Kamis, 28 November 2013

(Ngaji of the Day) Partai Politik Kuda Lumping


Partai Politik Kuda Lumping

Oleh: Ahmad Dairobi/BS

 

Berbicara mengenai pentingnya partai politik di masa modern ini sama halnya dengan berbicara mengenai peran militer di masa lalu. Di masa-masa Abad Pertengahan, kegiatan militer merupakan cara yang paling banyak ditempuh untuk mendapatkan dan menjaga kekuasaan.

 

Saat ini, peran aksi militer dalam perebutan kekuasaan sudah jauh berkurang, bahkan nyaris tidak pernah terjadi. Kekuasaan hampir selalu didapat melalui cara-cara demokratis, melalui pilihan rakyat, melalui partai politik. Oleh karena itu, jika seseorang bermaksud mewujudkan gagasannya melalui perangkat kekuasaan, maka sudah seharusnya dia berkecimpung di politik, tentunya melalui partai politik. Kalaupun tidak berkecimpung secara penuh, minimal dia harus bersentuhan. Tidak boleh tidak.

 

Menafikan partai politik dalam kondisi seperti saat ini, sama halnya dengan menafikan perjuangan melalui medan kekuasaan. Padahal, kekuasaan merupakan tunggangan yang paling cepat dan taktis untuk membangun sebuah tujuan secara massif, termasuk tujuan-tujuan yang berkaitan dengan ajaran agama.

 

Dakwah dan perjuangan yang dilancarkan melalui jalur struktural-kekuasaan, ibarat menunggang kuda. Memang cukup sulit untuk bisa menguasai tunggangan itu dengan baik, namun jika sudah berhasil dikuasai maka akan mempermudah dan mempercepat dia sampai ke tujuan. Menguasai politik sebagai tunggangan dakwah memang sangatlah sulit. Namun, jika sudah benar-benar kena, maka kekuasaan politik akan sangat mempermudah jalan dakwah.

 

Jadi, pada tataran ideal, di tengah-tengah negara yang menganut sistem demokrasi, partai politik memiliki peran yang sangat signifikan bagi kemaslahatan masyarakat dan umat. Sebab, partai politik merupakan tunggangan yang paling mungkin dan paling realistis untuk bisa membuka akses menuju kekuasaan, jabatan publik, otoritas legislatif, penetapan anggaran, dan lain sebagainya. Sudah sangat maklum, bahwa ranah-ranah tersebut sangatlah menentukan nasib jutaan rakyat yang berada di sebuah negara.

 

Itu pada tataran idealnya. Akan tetapi, realitas partai politik, terutama yang terjadi di Indonesia saat ini, masih sangat jauh panggang dari api. Sejak era reformasi bergulir, sepertinya partai politik justru lebih banyak melahirkan petaka sosial-politik di masyarakat, ketimbang memperjuangkan aspirasi mereka. Partai politik, setidaknya, telah membawa masyarakat semakin terbiasa terlibat ke dalam intrik-intrik politik yang kurang baik. Para kader dan para calon yang diusung partai seringkali mempertontonkan langkah-langkah politis jalan pintas yang benar-benar tidak mendidik.

 

Partai politik juga telah banyak memanfaatkan karisma yang dimiliki oleh para tokoh kultural untuk memperoleh dukungan. Terjunnya tokoh-tokoh karismatik ke dalam politik praktis, lambat laun menyebabkan pudarnya aura panutan pada diri mereka.

 

Dapat dirasakan dengan mudah, bahwa persepsi masyarakat mengenai partai politik sudah jauh berbeda dibanding zaman Orde Baru dahulu. Kala itu, kaum pesantren misalnya, masih memiliki kepercayaan kuat bahwa partai yang mereka pilih di waktu itu (PPP) merupakan gerbong perjuangan dan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan. Sehingga, keterlibatan tokoh-tokoh masyarakat dalam politik praktis tidak mengurangi karisma mereka di mata umat. Justru, umat menganggap urusan partai sebagai bagian dari perjuangan.

 

Beberapa tahun setelah era reformasi bergulir, persepsi simpatik itu bergeser jauh. Lambat laun masyarakat mulai merasakan bahwa partai politik lebih berperan sebagai gerbong kekuasaan dan kepentingan, daripada gerbong perjuangan. Kepercayaan masyarakat terhadap partai politik sangat rendah. Hal itu terbukti dengan beberapa hasil survei belakangan ini, bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai produk dan representasi utama partai politik, sangatlah rendah.

 

Rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat ini diakibatkan oleh perilaku politik yang mengecewakan dan banyak terjadinya penyelewengan kekuasaan, termasuk oleh tokoh-tokoh kultural yang kebetulan terpilih untuk duduk di kursi-kursi elite politik.

 

Sementara ini, memang belum terlihat perbedaan yang hitam-putih antara perilaku elite politik dari partai yang mengaku ‘religius’ dengan partai-partai lain yang tidak mengusung platform keagamaan sama sekali. Sebab, meskipun mengaku memiliki platform berbeda-beda, tapi pada dasarnya tujuan partai politik adalah sama, yaitu sama-sama merupakan mesin untuk mendapatkan kekuasaan.

 

Sudah menjadi kecenderungan manusia secara umum, bahwa orang yang dekat dengan kekuasaan, akan semakin besar peluangnya untuk bermental korup. Sebab, politik seringkali menjadi medan abu-abu yang memaksa elite-elitenya untuk banyak berkom­promi dengan berbagai realitas politik dan kepentingan, lalu pada saat bersamaan ia harus melepas idealisme yang dipegang dengan kuat sebelum itu.

 

Oleh karena partai politik sangat rentan diselewengkan untuk kepentingan segelintir elitenya, maka masyarakat mesti berpartai dengan cara yang cerdas dan kritis. Partai politik tidak boleh diletakkan sebagai kiblat yang final, kecuali dalam kondisi tertentu yang sangat mendesak, seperti halnya yang terjadi di zaman Orde Lama, di mana Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi ancaman serius bagi agama dan negara.

 

Partai politik harus diletakkan sebagai sarana untuk membawa aspirasi. Jika langkah dan kebijakan para elite partai tersebut sudah tidak sesuai dengan tujuan konstituen, maka sudah semestinya mereka berbondong-bondong hengkang dari sana. Memilih partai yang salah sama halnya dengan memaksa negara untuk melakukan kesalahan dalam skala yang luas.

 

Dalam hal ini, tokoh-tokoh karismatik merupakan orang yang paling bertanggung­jawab terhadap sikap politik masyarakat yang dipimpinnya. Kalangan awam tidak tahu menahu mengenai apa dan bagaimana politik. Pilihan masyarakat awam, pada umumnya, sangat ditentukan oleh sikap tokoh-tokoh yang menjadi panutan mereka.

 

Oleh karena itu, tokoh-tokoh panutan memiliki kewajiban moral untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar menjauhi sikap fanatisme buta terhadap partai politik. Dalam kondisi perpolitikan yang serba abu-abu seperti saat ini, fanatisme terhadap partai hanyalah bentuk ‘kekanak-kanakan’ yang amat menggelikan. Apalagi, jika sampai menyebabkan terjadinya tindakan-tindakan anarkis yang dipicu oleh perbedaan gambar semata.

 

Masyarakat harus benar-benar diberi pemahaman, bahwa partai politik yang ada saat ini, bukan lagi tunggangan kuda bagi sebuah perjuangan. Partai politik seringkali hanyalah seekor kuda lumping yang menjadi mainan orang-orang di atas, lalu tidak jarang membuat kesurupan orang-orang di bawah. []


Sumber: Buletin Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan – Jawa Timur

Rabu, 27 November 2013

(Do'a of the Day) 23 Muharram 1435H


Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Allaahummal baitu baituka, wal 'abdu 'abduka wabnu 'abdika wabnu amatika, hamaltanii 'alaa na sakhkharta lii min khalqika, hattaa sayyartanii fii bilaadika, wa ballaghtanii bi ni'matika hattaa a'antanii 'alaa qadhaa'I manaasikika, fa in kunta radhiita 'annii fazdad 'annii ridhan, wa illaa fa minal aana fardha 'annii qabla an yan'aa 'an baitika daarii.

 

Ya Allah, rumah ini adalah rumah-Mu, hamba ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, Engkau bawa aku di atas sesuatu yang Kau kuasakan aku di antara makhluk-Mu, sampai Kau jalankan aku ke negeri-Mu ini, dan Kau sampaikan aku (ke sini) dengan nikmat-Mu sehingga Kau tolong aku menyelesaikan ibadah ini. Maka jika Kau ridhai aku, tambahkanlah keridhaan itu kepadaku. Jika sekiranya belum mulai sekarang juga ridhai aku sebelum rumahku terpisah jauh dari rumah-Mu.

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 9, Fasal Ketujuhbelas.

Pesantren Sebagai Jangkar Nasionalisme


Pesantren Sebagai Jangkar Nasionalisme

 

Sejak awal sejarah perlawanan terhadap kolonial dilakukan oleh kalangan umat Islam, terhitung sejak pengusiran Portugis yang dilakukan oleh Adipati Unus terhadap penjajah portugis yang menduduki Malaka. Sejak itu kalangan santri selalu melakukan perlawanan terhadap penjajah, baik karena menjarah kekuasaan politik, menghisap seluruh hasil bumi, juga menindas bangsa Nusantara.

 

Sementara kalangan non santri lebih bisa bekerjasama dengan penjajah, apakah itu Portugis, Belanda, Inggris atau Jepang. Mereka sebagai ambtenaar, sebagai serdadu bayaran, atau sebagai marsose. Bagi mereka tidak ada untungnya melawan Belanda, apalagi mereka sangat diuntungkan, baik secara ekonomi maupun politik dan sosial. Karena itu hampir tidak ada perlawanan terhadap penjajah yang dilakukan kelompok mereka. Semua perlawanan dating dari kaum santri.

 

Hal itu tampaknya diakui pula oleh aktivis dan sekaligus sejarawan yakni Dr. Douwes Dekker atau Setiabudi mengatakan bahwa; jika tidak ada agama Islam di Indonesia ini, niscaya akan lenyaplah kebangsaan Indonesia dari kepulauan ini, karena derasnya arus faham kebaratan. Memang kebangsan akan tetap juga ada di Indonesia, tetapi kebangsaan yang tidak asli lagi, ketika mereka menjadi blandis atau terbaratkan.

 

Apalagi ada gerakan Politiek Kristening Belanda yang berusaha menjadikan Kristen sebagai agama dominan, yang menunjang sistem kolonial. Dengan alasan kalau Islam yang berkembang maka kolonialisme akan terncam. Islam akan selalu menentang stelsel kolonial yang tidak adil dan menindas.

 

Islam juga gigih mempertahankan identitas kebangsaan, sehingga tidak mudah dibelandakan atau dijinakkan. Karena itu kebangsaan Indonesia dan identitas kenusantaraan tetap ada, ketika kaum santri menempatkan diri sebagai jangkar kebangsaan. []

 

(Abdul Mun’im DZ)

BamSoet: Jejak Boediono di Century

Jejak Boediono di Century

Bambang Soesatyo
Anggota Timwas Century DPR RI

Alasan krisis ekonomi global yang selalu digunakan Boediono dalam menyelamatkan Bank Century sebagai bank gagal yang dapat berdampak sistemik, terpatahkkan dengan kesaksian JK yang ketika itu sebagai pelaksana tugas presiden karena SBY berada di AS.

Sebelumnya diketahui, pada 30 Oktober dan 3 November 2008, Bank Century mengajukan Fasilitas Repro Aset (yang kemudian disikapi oleh BI menjadi FPJP). sebesar Rp1 triliun. Permintaan Bank Century itu ditolak. Menurut analisis BI, Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Century hanya sebesar positif 2,35 persen. Masih jauh di bawah CAR minimal untuk mendapatkan fasilitas pinjaman yang dinyatakan dalam Peraturan BI 10/26/PBI/2008, yakni 8 persen.

Guna mengakali aturan itu, temuan BPK menyebutkan bahwa pada tanggal 14 November 2008 BI sengaja mengubah aturan persyaratan CAR dengan mengganti angka minimal 8 persen menjadi minimal 0 persen atau “positif” saja.

Namun fakta menunjukan dalam temuan BPK, bahwa posisi CAR Bank Century pada pada saat pengikatan FPJP, merosot menjadi  negatif 3,53 persen. Sehingga, dengan bantuan perubahan syarat CAR itu pun sesungguhnya Bank Century masih tetap  tidak memenuhi syarat untuk memperoleh FPJP.

Di sisi lain, BPK juga mencatat proses pencairan FPJP (kredit) untuk Bank Century senilai Rp.689 miliar hanya dalam waktu yang tidak lazim. Yakni kurang dari 5 jam dengan membuat tanggal dan jam mundur atau tidak dalam waktu yang tidak sebenarnya pada akta notaris dan waktu pencairan yang juga tidak lazim, yakni jumat malam pukul 20.35 wib. (Catatan: dalam akta tertulis penanda tanganan akat kredit, 14 November 2008 pukul 13.30wib. Fakta temuan Pansus Century DPR penandatangan dilakukan pada tanggal 15 November 2008 pukul 02.00 dinihari). Artinya, pencairan FPJP berdasarkan surat kuasa Boediono selaku Gubernur BI kepada tiga pejabat BI, dilakukan sebelum para pihak menandatangi pengikatan akat kredit.

Temuan BPK selanjutnya adalah, penyerahan nilai jaminan atau anggunan dilakukan seminggu kemudian. Itupun nilainya tidak sesuai ketentuan sebagaimana diatur dalam peraturan BI, yakni di bawah 150 persen. Celakanya lagi, belakangan diketahui sebagaimana temuan BPK, bahwa sebagian jaminan untuk mendapatkan FPJP yang disampaikan pihak Bank Century senilai Rp 467,99 miliar nyata-nyata tidak aman. Namun demikian, Boediono selaku pimpinan rapat Dewan Gubernur ketika itu, tetap kekeh menyetujui pemberian FPJP untuk Bank Century.

Itu soal FPJP. Bagaimana soal bailout?

Ternyata dana FPJP senilai Rp.689milir yang digelontorkan Boediono kepada Bank Century, dalam waktu sekejap habis. Bank Century kembali colaps. Untuk. Menolong  lagi Bank Century, diam-diam pada malam hari 20 November 2008, singkat kata setelah melalui proses panjang dan perdebatan sengit dalam mencari-cari alasan atau argumentasi yang masuk akal untuk kembali menolong Century, Boediono menandatangani surat bernomor 10/232/GBI/Rahasia tentang Penetapan Status Bank Gagal PT Bank Century Tbk dan Penanganan Tindak Lanjutnya.

Di dalam surat itu antara lain disebutkan bahwa salah satu cara untuk mendongkrak rasio kecukupan modal bank Century dari negatif 3,53 persen (per 31 Oktober 2008) menjadi positif 8 persen adalah dengan menyuntikkan dana segar sebagai Penyertaan Modal Sementara (PMS) sebesar Rp 632 miliar.

Surat itu kemudian dibahas dalam "rapat konsultasi" yang digelar sebelum rapat Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) pada malam hari itu juga. Setelah "rapat konsultasi" yang diikuti sejumlah petinggi dan pengambil kebijakan sektor fiskal dan jasa keuangan itu, Boediono dan Sri Mulyani menggelar Rapat KSSK hingga subuh keesokan harinya, 21 November 2008.

Dalam “rapat konsultasi” menjelang Rapat KSSK di gedung Djuanda, kompleks Kementerian Keuangan pada pergantian malam itu, Boediono menjadi pihak yang paling ngotot membela status Bank Century dan jalan keluar yang dianggapnya perlu.

Jejak sikap ngotot Boediono dapat ditelusuri dari transkrip rekaman pembicaraan "rapat konsultasi" dan dokumen resmi notulensi "rapat konsultasi" yang beredar luas di masyarakat pada akhir tahun 2009 lalu.

Dalam notulensi “rapat konsultasi” setebal lima halaman itu disebutkan bahwa rapat yang dipimpin Sri Mulyani dibuka sebelas menit lewat tengah malam tanggal 21 November 2008. Juga disebutkan bahwa rapat digelar khusus untuk membahas usul BI agar Bank Century yang oleh BI diberi status “Bank Gagal yang Ditengarai Berdampak Sistemik” dinaikkan statusnya menjadi “Bank Gagal yang Berdampak Sistemik”.

Boediono mendapatkan kesempatan pertama untuk mempresentasikan permasalahan yang sedang dihadapi Bank Century.

Sri Mulyani adalah pihak pertama yang mengomentari rekomendasi Boediono. Dia mengatakan bahwa reputasi Bank Century selama ini, sejak berdiri Desember 2004 dari merger Bank Danpac, Bank CIC, dan Bank Pikko, memang tidak bagus. Lalu Sri Mulyani meminta agar peserta rapat yang lain memberikan komentar atas saran Boediono.

Badan Kebijakan Fiskal (BKF), misalnya, menolak penilaian BI atas Bank Century. Menurut BKF, “analisa risiko sistemik yang diberikan BI belum didukung data yang cukup dan terukur untuk menyatakan bahwa Bank Century dapat menimbulkan risiko sistemik. Juga menurut BKF, analisa BI lebih bersifat analisa "dampak psikologis.”

Sikap Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) pun hampir serupa. Dengan mempertimbangkan ukuran Bank Century yang tidak besar, secara finansial Bank Century tidak akan menimbulkan risiko yang signifikan terhadap bank-bank lain.

“Sehingga risiko sistemik lebih kepada dampak psikologis.”

Tetapi Boediono bertahan pada pendapatnya. Dan pada akhirnya dia tidak saja memenangkan pertarungan dalam rapat tertutup tersebut. Namun juga berhasil meyakinkan Srimulyani selaku ketua KSSK untuk menandatangaani persetujuan bailout sebesar Rp.632miliar pada pukul 5 subuh hari sabtu tanggal 22 November 2008.

Pertanyaan menariknya, apa yang terjadi setelah persetujuan bailout ditanda tangani Srimulyani? Hanya dalam tempo dua hari, yaitu sabtu dan minggu. Senin pagi sudah tergelontor dari kocek LPS sekitar Rp.2,7triliun. Bagaimana bisa dihari libur, tidak ada kliring, Century bisa jebol triliunan? Itulah barangkali yang menjelaskan mengapa Srimulyani kemudian marah dan merasa tertipu oleh BI.

Lalu apakah setelah marah-marah di dalam rapat dengan seluruh petinggi BI dan LPS termasuk Boediono selaku Gubernur BI sebagai terungkap dalam dalam notulen, transkrip dan rekaman rapat tersebut, kucuran dana ke Bank Century berhenti? Ternyata tidak. Pembobolan terus berlangsung, mulai akhir November 2008 saat menjelang pemilu legislatif April 2009. Hingga pasca pemilu pemilihan presiden dan wakil presiden pada Juni 2009 dengan total penarikan Rp.6,7triliun. []



Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

(Ngaji of the Day) Rekonstruksi Fiqih al-Bi’ah


Rekonstruksi Fiqih al-Bi’ah

Oleh: Ahmad Mufid Bisri

 

Secara umum tujuan pemberlakuan hukum Islam atau maqashid as-syari’ah adalah untuk mewujudkan maslahat dan menghindari mafsadat. As-Syatibi dalam Al-Muwafaqat telah memformalitaskan maqashid as-asyari’ah melalui teori maslahah dengan membaginya menjadi lima konsep, hifdzu ad-din, hifdzu an-nafs, hifdzu al-aql, hifdzu al-mal dan hifdzu an-nasl.


Kelima konsep tersebut secara spesifik terbagi dalam tiga level, dharuriyyat (elementer), haajiyyat (suplementer) dan tahsiniyyat (komplementer).


Selanjutnya, para intelektual muslim merumuskan konsep baru dan memasukkannya sebagai bagian dari konsep maqashid as-asyari’ah, yaitu hifdzul-bi’ah (menjaga lingkungan), hingga muncul apa yang disebut fiqih lingkungan (fiqih al-bi’ah; environment islamic law). Sayangnya, di Indonesia yang mayoritas muslim, konsiderasi mengenai fiqih al-bi’ah baru muncul pada tahun 1960 melalui seminarseminar.


Rekonstruksi Fiqih al-Bi’ah


Signifikansi rekonstruksi fiqih al-bi’ah ditengarai paling tidak oleh tiga faktor. Pertama, kondisi obyektif krisis lingkungan yang makin parah. Kedua, umat Islam memerlukan kerangka pedoman komprehensif tentang paradigma di dalam masalah lingkungan, sedangkan Fiqih klasik dipandang belum mengakomodir kerangka operasional dalam perspektif lingkungan modern. Ketiga, fiqih al-bi’ah belum dianggap sebagai disiplin dalam ranah studi Islam. Akar-akar ontologis dan epistemologisnya juga masih diperdebatkan.


Lingkungan yang baik dan sehat merupakan hak asasi setiap manusia. Mengamini hal tersebut, UUD 1945 (amendemen kedua, tahun 2000) pasal 28H ayat (1) menyebutkan “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Berdasarkan spirit itulah wawasan mengenai lingkungan hidup masuk dalam agenda besar pembangunan ekonomi nasional di satu sisi.


Di sisi lain, ekosistem yang semakin menurun telah mengancam tidak saja kelangsungan perikehidupan manusia, namun juga makhluk hidup lainnya. Eskalasi pemanasan global makin meningkat hingga berpotensi terhadap perubahan iklim yang pada gilirannya akan memperparah penurunan kualitas lingkungan. Menipisnya lapisan ozon, kerusakan mangrove, padang lamun, gambut, karst, dumping limbah, kegagalan mitigasi, instabilisasi mutu emisi dan udara ambien adalah ancaman serius yang perlu segera mendapatkan penyelesaian. Dalam konteks ini, perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan secara sungguh-sungguh dan konsisten.


Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dapat diimplementasikan secara sistematis dan terpadu. Sistematis dalam arti dilakukan secara bertahab. Step by step. Terpadu karena perlu diketengahkan term kombinasi lintas aspek (interside combination). Untuk itu dibutuhkan semangat melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan (mafsadat). Laiknya pola dalam problem solving, perpaduan aspek lingkungan, sosial, ekonomi dan hukum yang saling bertautan merupakan strategi penjamin keutuhan lingkungan hidup, keselamatan dan mutu hidup generasi masa kini dan masa depan.


Proyeksi dan Proteksi


Sumber daya alam sebagai salah satu representasi dari lingkungan hidup memiliki daya dukung dan daya tampung. Kedua istilah ini merupakan entitas yang dihasilkan dan dapat dimanfaatkan oleh makhluk sekitarnya dengan tetap mempertahankan eksistensi, fungsi, produktivitas, keselamatan, dan mutu. Diperlukan inventarisasi lingkungan untuk melacak identitas sumber daya alam sehingga dapat diketahui potensi yang dapat dimanfaatkan (functionable potency), bentuk penguasaan (authority), pengelolaan (management), kerusakan (faulty) dan konflik yang timbul akibat pengelolaan.


Dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup dari pencemaran dan/atau kerusakan, perlu diupayakan preventifikasi, proteksi dan rehabilitasi. Pemerintah telah mencanangkan program konservasi sumber daya alam, pencadangan dan pelestarian fungsi atmosfer. Pada tahun 1970 telah dibentuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) di bawah Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan yang terdiri dari 27 delegasi di tingkat propinsi. Balai ini bertugas mengelola kawasan-kawasan konservasi, khususnya hutan-hutan suaka alam (suaka margasatwa, cagar alam) dan taman wisata alam.


Persoalan krusialnya ada pada perusahaan yang melakukan kegiatan tertentu untuk mengelola sumber daya alam dengan motif profit oriented. Di mana seringkali keselamatan lingkungan dinomorduakan dan menjadi tergadaikan oleh ekspansi kepentingan perusahaan. Sebut saja Exxon Mobile di blok Cepu, Chevron di Riau, Total di blok Mahakam Kaltim, ConocoPhillips di blok Corridor, Jambi dan tentu saja Freeport di Papua.


Meskipun telah dilakukan pengawasan, nampaknya sanksi yang ada tidak serta merta membuat mereka sadar bahwa menurunnya kualitas sumber daya alam secara tidak langsung dapat mengurangi keuntungan mereka. Lebih jauh dari itu, keberlangsungan lingkungan hidup adalah di atas segalanya (conditio sine qua non).


Konstruksi Hukum


Kementrian Lingkungan Hidup telah menyusun juklak Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai salah satu instrumen inovatif yang membantu perusahaan untuk peka dan adaptif terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat sehingga dapat bersikap lebih sensitif terhadap lingkungan dan selaras dengan dinamika masyarakat sekitarnya.


Selain itu, guna mencapai kepastian hukum agar program dicanangkan bisa berjalan secara tegas dan efektif, pemerintah telah beberapa kali mengeluarkan peraturan perundang-undangan, di antaranya:

 

-       UU No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

-       UU No. 18 tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah

-       UU No. 19 tahun 2009 tentang Pengesahan Stockholm Convention On Persistent Organic Pollutants (Konvensi Stockholm Tentang Bahan Pencemar Organik Yang Persisten)

-       UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

-       PP No. 27 tahun 2012 tentang izin lingkungan

-       PP No. 52 Tahun 2008 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Kemententerian Negara Lingkungan Hidup

-       PP No. 81 tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga

-       Peraturan Menteri, Keputusan Menteri dan Surat Edaran sebanyak 13 (2006), 12 (2007), 17 (2008), 34 (2009), 17 (2010), 17 (2011), 26 (2012) dan 7 (2013).


Disadari atau tidak, negara melalui alat-alatnya telah mengimplementasikan konsep fiqih al-bi’ah sebagai instrumen penting dalam menyongsong kegiatan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks ini, dibutuhkan supporting unit dari semua kalangan. Termasuk peran agama dalam menyikapi isu-isu lingkungan dari perspektif yang lebih praktis.


Fiqih al-bi`ah tumbuh dengan kompleksitas problem ekologi secara multidisipliner. Berbeda dengan fiqih al-zakah dan fiqih al-hajji misalnya, fiqih al-bi`ah dapat menjadi disiplin ilmu keislaman yang “mengekspansi” seluruh bidang-bidang kehidupan.


Menurut Yusuf Qaradhawi, menjaga lingkungan (hifdzu al-bi`ah) sama dengan menjaga agama (din), jiwa (nafs), akal (aql), keturunan (nasl), dan harta (mal). Rasionalitasnya adalah bahwa jika aspek-aspek agama, jiwa, akal, keturunan dan harta rusak, maka eksistensi manusia di dalam lingkungan menjadi ternoda. Oleh sebab itu, dislokasi fiqih al-bi`ah bisa menjadi oportunitas yang konfrontatif jika diikuti oleh paradigma epistemologi yang komprehensip.


Melindungi dan mengelola lingkungan hidup tentu bukan hal mudah. Namun bukan juga hal sulit jika kita bersama berusaha dan bekerja keras karena tidak ada fenomena lingkungan yang bersifat unpredicable. Kendati apa yang kita lakukan terhadap lingkungan tidak langsung dapat terasa manfaatnya. Sebuah adagium mengatakan bahwa cara paling cepat mencapai sebuah tujuan adalah dengan kerja keras dalam waktu yang relatif lama (asra’u at-Thariq li al-ghayah tuulu az-zaman fi aljiddah).


Setidaknya, aksi nyata kita adalah dengan tidak berbuat kerusakan terhadap lingkungan sekitar (ifsad fi al-ardl), meski kita belum bisa melindungi dan mengelolanya dengan baik (ma la yudroku kulluh la yutraku kulluh). Semoga.


Ahmad Mufid Bisri

* Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Darul Ulum, Mantan Redaktur Majalah Tebuireng dan sekarang menjadi Calon Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Kediri

Selasa, 26 November 2013

(Do'a of the Day) 22 Muharram 1435H


Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Allaahummasy rabhu mustasyfiyan bihi fasyfinii.

 

Ya Allah, sesungguhnya aku meminumnya dengan memohon kesembuhan, maka sembuhkanlah aku.

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 9, Fasal Ketujuhbelas.

Sendiri Bertegangan Tinggi

Awas, seratus lima puluh kave.

Gus Mus: Rasanya Baru Kemarin


Rasanya Baru Kemarin

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

 

Rasanya
Baru kemarin Bung Karno dan Bung Hatta
Atas nama kita menyiarkan dengan seksama
Kemerdekaan kita di hadapan dunia. Rasanya
Gaung pekik merdeka kita
Masih memantul-mantul tidak hanya
Dari para jurkam PDI saja.

 

Rasanya
Baru kemarin.
Padahal sudah enam puluh tahun lamanya.

Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia
Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya
Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha
Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa
Sudah banyak yang turun tahta
Taruna-taruna sudah banyak yang jadi
Petinggi negeri
Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi
Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad lamanya.

Petinggi-petinggi yang dulu suka korupsi
Sudah banyak yang meneriakkan reformasi.
Tanpa merasa risi

Rasanya baru kemarin
Rakyat yang selama ini terdaulat
sudah semakin pintar mendaulat
Pejabat yang tak kunjung merakyat
pun terus dihujat dan dilaknat

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah enam puluh tahun lamanya

Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh
Padahal pembangunan badan
yang kemarin dibangga-banggakan
sudah mulai runtuh

Kemajuan semu masih terus menyeret dan mengurai
pelukan kasih banyak ibu-bapa
dari anak-anak kandung mereka
Krisis sebagaimana kemakmuran duniawi
Masih terus menutup mata
banyak saudara terhadap saudaranya

Daging yang selama ini terus dimanjakan
kini sudah mulai kalap mengerikan
Ruh dan jiwa
sudah semakin tak ada harganya

Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan
para penguasa berlaku sewenang-wenang
kini sudah pandai menirukan

Tanda-tanda gambar sudah semakin banyak jumlahnya
Semakin bertambah besar pengaruhnya
Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda
Kepentingan sendiri dan golongan
sudah semakin melecehkan kebersamaan

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka.

Pahlawan-pahlawan idola bangsa
Seperti Pangeran Diponegoro
Imam Bonjol, dan Sisingamangraja
Sudah dikalahkan oleh Sin Chan, Baja Hitam
dan Kura-kura Ninja

Banyak orang pandai sudah semakin linglung
Banyak orang bodoh sudah semakin bingung
Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan
Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan

Rasanya
Baru kemarin

Tokoh-tokoh angkatan empatlima
sudah banyak yang koma
Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah
banyak yang terbenam
Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya
sudah banyak yang tak jelas maunya

Rasanya
Baru kemarin

(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Sudahkah kalian
Benar-benar merdeka?)

Rasanya
Baru kemarin

Negeri zamrud katulistiwaku yang manis
Sudah terbakar nyaris habis

Dilalap krisis dan anarkis

Mereka yang kemarin menikmati pembangunan
Sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban
Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri
Sudah meninggalkan utang
dan lari mencari selamat sendiri

Mereka yang kemarin
sudah terbiasa mendapat kemudahan
Banyak yang tak rela sendiri kesulitan
Mereka yang kemarin mengecam pelecehan hukum
Kini sudah banyak yang pintar melecehkan hukum

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka

Mahasiswa-mahasiswa yang penjaga nurani
Sudah dikaburkan oleh massa demo yang tak murni
Para oportunis pun mulai bertampilan
Berebut menjadi pahlawan
Pensiunan-pensiunan politisi
Sudah bangkit kembali
Partai-partai politik sudah bermunculan
Dalam reinkarnasi

Rasanya
Baru kemarin

Para seniman sudah banyak yang senang berpolitik
Para agamawan sudah banyak yang pandai main intrik
Para wartawan sudah banyak yang pintar bikin trik-trik

Rasanya
Baru kemarin

Tokoh-tokoh orde lama
sudah banyak yang mulai menjelma
Tokoh-tokoh orde baru
sudah banyak yang mulai menyaru

Rasanya
Baru kemarin

Pak Harto yang kemarin kita tuhankan
Sudah menjadi pesakitan yang sakit-sakitan
Bayang-bayangnya sudah berani pergi sendiri
Atau lenyap seperti disembunyikan bumi
Tapi ajaran liciknya sudah mulai dipraktekkan
Oleh tokoh-tokoh yang merasa tertekan

Rasanya baru kemarin

Habibie dan Gus Dur sudah mencoba sebentar
Menduduki kursi kekuasaan yang terlantar
Megawati yang mendapat giliran dan sudah berusaha
Sekuat tenaga gagal memperpanjang kuasa

SBY yang menggantikan kekuasaan
Terus dicoba cobaan demi cobaan
Jusuf Kalla sudah menggantikan Hamzah Haz di istana
Sambil menggantikan Akbar Tanjung di Golongan Karya

Saifullah Yusuf dan Alwi Syihab sudah menjadi menteri
Meski berbuntut pertikaian dalam partai sendiri
Tokoh-tokoh KPU yang dituding sering memperlihatkan arogansi
Malah banyak yang menjadi terdakwa kasus korupsi

Mantan-mantan calon dalam pilpres dan pilkada
Banyak yang masih tak bisa menerima kenyataan yang ada
Banyak yang demam pesta demokrasi
Ternyata belum bisa menghayati demokrasi

Rasanya baru kemarin

Partai-partai politik sudah menjadi rebutan
Para pemimpinnya sendiri yang melihat kesempatan
Tanpa peduli warga mereka yang rentan
Ormas-ormas pun banyak yang seperti tak tahan
Melihat iming-iming kekuasaan

Rasanya baru kemarin

Wakil-wakil rakyat yang kemarin hanya tidur
Kini sudah pandai mengatur dan semakin makmur
Bahkan rakyat tak perlu lagi berkelahi dan memperkaya diri
Karena wakil-wakil mereka sudah mewakili dengan baik sekali

Insan-insan pers yang kemarin seperti burung onta
Kini sudah pandai menembakkan kata-kata

(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Bagaimana rasanya
Merdeka?)

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah enam puluh tahun kita
Merdeka.

Para jenderal dan pejabat sudah saling mengadili
Para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali
Mereka yang kemarin dijarah
Sudah mulai pandai meniru menjarah
Mereka yang perlu direformasi
Sudah mulai fasih meneriakkan reformasi
Mereka yang kemarin dipaksa-paksa
Sudah mulai berani mencoba memaksa

Mereka yang selama ini tiarap ketakutan
Sudah banyak yang muncul ke permukaan
Mereka yang kemarin dipojokkan
Sudah mulai belajar memojokkan
Mereka yang kemarin terbelenggu
Sudah mulai lepas kendali melampiaskan nafsu
Mereka yang kemarin giat mengingatkan yang lupa
Sudah mulai banyak yang lupa

Rasanya baru kemarin
Ingin rasanya aku bertanya kepada mereka semua
Tentang makna merdeka

Rasanya baru kemarin

Pakar-pakar dan petualang-petualang negeri
Sudah banyak yang sibuk mengatur nasib bangsa
Seolah-olah Indonesia milik mereka sendiri
Hanya dengan meludahkan kata-kata

Rasanya baru kemarin

Dakwah mengajak kebaikan
Sudah digantikan jihad menumpas kiri-kanan
Dialog dan diskusi
Sudah digantikan peluru dan amunisi

Rasanya baru kemarin

MUI yang didirikan untuk mendukung rezim lama
Kini sudah mencoba menjelma orsospol ulama
Pendukung-pendukung Islam
Sudah semakin berani mencemari Islam

Masyarakat Indonesia yang berketuhanan
Sudah banyak yang kesetanan
Bendera merahputih yang selama ini dibanggakan
Sudah mulai dicabik-cabik oleh dendam dan kedengkian

Aceh semakin merana
Ambon dan Papua terus terlena
Bangsaku yang sejak dulu dipuja-puja
Kini selalu dihina-hina

Rasanya baru kemarin

Orangtuaku sudah lama pergi bertapa
Anak-anakku sudah pergi berkelana
Kakakku dan beberapa kawanku sudah berhenti menjadi politikus
Aku sendiri masih tetap menjadi tikus

(Hari ini
setelah enam puluh tahun kita merdeka
ingin rasanya aku mengajak kembali
mereka semua yang kucinta
untuk mensyukuri lebih dalam lagi
rahmat kemerdekaan ini
dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani
diri sendiri
bagi merahmati sesama)

Rasanya baru kemarin
Ternyata sudah enam puluh tahun kita
Merdeka

(Ingin rasanya aku sekali menguak angkasa dengan pekik yang lebih perkasa: Merdeka!)

Rembang, 17 Agustus 2005

Penulis adalah pemimpin Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin, Rembang.

(Ngaji of the Day) Sayangi Binatang Agar Disayang Tuhan


Sayangi Binatang Agar Disayang Tuhan

 

Tentu kita geram bila ada kucing atau binatang lain memakan makanan kesukaan kita tanpa sepengatahuan. Bahkan, karena ulahnya itu terkadang kita lepas kontrol. Memukulnya habis-habisan. Padahal, jika kita mau berfikir sejenak, kita akan menyadari bahwa tindakan yang sedemikian itu salah. Binatang seperti kucing tidak akan memakan makanan seseorang kecuali pemiliknya lalai, tidak menjaganya atau tidak menaruh pada tempat yang aman.

 

Sebagai seorang Muslim, kita dilarang berbuat semena-mena terhadap binatang, apalagi menyiksanya. Sebagai agama yang tinggi dan luhur, Islam mengajarkan kepada umatnya berbuat baik bukan hanya kepada sesama manusia, tapi juga kepada binatang. Bahkan binatang yang najis sekalipun, semisal anjing. Sebab, pada hakikatnya segala makhluk di dunia ini seperti binatang dan lainnya senantiasa bertasbih (memuji) Allah SWT. (17/44).

 

Berikut akan dijelaskan adab-adab terhadap binatang.

 

Memberi Makan dan Minum

 

Sama seperti halnya manusia binatang juga butuh makan dan minum. Binatang juga merasakan lapar, haus. Untuk itu kita diharuskan memeliharanya dengan memberinya makan dan minum. Kita dilarang membiarkannya kelaparan atau kehausan, karena perbuatan ini dapat menjerumuskan pelakunya pada api neraka. Rasulullah Saw pernah menceritakan ada seorang perempuan disiksa karena seekor kucing dikurungnya sampai mati.

 

Menyayangi

 

Menyangi dan mengasihi hewan sangat dianjurkan oleh agama. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis, orang yang menyayangi siapa saja, termasuk binatang, akan disayangi oleh siapa saja yang di langit. Beliau sendiri sangat menyangi terhadap binatang. Terbukti, beliau memilih memotong lengan jubbahnya yang ditiduri kucing, dari pada membangunkan dan mengusirnya.

 

Tidak Mendzalimi

 

Zalim adalah perbuatan yang dilarang agama. Kepada siapa saja kita tidak diperbolehkan berbuat zalim, termasuk terhadap hewan. Misalnya, membebaninya dengan pekerjaan-pekerjaan yang di luar kemampuannya. Allah mengaruniaikan binatang untuk kita pelihara dan kita gunakan dengan baik. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Takutlah kepada Allah dalam (memelihara) binatang-binatang yang tak dapat bicara ini. Tunggangilah mereka dengan baik, dan berilah makan dengan baik pula.”

 

Termasuk tidak menzalimi hewan adalah tidak memberi cap dengan besi yang dipanaskan pada wajah binatang, karena hal ini Allah akan melaknat terhadap orang yang melakukannya.(HR Muslim)

 

Menyembelih dengan Menyenangkan

 

Jika kita ingin menyembelih atau membunuhnya, hendaknya kita melakukannya dengan baik, karena Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik kepada segala hal. Oleh karena itu, jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan baik. Hendaklah salah seorang dan kalian menenangkan hewan yang akan disembelihnya, dan menajamkan pisaunya, (Diriwayatkan Muslim, At Tirmidzi, An-Nasai, Abu Daud, dan Ahmad).

 

Menunaikan Hak Allah

 

Orang yang sibuk mengurus hewan peliharaannya hendaknya tidak melalaikan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah SWT. Seperti mengeluarkan zakat hewan yang wajib dizakati, tidak meninggalkan salat dan sebagainya.

 

Mungkin hanya ini yang penulis bisa jelaskan. Masih banyak penjelasan lain yang berkaitan dengan etika terhadap binatang. Misalnya tidak mengadu binatang, tidak membunuhnya dengan cara membakar, dan lainnya.

 

Termasuk menyayangi binatang adalah tidak memisahkan seekor anak binatang yang masih belum cukup umur dari induknya. Dari Abdurrahman bin Abdillah dari ayahnya menceritakan; Kami menyertai Rasulullah SAW dalam suatu perlawatannya. Kemudian beliau pergi untuk memenuhi suatu kebutuhannya. Lalu kami melihat seekor burung berwarna merah dengan dua ekor anaknya. Kami lalu mengambil kedua anaknya itu. Tatkala induknya datang dia mengepak-ngepakkan sayapnya dan terbang menurun ke dataran menyiratkan kegelisahan dan kekecewaan. Ketika Nabi SAW datang, beliau bersabda: Siapa yang mengejutkan burung ini dengan mengambil anaknya? kembalikanlah anaknya kepadanya” (Hadist Imam Bukhari)

 

Sumber: Buletin Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan – Jawa Timur

Senin, 25 November 2013

(Do'a of the Day) 21 Muharram 1435H


Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Allaahumma wa innii asyrabuhu litaghfira lii wa litaf'ala bii kadzaa wa kadzaa faghfirlii awif'al.

 

Ya Allah, dan aku hendak meminumnya (air zam-zam), semoga Kau ampuni dosaku atau Kau perbuat bagiku (ini dan ini) ampunilah aku atau jadikanlah (ini dan ini).

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 9, Fasal Ketujuhbelas.

(Buku of the Day) Senad Hadzic Naik Haji Jalan Kaki 5700 Km dari Bosnia


Kisah Pendamba Cinta Ilahi, Haji Berjalan Kaki 5700 Km

 



 

Judul Buku        : Senad Hadzic Naik Haji Jalan Kaki 5700 Km dari Bosnia

Penulis             : Mujahidin Nur

Penyunting        : Syafawi Ahmad

Penerbit            : Jakarta, Zahira

Ukuran              : 17 x 22 cm

Tebal                : 1-186 halaman

Cetakan            : 1 September 2013

Harga               : 65, 000

ISBN                 : 978-602-1258-36-1

Peresensi          : Mukti Ali el-Qum, peneliti Rumah Kitab dan Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Senad Hadzic, seorang Muslim Bosnia, adalah pejalan spiritual (salik) paling tangguh zaman ini. Ia berhasil membuktikan pada dunia akan besar dan kuatnya dorongan cinta Ilahi di dalam dirinya yang tertanam sejak kecil. Cinta Ilahi, cinta kepada Allah, telah melembutkan sekaligus menguatkan hatinya; hatinya yang lembut, melelehkan air mata di setiap doa-doa malamnya dan di setiap melihat penderitaan yang dialami orang lain.

 

Hatinya yang kuat, mendorong untuk mewujudkan tekad yang paling nekad sekaligus unik bagi manusia modern, yaitu naik haji dengan jalan kali sepanjang 5700 km. Di hadapan kekuatan cinta, segala yang terkesan mustahil menjadi nyata dan segala yang diasumsikan tidak masuk akal (irasional) menjadi sesuatu yang tak terbantahkan keberadaannya oleh akal. Dengan dorongan cinta, mitos menjadi realitas, impian jadi kenyataan.


Apa yang dilakukan Senad Hadzic cukup mencengangkan sekaligus menakjubkan di zaman yang cenderung memanjakan umat manusia ini dengan adanya sarana transportasi darat, laut dan udara. Ia berjalan kaki selama 8,5 bulan sejauh 5700 km, melewati 7 negara, yaitu Bosnia (negaranya sendiri), Serbia, Bulgaria, Turki, Suriah, Jordan, dan Arab Saudi. Ia berjalan dalam suhu ekstrim dingin 37 derajat celcius pada saat berjalan melintasi negara Bulgaria dan suhu ekstrim panas 50 derajat celcius pada saat melintasi Yordania, melintasi dua benua (Asia dan Eropa), dua gurun pasir dan tiga lautan.


Sang salik pendamba cinta Ilahi, memang tak mudah mengejar dan meraih apa yang diobsesikan oleh mimpi-mimpi suci yang mengusik dalam lelap tidurnya. Obsesi spiritual itu bermula berada di alam sadarnya, lalu memasuki ke alam bawah sadar, merambat dan merembes ke dalam dunia mimpinya. Mimpi naik haji dengan berjalan kaki. Mimpi itu baginya adalah panggilan cinta suci Ilahi yang harus ditunaikan tanpa boleh diundur sedikitpun.


Mimpi suci yang datang bertubi-tubi mengusik tidurnya itu ia diceritakan pada sang istri tercinta, bukan untuk mengeluh tetapi ingin meminta restu demi mewujudkannya. Sebab, istri dan keluarga tercintalah pihak yang akan menanggung derita ditinggalkan Senad sebagai suami sekaligus sebagai ayah bagi anak-anaknya. Mimpi itu jika direalisasikan akan menggalaukan pikiran, menegangkan urat saraf, mengencangkan detak jantung siapapun yang mendengarnya—apalagi bagi istri dan anak-anaknya. Setelah tahu niat dan komitmen suami dan bapak bagi anak-anaknya begitu kuat, mereka akhirnya mengikhlaskan kepergiannya untuk naik haji dengan berjalan kaki. Yang menjadikan sang istri berat hati melepaskan suaminya, lantaran ia tahu persis sang suami tidak membawa perbekalan yang cukup. Yang dibawa hanya pakaian, al-Qur`an, Bibel, bendera 7 negara yang akan dilalui, peta dan tak ada uang.


Rupanya, cinta Senad kepada Tuhan mengalahkan cintanya kepada siapa pun dan apa pun. Bahkan ia juga tidak memperdulikan dirinya sendiri. Tangisan permohonan sang istri agar rencananya diurungkan tak melumerkan niatnya yang sudah membaja. Cinta Ilahi itu sangat kuat menyihir dan menyeretnya sangat jauh. Ia pun sudah melupakan segalanya, yang diingat dan didambanya hanyalah Sang Kekasih Abadi, Allah. Dia tahu bahwa mendekatkan diri dengan beribadah dan meluapkan rasa cinta kepada Allah bisa diekspresikan di mana saja dan kapan saja.

 

Namun, ia juga tahu bahwa simbol terpuncak dari pendekatan diri kepada-Nya adalah melalui ibadah haji yang tidak bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Ibadah haji hanya dapat dilakukan di Baitul Haram (Rumah Suci) yang ada di Makkah. Baitul Haram bak sumber cahaya yang sedang didekatinya dengan penuh pengorbanan, ketuluan hati, kesabaran, dan cinta. Senad seakan meyakini bahwa semakin dekat dengan sumber cahaya, maka ia akan mendapatkan intensitas cahaya yang maksimal. Cintanya kepada Allah akan diluapkan dengan mesra dan sensasional di tempat yang diridhai-Nya, yakni Baitul Haram.


Sepanjang perjalanan, Allah memudahkan segala urusannya dan memenuhi kebutuhannya. Ia berjalan dalam kesunyian, tak ada tempat mencurahkan keluh-kesah atas apa saja yang dialaminya selama dalam perjalanan. Hanya Allah satu-satunya tempat untuk memohon dan mengadu atas berbagai kendala, aral dan rintangan yang dihadapinya.

 

Doa adalah salah satu cara Senad mengkomunikasikan apa yang diinginkannya, menyingkirkan krikil-krikil kendala, dan memuluskan langkahnya. Doa-doanya ternyata selalu didengar, direspon, disambut dan dipenuhi oleh-Nya; saat butuh makan-minum dan tempat istirahat, ada saja orang baik hati yang mengajaknya mampir dengan menyuguhkan makan-minum dan menawarinya untuk beristirahat di rumahnya; saat berhadapan dengan fenomena alam yang kurang bersahabat seperti turun hujan, ia berdoa sejenak dan hujan pun tidak begitu lama berhenti; saat berjalan di Suriah, negara yang sedang didera perang saudara, ia sempat berhadapan dengan perampok yang ingin menjambret barang-barang yang dibawanya. Tetapi dengan doa dan kemantapan hati, para perampok itu dengan sendirinya menjauh dan berlari dari Senad; bahkan doanya untuk orang-orang yang tertimpa kemalangan seperti sakit parah menahun yang dijumpainya di perjalanan pun didengar dan dikabulkan oleh-Nya. Setelah Senad mendoakan seraya menangis bercucuran air mata memohon kepada-Nya, tidak lama kemudian orang yang didoakan itu diberi kesembuhan. Inilah bukti kebenaran ucapan Nabi, bahwa Salah satu doa yang dikabulkan oleh Allah adalah doa orang yang sedang dalam perjalanan (musafir)—selain orang sakit dan orang yang dizhalimi.


Beberapa negara dilalui Senad dengan mudah. Ia mendapatkan visa tanpa kesulitan berarti. Bahkan Bulgaria yang mayoritas penduduknya beragama Kristen dan Turki yang sekular pun mempermudah pengurusan visanya. Tetapi yang mengherankan, ia justru mendapatkan kendala dan ‘dipersulit’ pengurusan visa oleh pihak negara Arab Saudi yang mengklaim sebagai negara Islam. Selama hampir 3 bulan, Senad berada di perbatasan Arab Saudi, dan dengan sabar menantikan visa yang dijanjikan akan segera didapatkan. Ia hidup di dalam tenda yang dirakitnya sendiri di tengah-tengah padang pasir yang tandus.

 

Cobaan demi cobaan ia hadapi dengan kesabaran penuh; panas matahari yang membakar di siang hari, dinginnya angin malam yang menusuk pori-pori, terpaan debu dan pasir kotor yang terus menghujani, lapar dan haus yang tak tertahankan. Dari hari ke hari tubuhnya semakin kurus dan matanya mencekung. Ia sempat berpikir, bahwa sikap pemerintah Arab Saudi terhadap dirinya tidak mencerminkan ajaran Islam yang benar seperti diajarkan al-Qur`an dan Nabi Muhammad Saw. Namun, Allah tidak pernah membiarkan hamba-hamba-Nya yang dikasihi terjerembab dalam kesia-siaan. Dengan kuasa-Nya yang tak terbatas, pemerintah Arab Saudi akhirnya memberikan visa masuk kepada Senad. Ia pun khusyuk bersimpuh di Baitul Haram dan Makam Nabi. Ia sangat menikmati kebersamaan dengan Sang Kekasih, Allah Swt. []

Kang Sobary: Mencari Keluhuran Budi


Mencari Keluhuran Budi

Oleh: Mohamad Sobary

 

Idris Brandy, seorang pelukis usia 32 tahun, anak Betawi asli dari Petamburan, cucu seorang landlord yang kaya dan berpengaruh. Tapi ini tak ada pengaruhnya terhadap karya-karya sang cucu, entah mengapa.


Di dalam diri dan semua karya Idris tidak ada sama sekali jejak ke“Betawi”an yang terlihat. Tidak ada, misalnya, simbolisasi mengenai image orang atau komunitas Betawi. Kalau harus ada, apa representasi dari warna dan ciri khas etnik Betawi itu? Lenong? Masjid? Gambaran bocah kecil yang “kerjanya sembahyang dan mengaji” seperti diungkapkan dalam tembang pembukaan film Si Doel Anak Betawi?


Idris juga seorang penyair. Setidaknya dia penikmat puisi. Dalam berbagai acara kesenian, dia suka membacakan puisi-puisi, termasuk karya-karya Sutardji yang banyak menampilkan kegelisahannya mencari Tuhan. Tapi perkara “sembahyang dan mengaji” ini tidak tampak visual. Tidak tampak, sesimbolik apa pun, gambaran tentang “peci”, “tasbih”, “jubah”, atau simbol lain, yang dapat diasosiasikan dengan apa yang bersifat “rohani”.


Tapi kalau “sembahyang dan mengaji” diartikan dari segi terdalamnya, yang paling esensial, dan dengan begitu merupakan gambaran mengenai pergulatan rohani untuk bertanya mengenai hakekat hidup, Idris “kaya raya” akan apa yang “rohani” itu.


“The painter invites us in an internal vision to ‘see’ with the eyes of the soul,” kata Yo Claus, seorang seniman Prancis, di dalam katalog yang dibagikan kepada hadirin pada malam pembukaan “Solo Exhibition”, di Galeri III Taman Ismail Marzuki, Selasa (2/7) malam. Judul pamerannya pun seperti judul puisi, Footages yang lebih “bertanya” daripada “menjelaskan”.


Memandang dengan “the eyes of the soul” yang disebutkan Yo Claus tadi, apakah maknanya bukan gambaran segala yang “rohani”?


Yo Claus bahkan menambahkan, “His quest of high humanity through the symbolic representation of his own experiment of the world is a sensitive impression of the image.”


Apa makna “his quest of humanity”—pertanyaan-pertanyaan eksistensial mengenai manusia—itu bila bukan gambaran dunia dalam Idris yang gelisah dan bertanya tentang makna dunia batin manusia, yang berhubungan erat dengan fungsi kehidupan “rohani”?


Lebih-lebih bila “his quest of humanity” itu dihubungkan dengan “his own experiment of the world”, siapa yang bakal meragukan bahwa itu gambaran interpretatif mengenai sebuah pergulatan rohani, tanpa simbol-simbol agama, yang memang tidak perlu?


Apalagi makna “agama” zaman edan sekarang, bahkan begitu mudah diasosiasikan dengan kekerasan, dengan kebenaran seenak perut kita sendiri, dan dengan korupsi yang bikin hidup tampak tanpa rohani.


Dalam soal ini Idris seperti sangat sadar akan betapa perlunya memisahkan “rohani” dari “agama” karena selama ini sangat jelas para pemeluk agama sendirilah yang menjauhkan agama dari rohani tadi. Dengan begitu, agama juga dijauhkan dari budi pekerti, kelembutan, dan cinta pada sesame. Sebaliknya, oleh para pemeluknya sendiri, agama dibikin lebih dekat dengan kedengkian dan semangat menghantam nilai kemanusiaan dan manusia itu sendiri.


Kalau kita tidak bisa percaya begitu saja pada kesan orang lain, sejujur apa pun kesan itu disampaikan, kita bisa melihat sendiri pameran itu. Kita bisa membuat kesimpulan yang merdeka, semerdeka-merdekanya, terhadap karya-karya tersebut tanpa bayangan pengaruh orang lain.


Simbolik


Sebelum memberikan sambutan untuk membuka pameran itu, saya mendengarkan dengan cermat uraian Pak Merwan Yusuf, sang kurator dalam pameran. Dengan teliti, cermat, dan elaborate dikemukakan sisi-sisi terdalam dari kekuatan simbolik yang ditampilkan Idris.


Juga diulas dengan baik, lukisan tentang “Berlomba Menuju Puncak”, yang konon gambaran orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri mencari ketinggian saat di Yogyakarta beredar isu tsunami, meskipun dalam gempa 57 detik yang dahsyat itu tsunami tidak ada. Berlomba menuju puncak itu bagi saya lebih tampak sebagai kegiatan fisik, yang menggambarkan usaha menyelamatkan “badan”, dibanding dua lukisan orang duduk bermeditasi.


Kita tahu, yang duduk di bawah sebatang pohon, yang kemudian dikenal sebagai pohon bodi, simbol pencerahan, ialah Sang Buddha Gautama. Lukisan orang meditasi yang satu lagi, jelas sekali menggambarkan Sang Buddha. Kedua lukisan ini bagi saya lebih merupakan simbol dari usaha manusia menyelamatlkan “jiwa” daripada usaha menyelamatkan “badan”.


Para koruptor, didampingi lawyer masing-masing, di pengadilan selalu sibuk berbohong. Koruptor dan lawyer sama buruk tampilan “rohani”-nya. Perdebatan pasal-pasal—bukan perdebatan tentang makna keadilan—itu hanya merupakan usaha bikin selamat “badan” semata, sambil dengan jelas menghancur-luluhkan kemungkinan bikin selamat “jiwa” mereka.


Berlomba menuju puncak—artinya mencari tempat ketinggian—juga hanya merupakan pencarian ketinggian yang bersifat “badan”.

 

Tapi gambaran sang Buddha di bawah pohon bodi, dan satu lagi sang Buddha sedang bermeditasi seperti tampak dalam patung sang Buddha yang kita kenal, tak diragukan merupakan simbolisasi gerak jiwa dan pergulatan “rohani” dalam arti sebenarnya. Kecuali gambaran jelas tentang usaha mencari keselamatan “jiwa”—bukan keselamatan “badan”—saat yang sama hal itu juga merupakan simbol manusia sedang mencari ketinggian derajat kemanusiaannya.


Yang dicari bukan usaha memperoleh ketinggian gunung, melainkan ketinggian budi. Maksudnya, mencari gambaran mengenai budi pekerti yang tinggi. Tapi mungkin kata tinggi itu lebih baik diganti kata lain, keluhuran yang bermakna sama.


Dengan begitu, pameran karya-karya Idris yang ditandai dengan judul “Footages” ini mungkin akan menjadi lebih mentereng bila disebut “Mencari Keluhuran Budi” yang ditelantarkan oleh manusia di bumi ini. []

 

Sumber : Sinar Harapan