Meneladani Kemandirian
Kiai Sahal
Suatu hari KH MA
Sahal Mahfudh menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama (PBNU) di Surabaya. Acara tersebut cukup elit karena dihadiri
juga oleh duta-duta besar negara sahabat. Selepas acara ini, ada cerita menarik
yang menunjukkan betapa Kiai Sahal begitu sangat mandiri dalam hal ekonomi.
Selama mengikuti
acara itu yang berlangsung dua hari, Kiai Sahal menginap di salah satu hotel
berbintang. Ia membayar hotel dengan uangnya sendiri dan menolak ketika ada
panitia yang hendak membayarkannya. Dalam hal ini, Kiai Sahal berdalih bahwa ia
tidak ingin menggunakan uangnya NU walau hanya sepeser pun. Bahkan, ia
menekankan untuk membuat NU mandiri, bukan malah meminta kemandirian diri dari
NU.
Kalau seandainya Kiai
Sahal mau, maka ia bisa saja mendapatkan pelayanan level wahid dengan mudah
karena pada saat itu Kiai Sahal menjabat sebagai pimpinan tertinggi (Rais 'Aam)
di organisasi yang berlambangkan bola dunia itu. Namun nyatanya ia tidak
melakukannya.
Itu adalah satu dari
sekian cerita tentang kemandirian Kiai Sahal. Yang perlu diperhatikan adalah
sifat kemandirian Kiai Sahal, dalam hal ini bidang ekonomi, bukan lah sesuatu
yang ujug-ujug ada. Hal itu sudah mulai terbentuk sejak Kiai Sahal menjalani masa
kanak-kanaknya.
Dalam buku Kiai
Sahal; Sebuah Biografi, Sahal kecil adalah seorang yang begitu aktif, kreatif,
dan mandiri. Di usianya yang masih kanak-kanak, Kiai Sahal sudah berusaha untuk
hidup mandiri dan mencari uang sendiri dengan melakukan berbagai macam
upaya.
Salah satunya adalah
dengan jualan kacang goreng. Iya, Sahal kecil sudah berbisnis dengan menjual
kacang goreng di ‘kantin kejujuran’ yang ia bangun, yaitu di depan rumah Mbah
Nawawi, salah seorang ulama Kajen yang disegani pada saat itu. Barang dagangan
Kiai Sahal tersebut habis dibeli oleh para tamu yang sowan ke Mbah
Nawawi.
Untuk mendapatkan
uang, Sahal kecil juga membersihkan Makam Kanjengan Keraton Surakarta yang ada
di desa Kajen. Ceritanya, ada salah seorang keluarga yang sedang berziarah di
makam tersebut. Melihat ada anak-anak kecil di sekitar makam, maka peziarah
tersebut menyuruh anak-anak tersebut, salah satunya Kiai Sahal, untuk
membersihkan area makam dengan memberinya imbalan uang. Memang, Sahal kecil
sering bermain dengan temannya di sekitar area makam tersebut.
Pengalaman-pengalaman
tersebut tentu juga menjadi modal penting Kiai Sahal dalam membangun
kemandirian dan ekonomi umat. Dalam buku Islam Nusantara Dalam Tindakan;
Samudra Hikmah Kiai-Kiai Kajen, Kiai Sahal adalah orang yang aktif dalam
membina dan membina kemandirian dan ekonomi masyarakat kecil di sekitar tempat
tinggalnya di Kajen Pati.
Mula-mula Kiai Sahal
mendirikan Biro Pengembangan Pesantren Dan Masyarakat (BPPM) untuk mendorong
masyarakat kecil memiliki pendapatan, pendidikan, dan kesehatan. Kemudian
dibentuklah KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) untuk memantau program-programnya
hingga didirikanlah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) untuk membantu memberikan
bantuan modal kepada para pelaku usaha kecil.
Itulah sepenggal
kisah tentang kemandirian Kiai Sahal. Pengalaman-pengalaman tersebut sedikit
banyak telah mempengaruhi karakter dan kepribadian mandiri Kiai Sahal. Hingga
meskipun sudah menjadi orang nomor satu di PBNU dan MUI (Majelis Ulama
Indonesia), Kiai Sahal masih memegang erat sifat kemandirian. []
(A Muchlishon
Rochmat)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar