Sopir
Taksi yang Pengacara dan Jokowi
Oleh:
Ahmad Syafii Maarif
Benarlah
kata orang bahwa “Everyone has his/her story” (setiap manusia punya kisahnya
sendiri). Kisah itu bisa mirip, tetapi perbedaannya pasti lebih besar dan
masing-masing bersifat unik. Saya rekamkan di sini tuturan seorang sopir taksi
tentang percikan kisah hidupnya.
Teman ini
well-informed (kaya
informasi) dan kenal baik dengan Presiden Jokowi karena berasal dari daerah
yang sama dan sama-sama alumnus SMP I Manahan, Solo.
Taksi
yang dikemudikannya hari itu, Jumat, 24 Agustus 2018, bernomor AB 1547 AH,
berangkat dari Nogotirto Elok 2 menuju Bandara Adisutjipto sekitar 08.10 pagi.
Pertama kali menjemput saya.
Baru saja
buka pintu mobil, Bung Joko Surodo SH langsung pegang kepalanya sambil menyebut
nama saya dengan perasaan girang. Selang beberapa menit berjalan, sahabat kita
ini langsung menyebut ungkapan Teologi Maut yang sudah jadi milik publik sejak
dua-tiga tahun terakhir.
Tentu
saja saya sedikit kaget, sopir taksi kenal dengan istilah ini yang untuk
Indonesia mungkin saya yang pertama kali melontarkannya ke media. Ternyata Bung
Joko seorang sarjana hukum alumnus UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret) Solo
tahun 1981. Dia suka baca, termasuk mahir dalam ber-WA.
Joko
sangat terkesan dengan istilah Teologi Maut itu. Demikianlah sekitar 40 menit
dalam perjalanan kami terlibat dalam pembicaraan yang mengasyikkan. Dalam hati
saya berbisik: “Jangan salah duga dengan seorang sopir taksi yang ternyata juga
akrab dengan literasi.”
Joko
Surodo pernah mengambil kuliah bahasa Inggris, tetapi tidak dirampungkannya
untuk kemudian pindah ke Fakultas Hukum UNS. Menurut ceritanya saat mendaftar
jadi mahasiswa, IPB juga membuka pintu untuknya. Artinya, dia punya otak
cerdas. Maka, tuan dan puan tidak perlu heran jika ungkapan Teologi Maut itu
selalu diingatnya.
Pembicaraan
berlanjut ke masa sekolah di SMP I Manahan, satu angkatan, tetapi lain kelas
dengan Joko Widodo (presiden ketujuh RI), seperti telah disebut di atas.
Saat di
SMA keduanya berpisah: Joko Surodo di SMA 5, sedang Jokowi di SMA 6 Solo.
Keduanya kenal baik. Empat tahun yang lalu, menurut Surodo, Jokowi masih kirim
ucapan selamat Natal kepadanya.
Punya foto
kebanggaannya bersama orang nomor satu di Indonesia ini. Foto itu diambil
beberapa tahun yang silam. Lalu saya sambung, sejak tiga tahun terakhir,
Presiden Jokowi juga mengirimkan gudeg asli Solo kepada saya di Yogya.
Joko
Surodo pernah punya taksi sendiri di Solo sambil praktik sebagai pengacara,
tetapi kemudian perusahaan yang diikutinya bangkrut, lalu sejak tiga tahun yang
lalu jadi sopir taksi Pamungkas di Kota Gudeg.
Sebagai
pengacara pun sudah jarang dapat klien. Tiga kali dalam seminggu: Senin, Rabu,
dan Jumat dia bolak-balik Solo-Yogya-Solo dengan kereta api Prameks (Prambanan
Ekpsres) yang murah, tetapi nyaman, sekalipun sering padat penumpang.
Sebagai
penganut Kristen Protestan, Joko Surodo rajin ke gereja. Putra tunggalnya
Karmia Adi masih belajar di SMP, sedangkan tiga kakaknya “sampun dipendhet”
(wafat) saat kecil, kenang Joko dengan rasa pilu, sebuah nasib yang juga saya
pernah alami.
Untunglah,
kata Joko, Karmia sehat yang jadi buah mata dari keluarga. Kematian anak bagi
yang sudah mengalami sungguh mengguncangkan. Maka adalah di luar kelaziman
kemanusiaan, jika ada orang tua yang membunuh anaknya sendiri dengan beraneka
penyebab.
Kembali
kepada lanjutan cerita Joko Surodo tentang Jokowi. Dikatakannya bahwa sewaktu
masih dalam posisi sebagai wali kota Solo, agar Jokowi lebih tangkas berbicara
di depan publik, dosen-dosen UNS-lah sebagai mentornya.
Berhadapan
dengan kaum intelektual ada kiatnya, dengan rakyat biasa ada pula caranya,
dengan tokoh agama lain lagi strateginya. Joko Surodo mengamati bahwa Jokowi
adalah seorang yang tidak malu-malu untuk senantiasa belajar dan berguru kepada
siapa pun.
Pengamatan
Joko Surodo ini benar adanya. Bahkan, saat saya berbicara empat mata dengan
Presiden Jokowi, tidak saja dia dengarkan dengan baik, tetapi komputer kecil
dimainkannya untuk merekamnya, padahal dia seorang presiden.
Mungkin
saja apa yang kita sampaikan itu sudah diketahuinya, tetapi secara etika dia
masih sabar untuk memperhatikannya. Tidak banyak presiden mau bersikap empati
seperti itu.
Akhirnya,
Joko Surodo akan sangat berbahagia jika Presiden Jokowi masih ingat dan sempat
lagi mengirimkan kartu Natal kepadanya! []
REPUBLIKA,
04 September 2018
Ahmad
Syafii Maarif | Mantan
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar