KHOTBAH IDUL ADHA II
Kurban Dan Pendidikan Tauhid Keluarga
الله
أكبر الله أكبر الله أكبر -الله أكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله
بكرة و أصيلا لآإله إلا الله و لا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره
الكافرون لآإله إلا الله وحده صدق وعده و نصر عبده و أعز جنده و هزم الأحزاب
وحدهلآ إله إلا الله الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
الحمد لله
الذي ألف بين قلوبنا فأصبحنا بنعمته إخوانا الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى
و دين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون
أشهد
أن لآإله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله اللهم صلي على محمد و على آله و
أصحابه و أنصاره و جنوده و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين فقال الله
تعالى في كتابه الكريم : رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ فَبَشَّرْنَاهُ
بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
اَمَّا
بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْم.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا
اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ. الله أكبر ، الله أكبر، الله أكبر ، ولله الحمد
Ma’asyiral muslimin wal muslimat
rahimakumullah.
Alhamdulillah, kita panjatkan segala puji dan
syukur bagi Allah SWT. Allah satu-satunya Tuhan. Itu berarti tidak ada tuhan
selain Dia. Tidak ada satu zat pun, apa pun dan siapa pun yang pantas,
yang berhak, yang layak, dan yang wajib kita ibadahi selain Allah. Peribadatan
dan penghambaan hanya kita pasrahkan kepada Allah SWT. Allah Sang Pencipta dan
Pemilik jagat raya, pemelihara langit dan bumi seisinya. Inilah tauhid,
inti ajaran para rasul sejak Adam AS hingga Muhammad SAW. Tauhid yang
harus kita pegang dengan teguh sampai kapan pun dan apa pun konsekwensinya.
Kemudian kita mohonkan agar shalawat dan
salam tetap Allah limpahkah kepada Muhammad Rasulullah SAW. Khataman
nabiyyin yang dengan risalah yang dibawanya, sanggup mengantarkan
ummatnya pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Pemimpin pemberi uswah
terbaik yang tiada banding dan tiada tanding.
Hari ini gema takbir berkumandang memenuhi
langit. Bersahut-sahutan tiada henti. Hati siapakah yang tidak tergetar
mendengar keagungan dan kebesaran Allah terus-menerus dilantunkan oleh lebih
dari 1,5 miliar manusia di seluruh pelosok bumi? Takbir itu terus bergema dan
menggelegar, sambung-menyambung dari satu negeri ke negeri lain. Hanya hati
yang telah mengeras bagai batu belaka yang tidak merespon dengan amat positif
salah satu tanda-tanda kebesaran Allah ini.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah
Setiap kali sampai pada momen Idul Adha, kita
diingatkan kembali akan kisah agung keluarga Ibrahim AS. Kisah penuh teladan
bagi segenap manusia sepanjang zaman. Kisah yang telah dengan amat indah Allah
rekam dalam surat TQS. Ash Shafaat [37] : 100-113.
Kisah keluarga Ibrahim telah menjadi legenda
sejak lebih dari 5.000 tahun silam. Inilah kisah keluarga teladan. Keluarga
yang telah berhasil membangun dan menanamkan tauhid pada segenap sendi-sendi
kehidupan. Ibrahim, Hajar, dan Ismail adalah potret anggota keluarga sempurna
dalam pengabdian dan penghambaan kepada Allah SWT, robbul ‘izzati.
Setiap individu dalam keluarga utama ini, benar-benar menunjukkan kwalitas
ultraprima dalam bertauhid secara murni dan luar biasa.
Sejak kita kanak-kanak, kisah keluarga ini
sudah begitu akrab. Di sekolah para guru menceritakannya. Di surau, langgar,
dan mushola-mushola, para ustadz dan guru ngaji mengisahkannya. Seperti baru
kemarin, kisah berusia ribuan tahun itu disampaikan kembali kepada kita. Kita
masih ingat, bagaimana Ibrahim AS teramat sangat merindukan anak. Di usianya
yang sudah renta, Allah belum juga menganugrahi keturunan baginya. Sementara
Sarah, istrinya yang juga sudah tua, tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda
kehamilan. Buat Ibrahim AS, anak bukanlah sekadar pelanjut keturunan. Bagi sang
khalilullah, kekasih Allah ini, anak juga sekaligus pewaris risalah
kenabian.
Berapa lama di antara kita yang menanti
kehadiran si buah hati dalam keluarga? Lima tahun? Tujuh tahun? 10 tahun, 12
tahun, atau mungkin bahkan 15 tahun? Suasana seperti apakah yang mewarnai
kehidupan keluarga tanpa tangis bayi? Sepi. Sunyi. Sepertinya hari demi hari
berlalu berselimut suram dan muram. Hampir pasti, hari-hari seperti itulah yang
dijalani pasangan Ibrahim AS dan Sarah. Namun Ibrahim tidak
putus-putusnya terus berdoa kepada Allah agar dikaruniai keturunan.
رَبِّ
هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku
(seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri Dia khabar
gembira dengan seorang anak yang Amat sabar. (TQS. Ash Shafaat [37] : 100-101)
Alhamdulillah, sejarah akhirnya mengabarkan,
melalui Hajar, Allah menganugrahi Ibrahim AS keturunan. Lahirlah Ismail, bayi
laki-laki yang telah teramat lama didamba. Kalau saja kita mencoba hadir pada
peristiwa itu, maka akan dapat kita rasakan betapa kebahagiaan membuncah dari
dada Ibrahim AS dan istrinya Hajar. Anak yang diharapkan telah hadir di
pangkuan. Sejuta doa dan harapan tumpah-ruah kepada si bayi. Kasih dan sayang
tercurah bagi penyambung risalah dan keturunan, Ismail kecil. Hari-hari pun
bagai dipenuhi pelangi. Warna-warni indah senantiasa mengiringi. Senyum dan
tawa bahagia setiap saat pecah menghiasi kehidupan keluarga utama ini.
Namun agaknya Allah punya rencana sendiri.
Allah ingin menguji cinta Ibrahim kepadaNya. Adakah cinta kepada Allah itu
adalah cinta yang tidak tertandingi? Atau, jangan-jangan Ismail yang amat
rindukan itu menjadi “pesaing” cinta Ibrahim kepada Allah Tuhannya yang Maha
Agung?
فَلَمَّا
بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي
أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (الصافات: 102
Maka tatkala anak itu sampai (pada
umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku
Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah
apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang
yang sabar".
(TQS. Ash Shafaat [37] ; 102)
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan saudara-saudara
yang saya hormati
Perasaan seperti apakah yang menyelimuti
Ibrahim saat mendapat perintah menyembelih Ismail, putra yang amat dikasihinya?
Dapatkah kita bayangkan, setelah puluhan tahun menanti keturunan, bahkan ketika
fisiknya sudah semakin renta, lalu ketika anak yang teramat didamba itu ada,
Allah perintahkan untuk menyembelih? Ibrahim pun menghadapi dua pilihan,
mengikuti perasaan hatinya dengan ”menyelamatkan” Ismail buah cinta keluarga.
Atau, menaati perintah Allah dengan ”mengorbankan” putra kesayangannya.
Situasi seperti inilah yang sejatinya setiap
saat kita hadapi dalam hidup sehari-hari. Mengutamakan Allah dan rasulNya, atau
memilih tetap menggenggam ‘Ismail-Ismail’ lain di sekeliling kita? Walau sering
lidah kita mengatakan, “ini adalah karunia Allah”, namun praktiknya kita sering
merasa menjadi ‘pemilik’ karunia itu.
Sekarang, mari kita kenali segala sesuatu
yang kita cintai. Begitu kita cintai sesuatu itu, hingga kita rela mengorbankan
apa saja untuknya. Ketahuilah, itulah ‘Ismail’ kita. ‘Ismail’
kita adalah segala sesuatu yang dapat melemahkan iman dan dapat menghalangi kita
menuju taat kepada Allah. Setiap sesuatu yang dapat membuat diri kita tidak
mendengarkan perintah Allah dan enggan mengikuti kebenaran. ‘Ismail’
kita adalah setiap sesuatu yang menghalangi kita untuk melaksanakan
kewajiban-kewajiban syar’i. Setiap sesuatu yang menyebabkan dan menjadikan kita
mengajukan bermacam alasan dan dalih untuk menghindar dari perintah Allah SWT.
Anak, istri, keluarga, kerabat, harta benda,
perniagaan/bisnis, rumah-rumah tinggal sejatinya adalah ‘Ismail-ismail’ buat
kita. Jika semua itu lebih kita cintai daripada cinta kepada Allah, Rasul-Nya,
dan jihad di jalan Allah, maka sungguh, kita sudah membuat pilihan yang keliru.
Karena dengan demikian, berbagai karunia yang Allah anugrahkan tadi, buat kita
telah menjadi tuhan-tuhan tandingan bagi Allah. Dan itu artinya, kita sedang
menanam benih-benih yang akan berujung pada panen kemurkaan Allah. Naudzu billahi
mindzalik!
Katakanlah: "Jika bapa-bapa kamu,
anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, isteri-isteri kamu, kaum keluargamu,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya,
dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan
RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang fasik (Al-taubah; 24).
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Ma’asyiral muslimin wal muslimat
rahimakumullah.
Hikmah lain yang bisa kita petik dari
kisah agung ini adalah betapa luar biasanya Ismail. Sebagai seorang pemuda,
yang tengah tumbuh dengan segala potensinya, yang masa depan gemilang
menantinya, Ismail telah menunjukkan kualitas jauh di atas rata-rata. Tauhid
telah terpatri dengan sangat kokoh di dadanya.
Bisakah kita membayangkan, perasaan seperti
apakah yang kira-kira berkecamuk di dada seorang pemuda, ketika ayah yang amat
dicintai dan mencintainya, berkata akan menyembelihnya? Benarkah ayahandanya
itu sungguh-sungguh mencintainya? Kalau benar, cinta seperti apakah yang mampu
menggerakkan lidah ayahandanya untuk mengucapkan kata-kata itu?
Tapi lagi-lagi Ismail bukanlah seorang pemuda
rata-rata. Perintah yang amat berat itu pun disambut Ismail dengan penuh
kesabaran. Dia menyanggupi menyerahkan lehernya untuk disembelih. Bukan itu
saja, Ismail yang tahu persis bahwa perintah itu pasti amat berat bagi
ayahandanya, bahkan mendorong keteguhan jiwa Ibrahim AS untuk melaksanakan
perintah Allah tersebut.
Wahai bapakku, lakukanlah apa yang
diperintahkan kepadamu. Insya’a Allah engkau akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar” (TTQS ash-Shaffat [37]: 102)
Pertanyaan besar yang bisa diajukan dari
adegan luar biasa ini adalah, gerangan apakah yang membuat Ismail menjadi
setegar ini? Menu apakah yang setiap hari mengisi kepala dan dadanya, sehingga
dia bisa dengan rela menyerahkan lehernya untuk disembelih ayahnya? Pendidikan
seperti apa yang bahkan membuat Ismail juga meneguhkan hati ayahnya agar tidak
ragu-ragu melaksanakan perintah Allah?
Tentu saja kehebatan Ismail itu bukanlah
sesuatu yang instan apalagi sim salabim. Keluarbiasaan Ismail adalah buah dari
pendidikan dan bimbingan dari seorang ibu yang juga sangat luar biasa. Inilah
peran dahsyat dari Siti Hajar, perempuan yang telah dipilih Allah untuk
mendampingi Ibrahim AS dan melahirkan keturunan para nabi. Dia telah mampu
membentuk bayi merah Ismail yang ditinggalkan suaminya di tengah padang gersang
tak berpenghuni, menjadi anak muda istimewa. Hajar telah suskes mentransformasikan
kesalehan, kesabaran, kepasrahan, dan ketakwaannya kepada anak yang
amat dicintainya. Dan, proses transformasi itu berlangsung setiap hari,
setiap detik, setiap saat.
Bagaimana dengan pemuda-pemuda kita hari ini?
Adakah mereka mewarisi kedahsyatan Ismail? Sayang sekali, yang terjadi justru
sebaliknya. Sebagian (besar) anak-anak muda kita, pelajar dan mahasiswa kita,
hari-harinya dipenuhi dengan berbagai perilaku memprihatinkan. Tawuran pelajar,
penyalahgunaan narkoba, dan seks bebas telah menjadi konsumsi harian mereka.
Data-data yang tersaji tentang perilaku
anak-anak muda kita sungguh membuat miris. Menurut Komisi Perlindungan Anak
(KPAI), misalnya, pada semester satu 2012 saja ada 229 kasus tawuran
antarpelajar, 19 tewas dan sisanya luka berat dan ringan. Angka ini jauh lebih
tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2011, yaitu 128 kasus tawuran.
Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut pada
2008 terdapat 3,4 juta penyalahgunaan narkoba. Angkanya naik menjadi 3,83 juta
pada 2010. Pada 2015, diperkirakan jumlah pengguna narkoba menembus 5,13 juta
jiwa.
Sementara itu, seks bebas juga marak di
kalangan remaja. Hal itu antara lain ditandai dengan tingginya angka aborsi di
kalangan remaja. Komnas Perlindungan Anak (PA) mencatat, pada periode 2008–2010
terjadi 2,5 juta kasus, 62,6% dilakukan anak di bawah umur 18 tahun.
Sementara berdasarkan data dari BKKBN
tahun 2013, anak usia 10-14 tahun yang telah melakukan aktivitas seks
bebas atau seks di luar nikah mencapai 4,38%. Sedangkan pada usia 14-19 tahun
sebanyak 41,8% telah melakukan aktivitas seks bebas. Data lain mengatakan
bahwa tidak kurang dari 700.000 siswi melakukan aborsi setiap tahunnya.
Apa yang terjadi dengan pemuda-pemudi kita?
Kenapa ini bisa terjadi? Benarkah anak-anak muda itu nakal? Kurang ajar, tidak
bermoral, dan berkhlak rendah? Sudah berapa lama ini semua terjadi?
Semestinya bukan pertanyaan-pertanyaan
bernada kecaman seperti itu yang kita sorongkan. Pertanyaan yang seharusnya
diajukan adalah, dimana saja selama ini kita; para orang tua, guru, dan
pemerintah berada? Apa yang telah kita lakukan dan berikan kepada anak-anak
itu?
Sebagai orang tua, bukankah selama ini nyaris
tidak ada apa pun yang kita berikan kepada anak-anak itu? Kita sudah merasa
menuntaskan kewajiban jika sudah menjejali mereka dengan aneka hadiah dan
kebutuhan fisiknya. Pertanyaannya, adakah perhatian dan kasih-sayang kita masih
tercurah kepada mereka? Bagaimana dengan waktu dan kebersamaan di rumah dan
keluarga? Masihkah kita shalat berjamaah dan membaca al quran bersama mereka?
Dan, di atas semua itu, masih adakah teladan yang kita tunjukkan kepada
anak-anak itu?
Bukankah di rumah kita telah menjadi para
diktator bagi anak-anak. Kita melarang mereka melakukan ini-itu. Namun pada
saat yang sama kita tetap saja asyik dengan larangan tersebut. Para ayah
melarang anak-anaknya merokok, sementara di sela-sela jemarinya terselip rokok
yang masih mengepulkan asap. Para ibu menyuruh anak-anaknya belajar dan
melarang mereka menonton tv, sementara dia sendiri asyik duduk di sofa sambil
matanya tidak lepas dari sinetron pengumbar mimpi dan nafsu.
Para guru di sekolah mengajarkan moral kepada
para siswanya, sementara berbagai kecurangan terus dilakukan. Tidak disiplin
dengan kehadiran yang membuat anak-anak gaduh di kelas. Sibuk mencari tambahan
di luar kelas hingga kwalitas pengajaran terus melorot. Para kepala sekolah
sibuk mengutak-atik anggaran bantuan operasional sekolah (BOS) untuk
kepentingan sendiri.
Para pejabat publik di eksekutif, legislatif,
dan yudikatif yang digaji dengan uang rakyat, tidak lagi memikirkan dan bekerja
dengan sungguh-sungguh agar rakyatnya sejahtera dan tercerahkan. Mereka justru
sibuk bermanuver untuk melanggengkan jabatan untuk menumpuk harta dan
kekuasaan, kekuasaan dan harta.
Teladan telah menjadi barang amat langka di
negeri ini. Anak-anak kita tidak lagi bisa menemukan contoh hidup sederhana,
arif, santun, dan penuh kasih kepada sesama yang bisa ditiru. Yang ada, setiap
hari mereka dijejali dengan budaya hedonis, konsumtif, koruptif, dan
manipulatif. Dan semua hal buruk itu setiap saat dipertontonkan dengan
sangat telanjang oleh para orang tua di rumah, guru di sekolah, dan para
pejabat di kursi-kursi kekuasaannya.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah
Kalau kita ingin memiliki anak seperti
Ismail, maka dengan sendirinya diperlukan seorang bapak seperti Ibrahim AS.
Tentu saja, tidak 100% seperti Ibrahim. Mungkin cuma 50%, 25%, 10%, bahkan
mungkin 1% dari kualitas Ibrahim. Anak-anak seperti Ismail juga memerlukan
seorang ibu seperti Hajar. Tentu saja, tidak 100% seperti Hajar. Cukup 50%,
25%, 10%, bahkan mungkin 1% dari kualitas bunda Hajar.
Pertanyaannya sekarang, seper berapa
persenkah para bapak dan suami zaman ini dari Ibrahim? Apakah ada
tanda-tanda bunda Hajar pada istri dan para ibu di rumah tangga kita sekarang?
Dimanakah kita bertemu jodoh yang kemudian berlanjut pada pernikahan dan
keluarga? Apakah di night club, karaoke atau lokasi-lokasi maksiat lain
yang menjadi tempat pertemuan dengan jodoh kita?
Jangan pernah berharap di rumah kita akan
hadir anak-anak sekelas Ismail, kalau kita sendiri sebagai orang tua tidak
mewarisi keutamaan Ibrahim dan Hajar. Sebagai kepala keluarga, sudahkah para
bapak hanya memberi nafkah anak dan istri dengan harta yang halal? Adakah
rupiah yang kita bawa pulang benar-benar bersih dari unsur haram? Sah dan
halalkah kelebihan penghasilan di luar gaji yang kita berikan kepada anak istri
dalam bentuk nafkah, rumah, vila, tabungan dan deposito, saham dan obligasi,
mobil, dan harta benda lain?
Ibu seperti apakah yang mampu melahirkan dan
membimbing anak-anaknya seperti Ismail? Atau, ibu yang bagaimanakah yang
memiliki surga di bawah telapak kakinya? Al-jannatu tahta aqdamil ummahat, surga
di bawah telapak kaki ibu. Sebagian ulama memang menyebut ini hadits palsu.
Sebagian lain mengatakan munkar, karena ada Manshur dan Abu Nadzhar, sebagai
perawi tidak dikenal. Bahkan Al-Hafidz menyebutkan perawi lain hadits ini,
yaitu Musa, adalah al-kadzdzab atau pendusta.
Meski demikian, ada hadits lain yang senada
namun punya kedudukan shahih. Sanad hadits ini oleh banyak ulama diterima
sebagai hadits yang hasan. Bahkan Al-Hakim dan Adz-Dzahabi menyebutnya sebagai
hadits shahih. Hadits itu adalah hadits dari Mu'awiyah bin Jahimah. Beliau
pernah mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya :
"Ya, Rasulallah. Aku ingin ikut dalam
peperangan, tapi sebelumnya Aku minta pendapat Anda". Rasulullah SAW
bertanya, "Apakah kamu masih punya ibu?". "Punya",
jawabnya. Rasulullah SAW," Jagalah ibumu, karena sesungguhnya surga itu di
bawah kedua telapak kakinya". (HR. An-Nasai, Ahmad dan Ath-Thabarani).
Pesan yang ingin disampaikan di sini adalah,
hanya para ibu utama dan mulia saja yang mampu menyediakan surga di bawah
telapak kakinya. Dan para ibu itu juga tidak sendiri. Mereka harus didampingi
para suami yang sholeh, yang memurnikan tauhidnya sesuai dengan millah
Ibrahim yang hanif.
Di tangan para orang tua seperti inilah kelak
akan lahir dan terbentuk anak-anak yang berakhalak mulia. Generasi muslim yang
juga memegang tahuid dengan teguh dan istiqomah. Sebab, pada dasarnya tiap anak
lahir dengan bersih. Ibu dan bapaknyalah yang akan mewarnai anak-anak itu
menjadi “sesuai” di kemudian hari.
يمجسانه
أو ينصرانه أو يهودانه فأبواه الفطرة على يولد مولود كل
“Setiap anak dilahirkan dlm keadaan fitrah
(Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau
Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim)
بنفسك
إبدء,
mulailah dari dirimu sendiri.
Demikian Muhammad Rasulullah SAW bersabda. Jika
para orang tua memulai dari diri sendiri, baik dalam hal kebaikan dan
menghindari keburukan, maka anak-anak akan menemukan teladan. Para
pemuda-pemudi kita bisa menduplikasi perilaku mulia dari orang tua, guru, dan
para pejabat publik negeri ini. Alangkah indahnya hidup ini dan damainya
Indonesia, jika tiap keluarga hanya menularkan kebaikan dalam perilaku
sehari-harinya. Tidak ada lagi perkelahian antarpelajar. Tidak ada lagi tawuran
antakampung. Tidak ada lagi korupsi yang menyengsarakan rakyat. Sungguh,
Indonesia akan menjadi baldatun thoyibatun warobbun ghafur. Sebuah
negara yang baik dan berada di bawah perlindungan Allah yang Maha Pengampun.
Insya Allah, aamiin...
أعُوْذُ
بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا
أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ
الْأَبْتَرُ بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ.
وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.
فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA:
اللهُ
اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ
كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ
وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ
الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ
ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ
H. Edy Mulyadi (Ketua Korps Muballigh Jakarta
(KMJ), Ketua Badan Koordinasi Muballigh se-Indonesia) Khotbah disampaikan
pada Khutbah Idul Adha 10 Zulhijjah 1436 H/24 September 2015 M di Masjid At
Taufiq, Tanjung Duren, Jakarta Barat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar