Sekilas Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad
Dalam sebuah riwayat yang dicatat Imam Ibnu
Hisyam dalam al-Sirah al-Nabawiyyah dikatakan:
أَنَّ
آمِنَةَ بِنْتَ وَهْبٍ أُمَّ رَسُولِ اللَّهِ كَانَتْ تُحَدِّثُ: أَنَّهَا
أُتِيَتْ، حِينَ حَمَلَتْ بِرَسُولِ اللَّهِ فَقِيلَ لَهَا: إنَّكِ قَدْ حَمَلْتِ
بِسَيِّدِ هَذِهِ الْأُمَّةِ، فَإِذَا وَقَعَ إلَى الْأَرْضِ فَقُولِي: أُعِيذُهُ
بِالْوَاحِدِ، مِنْ شَرِّ كُلِّ حَاسِدٍ، ثُمَّ سَمِّيهِ مُحَمَّدًا.
“Sesungguhnya (Sayyidah) Aminah binti Wahab,
Ibu Rasulullah SAW menceritakan bahwa beliau didatangi seseorang (Malaikat)
ketika mengandung Rasulullah, kemudian dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya
engkau mengandung pemimpin umat ini. Ketika dia lahir ke dunia ini, ucapkanlah:
“Aku memohon perlindungan untuknya pada yang Maha Esa dari keburukan setiap
orang-orang yang hasud, kemudian namai dia dengan nama Muhammad.” (Ibnu Hisyam,
al-Sirah al-Nabawiyyah, Beirut: Darul Kutub al-A’rabiy, 1990,juz 1, hlm
180).
Menurut para ulama, tidak diketahui seorang
pun dalam bangsa Arab yang menggunakan nama ini sebelum Rasulullah SAW. Ketika
Abdul Muttalib ditanya oleh seseorang,“ma sammayta ibnâka?—akan kau namai apa
cucumu?” Abdul Muttalib menjawab: “Muhammadun.” Kemudian orang itu bertanya
lagi:
كَيْفَ
سَمَّيْتَ بِاسْمٍ لَيْسَ لِأَحَدٍ مِنْ آبَائِكَ وَقَوْمِكَ؟ فَقَالَ: إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَحْمَدَهُ أَهْلُ الْأَرْضِ
كُلُّهُمْ
“Bagaimana bisa kau menamainya dengan nama
yang tidak seorang pun dari nenek moyang dan kaummu pernah menggunakannya?”
Abdul Muttalib menjawab: “Sesungguhnya aku mengharapkan seluruh penduduk bumi
memujinya.” (Imam al-Muhaddits Abdurrahman al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf fi
Syarh al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam, Beirut: Darul Kutub
al-Islamiyyah, juz 2, hlm 150-151).
Para Sejarawan mengatakan bahwa nama Muhammad
tidak biasa dipakai di kalangan bangsa Arab, hanya tiga orang sebelum
Rasulullah yang menggunakan namanya. Ibnu Faurak menyebutkan, mereka adalah
Muhammad bin Sufyan bin Mujasyi’ (nenek moyang al-Farazdaq sang penyair),
Muhammad bin Uhaihah bin al-Julah bin al-Harits bin Jahjaba bin Kulfah bin Auf
bin Amr bin Auf bin Malik bin al-Aus, dan Muhammad bin Humran bin Rabi’ah.Dalam
al-Raudl al-Unuf, Imam al-Suhaili menjelaskan:
لَا
يُعْرَفُ فِي الْعَرَبِ مَنْ تَسَمَّي بِهَذَا الْإِسْمِ قَبْلَهُ-صلي الله عليه
وسلم-إِلَّا ثَلَاثَةٌ طَمِعَ آبَاؤُهُمْ حِيْنَ سَمِعُوا بِذِكْرِ مُحَمَّدٍ
وَيَقْرَبُ زَمَانُهُ وَأَنَّهُ يُبْعَثُ فِي الْحِجَازِ....
“Tidak diketahui di kalangan Arab seseorang
yang menggunakan nama ini (Muhammad) sebelum Rasulullah SAW kecuali tiga orang
yang ayahnya menjadi tamak ketika mendengar kenabian Muhammad, kedekatan
masanya dan bahwa dia diutus di Hijaz.....” (Abdurrahman al-Suhaili, juz 2, hlm
151).
Menurut Ibnu Faurak, tiga orang itu telah
mendatangi sebagian kerajaan yang memiliki pengetahuan tentang kitab-kitab
agama terdahulu dan mengabarkan kepada mereka kehadiran seorang nabi beserta
namanya yang membuat mereka berwasiat kepada keluarganya, “in wulida lahu
dzakar an yusammiyahu muhammadan, fa fa’alû dzalika—jika dilahirkan seorang
anak laki-laki, namai dia Muhammad, kemudian mereka pun melakukannya.”
(Abdurrahman al-Suhaili, juz 2, hlm 152). Mengenai asal nama Muhammad, Imam
al-Suhaili mengemukakan:
وَأَمَّا
مُحَمَّدٌ فَمَنْقُوْلٌ مِنْ صِفَّةٍ أَيْضًا, وَهُوَ فِي مَعْنَي مَحْمُوْدٌ.
وَلَكِنْ فِيْهِ مَعْنَي الْمُبَالَغَةِ وَالتِّكْرَارِ, فَالْمُحَمَّدُ هُوَ الَّذِي حُمِدَ مَرَّةً بَعْدَ مَرَّةٍ
كَمَا أَنَّ الْمُكَرَّمَ مَنْ أُكْرِمَ مَرَّةً بَعْدَ مَرَّةٍ
“Adapun nama Muhammad diambil dari isim sifat
juga, maknanya adalah Mahmud (yang dipuji). Akan tetapi, di dalamnya mengandung
makna mubalaghah (menunjukkan arti sangat) dan tikrar (terus-menerus), dengan
demikian Muhammad adalah orang yang dipuji secara terus menerus, seperi halnya
orang yang dimuliakan, yaitu orang yang dimuliakan secara terus-menerus.”
(Abdurrahman al-Suhaili, juz 2, hlm 153).
Sedangkan penyebutan Ahmad terhadap
Rasulullah, Imam al-Suhaili mengatakan hal itu merupakan penamaan terhadap
dirinya dalam lisan Nabi Isa dan Musa AS (alladzî summiya bihi ‘ala lisân
‘îsâ wa mûsâ) dan diambil dari isim sifat juga, tetapi menggunakan makna
tafdil (menunjukkan arti lebih), maka makna nama Ahmad adalah “ahmadu
al-hamidîn li rabbihi—orang yang paling memuji Tuhannya di antara para
pemuji lainnya.” Dalam hal ini, Nabi Musa bahkan pernah berdoa yang disertai
penjelasan tentang nama Ahmad:
اللهُمَّ
اجْعَلْنِي مِنْ أُمَّةِ أَحْمَدَ, فَبِأَحْمَدَ ذُكِرَ قَبْلَ أَنْ يُذْكَرَ
بِمُحَمَّدٍ, لِأَنَّ حَمْدَهُ لِرَبِّهِ كَانَ قَبْلَ حَمْدِ النَّاسِ لَهُ,
فَلَمَّا وُجِدَ وَبُعِثَ, كَانَ مُحَمَّدًا بِالْفِعْلِ
“Ya Allah, jadikanlah aku bagian dari umat
Ahmad, yang dengan nama Ahmad dia telah disebut sebelum dia disebut dengan nama
Muhammad, karena dia memuji Tuhannya sebelum ada manusia yang memujinya, maka
ketika dia telah hadir dan diutus, dia menjadi Muhammad, orang yang dipuji karena
perilakunya.”(Abdurrahman al-Suhaili, juz 2, hlm 153).
Setelah nama Muhammad sampai pada Sayyidah
Aminah dan Abdul Muttalib, Nabi Muhammad SAW lahir ke dunia ini di hari Senin,
tanggal 12 Rabiul Awwal, tahun Gajah (‘âm al-fîl)—menurut pendapat yang
masyhur. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dikatakan:
أَنَّ
أَعْرَبِيًّا سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صلي الله عليه وسلم عَنْ صِيَامِ يَوْمِ
الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ: ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ, وَأُنْرِلَ عَلَيَّ فِيْهِ
“Seorang Arab Badui bertanya kepada
Rasulullah SAW tentang puasa di hari Senin, Rasulullah menjawab: “Itu adalah
hari dimana aku dilahirkan, dan hari dimana (wahyu) diturunkan kepadaku.” (HR.
Imam Muslim)
Terjadi perbedaan pendapat tentang kapan
Rasulullah SAW lahir. Namun demikian, pendapat yang diketahui secara luas bahwa
Rasulullah lahir di hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awwal, tahun Gajah—Imam
al-Kinani menshahihkan pendapat ini.(Imam Izuddin bin Badruddin al-Kinani,
al-Mukhtashar al-Kabir fi Sirah al-Rasul, Amman: Darul Basyir, 1993, hlm 22).
Hal ini didasarkan pada riwayat Imam Ibnu Ishaq dari Sayyidina Ibnu Abbas:
وُلِدَ
رَسُولُ اللَّهِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ
شَهْرِ رَبِيع الْأَوَّلِ، عَام الْفِيلِ
“Rasulullah dilahirkan di hari Senin, tanggal
dua belas di malam yang tenang pada bulan Rabiul Awwal, Tahun Gajah.” (Imam
Ibnu Hisyam, juz 1, hlm 183).
Riwayat di atas diperkuat dengan perkataan
Qays bin Makhramah ra yang didapat dari kakeknya:
وُلِدْتُ
أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ عَامَ الْفِيلِ
“Aku dan Rasulullah dilahirkan pada Tahun
Gajah.” (HR. Imam Tirmidzi)
Dalam riwayat lain, ada juga yang menyebutkan
bahwa Rasulullah dilahirkan di bulan Ramadhan. Riwayat ini dikemukakan oleh
‘Uqbah bin Mukarram yang mengatakan:
.....وُلِدَ
يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ لِثَنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ..
“.....Rasulullah SAW dilahirkan pada hari
Senin tanggal dua belas di malam hari yang tenang, bulan Ramadhan.....”(Imam
Muhammad bin Ahmad al-Dzahabi, al-Sirah al-Nabawiyyah,Beirut: Darul Kutub
al-‘Ilmiyyah, tt,hlm 6).
Menurut Imam al-Dzahabi, riwayat di atas
merupakan hadîts sâqith (hadits yang gugur) dan tidak bisa dijadikan sandaran.
Di sisi lain, terdapat riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW tidak
dilahirkan di tahun Gajah, tepatnya beliau dilahirkan sebelum tahun Gajah.
Riwayat ini dikeluarkan oleh Abu Shalih dari Sayyidina Ibnu Abbas yang
mengatakan:
وُلِدَ
رَسُوْلُ اللهِ صلي الله عليه وسلم قَبْلَ الْفِيْلِ بِخَمْسِ عَشْرَةَ سَنَّةً
“Rasulullah SAW dilahirkan sebelum tahun
Gajah, sekitar lima belas tahun sebelumnya.” (Imam Muhammad bin Ahmad
al-Dzahabi, hlm 6).
Imam al-Dzahabi mengomentari riwayat ini
dengan sangat keras. Dia mengatakan: “qad taqaddama ma yubayyinu kadzba
hadza al-qaul ‘an ibn ‘abbas bi isnad shahih—sungguh telah dikemukakan
sebelumnya, riwayat yang menjelaskan kebohongan perkataan ini, yaitu
riwayatIbnu Abbas dengan sanad yang shahih.” (Imam Muhammad bin Ahmad
al-Dzahabi, hlm 6).
Maksudnya adalah hadits yang diriwayatkan
Imam Ibnu Ishaq dari Sayyidina Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW
lahir pada tanggal 12 Rabiul Awwal di tahun Gajah. Riwayat itu menjadi bukti
lemahnya riwayat yang menyatakan Rasulullah lahir lima belas tahun sebelum
tahun Gajah.
Semoga tulisan singkat ini bermanfaat untuk
menghidupkan kembali spirit kelahiran Nabi Muhammad Saw, khususnya dalam momen
maulid penuh berkah ini. Wallahu a’lam bisshawab... []
Muhammad Afiq Zahara, Alumnus Pondok
Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan Pondok Pesantren
al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar