Uraian Mbah Sholeh
Darat atas Al-Hikam Ibnu Atha’illah
Judul Buku
: Syarah Al-Hikam
Penulis
: KH. Sholeh Darat
Penerbit
: Sahifa
Cetakan
: Pertama, Januari 2016
Tebal
: 396 halaman
ISBN
: 978-602-1361-61-0
Peresensi
: Muhammad Autad An Nasher, Aktivis
Jaringan Gusdurian Indonesia
Bernama lengkap KH
Muhammad Shalih bin ‘Umar As-Samarani atau yang kemudian dikenal dengan Mbah
Sholeh Darat, adalah ulama terkemuka pada peralihan abad ke-20. Beliau
merupakan maha guru para ulama besar di tanah Nusantara, seperti KH Hasyim
Asy’ari (Tebuireng, Jombang, Pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (Yogyakarta, Pendiri
Muhammadiyah), KH Mahfuzh (Tremas), KH. Amir (Pekalongan), Kiai Idris (Surakarta),
hingga Kiai Penghulu Tafsir Anom (Keraton Surakarta).
Di samping sebagai
pengajar, Mbah Sholeh Darat juga dikenal sebagai penulis profilik kitab-kitab
keagamaan dengan menggunakan aksara Arab dalam bahasa Jawa atau masyhur disebut
Arab Pegon (billisanil jawi al-mirikiyyah). Kitab yang diterjemah dan disadur
diantaranya adalah Matan Al-Hikam karya Ibnu ‘Atha’illah Al-Iskandari (1250
M-1309 M). Tujuan penulisan Arab Pegon yang dilakukan Mbah Sholeh tak lain agar
dipahami kalangan awam, terlebih kitab Al-Hikam ini dikenal mengandung bahasan
yang sulit, tinggi, serta mendalam.
Buku Syarah Al-Hikam
ini begitu terang dalam melakukan terjemahan ke teks bahasa Indonesia. Selain
itu, buku ini juga menyertakan teks asli dari tulisan Mbah Sholeh Darat (Arab
Pegon), sehingga pembaca yang menguasai Jawa Arab Pegon bisa langsung melakukan
kroscek apa dan bagaimana kalam yang telah Mbah Sholeh tafsiri. Karena bisa
jadi hasil terjemah tidak sesuai ketika kita merujuk langsung kepada redaksi
aslinya.
Kitab Syarah Al-Hikam
yang disyarahi Mbah Sholeh Darat ini menjadi salah satu bacaan wajib bagi
siapapun, terutama yang ingin mendalami secara lebih kajian-kajian tentang
tasawuf, baik yang falsafi maupun amali. Karena di dalamnya begitu terang—baik
secara eksplisit—menjelaskan tahapan-tahapan mengenai syari’at, tarekat, dan
hakikat. Sehingga kalangan awam dapat mencernanya dengan baik.
Salah satu contoh
kajian tasawuf, pada hikmah pertama, sebagaimana yang disusun Ibnu ‘Atha’illah
menyebutkan, min ‘alamaatil i’timaadi ‘ala al-‘amal, nuqshonu ar-Raja’
‘inda wujuudi al-zalal” (diantara tanda-tanda bahwa seseorang bertumpu
pada kekuatan amal usahanya ialah kurangnya pengharapan (terhadap rahmat
anugerah Allah) ketika terjadi padanya suatu kesalahan atau dosa).
Menariknya, Mbah
Sholeh Darat memberikan beberapa contoh, misalnya. Bahwa amal kita di dunia ini
tidak akan mampu menjamin keselamatan seseorang. Karena baik iman ataupun
kufur, masuk surga atau masuk neraka, itu semua
berkat fadhal (karunia) dan keadilan Allah Swt semata (hlm 3).
Untuk memperkuat
hikmah tersebut, Mbah Sholeh Darat menghadirkan kisah Pendeta Bala’am bin
Ba’ura dan Qarun, keduanya merupakan orang ahli ibadah, sementara Qarun sendiri
adalah ulama Bani Israil. Namun, dalam ajalnya, keduanya mati dalam keadaan
kafir (tidak beriman). Sementara Sayyidah Asiyah binti Muzahim, walaupun
menjadi istri Fir’aun—sebagaimana diketahui bahwa Fir’aun adalah penguasa yang
zalim, mengaku sebagai Tuhan, sekaligus juga musuh utama Nabi Musa—namun, pada
kenyataannya, istri Fir’aun itu menjadi kekasih Allah. Bahkan, Mbah Sholeh
Darat menyebutkan Saayidah Asiyah tersebut pada akhirnya nanti akan menjadi
istri Rasulullah Saw saat di surga. Selain itu masih banyak yang dicontohkan
oleh Mbah Sholeh atas syarahnya kitab Al-Hikam ini.
Meski demikian, buku
Syarah Al-Hikam ini tidak secara menyeluruh mensyarahi matan Al-Hikam karya
Ibnu ‘Atha’illah. Mbah Sholeh Darat hanya meringkas sekira 2/3 atau 137 pesan
hikmah dari 264 hikmah. Dengan tujuan, supaya masyarakat awam lebih mudah mempelajari
serta mengamalkan.
Mbah Soleh yang juga
dikenal sebagai guru RA. Kartini ini, mulai melakukan penerjemahan pada tahun
1289 H/1868 M. Walaupun dengan jarak yang relatif lama tersebut, tidak kemudian
buku ini menjadi usang, tidak menarik untuk didiskusikan kembali. Justru,
semakin lamanya kitab itu dikarang, semakin menarik untuk dibaca dan dikaji
ulang. Lebih-lebih, ketika dihadapkan pada dunia modern saat ini.
Mengingat kitab
Al-Hikam adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap realitas dunia yang terjadi
saat ini. Di era globalisasi seperti sekarang, kita tidak bisa lepas dari
pergaulan global yang keras, saling sikut sana-sini. Dan dunia, yang konon
dapat menjauhkan diri dari Tuhan, oleh sebagian orang (terutama dari kalangan
sufi), sebisa mungkin untuh dijauhi dan ditinggalkan, yakni dengan melakukan
suluk zuhud (meninggalkan dunia).
Namun, disatu sisi,
masyarakat kita dituntut agar mampu bersaing di ranah kancah dunia. Umat Islam
selama ini jauh tertinggal dari umat-umat yang lain, dengan alasan melakukan
zuhud tadi. Hatinya tidak ingin tercampur dengan urusan duniawi. Dunia yang
dapat melengahkan dan memperbudak manusia. Namun, bagi Ibnu ‘Atha’illah,
profesi dan mencari dunia (sandang, pangan, dan papan) itu penting. Sebagai
kendaraan (washilah) untuk menuju rasa syukur kepada Allah. Pemahaman-pemahaman
seperti inilah yang perlu diluruskan, supaya umat Islam tidak gagal paham,
kemudian mengasingkan diri sepenuhya kepada dunia.
Mengutip pendapat Gus
Dur, kitab Al-Hikam telah menginspirasi lahirnya nama Nahdhatul Ulama.
Organisasi Islam terkemuka di dunia ini terilhami dari kalimat Ibnu
‘Atha’illah, “Lataskhab man la yunhidhuka illahhi haaluhu wa laa yadulluka
ilahhi maqooluhu” (janganlah engkau jadikan sahabat atau guru orang yang
amalnya tidak membangkitkan kamu kepada Allah). Kata ‘yunhidu’ yang berarti
membangkitkan pada kalimat tersebut, itulah inspirasinya. Siapa lagi yang bisa
membangkitkan kalau bukan para ulama (hlm xvi).
Terlepas dari itu
semua, petuah-petuah hikmah dan bijak bestari yang sudah digubah oleh Ibn
‘Atha’illah, yang kemudian disyarahi Mbah Sholeh Darat ini, wajib kiranya
dihadirkan kembali untuk menjaga warisan budaya dan pemikiran para pendahulu,
ulama nusantara. []

Tidak ada komentar:
Posting Komentar