Jumat, 12 April 2013

Cak Nun: Kaum Muda Masa Depan Bangsa


Kaum Muda Masa Depan Bangsa

Oleh: Emha Ainun Nadjib

 

Negara Indonesia disangga oleh lima pilar, bangsa Indonesia memiliki “alam takdir”, watak khas kemanusiaan dan kekayaan budaya yang merupakan bahan sangat menggiurkan untuk membangun peradaban penerang dunia di masa depan. Arab Spring yang kini sedang dilangsungkan oleh “sekutu penguasa bumi” meletakkan Indonesia sebagai sampel atau rujukan utama untuk “membangun demokrasi di Negeri mayoritas Muslim”. Di antara enam nominator, Indonesia yang utama, sementara Iran Turki urutan terbawah.

 

Sebenarnya terserah masing-masing untuk mengambil sisi yang mana dalam menilai bangsa Indonesia. Boleh pilih hipotesis bahwa bangsa ini sengaja dikubur kenyataan sejarah masa silamnya, sehingga penduduk bumi hanya mengenal Yunani Kuno, Mesir Kuno, Mesopotamia, atau Inka Maya. Statemen Santos Brazil bahwa Negeri Atlantis tak lain adalah nenek moyang Nusantara tidak boleh dilegalisir secara ilmiah.

 

Yang punya duit dan yang mengolah duit di abad ini adalah keturunan dua kakak beradik, yakni Ismail dan Ishaq, putra Mbah Ibrahim. Sementara di bawah tanah sedang mulai diyakini bahwa Ibrahim adalah anak turun Bangsa Nusantara yang lahir oleh salah seorang putra Nuh. Salah satu pendekatan ilmu menduga Adam adalah produk hibrida makhluk abu-abu, sementara manusia Nusantara adalah hibrida yang lebih “gawat”; blasteran antara ekstrem densitas positif dengan ekstrem densitas negatif.

 

Maka manusia Nusantara memiliki kenekadan hidup melebihi manusia bangsa manapun di muka bumi. Kata “nekad” tidak ada padanan bahasanya. berani merundingkan rencana korupsi ketika air wudlu belum kering. “Tolong yang 10% dikasih para Kiai, yang 10% dihibahkan ke Pesantren, jelasnya nanti kita tahlilan di Hotel X tanggal sekian jam sekian….”. Yang dimaksud para Kiai adalah anggota DPR tertentu yang terkait dengan proyek yang sedang akan disunat. Pesantren adalah pejabat Kementerian yang merupakan jalur proyek itu. Tahlilan maksudnya adalah meeting untuk pembagian apel Malang, apel Washington dst yang kemudian diubah idiomnya dengan kata-kata dari tradisi budaya Islam.

 

Bangsa nekad berani kawin tanpa punya kerjaan. Berani kredit motor ketika hutang yang dari kemarin masih bertumpuk. Berani naik menara tinggi pakai sandal jepit sambil merokok tanpa tali pengaman. Berani naik atap kereta api ratusan orang sekaligus tanpa berpegangan apa-apa. Kalau sudah tertangkap korupsi langsung pakai peci atau kerudung dan jilbab, begitu duduk di kursi pengadilan sudah nenteng tasbih di jari-jemarinya. Bangsa yang tidak kunjung hancur oleh krisis-krisis perekonomian, tetap menang kontes tertawa dan tersenyum sedunia, industri kuliner melonjak ekstrem, kampung-kampung dan jalanan tetap memancarkan kehangatan hidup.

 

Ada ratusan lainnya contoh ketangguhan manusia Nusantara. Ketangguhan, keanehan dan kegilaan. Tidak sekedar memiliki kesanggupan untuk mengalihkan area hujan cukup dengan sapi lidi dan cabe merah, atau memakelari peluang cium Hajar Aswad di tengah jejalan ratusan ribu orang berthawaf mengelilingi Ka’bah. Akan tetapi sisi itu boleh dianggap isapan jempol dan khayalan untuk menghibur-hibur diri dari kebrengsekan kehidupan bernegara yang tak kunjung usai. Setiap orang berhak ambil sisi lain: Bangsa Nusantara adalah Garuda yang sangat jinak dan berkekuatan Emprit: bisa dijajah ratusan tahun oleh beberapa peleton Satpam sebuah perusahaan Negeri Belanda….

 

Ada yang berpikir kontekstual: ayam tak mungkin melakukan pekerjaan burung, tapi burung juga jangan melakukan kebangkitan ayam. Kalau bangsa Indonesia adalah Garuda, kebangkitannya harus bervisi Garuda. Kalau bangsa Indonesia tidak tahu siapa dirinya, bagaimana mendisain kebangkitannya.

 

Tetapi ada juga yang berpikir universal dan esensial: terserah siapa kita dan siapa nenek moyang kita, pokoknya hari ini kamu punya potensi apa, kembangkan secara maksimal dengan kerja keras dan ketekunan.

 

Kita kembali close-up menatap diri. Bangunan NKRI disangga oleh lima pilar. Pilar pertama, yakni yang utama, sangat besar, tinggi dan berada di tengah bangunan, adalah rakyat.

 

Empat pilar lainnya, yakni kedua: Kaum Intelektual. Untuk konteks Negara modern disebut Kelas Menengah. Wilayah perannya: Legislatif, Eksekutif, Yudikatif, dan Pers.

 

Pilar ketiga, Tentara Rakyat. Sekarang TNI dan Polri. Pilar keempat, Kraton-kraton dan kekuatan kebudayaan. Pilar kelima, intitusi Agama-agama dan bangunan spiritualisme.

 

Pada era awal kemerdekaan hingga menjelang akhir 1950an, terdapat keseimbangan yang lumayan di antara lima pilar itu. Kemudian mengerucut ke “Aku Sukarno”, lantas pada 1965 dijebol oleh strategi “anak petani” Suharto yang mempersiapkan kekuasaan sejauh tujuh tahun lebih sebelumnya. Untuk kemudian mendayagunakan Pilar Ketiga, dengan membonekakan Pilar Kedua dan mengebiri Pilar-pilar lainnya.

 

Suharto dengan Pelita 5×5 tahun, pupus di tengah jalan, sesudah ia menggeser landasan kekuatannya dari “merah putih” ke hijau, dari ABRI merah putih Ali Murtopo Beny Murdani ke ABRI hijau Hartono, dari Merah Putih Golkar ke embrio politik hijau melalui persemaian ICMI. Kekuasaan global yang menguasai bumi punya “pasal”: Indonesia silahkan maju dan jaya perekonomiannya, bahkan boleh berkibar Tri-Sakti (politik, ekonomi dan kebudayaan)nya, asal jangan “pakai peci”.

 

Karena pergeseran warna Suharto dari merah putih ke hijau, dari Suharto abangan ke Haji Muhammad Suharto, dari “Islam Jawa” ke “Jawa Islam”, ditambah sejumlah variable lain, maka Reformasi direkayasa untuk menjatuhkannya. Mahasiswa dan Kelas Menengah intelektual dibusungkan dadanya di-casting jadi pahlawan yang mampu menggulingkan Suharto, serta dibikin tidak ingat bahwa mereka tidak mampu menggulingkan Gus Dur, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono. Sambil disibukkan dengan sensasi budaya tawur dan euforia peradaban busa-busa intertainment.

 

Suharto lengser, tenang-tenang menyiram kembang di Cendana dan merokok “klobot”, tidak minta suaka ke luar negeri, tidak di demo di RT-RWnya, senyum-senyum melihat Reformasi, perih hatinya melihat anak-anaknya, menyesali Ilmu Pranatamangsa dan Ilmu Katuranggan yang sanggup ia terapkan dalam menguasai Indonesia selama 32 tahun, namun tidak sedikitpun ia mampu mengaplikasikan di keluarga kecil Cendananya.

 

Suharto benar-benar “ora petheken” selama tidak menjadi Presiden di sisa hidupnya. 16 bom di 8 pom bensin dan 8 titik jalan tol seputar Jakarta Kota dia acuhkan, padahal siap mengamankan Istana dan kekuasaannya kalau ia kasih kode dalam pertemuan 19 Mei 1998 di Istana Negara. Bahkan Suharto membuka dada dan tangannya dengan “4 Sumpah”: “Pertama, saya, Suharto, mantan Presiden RI, bersumpah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan rakyat Indonesia bahwa saya tidak akan melakukan apapun untuk menjadi Presiden lagi. Kedua, untuk turut campur dalam pemilihan Presiden. Ketiga, siap diadili oleh Pengadilan Negara untuk mempertanggungjawabkan kesalahan-kesalahan saya selama menjadi Presiden. Keempat, siap mengembalikan harta rakyat berdasarkan putusan Pengadilan Negara….”

 

Ia tahu tak akan pernah diadili. Hanya dikutuk, dibenci dan dirasani. Sebab kebanyakan orang Indonesia ingin menjadi dia, calon-calon penguasa bukan anti-Suharto, melainkan ingin menggantikan dan memperoleh laba, keenakan dan kenikmatan yang ia peroleh 32 tahun. Maka ia tidak lari ke mana-mana, jangankan ke luar negeri, pindah RT-pun tidak. Ia tenang sembahyang, secara resmi mengangkat seorang Imam untuk memandunya berwirid husnul khatimah.

 

Akhirnya ia dipanggil Tuhan, meninggalkan rakyat Indonesia yang makin kebingungan menentukan Sukarno itu baik atau buruk, Suharto itu benar atau salah, sebenarnya mana rujukan masa depan kita: Orde Lama, Orde Baru ataukah Reformasi. Bahkan para penganut substansialisme hampir pecah kepalanya tak bisa menjawab SBY ini beneran Presiden atau Presiden-presidenan terbuat dari plastik. Sambil bersedih hatinya: dulu kita muak pada Bung Karno, tapi tetap bangga kepadanya. Dulu kita benci Suharto, tapi tidak sampai berani melecehkan bahkan menghinanya, sebagaimana sekarang orang melakukan pelecehan dan penghinaan itu di berbagai media bebas maupun di jalanan-jalanan.

 

Apalagi kalau melihat lebih spesifik dan detail — misalnya — atas pertimbangan keguru-bangsaan apa Bung Karno membubarkan HMI dan begitu dekat dengan PKI. Atas pertimbangan masa depan yang bagaimana Pak Harto menyimpan sejumlah rahasia 1998, termasuk sampai wafatnya tidak mengizinkan buku “Lalu lintas Keuangan Cendana” diterbitkan. Sebagaimana HB-IX juga sampai wafat beliau menolak membuka rahasia tentang fakta Perjuangan 1 Maret 1949, tentang peran Suharto yang sebenarnya.

 

Kita bangsa Indonesia tidak mau disiksa terus menerus oleh kebingungan, sehingga yang penting sekarang di tempat masing-masing kita sibuk “cari untung”. Kita manusia Indonesia memfokuskan diri pada tema-tema kecil, sekunder dan parsial. Karena yang besar-besar hampir mustahil diidentifikasi dan dielaborasi, serta tak mencukupi bahan-bahan sejarahnya. Juga tidak akan populer.

 

Akan tetapi kita jangan mati dengan melepas anak-anak kita buta tak tahu belakang dan tak mengerti depan. Sebenarnya saya gembira dan optimis hampir tiap malam di berbagai wilayah saya berjumpa dengan ribuan anak-anak muda yang berjuang menyembuhkan kebutaan hidupnya. Penduduk Indonesia sekarang rata-rata usianya adalah 27,5 tahun. Dan yang saya jumpai sejauh saya berkeliling ke pelosok-pelosok sejak hari kedua Suharto jatuh, adalah para pemuda usia tersebut dengan sorot mata yang aneh.

Aneh karena muatan orisinalitasnya. Mereka tidak hancur oleh ketidak-menentuan keadaan Negaranya. Mereka tidak semena-mena bisa dicuci otak dan mentalnya oleh industri disinformasi dan peradaban hiburan kekonyolan. Anak-anak muda Nusantara sedang mempersiapkan kebangkitannya. Ada gerakan 1 juta petani muda, ada eksperimentasi-eksperimentasi keIndonesiaan di segala bidang. Pelan-pelan tapi pasti akan lahir kaum muda visioner dan expert, dengan atau tanpa profesionalisme kependidikan. Nutrisinya meningkat, daya akuntansinya makin tajam, ‘militerisme atas diri sendiri’ atau kedisiplinan dan kesungguhannya lahir serius, di dunia maya mereka juga sangat mengincar supremasi. Bahkan sejarah hari esok Indonesia tidak bisa mengelak dari pemikiran-pemikiran baru kaum muda untuk mentransformasikan ketatanegaraan NKRI dan men-saleh-kan konstitusi dan hukumnya.

 

“Saleh” adalah kebaikan yang dihitung dan disimulasikan sedemikian rupa sampai manfaatnya maksimal dan mudaratnya minimal.

 

Telah dimuat Kolom Opini, Harian Kompas, Sabtu, 17 November 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar