Jumat, 28 Februari 2014

(Tokoh of the Day) Sayyid Ibrahim Bin Ali bin Hasyim Ba'abu, Kauman, Wonosobo - Jawa Tengah



Habib yang menjadi Rais Syuriyah Wonosobo Pertama



Sayyid Ibrohim mempunyai nama asli Ibrahim Bin Ali bin Hasyim Ba'abu jika diurut ke atas, maka beliau adalah termasuk dari kalangan ahlul bait (keluarga Rasulullah SAW) yang bermarga Ba'bud Kharbasan sebuah marga dalam keturunan Rasulullah SAW, atau orang sering menyebutnya dengan Sayyid atau Habib yang menunjukkan bahwa beliau mempunyai kedudukan tersendiri di mata umat islam.

Beliau dilahirkan pada tahun 1864M dari ayah yang bernama Ali bin Hasyim dan ibunya adalah Syarifah Khotijah di Kauman Wonosobo. Gelar Sayyid diberikan kepada beliau setelah masyarakat mengetahui kealiman dari beliau serta termasuk dalam jajaran ahlul bait.Dilahirkan sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara semenjak kecil telah mendapat pendidikan ilmu agama dari orang tuanya dengan belajar mengaji.

Sayyid Ibrohim semenjak kecil sudah mulai dikenalkan dengan Ilmu al Qur'an,Fiqh,Tauhid dan cabang ilmu yang lainnya, termasuk ilmu Tasawuf (thoriqoh). Pada saat itu belum banyak dikenal model pendidikan yang lazim dilaksanakan saat ini. Model pendidikan yang dilaksanakan menggunakan system individual dengan cara sorogan sebagaimana dikenal di lembaga pendidikan Pesantren. Disamping mendapatkan Ilmu agama dari orang tuanya sendiri dan juga Ulama di daerah Wonosobo, berdasarkan suatu riwayat beliau juga belajar kepada guru dan sekaligus sahabatnya yaitu Habib Ahmad bin Abdullah Bin Tholib al Atthos Pekalongan.

Hal ini diketahui bahwa setiap beliau pergi ke daerah Pekalongan senantiasa didereake oleh KH.Hasbullah Bumen dengan berjalan menaiki kuda sambil menuntun kambing atau sapi yang akan dihadiahkan kepada guru dan sekaligus sahabatnya Habib Abdullah Bin Tholib al Atthos Pekalongan juga sayid Hasyim Bin Yahya.

Dengan berbekal ilmu yang telah didapatkan dari para guru gurunya, Sayyid Ibrohim kemudian mengajarkan agama islam dari satu tempat ke tempat yang lain. Aktifitas beliau disamping sebagai Ulama juga sebagai saudagar yang sangat terkenal dan mempunyai banyak sawah dan tanah yang kemudian dijadikannya tempat untuk ,mendirikan Masjid atau bangunan lainnya sebagai tempat pendidikan. Kesempatan berdagang itu pula digunakannya untuk menyampaikan dakwah islamiyah dan mengenalkan NU melalu jalur Thoriqoh yang beliau dapatkan dari ayahnya. Beliau mendapatkan sanad thoriqoh dari orang tuannya berupa Thoriqoh Alawiyah yang dikenal dengan thoriqoh yang tidak menggunakan tata cara yang khusus sebagaimana Thoriqoh yang lainnya.

Pendiri NU Cabang Wonosobo

Semenjak awal berdirinya 31 Januari 1926, NU kemudian melalui para 'Ulama yang berhaluan Ahlussunnah Wal Jama'ah mendirikan berbagai cabang di daerah daerah sebagai perpanjangan dari HBNO (PBNU) yang berada di Surabaya. Melalui Lajnah Nasihin (Lembaga Propaganda) yang dibentuk oleh HBNO, para Ulama yang tergabung di dalamnya mensosialisasikan berdirinya Nahdlatul 'Ulama (NU) di wilayah Hindia Belanda (baca Indonesia), diantaranya ke Jawa Tengah, Jawa Barat hingga daerah Menes Banten, Lombok, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera hingga daerah Aceh.

Propaganda itu pada gilirannya sampai ke daerah Wonosobo. Karena ikatan persaudaraan yang telah dijalin oleh para 'Ulama masa dulu. Kehadiran NU di Wonosobo yang diprakarsai oleh para kyai diantaranya Sayid Ibrahim Kauman, KH.Hasbullah Bumen,KH.Abdullah Mawardi Wonosobo, Kyai Abu Jamroh, KH.Asy'ari Kalibeber, Sayyid Muhsin Kauman, dan beberapa tokoh yang lain seperti Atmodimejo, Supadmo, Abu Bakar Assegaf dan yang lainnya disambut dengan mendirikan Jam'iyah Nahdlatul 'Ulama Cabang Wonosobo.

Hal itu ditandai dengan penbentukan kepengurusan NU Cabang Wonosobo dengan Rois Syuriah Sayyid Ibrohim dengan dibantu Sayyid Muhsin bin Ibrohim sebagai Katibnya. sedangkan dalam jajaran Tanfidziah, ditunjuk Atmodimejo sebagai ketua dan Abu Bakar Assegaf sebagai sekretaris. Belum ditemukan dokumen yang jelas tentang tanggal berdirinya NU di Wonosobo secara pasti, hanya beberapa keterangan yang perlu dikedepankan.

Diantaranya Pertama, menurut Mbah Muntaha (Allahu yarham) memberi keterangan bahwa NU Wonosobo diresmikan setelah Muktamar NU di Cirebon pada tanggal 29 Agustus 1931, keterangan ini didukung oleh H.Salim Mukhtar (almarhum) mantan ketua Tanfidziah NU. Kedua, terdapat arsip kartu tanda Anggota NU (Kartanu) yang diberi nama Rosyidul Udhwiyah atas nama Bapak Saidun Desa Kreo Kejajar, yang ditanda tangani oleh Sayyid Ibrohim dan Sayyid Muhsin sudah bernomer 1526 pada tahun 1353H, sebagai indikasi telah banyaknya warga yang mengikuti Jam'iyah Nahdlatul 'Ulama. Ketiga, terdapat keterangan dari para sesepuh NU bahwa pada saat pelantikan NU Cabang Wonosobo dilaksanakan di rumah Sayyid Ibrohim dan dihadiri oleh KH.Abdul Wahab Hasbullah sebagai HBNO, sedangkan sebagai pembaca al Qur'an pada acara itu adalah KH.Muntaha al Hafidz.

Kepiawaian dari para pendahulu NU Wonosobo terutama Sayyid Ibrohim yang tanpa lelah memperjuangkan NU ditengah tengah masyarakat pada gilirannya membuahkan hasil secara nyata hasil itu bisa dilihat dengan banyaknya masyarakat yang dengan suka rela menjadi anggota jam'iyah ini,serta gerakan gerakan lainya yang mendukung program Jam'iyah.

Dalam proses sosialisasi NU dan dakwah islamiyah, beliau senantiasa ditemani salah seorang putra beliau yaitu Muhsin Bin Ibrohim yang kelak menjadi katib Syuriah. Ketika remaja beliau Sayyid Muhsin setelah mendapatkan ilmu agama dari Abahnya, kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk belajar agama islam di Pondok Pesantren Tremas Pacitan, sekembalinya dari Tremas kemudian beliau melanjutkan studinya di Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji dan belajar agama kepada beberapa Ulama di Timur Tengah hingga berkeluarga.

Namun takdir berkata lain, ketika terjadi pengusiran besar-besaran di Arab Saudi terhadap golongan muslim sunny yang dianggap bertentangan dengan kaum Wahabi, atas pesan dari gurunya beliau agar kembali ke Indonesia untuk menyalamatkan agama dan ilmu beliau kembali ke tanah air. Dan akhirnya menetap di Wonosobo berkhidmah kepada Nahdlatul 'Ulama. Sebagai katib Syuriah yang membantu tugas dari abahnya, pada saat awal dibentuknya NU beliau memprakarsai pembuatan gedung NU yang sekarang ditempati NU dan sekaligus dijadikan tempat untuk pembinaan generasi muda NU dengan mendirikan sekolah Arab. Hal ini dimaksudkan untuk ajang kaderiasi dan juga penanaman nilai nilai ahlussunanh wal jama'ah semenjak dini. Sebagai salah seorang yang tertua ke delapan dari putra Sayyid Ibrohim dengan istri pertama, sayyid Muhsin menerima hirarki thoriqoh dari abahnya.

Sebagaimana diketahui bahwa Sayyid Ibrohim mempunyai dua puluh orang anak dari tiga orang istri. dari tiga orang istri tersebut bukan berarti beliau menganut poligami. Namun tetap dengan satu istri, yaitu ketika istri yang pertama meninggal dunia, kemudian beliau beristri lagi. Dari keturunan beliau ini kemudian telah berkembang di berbagai daerah bahkan luar negeri yang senantiasa menyebarkan agama islam juga kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Salah satu dari karomah yang dimiliki oleh sayyid Ibrohim yang hingga saat ini jelas kelihatan dan diketahai masyarakat adalah Jam'iyah Nahdlatul 'Ulama. Organisasi yang telah mengalami berbagai masa, yaitu masa penjajahan Belanda dilanjutkan zaman fasis Jepang, Kemerdekaan dan kemerdekaan serta masa orde lama dan orde baru serta masa reformasi, tetap eksis dalam berkhidmah kepada umat bangsa dan negara. Hal itu tentunya telah diawali oleh Sayyid Ibrohim dan para Ulama lainnya sebagai muassis (peletak dasar pertama) Jam'iyah NU. dengan ketulusan dan kesabaran dibarengi dengan keikhlasan mengeluarkan harta bendanya untuk mewujudkan cita cita NU, telah membuat catatan tersendiri di hati umat Islam di Wonosobo. Disamping itu banyak terdapat Masjid yang dibangun di atas tanah yang diwakafkan oleh sayyid Ibrohim yang tidak hanya di satu tempat, namun diberbagai daerah.

Apa yang dilakukan oleh Sayyid Ibrohim adalah karena kecintaannya kepada para leluhur yang telah mengajarkan agama islam ke daerah Wonosobo (Mubaligh) serta menyelamatkan masyarakat yang jika dibiarkan akan terkena musibah yang lebih dahsyat.

NU dan Tarekat

Dalam kapasitasnya sebagai Rais Syuriyah NU Wonosobo, Sayyid Ibrohim juga didaulat oleh gurunya untuk menjadi Kholifah (pemimpin) Thoriqoh Syathoriyah. Terdapat dua Thoriqoh yang ada pada diri beliau yaitu Alawiyah dan Shatoriyah. Jika Thoriqoh alawiyah merupakan Thoriqoh yang banyak dilakoni oleh kebanyakan para Habaib secara turun temurun. Maka Thoriqoh Shatoriyah yang dikembangkan beliau merupakan gabungan dari Thoriqoh yang sebelumnya dalam hal penerimaan.

Melalui jalur Thoriqoh inilah, beliau mengembangkan agama Islam di daerah Wonosobo dan sekitarnya serta mengenalkan dan mengajak masyarakat untuk bergabung dalam Jam'iyah Nahdlatul 'Ulama dalam perjalanan pengembaraan dakwahnya. Pengembaraan itu pada saatnya telah memunculkan banyak masyarakat yang mengerti dan bergabung dengan NU. Murid beliau kini telah banyak yang meninggal, namun kebanyakan dari para murid itu, telah mempunyai Jama'ah yang banyak pula. Para murid sayyid Ibrohim tersebar di seluruh Kecamatan di Kabupaten Wonosobo, Temanggung seperti Sukorejo dan Ngadirejo Kabupaten Kendal, sebagian Wilayah Batang dan juga daerah Banjarnegara serta Purworejo

Sadar akan pentingnya kaderisasi dan kepemimpinan, menjelang usia senja pada tahun 1940 beliau meletakkan jabatan Ro'is Syuriah Cabang Wonosobo melalui Musyawarah yang diadakan oleh pengurus Cabang saat itu. Kemudian ditunjuklah Kyai Abu Jamroh untuk dijadikan Rais Syuriah NU Wonosobo menggantikan Sayyid Ibrohim. Dalam kondisi fisik yang tidak seperti waktu muda sebelumnya. Sayyid Ibrohim tetap berjuang mengembangkan agama islam dan NU melalui jaman fasis Jepang. Sekalipun di bawah tekanan penjajah yang sangat kejam baik pada masa Jepang maupun masa kemerdekaan, eksistensi beliau sebagai pejuang tidak pernah surut. walaupun harus bergonta ganti tempat karena pengejaran dari Penjajah, semangat memperjuangkan islam dan memberi dorongan spiritual kepada para pejuang baik yang tergabung dalam barisan Hizbullah, Sabilillah dan kelaskaran yang lain tetap beliau berikan.

Ketika suasana Indonesia telah semakin mereda dengan kekalahan penjajah Belanda dari rakyat Indonesia. Sayyid Ibrohim kemudian kembali ke daerah Kauman Wonosobo dan menetap disana hingga wafatnya pada bulan Sya'ban tahun 1948. Beliau dimakamkan di makam keluarga Maron (belakang kampung Longkrang) Wonosobo. Khaul beliau dilaksanakan setiap tahun pada Minggu awal bulan Sya'ban dengan dihadiri oleh Jama'ah dan keluarganya. []

Ahmad Muzan
Direktur IHSF dan AP Fatanugraha – Wonosobo

Kang Sobary: Tokoh-Tokoh Tanpa Sejarah



Tokoh-Tokoh Tanpa Sejarah
Oleh: Mohamad Sobary

Tokoh-tokoh lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang gigih, patriotik, dan berani mengambil risiko politik yang keras sekali di zaman Orde Baru dahulu semua punya sejarah yang jelas.

Mereka mantan aktivis, mantan ketua senat, atau ketua dewan mahasiswa, dan sejumlah mahasiswa pemikir, bukan orang gerakan, bukan aktivis kampus, yang memahami betul kekejaman rezim militer itu. Tak mengherankan, sejak awal pengembangan karier, mereka tidak mau menjadi pegawai negeri demi mencari kebebasan artikulasi wawasan, sikap, dan tindakan politik mereka seharihari.

Sesudah bukan lagi mahasiswa, mereka siap melawan tirani pemerintah dengan sikap lebih dewasa, lebih matang, lebih konsepsional. Tekanan yang mereka derita di kampus yang tak memberi kebebasan mimbar akademik di bawah menteri yang menerapkan strategi membungkam mahasiswa dengan kekejaman melebihi militer membuat mereka merasa alergi, bahkan muak mendengar kata Orde Baru, dwifungsi, masa mengambang, pemerintah, dan nama-nama menteri yang tingkah lakunya seperti menteri di negara jajahan di zaman ketika kita dijajah Belanda.

Wartawan, tokoh dunia pers, tokoh demokrasi, tokoh agama, kaum intelektual yang juga terjun sebagai aktivis, semua punya sejarah. Masing-masing mengerti bahwa melawan Orde Baru berisiko besar. Seminar-seminar, rapat, pertemuan, menyusun rencana demo, bahkan khotbah Jumat, dan khotbah-khotbah hari raya yang dua kali setahun itu, semua di bawah kendali intel militer. Apa yang bakal dikhotbahkan harus diserahkan secara tertulis kepada aparat militer setempat.

Seniman, terutama Rendra, diawasiketat. Pementasandrama harus izin kepada polisi yang seumur hidup tak mengerti seni drama. Tapi, naskah harus diserahkan, untuk diuji oleh orang yang tak tahu-menahu urusan seni tadi. Seniman, terutama Rendra, berani melawan. Semua tokoh itu dicari-cari, adakah mereka punya hubungan dengan PKI. Saking kurang kerjaan, orang juga ditelusur, adakah hubungannya dengan Masjumi, atau PSI.

Kalau seseorang kedapatan memiliki indikasi seperti itu, hidupnya jelas sukar, dan dibikin sukar oleh pemerintah. Dunia intelijen memiliki informasi mengenai semua tokoh, siapa saja, tanpa kecuali. Tokoh radikal, tokoh kompromistis, tokoh moderat, semua dalam daftar. Dengan kata lain, sejarah para tokoh itu ada pada mereka. Tapi, sejarah tiap tokoh, tiap orang, ada juga pada mereka sendiri.

Mereka tokoh beneran, pembela kepentingan masyarakat dan bangsa, dan patriotik, yang mencintai bangsa dan negaranya, tak kalah dibanding cintanya kaum militer yang merasa diri mereka paling pahlawan itu. Sejarah orang gerakan, kaum pemikir, tokoh pers, tokoh demokrasi, dan tokoh kemanusiaan dikenal masyarakat. Mereka didengki pemerintah, tapi dicintai masyarakatnya. Para tokoh dikenal pula secara pribadi, diingat wajah dan namanya baik-baik.

Demi kejujuran, baik disebutkan di sini bahwa tak semua tokoh seperti dewa. Tak semua tokoh orang yang sungguh agung dan mulia. Mereka semua hanya manusia seperti militer, polisi, calo tanah, menteri, dan presiden. Manusia ya manusia. Kadang baik. Kadang jahat. Kadang lurus.

Kadang menyimpang. Tapi, apa yang penting digarisbawahi di sini, tokoh-tokoh tadi jelas asal usulnya, jelas ideologi dan sikap politiknya, jelas latar belakang pendidikannya, dan jelas apa maunya, apa aspirasinya, apa cita-citanya. Dengan begitu, jelas pula pilihan lapangan kerjanya, gaya hidupnya, wawasan rohaniahnya, dan kelompok- kelompok tempat mereka bergabung.

Pendeknya, juga jelas sekali aliran tarekatnya. Para tokoh ini rata-rata matang di lapangan. Mereka bijaksana sesudah memetik hikmah dalam pergulatan hidup, dengan segenap kesulitan dan tantangan-tantangannya. Mereka tidak dikader. Mereka bukan bagian dari kekuatan yang dimatang-matangkan, bukan dipaksa matang, dan mereka pun ”menjadi”, dan bukan ”dijadikan”.

Ada media yang merasa perlu berbuat baik pada bangsanya, dengan membuat kader bagi kaum muda, dan kegiatan rutin mereka itu disebut suatu forum, sesuai usia para kadernya. Tapi, langkah ini tidak membawa manfaat besar. Tokoh yang mereka kader tidak menjadi orang hebat, dengan sikap dan ideologi politik yang jelas. Mungkin mereka bisa disebut tokoh yang tak jelas: tidak konsisten, menjaga keluhuran nilai. Mereka kelihatannya tokoh yang ”dijadikan”, bukan ”menjadi”, dengan sendirinya.

Orang tak mau belajar melihat bahwa Orde Baru itu mengader begitu banyak kelompok pemuda, dengan berbagai variasi kegiatan dan tujuan yang hendak dicapai. Tapi, adakah pengaderan yang mahal dan memanjakan kaum muda itu hasilnya? Mungkin hasilnya hanya watak tidak konsisten, tidak ideologis, dan tak pantas menjadi pemimpin di dalam masyarakat.

Apakah mereka yang hidup di dalam politik itu bisa disebut tokoh? Mereka tokoh politik/ tokoh seperti apa, dengan kualitas apa? Di kalangan partai, bermunculan orang-orang yang jika diteliti sebenarnya hanya mencari pekerjaan. Apakah mereka juga tokoh? Bagaimana pemikirannya? Apa aspirasi politiknya? Apa jalan perjuangannya untuk membela kepentingan rakyat dan bangsa?

Di dunia politik, orang yang tak punya apa-apa dan tak bisa apa-apa ditampung, diakomodasi, dan dijadikan wakil rakyat. Apa pendidikannya? Pernah sekolah di tingkat apa? Memiliki wawasan dan ideologi politik yang jelas, fokus, dan bisa diwujudkan sebagai perjuangan politik untuk bangsa? Penyanyi dangdut, pemain sinetron pelawak, broker politik, makelar kasus, bisa ditampung di suatu partai politik.

Mereka bahkan dijadikan wakil rakyat. Yang bisa berbuat seperti itu bukan hanya partai sembarang partai. Partai yang berideologi agama pun ikut menjari kader dengan cara murahan seperti itu. Makna agama, ideologi agama, dan perjuangan agama, pendeknya bisa dilupakan. Apa salahnya menjaring kader cantik? Bahwa dia hanya bisa dangdutan, bisa goyangan, itu sudah memukau.

Buta politik, buta ideologi agama, buta strategi kampanye dan pendidikan politik bagi bangsa tak menjadi soal karena kompetensi ketua partainya memang tak terlalu jauh dibanding si goyang itu. Jadi cocoklah kalau mereka dikader. Tapi, kita lalu menghadapi masalah berat, sangat berat: tokoh-tokoh kita ini siapa? Mengapa tokoh-tokoh dalam posisi strategis tidak jelas asal usulnya, latar belakang, aspirasi dan cita-cita politiknya?

Mengapa tokoh-tokoh kita tak punya kompetensi dan sejarah yang jelas? Mengapa tokoh yang tak jelas sejarahnya dijadikan tokoh dan ditaruh di barisan paling depan dalam urusan politik? Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Bukan begini cara mengatur kehidupan politik. Bukan begini cara mengader tokoh politik. Partai politik harus lebih serius, harus lebih punya harga diri. Di luar boleh saja ada orang yang tiba-tiba menjadi penting. Dia penting tanpa sejarah.

Dia sukses tanpa sejarah. Persetan kehidupan di sana. Tapi, di partai seharusnya tidak boleh. Di luar sana juga sudah terjadi, orang yang tak jelas latar belakangnya, tak jelas rekam jejaknya, tiba-tiba pasang foto besar, di suatu bagian kota yang penting dan ramai, mengindikasikan ingin jadi presiden. Silakan saja. Orang boleh omong kosong. Orang boleh bersikap palsu.

Tapi, partai politik seharusnya tak bisa membiarkan itu. Orang boleh tiba-tiba menjadi tokoh paling berpengaruh, di kalangan seratus orang. Boleh pula menjadi terbaik di dunia, tanpa mengerjakan apaapa. Silakan menipu orang lain. Silakan menipu diri. Tapi, partai jangan menjadi kancah penipuan macam itu. Banyak orang tak jelas di masyarakat kita. Ada yang disebut tokoh paling inspiratif, ada yang disebut seniman paling berpengaruh.

Inspiratif dalam hal apa, berpengaruh terhadap apa, dan siapa. Kita punya banyak tokoh tanpa sejarah. Kita banyak punya tokoh dalam omong kosong yang tak jelas. Kita purapura tidur melihat mereka. []

KORAN SINDO, 17 Februari 2014
Mohamad Sobary ; Esais, Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi

(Taushiyah of the Day) Islam untuk Perdamaian dan Peradaban



Islam untuk Perdamaian dan Peradaban
Oleh: Raja Yordania Abdullah II
Kamis, 27/02/2014 11:07

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
Assalamu Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh

“Terima Kasih”. Adalah suatu kehormatan bagi saya untuk mendukung Nahdlatul Ulama dalam tugasnya berdakwah. Kepada Anda semua-komunitas muslim Indonesia yang hebat, untuk seluruh sahabat dari berbagai keyakinan, dan kepada seluruh bangsa Indonesia, saya sampaikan salam Yordania dan salam dari seluruh rakyatnya.

Perkenankan saya menyampaikan rasa duka cita yang mendalam di tahun ini atas wafatnya seorang anak bangsa dan tokoh umat yang terkenal, Yang Terhormat Rais Aam PBNU KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh.

Dan juga saya menyampaikan rasa simpati mendalam kepada para korban bencana alam yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia. Kami berdoa agar segala sesuatunya kembali pulih dengan cepat dan menyeluruh.

Yang Terhormat Bapak Ketua, Yang Terhormat para Tokoh Masyarakat, Yang Mulia para Duta Besar, Saudara-saudara dan Saudari-saudariku

Jauh sebelum modernisasi mendunia, terdapat suatu umat; masyarakat muslim dunia. Dan jauh sebelum adanya teknologi-teknologi modern yang mendekatkan budaya-budaya yang saling berjauhan, Islam telah mengajarkan kerukunan antarmanusia dan kesamaan martabat bagi semua orang.

Ini adalah pesan dari Islam yang tradisional, bertoleransi, beragam, dan berdasarkan pada mazhab. Pesan itu dipersembahkan untuk rasa cinta pada Allah, mengikuti Nabi Muhammad SAW, berusaha untuk hidup dalam kebajikan, dan memperlakukan orang lain dengan kebaikan dan keadilan.

Semangat Islam dan nilai-nilai sosialnya sangat penting untuk masa depan bumi. Setiap muslim mempunyai peranan terutama para pemuda dan pemudi untuk membantu mengarahkan masa depan kemanusiaan. Dan juga untuk bekerja sama dengan yang lain dalam memecahkan segala masalah, menghadapi segala tantangan, dan menangkap setiap peluang.

Yang memprihatinkan saat ini, ada kekuatan-kekuatan yang berusaha menarik kembali kemajuan ini dengan menghasut agama dan konflik etnis. Pada krisis Syria, kita melihat adanya eksploitasi perpecahan sekte untuk membenarkan tindak kekerasan dan mempertahankan kekuasaan. Tapi kawasan kita tidak sendiri. Bahaya akibat konflik agama mengancam seluruh umat, bahkan lebih dalam lagi, seluruh kemanusiaan. Dan kita harus menanggapinya.

Dimulai dengan menyuarakan lebih kuat untuk Islam yang tradisional dan moderat. Saya mengetahui banyak dari Anda dan banyak juga di seluruh Asia yang sedang berusaha mencapai tujuan ini. Ini juga merupakan tujuan dari “Amman Massage” (Pesan Amman), yang dengan bangga kami resmikan sepuluh tahun lalu. Inisiatif ini menegaskan kembali ajaran-ajaran Islam dalam hal toleransi, kekhusyukan kepada Allah, belas kasih dan perdamaian antarmanusia.

Kita melaksanakan Amman Message dengan jangkauan secara global. Saya bersyukur kepada bangsa Indonesia yang telah menjadi rekan kami dalam usaha ini. Hasilnya merupakan kesepakatan bersejarah dari para cendekiawan muslim di seluruh dunia-yang pertama terjadi dalam 1400 tahun-menyepakati siapa muslim sungguhan, melarang pengafiran pihak lain, dan secara terang-terangan mengakui keabsahan delapan mazhab dalam Islam yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali, Ja’fari, Zaidi, Abadhi, dan Zhahiri.

Tiga pasal dari Amman Massage mengulas mengenai klaim palsu dari orang-orang yang ingin mengeksploitasi agama untuk memecah-belah kita. Seperti firman Allah SWT dalam kitab suci Al-Quran; bismillah arrahman arrahim. Innamal Mukminuna Ikhwatun. Fa ashlihu baina akhawaikum. Wattaqullaha la’allakum tuflihun. Shadaqallahul azhim.

***

Saudara-saudara dan Saudari-saudariku,

Pada musim panas lalu, para pemimpin dan cendekiawan muslim dari seluruh dunia bertemu di Amman, dan dengan tegas mengutuk para penghasut yang menyebabkan konflik (fitnah) antara pengikut sekte Sunni-Syiah. Para pemimpin mengakui bahwa prinsip-prinsip Islam dan nilai-nilai Demokrasi dapat saling melengkapi satu sama lain. Dan bahwa contoh yang paling layak dari negara Islam yang dapat hidup terus dan berkelanjutan adalah negara yang mengabdi pada rakyatnya, didirikan di atas lembaga-lembaga yang mengutamakan musyawarah dan keadilan. Negara-negara tersebut menekankan kebebasan berpendapat dan berkeyakinan, dan kesucian darah manusia.

Tergantung pada kita untuk mengenalkan pengetahuan ini ke sekolah-sekolah, perguruan tinggi, masjid, media, dan lain sebagainya. Kita harus terus bekerja sama-seperti yang sedang kita lakukan di sini hari ini-untuk memajukan ajaran-ajaran Islam yang kita cintai; untuk merangkul yang lain; dan menyatukan yang terpecah-belah.

Bersama-sama, kita juga memiliki peran langsung dalam mengatasi krisis di Syiria. Seperti di masa lampau, Yordania telah bertindak dengan belas kasih untuk menolong ratusan ribu keluarga-keluarga. Sesungguhnya, sampai hari ini negara kami sudah menampung lebih dari 600,000 pengungsi Syiria. Beban kemanusiaan ini membutuhkan pertolongan global.

Sebagai anggota dari Organisasi Kerja Sama Islam, kita harus bekerja sama dengan komunitas internasional untuk memberikan bantuan kemanusiaan, mengakhiri pertumpahan darah, dan membantu semua pihak mencapai solusi politik yang damai antara lain menjaga kesatuan Syiria dan keutuhan wilayahnya; dan mencapai aspirasi rakyat Syria.

Dan yang tetap penting adalah kita mampu menyelesaikan krisis kawasan saya yang telah berlangsung lama yaitu konflik Palestina-Israel. Ekstremisme semakin berkembang dengan memanipulasi penderitaan dan keputusasaan. Suara bersama dari dunia muslim dan Organisasi Kerja Sama Islam, memberikan pesan alternatif. Yordania, Indonesia, dan 55 anggota OKI lainnya dengan suara bulat telah mengadopsi Inisiatif Perdamaian Arab, untuk penyelesaian akhir, menyelesaikan semua masalah-masalah terakhir, berdasarkan solusi dua-negara. Bersama-sama, kita tidak boleh menyerah dalam mencari negosiasi menuju masa depan yang damai dan adil, dengan negara Palestina yang berdaulat, merdeka dan berkelanjutan, merujuk pada kesepakatan batas wilayah 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.

***

Sahabat-sahabatku,

Masyarakat dunia memiliki kesamaan dalam hal kemanusiaan. Semboyan negara Indonesia "Bhinneka Tunggal Ika” berlaku bagi kita semua. Kita diimbau untuk bersungguh-sungguh mengenai dialog global dan pemahamannya. Allah berfirman dalam kitab suci Al-Quran; Bismillah arrahman arrahim. Ya ayyuhannasu inna khalaqnakum min dzakarin wa untsa. Wa ja’alnakum syu’ubaw wa qaba’ila lita’arafu. Inna akramakum indallahi atqakum. Innallahu alimun khabir. Sadaqallahul azhim.

***

Saudara-saudara dan Saudari-saudariku,

Konferensi Anda hari ini merupakan suatu perayaan dari pentingnya saling pengertian. Yordania juga merasa ini sebagai tanggung jawab khusus. Dari rumah kami yang merupakan tanah suci dari tiga agama, kami telah menjangkau dunia.

Inisiatif “A Common Word" (Kalimatun Sawa’) yang telah menyatukan umat Kristen dan muslim secara berkelanjutan, mencerminkan pengakuan bersama dari firman-firman emas kedua agama: untuk mencintai Allah dan mencintai sesama. Ada juga banyak inisiatif lain antaragama di mana kami diberi kehormatan untuk menjadi pelopor baik di Yordania, di kawasan dan dunia termasuk konferensi kami di musim panas lalu tentang Arab Kristen, forum Katolik-Muslim dunia, Taman Nasional untuk situs pembaptisan Yesus Kristus AS, dan banyak lagi.

Resolusi Yordania untuk "World Interfaith Harmony Week" (Minggu Harmonisasi Antariman Dunia) dengan suara bulat disahkan Majelis Umum PBB. Tahun ini, insya Allah, saya akan menyerahkan sebuah penghargaan baru untuk acara terbaik pada World Interfaith Harmony.

Kami melakukan hal-hal ini dan inisiatif lainnya, tidak hanya merupakan tugas kami sebagai keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai penjaga situs-situs suci muslim dan umat Kristen di Yerussalem, tetapi juga sebagai bakti kami untuk umat, mengutip istilah fardu kifayah.

***

Sahabat-sahabatku,

Saat kita dan yang lainnya mencapai suatu kesepakatan bersama dan rasa saling hormat, kita sedang membangun masa depan yang layak untuk anak-anak kita.

Di mana ada konflik, dialog dapat membawa perdamaian. Di mana ada damai, dialog dapat membawa harmoni. Di mana ada harmoni, dialog dapat membawa persahabatan. Dan di mana ada persahabatan, dialog dapat membawa tindakan bersama yang menguntungkan.

Ini adalah tugas Anda di sini hari ini, dan juga adalah tugas kita bersama di hari-hari mendatang. Yordania berdiri bersama Anda, untuk kebenaran, toleransi, dan rasa saling menghormati. Wallahu waliyyut taufiq. Wassalamu alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. []

*) Diterima dari staf Duta Besar Yordania di Gedung Jakarta Convention Center (JCC) dalam bentuk terjemahan bahasa Indonesia. Raja Abdullah bin Al-Hussein (Abdullah II) menyampaikan teks pidato ini dalam bahasa Inggris di hadapan sedikitnya 500 hadirin saat pembukaan Multaqa Sufi yang diselenggarakan PBNU di JCC, Rabu 26 Februari 2014.

(Ngaji of the Day) Enam Penyakit Akibat Terlalu Kenyang



Enam Penyakit Akibat Terlalu Kenyang

Awas jangan terlalu kenyang…! begitulah kira-kira pesan Rasulullah saw bila dibahasakan dalam bentuk lperingatan. sayangnya hadits itu hanya bersifat informatif belaka bahwa “pangkal segala penyakit adalah terlalu kenyang dan pangkal segala obat adalah lapar.

أصل كل داء البردة وأصل كل دواء الازمة يعنى الجوع

Iashlu kulli da-in albardatu wa ashlu kulli dawa-in al-azmatu ya’ni al-ju’u

Dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin, al-Ghazali menjabarkan bahwa ada enam macam penyakit yang diakibatkan kondisi terlalu kenyang. Sebagian merupakan penyakit fisik dan lainnya adalah penyakit batin. Keenam penyakit itu adalah;

Pertama melunturkan rasa takut kepada Allah swt. orang yang terbiasa dalam kondisi kenyang akan selalu merasa kecukupan dan akan terbersit dalam hatinya bahwa ia tidak membutuhkan orang lain lagi, bahkan secara perlahan juga menyingkirkan Allah swt sebagai Yang Maha Pemberi Rzki. Karena seseungguhnya ia mengira bahwa makanan itu merupakan hasil keringatnya.

Penyakit Kedua merupakan lanjutan dari proses penyakit pertama. Ketika rasa takut kepada-Nya telah tiada, maka seseorang akan bermalas-malasan untuk beribadah.

Penyakit ketiga adalah lenyapnya rasa kasihan terhadap sesama, karena dia mengira semua orang telah kenyang sepertinya. Hatinya begitu dangkal untuk sekedar ikut memahami dan merasakan kondisi orang lain.

Penyakit keempat adalah tertutupnya hati dan telinga dari berbagai macam hikmah dan kebijakan yang datang kepadanya. Sehingga mereka yang dalam kondisi kenyang sangat susah menerima nasehat dan petuah akan kebaikan.

Begitupun sebaliknya, (penyakit kelima) ketika seseorang yang dalam kondisi kenyang memberikan nasehat maupun petuah pastilah nasehat itu akan terbang dibawa angin dan tidak akan berkesan di hati pendengarnya.

Dan penyakit keenam bahwasannya kondisi kenyang akan mengundang penyakit. Mengenai hal ini fenomena merebaknya penyakit diabets, kolesterol, hipertensi dan lain sebagainya adalah bukti nyata dari hadits Rasulullah saw di atas.

Oleh karena itulah, hendaknya manusia mewaspadai kondisi terlalu kenyang. Hal ini yang sedari dulu diajarkan oleh para kyai di pesantren, bahwa berhentilah makan sebelum kenyang.

Karena kondisi kenyang gampang mengundang setan. Rasulullah saw bersabda:

إن الشيطان يجرى من ابن أدم مجرى الدم فضيقوا مجاريه بالجوع

Innas syaithana yajri min ibni adam majrad dammi, fadhayyiqu majariyahu bilju’i

Sesungguhnya setan itu berjalan pada manusia di tempat jalannya darah. Maka persempitlah jalannya itu dengan mengosongkan perut. []

Sumber: NU Online