Kamis, 22 September 2011

Kang Said: Mengatasi Krisis Dunia dengan Kekuatan Moral

Mengatasi Krisis Dunia dengan Kekuatan Moral

Oleh: Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA



Krisis yang melanda Dunia saat ini sama dengan krisis yang melanda Indonesia tahuan 1998, yang berakar dari krisis moral yakni terjadinya kolusi dan korupsi yang berlebihan. Karena krisis dunia ini berakar dari krisis moral, maka perlu diselesaikan secara moral, sebelum ada penyelesaian secara teknis manajerial. Karena episentrum krisis dunia ini berpusat di jantung perekonomian dunia baik di Amerika maupun Eropa, maka imbasnya menjalar ke seluruh dunia.


Dalam pertemuan para tokoh agama yang baru saja diselenggarakan di Munich Jerman, Menteri Perekonomian negeri itu menyampaikan pesan perlunya mengembalikan moral ekonomi sesuai dengan agama dan warisan tradisi. Para agamawan diminta untuk turut mengatasi krisis ini. Jerman menjadi negara yang relatif aman dari Goncangan krisis karena selain konservatif dalam mengembangkan ekonominya juga lebih dulu belajar pada Cina.


Alhamdulillah Indonesia karena sudah pernah mengalami krisis maka sekarang ini relatif aman dari goncangan krisis dunia ini. Ini patut kita syukuri, karena itu semua pihak diharapkan bisa mempertahankan kondisi ini dengan menjaga martabat dan keutuhan serta kerukunan bangsa, karena kalau sampai keamanan tergangggu krisis akan segera terjadi. Kita cukup prihatin terjadinya berbagai konflik belakangan ini seperti di Ambon, di Papua, di Makssar dan di beberapa tempat lainnya, semoga konflik ini cepat selesai. Semua pihak mesti menjaga diri. Waspada dengan adanya provokasi, sehingga tidak menjadi perang antar kelompok seperti tahun-tahun yang lalu. Sebagai kekuatan moral dan rasa tanggung jawab pada bangsa NU mengupayakan kedamaian dan ketenteraman tetap terjaga di negeri ini, karena ini modal dasar kita untuk maju.


Ketika hendak keluar dari krisis ekonomi nasional, Gus Dur pernah menggagas untuk membentuk poros ekonomi antara India, Cina dan Brazil, sayang ide itu ditentang oleh para elit negeri ini. Akibatnya ide brilian itu ditangkap orang lain, dengan membentuk negara BRIC (Brazil, Rusia, India dan Cina), sekarang ini mereka menjadi kekuatan ekonomi dunia yang tidak tertandingi. Sekarang semua kelompok buru-buru belajar pada Cina. Ya belajar memang harus tetapi tidak boleh menjiplak karena latar belakang sejarah dan kultur serta tradisi politiknya berbeda. Karena itu ke depan NU akan terus mengeksplorasi gagasan-gagasan besar Gus Dur baik yang berkaitan dengan persoalan-persoalan nasional maupun internasional.


Dalam pengembangan masalah kemasyarakatan, perekonomian termasuk bidang politik, NU bertolak dari prinsip al akhlaqul karimah, sementara dalam NU prinsip ahkhlaqul karimah itu telah dikembangkan secara operasional dalam mabadi khoiro ummah yang meliputi; ash shidqu (benar), al wafa bil ‘ahd (tepat janji), ta’awun (tolong menolong), al ‘adalah (keadilan) dan istiqamah (konsisten). Dalam menjalankan aktivitas sosial, gerakan ekonomi maupun strategi politik kebangsaannya NU berpijak pada mabadi khoiro ummah ini, yang merupakan tugas suci yang selalu akan diemban oleh NU.


Dengan prinsip itulah NU mengambil peran dalam politik kebangsaan, untuk menjaga keseimbangan dan ketentraman kehidupan di negeri ini. Munculnya gerakan ekstrem neoliberalisme akan membawa negeri ini ke ekstrem liberal kapitalis, sementara maraknya gerakan Islam fundamentalis akan membawa negeri ini ke negara agama yang eksklusif. Dengan prinsip mabadi khoiro ummah serta berpegang pada sikap tawasuth, tawazun dan tasamuh NU berupaya mencari jalan tengah agar kerukunan bangsa ini tetap terjaga.


Memang berdiri di posisi tengah atau jalan tengah itu lebih susah ketimbang jalan ekstrem, selain sikap ini dianggap tidak memiliki prinsip, juga sangat sulit menjaga konsistensi pada garis ini dan alhamdulillah NU bisa menjaga posisi ini sejak lahir hingga sekarang, karena berpegang pada prinsip istiqamah tersebut.


Selain timbulnya konflik sosial di beberepa tempat, negeri ini juga sangat rawan konflik politik antar elit. Ini tentu sangat disesalkan mengingat negeri ini sedang menghadapi tantangan besar krisis ekonomi dan politik dunia, sementara kita tidak bisa konsentrasi untuk mengatasinya, malah terseret oleh berbagai ketegangan. Mumpung belum mencuat keluar seharusnya ada rekonsiliasi di antara kekuatan yang ada untuk menyelamatkan negeri ini, baik dari konflik dan dari krisis yang masih mengancam negara mana saja.


Sebagai organisasi keagamaan bahkan keulamaan sudah selayaknya NU memberikan seruan moral, ini semata untuk menjaga kerukunan bangsa ini. Perlu diingat bahwa kita ini bangsa yang besar, yang mendiami negara besar, karena itu dibutuhkan rakyat yang berjiwa besar dan sekaligus dibutuhkan pemimpin yang berjiwa besar, agar bisa membawa amanah untuk mengelola bangsa, rakyat dan negara ini dengan penuh tanggung jawab.


Tidak bisa sebuah bangsa dan negara bertahan tanpa adanya kepemimpinan yang kuat, cerdik dan berkarakter, kalau tidak bangsa ini akan terombang-ambing oleh kemauan bangsa lain. Dalam bidang ekonomi sanagat kelihatan sekali bahwa kebijakan ekonomi kita belum memihak pada rakyat banyak, bahkan tidak memihak pada kepentingan bangsa sendiri. Padahal salah satu faktor penting ekonomi yang mampu menyejahterakan adalah ekonomi yang berbasis pada usaha rakyat dan berpijak pada kepentingan nasional. Sangat ironis kalau amanat Undang-Undang Dasar ini justru sulit diwujudkan di negari ini. Kalau kita mau menghindari krisis dan ingin maju dan berkembanag maka amanat Konstitusi itu mesti kita jalankan.


***

Jakarta , 20 September 2011

Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA., Ketua Umum PBNU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar