Di Mana Pusat Wilayah Berkah?
Oleh: Nasaruddin Umar
BEBERAPA ayat dan hadis menyebut Kota Mekah sebagai kota berkah.
Di antaranya disebutkan dalam ayat yang berbunyi, "Mahasuci Allah, yang
telah menjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil
Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya
sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah
Mahamendengar lagi Mahamelihat", (QS Al-Isra'/17:1).
Dalam ayat lain disebutkan, "Sesungguhnya rumah yang
mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia ialah Baitullah yang di
Bakkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia", (QS Ali
‘Imran/3:96).
Dalam hadis digambarkan pahala salat di Mekah sebanyak 100 ribu
kali perbandingannya daripada salat di luarnya, selain Kota Madinah yang
dikatakan mempunyai kekuatan 20 ribu jika dibandingkan dengan salat di tempat
lain selain di Mekah.
Pertanyaan kita ialah di mana pusat berkah itu? Apakah di Mekah
atau di Bakkah? Apakah sebatas pelataran Kabah atau seluruh batas Tanah Haram
yang ditandai dengan rambu-rambu perbatasan oleh pemerintah kerajaan Arab
Saudi? Dalam ayat dan hadis tidak diungkapkan secara pasti batas wilayah Mekah
yang dianggap berkah.
Dalam ayat pertama tersebut, dikatakan Kota Mekah yang ‘telah kami
berkahi sekelilingnya’ (alladzi barakna haulahu). Sementara itu, dalam ayat
kedua hanya dikatakan ‘Bakkah yang diberkahi’ (Makkah mubarah). Dalam hadis
juga tidak ada penjelasan secara tegas. Karena ketidaktegasan itu, kalangan
ulama berbeda pendapat.
Ada yang mengatakan seluruh batas Kota Mekah, yang lainnya
mengatakan batas Tanah Haram di dalam Kota Mekah, dan pendapat lain juga mengatakan
sebatas pelataran Kabah. Itu juga masih dipertanyakan karena pelataran Kabah
sekarang sudah sedemikian luas.
Ada cerita menarik datang dari Syekh Ibnu Arabi dalam kitabnya Al Mubasysyirat menceritakan, ketika suatu saat menyelenggarakan haji/umrah, ia mengalami peristiwa ajaib. Ia tiba-tiba berjumpa dengan sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar. Tidak dijelaskan apakah dalam mimpi (al-manamat) atau perjumpaan spiritual (al-waqi'iyyat).
Ia menyapa Abu Bakar dan menanyakan, di manakah batas yang kalau
kita salat mendapatkan 100 ribu pahala? Apakah di pelataran Kabah atau di
seluruh wilayah Kota Mekah. Abu Bakar menjawab, “yang saya ketahui di masa
Nabi, yang termasuk dalam wilayah itu ialah seluruh Kota Mekah yang diberi
batas sebagai Tanah Haram.” Setelah itu Abu bakar pergi. Pengalaman spiritual
ini ialah satu di antara sekian banyak pengalaman spiritual Syekh Ibnu Arabi
yang dihimpun di dalam kitab tersebut.
Menurut Imam Al-Ghazali, wilayah paling berkah ialah yang paling
dekat dengan Kabah. Ia menggambarkan bahwa Kabah ialah pusat gravitasi
spiritual. Semenjak Kabah dibangun, tidak pernah berhenti diputari oleh manusia
dan makhluk spiritual, seperti jin dan malaikat. Mereka juga ikut bertawaf di
sekeliling Kabah.
Ibarat sebuah turbin yang selalu hidup dan aktif mengalirkan dan
memancarkan energi batin. Energi di sekitarnya bisa meluruskan jalan pikiran
yang bengkok, melunakkan hati yang keras, dan memutihkan hati yang kotor.
Energi Kabah juga bisa menyedot dan mengisap para jemaah haji dan umrah ke dalam
lingkaran pusat magnet spiritual. Seolah-olah pusat magnet ini mampu menyedot
seluruh dosa dan kotoran para tamu Allah Yang Mahapengasih (dhuyuf al-Rahman).
Wajar jika dikatakan dalam hadis Nabi bahwa satu salat di samping
Kabah sepadan dengan 100 ribu kali salat di luarnya. Orang yang salat di dalam
radius inner circle Kabah bagaikan berada di dalam lautan berkah. Inilah
sesungguhnya yang disebut dengan Mekah yang penuh berkah, sebagaimana
disebutkan dalam ayat dan hadis.
Banyak jemaah haji dan umrah, terutama jemaah haji
Indonesia, memegang pendapat Imam Al-Ghazali. Mereka tidak memedulikan
panas terik demi mencapai pelataran bagian dalam Kabah. Sekalipun harus
berdesak-desakan. Dalam musim haji, terkadang kita menyaksikan orang-orang
bergantian sujud karena begitu padatnya jemaah di sekitar Kabah. Padahal, jika
orang mau berpegang kepada petunjuk yang diperoleh Ibnu Arabi, salat di dalam
pelataran Kabah atau salat di masjid-masjid lain di dalam Kota Suci Mekah sama
saja.
Masalahnya ialah soal perasaan. Bagaimanapun menghadap dan
sekaligus menyaksikan Kabah secara fisik jauh lebih khidmat ketimbang hanya
salat dengan menghadap ke arah kiblat. Itulah keajaiban sekaligus keutamaan
kota Mekah yang menyimpan sejumlah benda dan bangunan sakral. Wallahualam. []
MEDIA INDONESIA, 23 Agustus 2018
Nasaruddin Umar | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar