Selasa, 03 November 2015

Shambazy: Tentang Lawatan Itu



Tentang Lawatan Itu
Oleh: Budiarto Shambazy

Sebelum bertolak ke Amerika Serikat, cukup banyak kalangan menyarankan Presiden Joko Widodo menjadwal ulang lawatan ke AS. Ia harus lebih peduli pada proses penanggulangan bencana asap yang makin meluas.

Penjadwalan ulang tidak akan menimbulkan masalah. Presiden AS Barack Obama pasti memahaminya. Presiden Obama dua kali menjadwal ulang lawatan ke Jakarta karena lebih memprioritaskan masalah domestik.

Wajar sebagian publik kecewa karena Presiden Jokowi selama ini dikenal peduli pada nasib rakyat. Ia punya sense of mission yang kuat, yang selalu dibuktikan dengan tindakan-tindakan serius.

Oleh karena itu, sebagian kita terkejut, kok, Presiden Jokowi lebih memilih bepergian ke AS ketimbang blusukan ke lokasi kebakaran di Sumatera atau Kalimantan? Presiden Jokowi dinilai mulai kehilangan elan.

Muncul spekulasi lawatan ke AS sebagai aksi pengimbangan (balancing act) terhadap Tiongkok. Sering terdengar kini kita relatif lebih mesra dengan Tiongkok dibandingkan dengan AS seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

Kita sebagai negara menengah di Asia harus pandai-pandai mengayuh di antara dua pulau. Semoga balancing act yang dilakukan Presiden Jokowi menegaskan kembali ciri politik luar negeri kita yang bebas dan aktif.

Hal terpenting Presiden Jokowi telah bertatap muka langsung dengan Presiden Obama. Keputusan Presiden Jokowi mempercepat lawatan dan dari AS langsung terbang ke Palembang juga merupakan balancing act terhadap kekecewaan sebagian rakyat.

Pembatalan kunjungan Presiden Jokowi ke Silicon Valley, San Francisco, untuk bertemu para pengusaha tidak begitu menimbulkan gejolak. Rasanya cukup para menteri saja yang menemui para pengusaha tersebut.

Alhasil, lawatan ke AS bukan ”noda tak berampun”. Dua poin penting dari pembicaraan di antara kedua pemimpin, Trans Pacific Partnership (TPP) dan Kemitraan Strategis, masih sumir.

Kita masih harus berunding secara mendalam untuk memutuskan bergabung dengan TPP. Kita juga jangan terlalu berharap dalam waktu dekat dapat mencapai kesepakatan Kemitraan Strategis dengan AS.

Seperti sering kita dengar setiap kali presiden baru terpilih, urusan di dalam negeri lebih penting daripada urusan luar negeri. Hubungan internasional kita dengan negara-negara lain akan berlangsung mulus jika urusan-urusan dalam negeri kita sudah beres.

Memang betul kini ada ”intermestik” (internasional dan domestik). Namun, kita juga sudah punya Trisakti yang menekankan pada kemandirian/kedaulatan politik, ekonomi, dan budaya.

Presiden Jokowi tampaknya masih jauh dari sosok ”foreign policy president”, seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tetapi, jangan sampai ia bersikap introvert menutup diri dari pergaulan internasional.

Kita butuh pemimpin yang fanatik pada ”NKRI”, bukan yang mengakibatkan kita kehilangan provinsi atau mau berunding dengan pemberontak. Sia-sia saja kita bergabung dengan berbagai organisasi regional/internasional jika kurang bermanfaat langsung untuk rakyat biasa.

Kini makin terkuak kita dirundung berbagai masalah domestik, bukan masalah-masalah internasional, yang membutuhkan solusi tepat dan cepat. Bencana asap yang semakin menjadi-jadi telah menjadi bukti. []

KOMPAS CETAK, 31 Oktober 2015
Budiarto Shambazy | Wartawan Senior Kompas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar