Kamis, 11 April 2013

(Ngaji of the Day) Runtuhnya Dinasti Abbasyiah Berawal Dari Sifat Royal


Runtuhnya Dinasti Abbasyiah Berawal Dari Sifat Royal

Oleh: Imam Muzammil

 

Sejarah mencatat kejayaan Islam kembali berkibar pada masa kepemirintahan Harun al-Rasyid (786-809 H) yang berpusat di Baghdad. Meski usianya tidak sampai setengah abad, tapi Baghdad mampu menjadi pusat dunia dengan tingkat kemakmuran dan peran internasional yang luar biasa. Baghdad merupakan saingan satu-satunya Bizantium.

 

Kejayaannya seiring dengan kemakmuran kerajaan, terutama ibu kotanya. Saat itulah Baghdad menjadi kota yang tiada bandingannya di seluruh penjuru dunia.(Khatib, jilid 1, hlm 119)

 

Sifat Foya-Foya Dikalangan Keluarga Istana

 

Ketika Harun al-Rasyid menjabat sebagai khlifah pada sekitar tahun 786-809 H. keberadaan keluarga istana senang menghambur-hamburkan harta, sebab saat itu keuangan Negara dalam keadaan makmur.

Fasilitas istana pun serba mewah. Ruang pertemuan keluarga istana dilengkapi dengan karpet, gorden, dan bantal terbaik dari Timur Tengah. Salah satu keluarga dekat istana yang hidup berfoya-foya adalah istri sepupu khalifah, Zubaidah. Ia tidak mau menggunakan gelas kecuali terbuat dari perak atau emas dan berhiaskan batu-batu berharga. Ia juga tercatat sebagai orang pertama yang menghiasi sepatunya dengan batu-batu berharga.(Al-Mas'udi, vol 8, hal 298-299)

 

Selain Zubaidah, kehidupan serbah mewa juga menjadi karakter Ulayyah, anak perempuan al-Mahdi dan saudara perempuan Harun al-Rasyid. Untuk menutupi goresan di dahinya saja, ia menggunakan pengikat kepala yang berhiaskan permata. Sehingga tren ala Ulayyah ini menjadi mode yang ditiru oleh dunia, sekaligus menjadikannya sebagai orang pertama kali yang menggunakan pengikat kepala berhiaskan permata.(History of The Arabs. Piliph K. HITTI. hlm 376)

 

Sifat loyal ini terus berlanjut pada anak turun al-Rasyid, al-Ma'mun 813 H. Saat acara seremonial pengangkatannya sebagai khalifah, resepsi haji, upacara penyambutan duta asing, terutama pada acara resepsi pernikahannya dengan Buran pada 825 H, al-Ma’mun menghabiskan dana yang sangat besar.(Aghani, vol 11, hlm 83). Pada acara resepsi pernikahan itu, seribu permata dalam berbagai bentuk ditaburkan dari sebuah nampan emas kepada kedua mempelai yang duduk di permadani keemasan yang dihiasi batu-batu dan safir. 200 lilin besar menerangi malam hingga tarang benderang. Bola-bola yang berisi kartu sebidang tanah, atau budak, dan hadiah-hadiah yang lainnya ditaburkan kearah putra mahkota dan pajabat tinggi istana. Segala macam kemewahan dan kesenagan diberikan pada waktu itu.

Pada masa kepemeintahan setelahnya al-Ma’mun sifat boros terus berlanjut, yaitu pada masa kepemirintahan al-Muqtadir 917 H.

 

Pada saat Khalifah al-Muqatadir kedatagan para utusan raja muda Constantine V11 yang membawa misi pertukaran dan penebusan tawananan, ia menyambuntnya dengan pagelaran pesta parade baris 160 ribu pasukan Kavaleri dan Infantry, 7000 laki-lakli kulit putih dan hitam yang dikebiri dan 700 pengurus rumah tangga istana. 100 ekor singa ikut berparade. Di dalam istana Khalifah digantungkan 38. 000 tirai yang 12.000 diantaranya dihiasi dengan emas.(Al-Mas'udi, at-Tanbih, hlm 193)

 

Para utusan raja Constantin VII pun sangat terkejut bukan main melihat keindahan yang mereka saksikan. Bahkan mereka mengira ruang pengurus adalah rumah tangga istana, dan ruang wazir adalah ruang pertemuan khalifah. Mereka juga sangat heran melihat ruang pohon yang berisi sebatang pohon tiruan dari emas dan perak seberat 500 gram, yang pada dahan-dahannya bertengger burung-burung dari logam-logam berharga yang dirancang sedemikian rupa, sehingga terus berkicau dengan bantuan alat otomatis. Di kebun, mereka mengagumi pohon-pohon kurma, bonsai, yang melalui pembudi-dayaan khusus menghasilkan kurma jenis langka.

 

Bersamaan dengan kehidupan mewah para keluarga istanan, pemerintah juga memberi subsidi yang sedemikian besar pada rakyatnya terutama pada kerabat-kerabat Khalifah. Kerabat-kerabat istana yang dekat seperti Ibu al-Rasyid sendiri, al-Khaizuran telah menerima subsidi sebesar 160 juta dirham.(Al-Mas'udi vol VI, hlm 289). Anggota Hasyimiyah yang merupakan suku Dinasti Abbasiyah juga menerima subsidi dalam jumlah yang sangat besar yang dikucurkan secara teratur melalui kas Negara. Namun pada akhirnya peraktek tersebut dihentikan al-Mu'tashim (833-842 H.)

 

Hidup Mewah Awal Kehancuran Sebuah Dinasti

 

Sulit dinalar oleh akal, kala sebuah dinasti mencapai puncak kejayaannya, dengan berbagai kegelimangan harta yang melimpah malah merupakan menjadi sebab kemunduran yang nantinya mengakibatkan sebuah kehancuran bagi suatu Dinasti. Sebab fasilitas yang serba ada cenderung menjadikan seseorang menjadi pemalas dan enggan mencari sebuah trobosan-trobosan baru demi keberlangsungan kemakmuran suatu Negara.

 

Hal itu juga dialami oleh dinasti Abbasyiah, kehidupan serba mewah membuat keluarga Khalifah bermalas-malasan memikirkan masa depan Negara. Dan bahkan hanya berpangku tangan pada kekayaan yang mereka miliki. Padahal fasilitas yang serba ada itulah yang menjadi penyebab redupnya kejayaan dinasi ini.

 

Sebuah riset yang dilakukan Ibnu Khaldun dalam karyanya, Muqaddimah Ibnu Khaldun menyatakan bahwa di antara hal yang menyebabkan dinasti Abbasyiah menjadi runtuh adalah: hidup mewah yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Sehingga terjadi defisit dalam sirkulasi keuangan Negara; autput lebih besar dari income. Padahal jumlah pajak yang dipungut dari rakyat sangat terbatas.(Muqoddimah Ibnu Khuldun 206)

 

Di sinilah terjadi ketimpangan. pajak yang dikumpulkan dari rakyat sebagian besar dialokasikan untuk memeberi tunjangan dengan nominal yang sangat banyak kepada para keluarga dekat istana yang senang hidup mewah. Sementara anggaran belanja untuk angkatan bersenjata terpaksa dikurangi.

 

Hal ini menjadikan angkatan bersenjata semakin hari semakin berkurang. Akibatnya, perlindungan menjadi lemah, kekuatan Negara menurun dan bangasa-bangsa tetangga atau para suku-suku dan gerombolan-gerombolan di perbatasan bisa sesuka hati memberontak. Dan akhirnya dinasti Abbasyiah tak berdaya membendung serangan musuh. []

 

Sumber: Buletin Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan – Jawa Timur

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar