Kiblat di
Tangan Para Tiran (I)
Oleh:
Ahmad Syafii Maarif
Saya
harus memberikan penghargaan tinggi kepada Republika yang tanpa henti
memberitakan drama keji yang menimpa seorang Khashoggi. Bahkan, edisi Ahad, 4
November 2018 halaman 4 di bawah judul: “PBB Diminta Turun Tangan: Saudi belum
mengungkapkan aktor yang memerintahkan pembunuhan”, Republika cukup panjang
menurunkan laporannya.
Bagi
saya, sikap semacam ini penting, karena media ini ternyata cukup peka mengikuti
kejadian yang telah mendapat kecaman keras umat manusia sejagat, ketika para
tokoh Muslim di negeri ini seperti kurang hirau, seakan-akan kejadian ini
hanyalah kejadian biasa.
Saya
sudah agak lama berpikir bahwa Ka’bah, kiblat kaum Muslimin di Makkah, dikawal
oleh para tiran dengan dukungan ulama Wahabi. Siapa tahu kasus Khashoggi ini
pada saatnya akan membongkar sisi kelam dari rezim yang berkedok sebagai
“khâdim al-haramaian” (pelayan dua kota suci): Makkah dan Madinah, dua kota
yang kini sedang berada di bawah cahaya kemewahan yang luar biasa.
Saya
tidak tahu bagaimana sikap Nabi Muhammad SAW menyaksikan perubahan yang dahsyat
seperti ini pada saat agama akhir zaman ini semakin sunyi dari roh kenabian.
Proses pembaratan besar-besaran begitu nyata sedang digulirkan dan digalakkan
di sana. Saya khawatir hati penguasanya telah lama membeku dan membisu terhadap
kebenaran, sedangkan ulamanya tidak paham peta.
Saya
sengaja menggunakan ungkapan ‘para tiran’ dalam tulisan ini. Tiran (tyrant
dalam Bahasa Inggris) berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti “penguasa
zalim, penindas atau jahat.” Juga dapat diartikan sebagai “seseorang yang
menggunakan kekuasaannya secara sewenang-wenang atau secara jahat.” (lih.
Michael Ellis dkk (ed.), Illustrated Oxford Dictionary. Oxford-New York: Oxford
University Press, 1998, hlm. 899). Definisi ini rasanya sesuai benar dengan
kelakuan penguasa yang memerintahkan pembunuhan Khashoggi pada 2 Oktober 2018
itu.
Dalam
sistem kekuasaan otoritarian Saudi, tidak mungkin pihak swasta sampai nekat
berbuat demikian, tanpa perintah dari atas: para tiran pengawal Ka’bah.
Presiden Turki Erdogan tidak boleh melunakkan sikapnya dalam persoalan ini, apa
pun pertimbangannya.
Ini
masalah sangat besar karena menyangkut kelakuan penguasa dengan segala atribut
mulia yang menempel pada dirinya. Umat Muslimin sedunia wajib memahami semuanya
ini dengan sikap sangat awas, tidak boleh tiarap. Ini nasib kiblat mereka yang
dikunjungi jutaan orang sepanjang waktu.
Pada
alinea terakhir Resonansi, 23 Oktober 2018, halaman 9, saya menulis: “Cara
kematian Khashoggi sungguh keji, biadab, dan brutal. Kita percaya dalam tempo
singkat, akan terjawab semua misteri kematian ini. Kemanusiaan sejagat tidak
tidur. Pengawal dua kota suci jadi pusat perhatian dan kecurigaan dunia! Sangat
ironis, sangat kelam!”
Proses
penyelidikan masih berlangsung, terutama untuk menemukan di mana jasad jurnalis
senior itu dikuburkan. Diharapkan, dalam tempo tidak lama semuanya akan
terkuak, sekalipun Presiden Trump tetap saja berkelit, demi kepentingan
pundi-pundi negaranya di Arab Saudi yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Sudahlah.
Amerika sebagaimana sering saya ungkapkan adalah kekuatan imperialis kesiangan
karena sangat terlambat menguasai dunia. Spanyol, Portugis, Inggris, Belanda,
Prancis, dan Italia adalah imperialis kuno, bahkan sebagian sudah mulai
bergerak sejak akhir abad ke-15.
Amerika
sebagai negara yang berdiri pada tahun 1776, baru akhir abad ke-19 belajar
menjadi negara imperialis dengan cara mengusir Spanyol secara resmi pada 10
Desember 1898 berdasarkan Perjanjian Paris, sekalipun baru efektif pada 11
April 1899. Arab Saudi adalah negara ringkih. Tanpa bantuan imperialis Amerika
tidak percaya diri. Bukankah proses berdirinya negara Saudi ini tidak lepas
dari dukungan Inggris, salah satu imperialis yang mendahului Amerika? []
REPUBLIKA,
06 November 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar