KH Ma’ruf
Mangunwiyoto, Pemimpin Barisan Kyai Jawa Tengah
![]() |
| Kiai Ma'ruf dan istrinya |
Sebelumnya telah
diterangkan tentang kiprah Barisan Kyai, sebuah kelompok pasukan yang terdiri
dari para kiai sepuh
Pada zaman perang
kemerdekaan, peran mereka begitu besar. Selain diharapkan nasihat-nasihatnya
dalam peperangan untuk membakar semangat para pejuang, sebagian dari mereka
juga ada yang memanggul senjata, ikut berperang di front terdepan.
Di Jawa Tengah,
Barisan Kyai ini dipimpin oleh seorang ulama dari Kota Surakarta yang bernama
KH Ma’ruf Mangunwiyoto. Gelar Mangunwiyoto ini didapatkannya setelah ia
berhasil menyelesaikan pendidikan di Madrasah Mambaul Ulum Surakarta dan
diangkat menjadi guru.
Kiai Ma’ruf dikenal
sebagai salah satu tokoh pendiri NU di Kota Solo. Hal ini diungkapkan KH
Saifudin Zuhri, seorang Tokoh NU yang juga pernah nyantri di Kota Solo pada
tahun 1930-an, dalam buku “Berangkat dari Pesantren” (2013).
Menurut dia, sosok
Kiai Ma’ruf yang menjadi pengasuh pesantren di daerah Jenengan Surakarta juga
dikenal sebagai seorang ulama besar, khususnya dalam bidang hadist.
Kealiman yang
dimiliki oleh Kiai Ma’ruf, juga sedikit banyak ia dapatkan dari faktor nasab.
Kiai Ma’ruf berasal dari keturunan seorang ulama besar, yakni Kiai Abdul Mu’id
bin Kiai M Tohir bin Nyai Syamsiah binti Kiai Imam Rozi Tempursari Klaten Jawa
Tengah.
Kakek buyut Kiai
Ma’ruf, yakni Kiai Imam Rozi Tempursari merupakan seorang ulama yang juga
menjadi seorang panglima (Manggala Yudha) perang pasukan Pangeran Diponegoro,
yang bergelar Singa Manjat.
Darah pejuang dari
para leluhurnya ini lah barangkali yang menjadi semangat Kiai Ma’ruf bersama
sejumlah kiai lain, seperti KH Abdurrahman KH R Moh Adnan, Kiai Abdul Karim
Tasyrif, Kiai Martoikoro, Kiai Asnawi, Kiai Amir Thohar dan ulama lain di
Barisan Kyai untuk ikut berjuang melawan penjajah. Lahumu al-fatihah! []
(Ajie Najmuddin)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar