Jumat, 16 Juli 2021

Kang Komar: Rekonstruksi Peradaban

Rekonstruksi Peradaban

Oleh: Komaruddin Hidayat

 

Kami sadar, topik di atas cakupannya cukup luas, multidimensi, dan menuntut kajian lebih luas dan dalam. 

Tulisan singkat ini diangkat dari kuliah umum di Universitas Islam Indonesia (UII) pada 27 Juni 2021 oleh Komaruddin Hidayat yang berjudul Menemukan Kembali Imajinasi Islam dan diharapkan menjadi pemantik diskusi lanjutan.

 

Setiap bangsa besar, memiliki akar tunggang budaya yang mengalami pasang surut. Karena itu, budaya dan capaian peradaban sebuah bangsa dan tradisi agama bersifat dinamis. Di sana, terdapat budaya dan agama yang sirna dan tak kunjung kembali.

 

Di sini berlaku hukum Darwinisme sosial, sintasan yang paling cocok (survival of the fittest). Hanya mereka yang kuat dan bisa beradaptasi dengan cepat yang bisa bertahan dan berkembang.

 

Keredupan peradaban

 

Demikian pula halnya dengan peradaban Islam, yang menurut catatan, mulai meredup pada abad ke-11. Sejarawan menamakan abad ke-8 sampai ke-13 sebagai Zaman Keemasan Islam.

 

Istilah ini dipopulerkan kalangan modernis Muslim yang merasa kalah menghadapi kemajuan Barat, lalu mencari referensi dan motivasi ke masa lalu. Ratusan buku ditulis untuk mencari jawaban, penyebab utama kemunduran peradaban Islam dan mengapa Barat menyalip dan berkembang jauh lebih cepat.

 

Ada pendapat, di antara penyebabnya adalah krisis politik dan ekonomi di sentra-sentra kekuasaan Islam yang membuat tradisi keilmuan terhenti. Para penguasa lebih fokus pada pemikiran fikih untuk mengendalikan perilaku rakyatnya.

 

Sementara itu, ulama lalu memilih kajian tasawuf untuk meraih ketenangan hidup. Peristiwa Perang Salib ikut merusak bangunan peradaban. Tradisi keilmuan beralih ke atmosfer peperangan.

 

Warisan peradaban Islam dalam bidang keilmuan terpecah dan menyempit. Ilmu-ilmu alam, sosial, dan humaniora justru dipelihara, dipupuk, dan dikembangkan di Eropa yang pada urutannya oleh dunia Islam dikucilkan dengan label ilmu umum atau sekuler.

 

Sementara itu, dunia Islam lebih semangat mengembangkan ilmu fikih dan tasawuf yang dipandang sebagai inti ilmu keislaman dengan ikon Imam Al-Ghazali yang menulis karya sangat monumental: Ihya Ulum al-Din.

 

Memasuki abad modern, di kalangan Muslim muncul kerinduan akan kebangkinan kembali peradaban Islam. Namun tampaknya, pendulum sejarah masih berjalan sangat lambat. Atau, dunia luar yang berjalan lebih cepat.

 

Kita bisa belajar dari sejarah, tapi kita mungkin bukan murid yang cerdas dari sejarah.

 

Diperlukan aktor dan institusi yang mendesain strategi dan punya peta jalan untuk eksekusinya. Tidak mudah bagi sebuah bangsa yang pernah maju peradabannya —seperti Yunani, Mesir, dan Irak— untuk bangkit kembali.  

 

Bingkai rekonstruksi

 

Mozaffari (1998), ahli politik kelahiran Iran yang saat ini mengajar di Universitas Aarhus Denmark, menawarkan peta jalan untuk membangun kembali peradaban Islam.

 

Baginya, yang dibutuhkan saat ini, melakukan rekonstruksi sejarah lampau. Rekonstruksi adalah proses intelektual: ada elemen lampau di sana yang mesti dipertahankan, tetapi dilengkapi elemen kontekstual sesuai kebutuhan masanya.

 

Konsep ini berbeda dari proses reproduksi yang bersifat mekanistik dan menyalin masa lampau apa adanya untuk dihadirkan lagi. Reproduksi, akan menjadikan Muslim sulit beranjak dari tempatnya, karena hidup di bawah bayang-bayang masa lalu.

 

Dalam strategi rekonstruksi pertanyaannya, apa elemen fundamental masa lampau yang perlu dipertahankan dan elemen kontekstual yang mesti diperhitungkan?

 

Elemen lampau

 

Ada elemen lampau yang bersifat perenial dan dapat kita lacak kembali pada masa awal Islam serta pada ajaran dasarnya. Pertama, semangat tauhid, sikap berserah diri sepenuhnya kepada Allah Sang Pencipta.

Kesadaran ini, jika dimaknai dengan baik, akan menjadi sumber energi abadi. Kesadaran ini pula yang mengantarkan kita pada pemahaman, Islam tak hanya hadir sebagai rahmat bagi kaum Muslim, tetapi bagi semesta alam.

 

Elemen kedua, nilai kemanusiaan universal. Inilah nilai yang menjadikan Islam dapat diterima baik banyak kalangan karena inklusif dan apresiatif pada martabat manusia, apapun latar belakang agama, etnis, dan budayanya.

 

Ketiga, ekletisisme implementasi ajaran Islam. Islam mengajarkan Muslim terbuka terhadap hal-hal baik. Tentu, ini bukan berarti membuka pintu sinkretisme akidah tetapi umat Islam apresiatif terhadap peradaban baru yang dijumpainya.

 

Sikap ini menjadikan saintis Muslim di Zaman Keemasan membuka diri mempelajari pemikiran dari bangsa lain. Warisan filsafat Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, termasuk oleh sarjana Yahudi dan Kristen yang dipekerjakan pada pusat-pusat peradaban Islam.

 

Satu poin penting lain yang perlu dicatat, saintis Muslim saat itu tidak hanya belajar dari peradaban lain, tetapi juga berkreasi mengembangkan dan memberikan karakter keislaman pada peradaban luar yang dijumpai.

 

Elemen kontekstual

 

Tuntunan zaman senantiasa dinamis dan berubah sehingga membutuhkan respons dan solusi baru yang kontekstual. Tokoh dan pemikiran besar pada zamannya, tidak lagi dianggap relevan sebagai respons yang tepat pada zaman  berbeda.

 

Ada beberapa agenda yang perlu dipertimbangkan matang-matang.

 

Pertama, kalangan Muslim perlu mendesain beragam masa depan kolektifnya. Masa depan tidak singular. Terlebih dengan kehadiran teknologi digital yang menghubungkan berbagai informasi yang tadinya tertutup dan tak tersambung dengan yang lain.

 

Jangan paksakan ide masa depan singular. Keseragaman adalah sebuah utopia yang mengarah ke dystopia. Agama dan budaya itu selalu plural. Dalam tubuh dunia Islam pun, pluralitas ekspresi politik, budaya, dan mazhab merupakan kenyataan.

 

Di sinilah semangat ko-eksistensi perlu dikembangkan dengan menjaga prinsip-prinsip dasar Islam yang menekankan tauhid, kemanusiaan dan semangat membangun peradaban luhur sebagai wujud rahmatan lil'alamin.

 

Kita bangun dan sepakati koridor besar yang akan ditapaki bersama, dan jangan terjebak pada satu garis yang akan sulit mengakomodasi keragaman.

 

Kedua, umat Islam pun harus secara proaktif mengikuti perkembangan mutakhir, termasuk dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Revolusi senyap yang didorong beragam teknologi modern, seperti kecerdasan buatan, mahadata, Internet of things, dan biologi modern yang melahirkan neurosains, perlu dikuasai. Ini semua kerja kolektif khususnya bagi kalangan intelektual kampus.

 

Mozaffari (1998) dalam bagian lain tulisannya mengusulkan, yang perlu diperjuangkan secara kolektif adalah Islam yang beradab yang hidup berdampingan dengan peradaban dunia lain. Karenanya, peradaban Islam harus mampu berkembang secara konsisten dan memberikan kontribusi yang bermakna untuk peradaban dunia.

 

Berkembangnya pemeluk Islam dari hari ke hari jika tidak diikuti prestasi keilmuan dan kontribusi pada peradaban dunia, akan menjadikan dunia Islam diposisikan pada garis koordinat pinggiran yang tidak produktif, meski secara demografis besar.

 

Sekadar indikator kecil, selama pandemi ini tak ada negara Muslim yang ikut berdiri di garis depan memproduksi vaksin untuk ikut serta mengatasi problem kemanusiaan. Yang sering terdengar justru konflik sesama mereka yang menyedot energi sangat besar. []

 

REPUBLIKA, 07 Juli 2021

Fathul Wahid, Rektor Universitas Islam Indonesia; Komaruddin HidayatRektor Universitas Islam Internasional Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar