Jihadis
Literasi
Oleh:
Said Aqil Siraj
Deradikalisasi
kerap diibaratkan sebagai upaya diagnostik terhadap ”penyakit” radikal yang
diidap seseorang dan kemudian mencari pengobatan yang tepat.
Ketepatan
bisa berkait jenis obatnya, takarannya, dan juga cara pengobatannya.
Namun, tahapan deradikalisasi yang dilalui secara sistemis ini
sering kali masih saja ”terpental” oleh ganasnya ”virus” radikal yang melilit
seseorang, padahal sudah melibatkan para pakar yang jawara mendiagnosis,
diperkuat tim peneliti dan penindak berpengalaman serta didukung dana besar.
Faktanya, radikalisme terus bertumbuh dan terorisme masih jadi ancaman.
Ada yang
berceloteh mungkin hal ini karena militansi pegiat deradikalisasinya yang masih
”loyo”. Tak sekuat militansi kalangan radikal yang siap bekerja atas nama jihad.
Entah kenapa mereka ini mudah tersihir oleh paham radikal sehingga tanpa pakai
”ransum” yang menggiurkan mereka siap berjihad untuk menggalang kekuatan.
Mereka mau dibodohi pakai dalil-dalil keagamaan yang disampaikan secara picik,
tanpa pendidikan literasi yang sesuai standar (mu’tabar). Dan, nyatanya, mampu membakar
semangat dan militansi yang menyala tiada padam.
Sungguh
ini seakan membalik-balik logika mapan. Lagi-lagi kisah satu keluarga yang
bersedia melakukan aksi bom bunuh diri di gereja di Surabaya, serta sederet
cerita tentang tindakan melawan akal sehat lainnya, membuat kita terus
mengaduk-aduk pikir sembari mencari jalan terbaik untuk deradikalisasi dan
pencegahan dari paham radikal. Ternyata kita juga tidak lantas boleh ”kalap”
dengan melakukan kegiatan deradikalisasi dan pencegahan radikal secara masif,
yang akhirnya tampak bersifat ”seremonial” dan ”selebrasi”.
Merintis yang tercecer
Saya
dibuat terkagum saat bertemu seorang pegiat deradikalisasi ”partikelir”. Dia
bekerja sendirian dan dengan pendanaan mandiri. Istilahnya, ini ”gerakan
klandestin” (tandzim sirri).
Ya, layaklah saya sebut dia ”beraksi” secara ”lone wolf”. Dari keheningan dan semak-semak
rimbun tak terlihat mata khalayak, tiba-tiba dia bergerak begitu gesit sehingga
menghasilkan amaliyat yang
bermanfaat. Saya berharap gerakannya ini kelak bisa lebih berkembang menembus
batas sekaligus mampu membobol kebuntuan dalam program deradikalisasi dan
pencegahan radikalisme.
Ceritanya,
dia mendirikan sebuah komunitas baca dengan nama ”Rumah Daulat Buku” (Rudalku)
yang punya tagline: ”Banyak
Baca Jadi Terbuka, Banyak Bacaan Jadi Toleran”. Rumah baca ini khusus diampu
oleh eks narapidana teroris (napiter). Dengan militansi yang tinggi, dia
berusaha mendorong eks napiter untuk mau mendirikan rumah buku, cukup di
rumahnya. Tidak perlu buat tempat khusus yang hanya akan memakan biaya besar.
Rumah bisa dijadikan tempat yang cocok untuk taman baca dan membangun kreasi
serta ikhtiar yang bermanfaat secara nyata bagi penghuni dan masyarakat
sekitarnya.
Saat ini
sudah terbentuk beberapa rumah daulat buku di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur,
Sumatera Utara (Medan), dan Sumatera Selatan (Palembang). Jumlah ini masih akan
terus berkembang berkat semangat, ketelatenan, dan kegigihannya mendekati serta
mendorong eks napiter untuk mendirikan rumah baca tersebut.
Sepaket
itu, dia juga mengadakan pengajian bulanan khusus bagi eks napiter secara
berkala. Dalam pengajian ini dikumpulkan sekitar 10 eks napiter. Penceramahnya
dari kalangan yang punya basis keilmuan keagamaan yang memadai. Dalam pengajian
itu juga digunakan rujukan buku atau kitab untuk mendukung dan membuktikan
kebenaran sikap moderat (wasathiyah).
Konsepnya
sederhana. Eks napiter ini dulunya adalah orang- orang biasa yang
menjalankan kehidupan keagamaannya secara normal. Bahkan tak jarang di antara
mereka yang tadinya aktif di ormas keagamaan moderat dan kemudian ”hijrah” ke
jemaah radikal. Setelah mereka mengikuti pengajian dari para mentor yang keras,
akhirnya mereka beralih wajah menjadi keras pula.
Pengajian
yang mereka ikuti sifatnya kecil-kecilan, cukup di masjid atau juga di rumah.
Bentuknya seperti lazim dipakai kalangan radikal adalah halaqoh, tarbiyah, atau usroh. Sebenarnya bukan
semata ”bentuk” indoktrinasinya, tetapi yang menarik adalah semangat dan
ketelatenan dari mentornya untuk menanamkan pandangan-pandangan radikal
keagamaannya. Dengan sikap mental seperti ini membuahkan hasil. Maka, tidak
sedikit yang terbuai oleh doktrin keras mereka dan jadilah militan-militan yang
tangguh yang siap berkorban demi cita-cita utopia.
Di
sinilah model pengajian kelompok radikal ini dicoba copy paste. Lalu dibuatlah
pengajian secara rutin dengan metode yang tidak jauh beda dengan yang dilakukan
jemaah radikal. Tentu saja bedanya pengajian yang ini tujuannya untuk
mengindoktrinasi moderasi keagamaan. Melalui pengajian moderasi dalam lingkup
kecil ini, ternyata lebih tepat sasaran dan tepat metode.
Hasilnya
cukup mengagetkan. Para eks napiter yang mengikuti pengajian tersebut merasa mendapat
ilmu baru. Misalnya, mereka menjadi sadar ternyata tidak semudah itu
menafsirkan ayat Al Quran dan hadis. Perlu metodologi dan rujukan ulama yang
benar-benar tepercaya. Tidak seperti sebelumnya, mereka hanya mendapatkan
informasi soal ayat yang disajikan secara ”instan” seperti tentang jihad, tanpa
ada penelaahan secara menyeluruh dengan berbasiskan metode penafsiran yang
mendalam.
Pengajian
ini satu paket dengan pendirian rumah buku, yang sesungguhnya menjadi landasan
awal untuk moderasi bagi eks napiter dan juga pencegahan. Konsep literasi ini
berdasar pada tesis bahwa radikalisme bisa menjangkiti seseorang karena
kurangnya membaca. Sebaliknya, semakin seseorang banyak membaca, dia akan
terbuka wawasan dan pengetahuannya sehingga tidak mudah terpengaruh paham
radikal.
Agenda
terpenting dalam pendirian rumah buku ini sejatinya hendak mendorong para eks
napiter yang mendirikannya menjadi ”agen perubahan” bagi masyarakat, minimal
masyarakat sekitar rumah tinggalnya. Dengan rumah buku ini, mereka didorong
untuk mampu menebarkan budaya baca dan menaburkan pikiran moderat kepada warga
sekitar. Tujuan ini sekaligus bermanfaat di dua ranah, yaitu deradikalisasi dan
pencegahan masyarakat dari bujuk rayu radikalisme.
Jihad baru
Upaya
deradikalisasi selama ini belum merambah pada literasi untuk eks napiter.
Gerakan literasi yang ada lebih banyak menyasar masyarakat umum dalam rangka
pencegahan radikalisme, seperti pelatihan anti-hoaks atau mengelola media
sosial yang sehat.
Komunitas
pecinta buku dan taman bacaan memang sudah cukup bertumbuh di sejumlah daerah.
Ini tentu fakta yang menggembirakan. Hanya saja, komunitas buku yang terbentuk
hampir semuanya tidak menjamah para eks napiter. Artinya, para eks napiter
belum diposisikan sebagai figur yang mampu mengelola taman baca. Mereka masih
lebih banyak dijadikan sebagai ”komoditas” yang ujungnya menjadikan mereka
”anak manja” dan ”matre”, yang bila tidak ada bantuan materi mereka enggan
untuk mengikuti program seperti deradikalisasi. Selain itu, mereka belum
dipandang sebagai insan-insan yang bisa diubah haluannya dari ”jihadis teror”
ke ”jihadis literasi” sebagai rintisan mewujudkan ”jihad baru”.
Kita
perlu melahirkan lebih banyak ”jihadis literasi” yang punya militansi tinggi, bekerja
tanpa iming-iming, serta ditempa kegigihan dan ketelatenan. Radikalisme yang
akarnya juga bersumber dari akibat kurang baca sudah seharusnya ditandingi
dengan menggalakkan gerakan literasi untuk moderasi dan membentengi masyarakat
dari pengaruh radikalisme. Kita yakin, literasi bisa mengikis radikalisasi. []
KOMPAS,
29 Agustus 2018
Said Aqil Siraj Ketua Umum PBNU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar