Ketika Allah Bernegosiasi dengan Fir'aun
Pernah suatu ketika Nabi Musa diutus oleh
Allah untuk menemui Fir'aun guna bernegosiasi. Mencoba berdakwah, mengajak
kepada jalan Allah dengan cara damai dan tanpa pertumpahan darah.
Nabi Mussa lantas menjalankan perintah
rab-nya tersebut. Ia memulai perundingan dengan sang raja yang terkenal ahli
dalam ilmu sihir dan adi daya mandraguna.
"Tuhanku telah mengutusku kepadamu, maka
jika kamu mau beriman kepada-Nya, niscaya engkau akan berada dalam kenikmatan
dan kebahagiaan selama 400 tahun, kemudian engkau pun mati dan selanjutnya
masuk surga," tutur Nabi Musa dengan lembut.
Fir'aun pun terdiam sejenak. Sepertinya ia
mulai menghitung-hitung kompromi yang diajukan nabi yang menjadi musuhnya
tersebut. Ia lalu berkata,
"Tunggulah hingga aku berunding dengan
Haman." jawab Fir'aun.
Haman adalah penasihat kepercayaan kerajaan
Firaun. Ia adalah "tangan kanan" raja terkutuk itu. Ketika berunding,
dan Fir'aun juga telah menceritakan ihwal kedatangan Nabi Musa kepadanya, Haman
bertanya dengan mengintervensi sang raja agar tetap berada di lembah kesesatan:
أتصير
عبدا بعد أن كنت ربا؟
"Akankah engkau akan menjadi seorang
budak, hamba sahaya, setelah engkau menjadi tuhan, penguasa jagat alam
raya?"
Benar saja, apa yang dikatakan penasihat
licik itu ia iyakan begitu saja. Sungguh, Haman layaknya Sengkuni dalam kisah
Mahabarata. Ia begitu licik dan cerdik dalam hal mengatur taktik.
Syahdan, seluruh penyihir yang menjadi
pengikut setia Fir'aun pun dikumpulkan. Tak ketinggalan bala tentara yang
menjaga singgasana manusia tersombong sealam semesta itu pun juga ikut serta.
Maka "musuh Allah' itu pun berdiri congkak di atas singgasananya dan
berkata:
أنا
ربكم الأعلى
"Akulah tuhanmu yang paling tinggi. Tiada
tuhan di atasku. dan tidak ada pula tuhan bagi kalian selainku"
Nahas, pada akhirnya. Tepatnya 40 tahun
setelahnya, Fir'aun yang terkutuk itu pun mati ditelan ganasnya debur gelombang
ombak Laut Merah. Saking menjijikannya, seluruh alam semesta mengutuknya dan
tak sudi barang sedikit menyentuh jasad hinanya, apalagi menguraikannya. Maka
maha benarlah firman Allah dalam Surah An Nazi'at ayat 25:
فأخذه
الله نكال الأخرة و الأولى
"Maka Allah menghukumnya dengan azab di
akhirat dan siksaaan di dunia."
Lewat kisah tersebut, dipetik hikmah bahwa
kegiatan dakwah, mengajak ke jalan Allah sangat menekankan jalan perdamaian.
Bahkan pada Fir'aun yang telah dengan jelas menyekutukan Allah dan berani
mengklaim dirinyalah tuhan yang sesungguhnya-Allah tetap memerintahkan Nabi
Musa untuk mencoba jalan perundingan dangan menawarkan apa yang telah
disebutkan di atas.
Dalam ayat lain pun Allah juga pernah
memerintah dua nabi bersaudara—Musa dan Harun—untuk datang berdakwah kepada
fir’aun dengan bertutur kata yang lemah nan lembut. Dengan harapan ia akan
sadar dan mendapat hidayah untuk takut kepada Allah (Lihat Surah Thaha ayat;
42-44).
Manusia memang hanya berhak menyampaikan
dakwah, sementara hidayah murni menjadi hak prerogatif Allah. Manusia sekadar
bisa berikhtiar, bukan penentu hasil. Sehingga jalan yang mestinya ditempuh pun
wajar—tidak memaksa lagi kasar. Wallahu a'lam. []
Sumber cerita dari kitab Tafsir Hasyiyah Ash
Shawy 'ala Tafsir Al Jalalain Imam Ahmad Ibn Muhammad Al-Showy Al-Maliki
(Halaman: 328, Vol: 4). Kisah ini juga pernah disampaikan oleh Pengasuh
Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, KH Muhammad Shofi Al Mubarok dalam pengajian
Kitab Tafsir Jalalain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar