Memoar Tokoh NU yang
Terlupakan
Judul
: Membuka Ingatan: Memoar Tokoh NU yang Terlupakan Jilid I
Penulis
: Tim Pustaka Tebuireng
Penerbit
: Pustaka Tebuireng
Cetakan
: I, Maret 2017
ISBN
: 978-602-8805-47-6
Tebal
: xiii + 498 halaman
Peresensi
: Hilmi Abedillah
Nahdlatul Ulama
bagian dari sejarah nasional Republik Indonesia. Peranannya dalam mengisi
perjuangan dan kemerdekaan negeri ini besarnya tak terkira. Waktu demi waktu
jatuh bangun dilalui dengan segala bentuk cerita yang tiada tara. Kawan dan
musuh silih berganti membuat bendera hijaunya semakin berani berkibar di
angkasa.
Di balik kebesaran NU
itu, ada banyak tokoh yang menghabiskan tenaga dan pikiran. Tanpa mental yang
kuat dan tangguh, tentu NU tak akan bisa sejaya ini. Kita mengenal sosok
Hadratussyekh M. Hasyim Asy’ari sebagai pendirinya, didampingi KH. Wahab
Hasbullah dan kiai-kiai lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, bendera NU
tidak mungkin dipegang terus oleh Pendiri Pesantren Tebuireng tersebut. Pada
1947, Hadratussyekh meninggal. Meninggalkan Indonesia, meninggalkan NU. Masa
Mbah Hasyim akhirnya habis.
Tongkat estafet
diwariskan dari masa ke masa dengan semangat yang sama. Ketokohan silih
berganti dengan berbagai corak. Muncullah tokoh-tokoh yang memiliki perjalanan
hidup mengagumkan. Dari kalangan pesantren hingga organisatoris. NU banyak
melahirkan manusia pilihan, tetapi tidak semua dikenal. Untungnya, Pustaka
Tebuireng diberkati inisiatif untuk memperkenalkan kembali tokoh-tokoh yang
terlupakan itu.
Buku Membuka Ingatan
berisi sejarah hidup beberapa tokoh NU yang tidak banyak dikenal, bahkan oleh
kalangan pemuda NU sendiri. Enam tokoh NU yang lahir pada tahun 1960-an itu
ialah Fahmi Dja’far Saifuddin, Asmah Sjahruni, Mohammad Zamroni, Prof Dr KH M.
Tolchah Mansoer, HM. Subchan Z.E, H. Mahbub Djunaidi. Dari deretan nama
tersebut, mungkin sebagian kita tidak mengenalnya, atau mengenal namanya saja
tanpa tahu sejarah hidupnya yang inspiratif.
“Dalam perjalanannya,
Nahdlatul Ulama memiliki dan melahirkan tokoh-tokoh hebat yang layak dijadikan
teladan. Misalnya, Fahmi D. Saifuddin. Selain karena kecakapan pengetahuan yang
dimiliki dan kelincahannya dalam bergerak, juga totalitasnya dalam mengabdi.
Dengan landasan keikhlasan seringkali menjadi tameng yang ampuh baginya untuk
menghindarkan diri dari godaan ingin populer. Mereka berjuang sungguh-sungguh
tanpa ingin diberi hadiah, gelar, jabatan, dan popularitas.” (hal. vi)
Menurut KH Salahuddin
Wahid (Gus Solah) dalam pengantarnya, buku ini diterbitkan untuk menumbuhkan
kembali ingatan warga NU akan adanya sejumlah tokoh NU yang terlupakan, bahkan
mungkin sudah tidak banyak lagi yang ingat nama mereka. Padahal, mereka tokoh
yang layak diteladani karena prestasi juga integritas. Mereka mempunyai
karakter yang berbeda-beda, tetapi punya satu hal yang sama, semangat
pengabdian untuk Indonesia dan Islam serta NU. (hal. xii)
Dengan menikmati buku
setebal 498 halaman ini, kita jadi tahu para tokoh yang mencatatkan namanya
dalam tinta emas perjalanan NU. Generasi muda utamanya dari kaum NU sebagai
pewaris perjuangan pendahulunya, penting untuk mengambil pelajaran dari
kehidupan tokohnya. Tidak patut kita melupakan begitu saja tokoh-tokoh pejuang
sebelum kita. Dari buku ini, pembaca akan lebih mengetahui perkembangan
organisasi NU dalam kurun waktu 1960-1990, suatu masa yang cukup panjang dan
penuh perubahan. []

Tidak ada komentar:
Posting Komentar