Makna Komprehensif Idul Adha
Oleh: Nasaruddin Umar
DALAM Islam dikenal dua hari raya penting, yakni Hari Raya Idul
Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Kedua hari raya itu mempunyai persamaan makna,
yaitu hari pembebasan dan hari proklamasi kembalinya seseorang kepada semangat
kesucian.
Kalau Idul Fitri, orang bisa kembali kepada kesucian setelah
berpuasa sebulan penuh, sedangkan pada Idul Adha orang berpeluang kembali suci
khususnya bagi mereka yang menunaikan haji dengan mabrur. Mereka bagaikan bayi
yang baru lahir tanpa dosa (ka yaumi waladathu ummuh). Dalam hadis lain
disebutkan, Al-hajj al-mabrur laisa lahu jaza' illa al-jannah (haji mabrur
tiada lain balasannya selain surga).
Hikmah yang dapat diperoleh melalui Hari Raya Idul Adha ialah
memetik pelajaran berharga dari pengalaman Nabi Ibrahim, yang termasuk satu di
antara kelompok kecil nabi yang memperoleh predikat 'pemilik kebesaran' (ulul
'adhmi) dan secara khusus disebut sebagai 'kesayangan Allah' (khalil Allah).
Nabi Ibrahim mempunyai beberapa keutamaan, antara lain usahanya
dalam merombak kepercayaan syirik atau politeisme menuju kepercayaan tauhid
atau monoteisme mutlak. Oleh karena itu pula ia disebut 'Bapak Monoteisme'.
Ia juga populer karena usahanya merombak tradisi yang anarkistis
menuju masyarakat demokratis, dan ketabahannya menghadapi penguasa yang tirani.
Tak kalah penting ialah besarnya pengorbanan yang ditunjukkan kepada Allah
melalui ketulusan mengorbankan putranya.
Sebagai penganut teologi rasional dan monoteisme mutlak, Ibrahim
tidak terpengaruh oleh kepercayaan politeisme yang menyembah bintang, matahari,
dan berhala sebagaimana dianut di dalam masyarakatnya.
Menurut pengamatan Ibrahim, sebagaimana direkam dalam Alquran,
bintang-bintang yang cemerlang di kegelapan malam ternyata pudar di siang hari,
matahari yang bersinar tenggelam di malam hari, dan berhala yang bertebaran
ternyata tak mampu berbuat apa-apa. Ia pun berkeyakinan bahwa semuanya itu
bukan tuhan, dan Tuhan sebenarnya ialah yang menciptakan alam raya beserta
isinya.
Dikisahkan, Nabi Ibrahim mempunyai istri bernama Sarah. Sampai
pada usia senja, pasangan ini tidak dikaruniai anak. Dalam suasana pasrah,
Sarah mengizinkan Ibrahim mengawini budaknya bernama Hajar. Akhirnya Hajar
melahirkan anak ketika Ibrahim berumur 86 tahun.
Sejak Hajar mengandung, Sarah cemburu dan bencinya dan mencapai
puncaknya setelah Hajar melahirkan. Hajar dan bayinya diusir. Di tengah
pengembaraan, sang bayi sering ditinggal ibunya mencari makanan dan minuman.
Tangisan bayi itu didengarkan Tuhan. Karena itu ia digelari Ismail, dari bahasa
Ibrani, Isma (mendengar) dan El (Allah).
Sebagai tanda kekuasaan Tuhan, tiba-tiba muncul mata air di tengah
padang pasir, yang kini populer dengan air zamzam.
Nabi Ibrahim tidak dapat berbuat banyak mengatasi persoalan ini
dan sepenuhnya diserahkan kepada Tuhan. Ibrahim kembali ke pangkuan Sarah.
Tuhan menghibur Ibrahim dengan kelahiran Ishaq dari rahim Sarah.
Ketika itu, Ibrahim berumur 100 tahun. Itulah sebabnya di dalam kitab-kitab
tafsir Mu'tabar terdapat dua versi terhadap anak yang dikurbankan Nabi Ibrahim.
Quran dan hadis-hadis sahih tidak menjelaskan siapa di antara
kedua anak Ibrahim itu yang dikurbankan. Hanya dalam Kitab Perjanjian Lama
Pasal 22 ayat 2 ditegaskan bahwa yang dikurbankan ialah Ishaq.
Bagi kita, tidak terlalu penting siapa yang dikurbankan, tetapi
kisah Ibrahim yang sarat dengan pesan-pesan moral yang menarik. Ibrahim ialah
simbol bagi manusia yang rela mengorbankan apa saja demi mencapai keridaan
Tuhan.
Kalau kita menganggap Ismail yang dikurbankan, Ismail ialah simbol
bagi sesuatu yang dapat melemahkan dan menggoyahkan iman, yang dapat membuat
kita enggan menerima tanggung jawab. Simbol yang dapat mengajak kita untuk
berpikiran subjektif, dan berpendirian egois. Tegasnya, simbol bagi segala
sesuatu yang dapat menyesatkan kita.
Mari kita mengintrospeksi dan mengukur diri. Seandainya kita ialah
'Ibrahim', sudahkah kita memperoleh iman setangguh Nabi Ibrahim? Sudahkah kita
menunjukkan pengorbanan yang optimal ke jalan yang diridai Tuhan? Jika kita,
misalnya, berada di puncak karier, sudah relakah kita mengorbankan segalanya
demi mempertahankan prinsip-prinsip ajaran yang dianut?
'Ismail' sebagai simbol bagi sesuatu yang amat kita cintai, sudah
barang tentu kita semua memilikinya. Boleh jadi 'Ismail' kita mengambil bentuk
kendaraan baru, rumah mewah, jabatan penting, deposito, atau kekayaan lainnya.
Apakah kita sudah rela mengorbankan 'Ismail-Ismail' kita untuk mencapai rida
Tuhan?
Jika kita sebagai suami, sudah sanggupkah kita meniru ketangguhan
iman Nabi Ibrahim, mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi
mengamalkan perintah Tuhan? Jika kita sebagai istri, sudah sanggupkah kita
meniru ketabahan dan ketaatan Sarah atau Hajar, merelakan suaminya menjalankan
perintah Tuhan dan menghargai jiwa besar anaknya?
Jika kita sebagai anak, sudahkah kita memiliki idealisme yang
tangguh seperti Ismail, rela menjadi korban untuk suatu tujuan mulia? []
MEDIA INDONESIA, 21 Agustus 2018
Nasaruddin Umar | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar