Rabu, 14 Juli 2021

Azyumardi: Tragedi Yaman (1)

Tragedi Yaman (1)

Oleh: Azyumardi Azra

 

Tragedi Yaman. Negara-bangsa Yaman seolah dilupakan masyarakat internasional, khususnya dunia Islam atau lebih sempit lagi Timur Tengah atau dunia Arab. Sungguh menyedihkan, memilukan, sekaligus tidak adil pada kemanusiaan di Yaman.

 

Perhatian kalangan pemimpin dan warga di berbagai bagian globe, lebih terpusat pada berbagai konflik dan kenestapaan di bagian lain dunia Muslim, khususnya di Palestina, Rohingya, atau Uighur.

 

Atau pada konflik atau perang yang tak pernah selesai di Afganistan, Kurdistan, atau Libya; atau pada instabilitas politik di Tunisia, Mesir, Irak, atau Suriah.

 

Padahal inilah krisis atau bencana kemanusiaan terbesar sejak awal milenium baru. Dalam bahasa lembaga pemantau HAM Internasional, Human Rights Watch: ‘The armed conflict in the Yemen has resulted in the largest humanitarian crisis in the world’.

 

Sejak akhir 2020, Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan; Yaman berada dalam ambang atau tubir kelaparan terparah di dunia, yang tidak pernah terjadi dalam beberapa dasawarsa terakhir. Henrietta Fore, kepala UN Childrens’ Fund (UNICEF), menyatakan, Yaman kini berada di ambang katastropi, bencana besar yang bisa disebut kiamat dunia.

 

Menurut DW, media Jerman, sampai akhir Maret 2021, lebih dari 130 ribu warga Yaman tewas. Namun, menurut UN Office for Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), jumlah warga Yaman yang tewas sudah lebih 233 ribu,  termasuk sekitar 131 ribu yang tewas karena kelaparan atau tidak mendapat pelayanan kesehatan dan air minum.

 

Di antara mereka yang tewas, sekitar 15 ribuan warga sipil, dan lebih 3.153 anak-anak. Selain itu, ada lebih 1,2 juta orang, khususnya anak-anak terancam kelaparan.

 

Perang saudara yang disertai kekuatan militer asing pimpinan Arab Saudi membuat Yaman semakin tergelincir ke dalam lubang kemiskinan. Kini, Yaman yang sejak semula miskin menjadi negara termiskin di dunia.

 

Kekerasan di Yaman terjadi sejak perang saudara kembali meletup pada 2014. Yaman terbelah menjadi tiga wilayah utama konflik: seperempat wilayah Yaman yang mencakup beberapa provinsi berpusat di Sanaa dikuasai kekuatan militer Houthi.

 

Selanjutnya, dua perempat wilayah Yaman Tengah dan Timur yang dikuasai pemerintah, kemudian didukung koalisi militer pimpinan Arab Saudi dan seperempat sisanya di bawah kendali kekuatan Al Qaeda dan kelompok-kelompok laskar ekstrem-militan lain.

 

Pada Maret 2015, Arab Saudi membentuk koalisi militer beranggotakan beberapa negara Arab untuk menghentikan perang saudara di Yaman, yang kembali marak sejak 2014.

 

Selain Arab Saudi, koalisi mencakup Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Yordania, Mesir, Maroko, dan Sudan. Koalisi militer pimpinan Saudi berusaha melibatkan anggota OKI lainnya.

 

Atas permintaan Arab Saudi, Malaysia ikut koalisi, tetapi tidak mengirim kekuatan militer; sedangkan Pakistan mempertimbangkan. Indonesia menolak karena secara tradisional tidak pernah sedia ikut pakta militer, aliansi, atau koalisi militer.

 

Turki mendukung koalisi militer tersebut; Amerika Serikat pada masa Presiden Donald Trump menjanjikan bantuan logistik dan intelijen. Namun, ketika masuk Gedung Putih pada Januari 2021, Presiden Joe Biden mengimbau Arab Saudi dan koalisi militernya menghentikan perang di Yaman—imbauan yang tidak dipedulikan Saudi.

 

Pada awal geraknya menjelang akhir Maret 2015, koalisi militer membentuk pasukan tempur sekitar 150 ribu personel dan sekitar 100 pesawat jet tempur, dan beberapa kapal perang. Dengan kekuatan militer seperti itu, koalisi memprediksi dan menguasai Yaman dalam waktu singkat.

 

Koalisi militer menyebut perang yang mereka kobarkan sebagai ‘Operasi Kilat Desisif’.

 

Mereka melancarkan serangan udara bertubi-tubi yang diikuti serbuan darat, menyerang dan melakukan blokade, yang mengakibatkan Yaman terkepung, tidak bisa dimasuki pihak mana pun, termasuk berbagai pihak yang bermaksud untuk memberi bantuan kemanusiaan.

 

Alhasil, sangat tidak mudah bagi koalisi militer pimpinan Saudi menaklukkan dua kekuatan lain di lapangan: Houthi khususnya, juga laskar Al Qaeda dan kelompok ekstrem lain, seperti Jamaah Anshar al-Syariah dan kelompok lain yang berafiliasi dengan ISIS.

 

Karena itu, perang Saudi dan kawan-kawannya di Yaman disebut banyak pengamat dan media massa internasional sebagai ‘winless war’, perang yang tiada pemenangnya. Atau juga ‘unwinnable war’, perang yang tidak bisa dimenangkan.

 

Namun, sementara itu, korban terus berjatuhan dalam jumlah tidak sedikit karena perang dan/atau kelaparan. []

 

REPUBLIKA, 10 Juni 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar