Selasa, 13 Januari 2015

Kang Komar: JK Punya Cerita



JK Punya Cerita 
Oleh: Komaruddin Hidayat

Seperti biasanya, setiap menemani Pak Jusuf Kalla (JK) bermain golf sambil menikmati jalan pagi di atas rumput yang hijau, selalu saja ada obrolan menarik untuk saya tulis dan dibagi dengan teman-teman.

Kali ini Pak JK memulai obrolannya dengan sebuah pertanyaan: sejak kapan ibu-ibu rumah tangga itu berubah ritme dan gaya hidupnya? Pertanyaan itu dijawabnya sendiri. Perubahan yang mencolok sejak mereka menggunakan mesin cuci, memiliki kulkas dan microwave. Pekerjaan mencuci yang semula mesti dilakukan berjam-jam dengan tangan, sekarang dilakukan oleh mesin cuci.

Tenaga dan waktu menjadi sangat berkurang sehingga ibu-ibu rumah tangga bisa melakukan pekerjaan lain. Soal belanja, dulu setiap mau masak mesti pergi ke warung atau toko. Sekarang ibu-ibu bisa belanja sekali untuk keperluan seminggu dengan cara diawetkan di dalam kulkas.

Bahan makanan tetap segar. Asal punya uang, kapan saja bisa belanja membeli bahan makanan yang segar di supermarket. Masakan yang berlebih pun dapat dihangatkan kembali dengan microwave. Jadi, dengan teknologi rumah tangga ini para ibu menjadi dimanjakan dan dengan sisa waktu yang ada sebagian mereka lalu bekerja mencari nafkah di luar rumah.

Makanya tidak mengherankan bila sekarang banyak pasangan suami-istri yang sama-sama bekerja kantoran karena urusan dapur dan masak-memasak tidak serumit dan serepot pada generasi pendahulunya. Namun yang menarik dan perlu dicermati adalah kehadiran televisi ke dalam rumah.

Dengan waktunya yang semakin luang, ibu-ibu lalu menjadi pemirsa setia acara televisi dengan aneka ragam menu dan kualitasnya. Oleh pemilik TV, perubahan ritme dan gaya hidup ibu-ibu sungguh merupakan pasar yang menggiurkan. Sebagian besar acara didesain untuk konsumsi ibu-ibu.

Ada beberapa sinetron yang sudah memasuki serial tayangnya di atas 150 kali, yang alur ceritanya dibuat ngalor-ngidul tidak karuan, tetapi sangat menghibur dan menemani ibu-ibu di rumah. Tidak sekadar menghibur, yang lebih penting lagi adalah mengejar rating jumlah pemirsa sehingga dengan mudah mendapatkan sponsor iklan.

Di sinilah ibu-ibu mulai digiring masuk perangkap konsumerisme yang dilakukan secara agresif, canggih, dan halus. Acara sinetron itu isinya menjual mimpi-mimpi yang diiringi dengan iklan yang menjadi selera dan idaman ibu-ibu. Iklan-iklan itu mengajak pemirsa membayangkan memiliki mobil produk mutakhir, tinggal di kompleks perumahan yang tertata rapi, dilengkapi dengan peralatan rumah yang serbaluks dan stylish, juga makanan-makanan cepat hidang.

Akibatnya, belanja rumah tangga membengkak untuk memenuhi kebutuhan sekunder bahkan tersier. Dampak lebih jauh tentu saja dirasakan suami untuk selalu mencari penghasilan lebih dan lebih. Acara arisan dan pengajian ibuibu muncul di mana-mana. Artinya, mereka juga memerlukan kendaraan dan sopir yang tentu saja meningkatkan jumlah belanja keluarga.

Tak ketinggalan adalah juga konsumsi gadget handphone yang selalu muncul model baru setiap tahunnya. Semua ini, menurut Pak JK, merupakan situasi dan perkembangan sosial yang mudah diamati. Tentu saja banyak perkembangan dan cerita positif dari dunia ibu-ibu ini. Banyak success story.

Misalnya mereka yang berkarier dalam dunia politik, birokrasi, pendidikan, ilmuwan, dan bisnis di mana wanita Indonesia lebih menikmati kebebasan dibandingkan di dunia Arab. Pak JK menyinggung ibuibu muda Jepang yang mendapatkan cuti kerja sehabis melahirkan selama lima tahun.

Ibuibu di sana jam kerjanya lebih sedikit dengan alasan demi menyiapkan generasi penerus yang unggul, yaitu mendampingi pertumbuhan dan pendidikan anak-anaknya. Rupanya ada pertimbangan human investment di balik pengurangan jam kerja ibu-ibu muda di Jepang. Bukannya alasan diskriminasi. Perhatian ibu-ibu muda pada pendidikan anak-anak juga menonjol pada masyarakat Korea Selatan (Korsel).

Banyak bapak-bapak yang kesepian sehabis pulang kerja karena istrinya menemani anaknya belajar di luar negeri, terutama di negara english speaking countries. Produk ekspor Korsel senantiasa membutuhkan ahli-ahli pemasaran yang lancar berbahasa Inggris dan berwawasan global.

Jadi, di zaman modern ini peran dan gaya hidup wanita memiliki peluang dan pilihan yang semakin terbuka dan beragam. Berbeda-beda antara masyarakat yang satu dari yang lain. Berbeda antara kelas bawah, kelas menengah, dan kelas atas secara ekonomi dan pendidikan.

Kembali cerita di seputar kita, dulu para pembantu rumah tangga kalau memiliki uang lebih selalu dibelikan hiasan emas sebagai tabungan atau dikirim ke keluarga di kampungnya. Sekarang dibelanjakan untuk membeli handphone dan pulsa. Kalau pulang mudik Lebaran masing-masing memegang handphone.

Menonton TV, SMS-an atau bergosip lewat telepon merupakan fenomena baru berkat kemajuan teknologi rumah tangga, tetapi tidak selalu dimanfaatkan secara optimal untuk menambah pengetahuan dan peningkatan kualitas diri. Dulu sewaktu di kampung ibu-ibu mengobrol sambil mencuci atau mandi ramai-ramai di kolam besar atau sungai. Sekarang mengobrol lewat telepon sambil menonton TV yang penuh iklan itu. []

KORAN SINDO,  09 Januari 2015
Komaruddin Hidayat  ;   Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah @komar_hidayat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar