Selasa, 27 Juli 2021

Nasaruddin Umar: Lesson Learning dari Covid-19 (5) Ketika Umat Abai terhadap Agamanya

Lesson Learning dari Covid-19 (5)

Ketika Umat Abai terhadap Agamanya

Oleh: Nasaruddin Umar

 

Agama adalah karunia paling berharga bagi manusia dari Tuhannya. Agama hadir untuk lebih memanusiawikan manusia. Manusia dijamin akan selamat dunia-akhirat jika respek kepada agamanya. 

 

Agama mestinya menjadi pandangan hidup (way of life) bagi pemeluknya. Kita bisa menebak apa yang akan terjadi jika umat abai terhadap agamanya? Apakah masih bisa disebut manusia tanpa agama? Apakah bisa disebut umat tanpa ikatan keagamaan? Apakah masih bisa disebut agama tanpa umat yang mengikutinya? 

 

Lihatlah pemandangan di sekitar kita atau mungkin lihatlah diri kita sendiri. Apa kata agama dan apa yang dilakukan pemeluknya? Semakin berjarak antara umat dengan agamanya semakin gagal kita menciptakan manusia ideal. Umat yang ideal (khaira ummah) ialah umat yang lengket (attached) agamanya. 

 

Antara umat dan agamanya kian semakin berjarak. Antara umat dan lingkungan pacunya juga semakin berjarak. Kini sedang terjadi semacam kepribadian ganda (split personality) antara agama dan para penganutnya.

 

Kalangan pemeluk merasakan agamanya terlalu dogmatis di tengah lingkungan pacu yang teramat rasional. Agama sering dirasakan membatasi sementara lingkungan pacu menuntut kebebasan.

 

Agama lebih terkesan konservatif, tradisional, dan mengajak umat kembali ke masa silam, sementara lingkungan pacu lebih canggih, liberal, dan menantang untuk menembus masa depan.

 

Agama dirasakan lebih kaku atau statis di tengah lingkungan pacu yang sedemikian dinamis dan mobile. Logika agama terasa lebih tekstual, kualitatif, dan deduktif; sementara lingkungan pacu terkesan lebih kontekstual, kuantitatif, dan induktif.

 

Umat seperti banyak yang teralienasi dengan kehidupan dunia yang serba canggih. Mereka merasa masa depan datang lebih awal melampaui kecepatan umat menyiapkan diri. Mestinya masa depan itu datang 50 tahun lagi tetapi sudah masuk di dalam kamar-kamar kita bahkan di dalam genggaman kita. 

 

Apa jadinya jika masa depan datang  lebih awal daripada perkiraan kita? Pertanyaan ini dianalisis lebih cermat oleh Prof. Clifford Geertz dalam bukunya The Observed. Geertz membayangkan suatu masyarakat yang akan mengalami apa yang disebut dengan kepribadian ganda (split personality). 

 

Sayang sekali Geertz, ahli antropologi agama senior dari Amerika Serikat yang melakukan penelitiannya doktornya di Indonesia ini, keburu wafat sebelum menyaksikan prediksinya menjelma menjadi suatu kenyataan. 

 

Apa yang pernah diprediksi Geertz kini banyak melanda umat beragama. Antara konsep ajaran dan realitas sosial semakin berjarak, sehingga tidak jarang kita temukan orang mengalami disorientasi dan kepribadian ganda dalam kehidupan beragama. Ada suasana hipokrit dan antagonistik dialami banyak orang dewasa ini. 

 

Dari satu sisi ia harus berpegang teguh terhadap ajaran agamanya tetapi pada sisi lain, realitas sosial kehidupannya begitu banyak berubah dengan cepat, sehingga sedang terjadi jarak yang semakin melebar antara agama dan para pemeluknya. 

 

Tentu saja memecahkan persoalan ini tidak mudah karena dimensinya sangat kompleks. Yang pasti umat beragama dituntut untuk sesegera mungkin melakukan penyerasian antara tuntunan agama dan tuntutan kehidupan real di dalam masyarakat. 

 

Laju perkembangan globalisasi yang dipicu oleh perkembangan sains dan teknologi serta media informasi, telekomunikasi, dan transportasi yang begitu canggih. Akibat perkembangan yang sedemikian cepat ini maka seolah melahirkan multiple shock. 

 

Bukaan saja cultural shock seperti yang dibayangkan Alvin Toffler dalam buku The Future Shock-nya di tahun 1980-an, tetapi juga theological shock, political shock, economical shock, dan science and technological shock.

 

Jika multiple shock ini terus terjadi tanpa ada pemikiran strategis ke depan maka bukan saja akan lahir umat yang kecewa terhadap agamanya tetapi juga agama akan kecewa terhadap pemeluknya. Jika kenyataan ini terjadi maka posisi manusia sebagai khalifah akan mengalami degradasi. Bahkan mungkin manusia sebagai hamba (‘abid) juga akan mengalami kelemahan dan frustrasi. 

 

Kita perlu melahirkan pemikiran besar baru untuk mengevaluasi rel kehidupan anak zaman kita sekarang. Agama harus membumi untuk melangitkan manusia. Jika tidak maka dikhawatirkan mandat manusia sebagai khalifah akan dicabut, lalu potensi penundukan alam semesta (taskhir) kepadanya akan lepas lalu alam semsta akan mogok loyal bahkan bersikap dendam terhadap anak manusia. Itulah kiamat! []

 

REPUBLIKA, 04 Juli 2021

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar