalaman Snouck Hurgronje
Oleh:
Nasaruddin Umar
NON
MUSLIM sangat tegas dilarang memasuki Kota Suci Mekah. Banyak sekali cerita
dari berbagai negara tentang tragisnya orang-orang nonmuslim yang memasuki Kota
Suci Mekah. Akan tetapi, ada pertanyaan penting, bagaimana dengan Snouck
Hurgronje? Ia yang bernama lengkap Prof Dr Christiaan Snouck Hurgronje (CSH)
(yang lahir pada 1857 dan wafat pada 1936), seorang orientalis sejati dan
pernah menjadi arsitek pemerintah kolonial Hindia Belanda di kepulauan
Nusantara.
Di mata
pemerintah Belanda namanya tercatat dengan tinta emas karena pandangan dan
sikapnya sangat mendukung garis politik pemerintah Hindia Belanda. Di beberapa
tempat di Belanda namanya diabadikan di sejumlah gedung dan aula serbaguna,
seperti di Laiden University, foto dan patungnya dipajang.
Mengapa
ia bisa lolos masuk ke Tanah Haram Mekah kalau ia nonmuslim. Menurut disertasi
Prof Dr H Aqib Suminto di dalam Politik Islam Hindia Belanda, ia tinggal selama
7 bulan (Februari-Agustus 1885) dengan menyamarkan namanya sebagai Abdul
Gaffar. Bahkan ia sempat berjumpa dengan Qadhi terkemuka Jeddah, yakni Syekh
Ismail Agha.
Ia
diyakinkan bahwa Abdul Gaffar betul-betul seorang muslim karena ia telah
mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun sumber lain, kepura-puraannya memeluk
Islam hanya untuk ingin mempelajari perilaku jemaah haji dan pelajar Indonesia
di Mekah. Mereka sepulangnya dari tanah suci Mekah banyak di antaranya menjadi
pemimpin pergerakan melawan kolonialisme Belanda.
Apakah ia
sudah mualaf ketika itu baru murtad lagi? Ataukah kepicikannya sebagai seorang
arsitek politik dan sekaligus ilmuwan membuatnya bisa menemukan cela memasuki
Kota Mekah? Bagaimana pendapat para ulama, sejarawan, dan orang-orang Belanda
sendiri tentang kehajian CSH? Siapa dan apa background CSH, mungkin
satu-satunya orang yang seunik ini pernah hadir di depan Kabatullah?
Sementara
itu, dalam literature Islam, sangat tegas melarang orang-orang nonmuslim
memasuki Kota Mekkah. Ada sejumlah ayat dan hadis dijadikan dalil untuk
melarang orang-orang nonmuslim ke tanah suci Mekah, antara lain: “Hai
orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka
janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu
khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari
karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi
Mahabijaksana”. (QS al-Taubah/9:28).
Para
ulama, termasuk kalangan ulama Syi’ah, sepakat menganggap kelompok Ahli Kitab
tidak bisa mendekati atau masuk ke Tanah Haram. Selain ayat di atas, juga
sering dirujuk beberapa ayat sebagai berikut: “Orang-orang Yahudi
berkata: "Uzair itu putra Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al
Masih itu putra Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka,
mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.
Dilaknati
Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan
orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan
(juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam. Padahal, mereka hanya
disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
selain Dia.
Maha Suci
Allah dari apa yang mereka persekutukan. Mereka berkehendak memadamkan cahaya
(agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki
selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak
menyukai”. (QS al-Taubah/9:30-32).
Dalam
hadis dan praktik para sahabat, tabi’in, dan dinasti-dinasti yang pernah
berkuasa di dalam dunia Islam tidak pernah mengizinkan nonmuslim memasuki Tanah
Haram. Bahkan banyak cerita misteri orang-orang nonmuslim berusaha menyelinap
ke dalam Tanah Haram berakhir dengan kecelakaan tragis. Allahu a’lam. []
MEDIA
INDONESIA, 25 Agustus 2018
Nasaruddin
Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar