Kamis, 15 Januari 2015

(Ngaji of the Day) Kelahiran Ajaib Kanjeng Nabi Muhammad – 2



Kelahiran Ajaib Kanjeng Nabi Muhammad – 2

Di antara keajaiban-keajaiban kelahiran Nabi sall-Allahu 'alayhi wasallam telah diriwayatkan pula oleh Ya'qub ibn Sufyan, dengan rawi-rawi yang hasan, dalam Fath Al Bari [1]. Ia berkata bahwa Istana Kisra, kaisar dari Persia berguncang dan empat belas balkonnya runtuh; air Danau Tiberia menguap habis; api Persia padam (menurut berbagai riwayat, api ini telah menyala non-stop selama seribu tahun); dan di Langit keamanan diperketat, dengan dipenuhi lebih banyak penjaga dan bintang penembak yang mencegah setan bersembunyi di sana untuk mencuri berita-berita langit.

Menurut suatu riwayat dari Ibn 'Umar (RA) dan yang lain, Nabi Muhammad sall-Allahu 'alayhi wasallam dilahirkan dalam keadaan telah terkhitan dan tali pusarnya telah terputus. Anas (RA) meriwayatkan bahwa Nabi sall-Allahu 'alayhi wasallam bersabda, "Salah satu dari tanda-tanda kehormatan yang telah dikaruniakan Tuhanku adalah bahwa aku dilahirkan dalam keadaan terkhitan, dan tak seorang pun melihat bagian pribadiku."

Ada beberapa pendapat berbeda berkenaan dengan tahun kelahiran Nabi Muhammad sall-Allahu 'alayhi wasallam. Mayoritas setuju bahwa beliau dilahirkan dalam Tahun Gajah, dan bahwa beliau dilahirkan lima puluh hari setelah peristiwa gajah Abrahah, dan kelahiran beliau adalah pada saat fajar malam kedua belas di bulan Rabi'u al-Awwal. Ibn 'Abbas (RA) berkata, "Muhammad sall-Allahu 'alayhi wasallam dilahirkan di hari Senin, diberikan kenabiannya pada hari Senin, berhijrah dari Makkah ke Madinah di hari Senin, tiba di Madinah di hari Senin, dan membawa batu hitam (Hajar al-Aswad) juga di hari Senin; selain itu, peristiwa Fathu Makkah (kemenangan Makkah) dan turunnya Surat Al-Maa-idah keduanya adalah pada hari Senin."

'Abdullah ibn Amr ibn Al Aas (RA) berkata, "Ada seorang pendeta di Marr Al Zhahran, termasuk dari golongan orang-orang Syria, yang namanya adalah Easa. Ia biasa berkata, 'Sudah tiba saatnya bahwa di kalangan orang-orang Makkah, akan lahir seorang anak yang kepadanya akan berserah diri seluruh kaum Arab, dan orang-orang non-Arab akan berada di bawah kekuasaannya. Ini adalah waktu baginya.' Kapan saja seorang bayi laki-laki baru dilahirkan, ia biasa bertanya tentangnya. Pada hari kelahiran Muhammad sall-Allahu 'alayhi wasallam, 'Abd al-Muttalib pergi ke luar dan mengunjungi Easa. Ia keluar dan berkata padanya, 'Semoga engkau adalah ayah dari jabang bayi yang baru lahir yang terbarakahi yang telah kuceritakan padamu tentangnya. Aku pernah mengatakan bahwa ia akan dilahirkan di hari Senin, menerima kenabiannya di hari Senin, dan wafat di hari Senin.' Abd Al-Muttalib menjawab, 'Malam ini, saat fajar, aku memiliki bayi yang baru lahir.' Sang pendeta bertanya, 'Kau beri nama apa dia?' 'Abd Al-Muttalib menjawab, 'Muhammad'. Easa berkata, 'Aku telah mengantisipasi bahwa bayi yang baru lahir ini akan berasal dari masyarakatmu. Aku punya tiga tanda atasnya: bintangnya muncul kemarin, ia dilahirkan hari ini, dan namanya Muhammad.' Pada kalendar matahari, hari itu adalah 20 April dan diriwayatkan bahwa beliau lahir di malam hari."

'Aisyah (RA) berkata, "Ada seorang pedagang Yahudi berada di Makkah pada malam saat mana Nabi sall-Allahu 'alayhi wasallam dilahirkan. Dia bertanya, 'Wahai, kaum Quraisy, adakah seorang bayi yang baru dilahirkan di antaramu?' Mereka menjawab, 'Kami tidak tahu.' Ia berkata, 'Malam ini, Nabi dari ummat terakhir ini dilahirkan. Di antara kedua bahunya ada suatu tanda yang terdiri atas beberapa rambut di atasnya seperti rambut leher kuda.' Mereka menemani Yahudi itu dan pergi ke ibunda Nabi, dan bertanya padanya apakah mereka dapat melihat putranya. Ia pun membawa putranya yang baru lahir kepada mereka dan mereka membuka punggungnya dan melihat tanda kelahiran itu, saat mana sang Yahudi jatuh pingsan. Ketika ia kembali sadar, mereka bertanya padanya, 'Celakalah kamu. Apa yang telah terjadi padamu?' Ia menjawab, 'Demi Allah, kenabian telah pergi meninggalkan anak-anak Israel.' "

Al Hakim meriwayatkan bahwa Nabi sall-Allahu 'alayhi wasallam dilahirkan di Makkah dalam rumah Muhammad bin Yousif. Beliau disusui oleh Tsuwaiba, budak perempuan yang dibebaskan oleh Abu Lahab. Abu Lahab membebaskannya karena Tsuwaiba telah membawa berita gembira akan kelahiran Nabi. Setelah kematian Abu Lahab, Abu Lahab pernah terlihat dalam sebuah mimpi, di mana ia ditanya, "Bagaimana keadaanmu?" Abu Lahab menjawab, "Aku berada dalam Neraka. Namun, aku mendapatkan istirahatku setiap hari Senin, saat mana aku mampu menyedot dan meminum air dari titik ini yang terletak di antara jari-jariku," dan ia menunjukkan dengan dua dari ujung-ujung jarinya. "Ini adalah keajaiban yang kuterima karena aku membebaskan Tsuwaiba saat ia membawa berita gembira kelahiran Nabi padaku."

Ibn al Jazri berkata, "Jika Abu Lahab, yang kafir, yang dicela dalam suatu wahyu Al Qur’an, tetap saja diberikan balasan atas kebahagiaannya di saat kelahiran Nabi (SAW), bagaimana dengan kaum muslim dari ummat beliau yang bergembira di saat kelahiran beliau (Maulid Nabi) dan melakukan yang terbaik untuk merayakannya karena kecintaan mereka pada beliau? Demi jiwaku, pahala dan balasan mereka dari Allah, Yang Maha Pemurah akan berupa masuknya mereka ke dalam surga-surga kebahagiaan yang dipenuhi karunia-karunia Allah."

Ummat Islam selalu merayakan bulan kelahiran Nabi suci kita (sall-allahu 'alaihi wasallam) dengan menyelenggarakan pesta, memberikan berbagai bentuk sadaqah, mengekspresikan kebahagiaan mereka, menambah amal perbuatan baik mereka, dan membaca dengan hati-hati riwayat kelahiran Muhammad (sall-allahu 'alaihi wasallam). Sebagai balasannya, Allah mengaruniakan pada orang-orang beriman dengan barakah yang berlimpah di bulan ini. Telah dibuktikan bahwa salah satu dari sifat-sifat kelahiran Nabi, yang disebut sebagai Mawlid, adalah memberikan keselamatan sepanjang tahun dan kabar gembira akan dipenuhinya semua harapan dan keinginan. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-nya pada setiap orang yang merayakan malam-malam bulan kelahiran mubarak Muhammad (sall-allahu 'alaihi wasallam) ini. []

Allahumma shalli afdalas salaati 'ala habiibikal mushtofa sayyidina muhammadin wa 'ala aalihi wasahbihi wasallaam.

Catatan Kaki:
[1] Syarah/Penjelasan/Tafsir Hadits Bukhari, karya Syaikhul Muhadditsin (Guru para Ahli Hadits) Ibn Hajar al-Asqalani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar