Terorisme
dan Negara Gagal
Oleh:
Komaruddin Hidayat
Dalam
suatu obrolan bersama Pak Jusuf Kalla belum lama berselang, ada beberapa
pernyataan yang menarik dielaborasi. Di antaranya korelasi antara negara gagal,
failed state, dan terorisme.
Dunia
Arab yang semasa abad tengah dikenal sebagai pusat peradaban dunia dan
belakangan sebagai sumber minyak hari-hari ini justru menjadi wilayah konflik
berdarah-darah. Rakyatnya menderita dan sebagian besar mengungsi ke Eropa.
Karier politik tokoh-tokoh fenomenal yang dikagumi dan sekaligus ditakuti,
seperti Saddam Hussein di Irak, Moammar Khadafy di Libya, dan Hosni Mubarak di
Mesir, berakhir mengenaskan. Kekacauan tiada henti juga terjadi di Afganistan,
Suriah, dan beberapa negara Arab lain sehingga masuk jebakan negara gagal.
Negara-negara
itu pada dasarnya kaya, tetapi pemerintah dan rakyatnya jatuh miskin dan saling
bunuh. Dari situasi politis, ekonomis, dan psikologis seperti ini, terasa logis
jika bermunculan tokoh-tokoh radikal dengan aura dendam dan amarah. Mereka
marah kepada pemerintah dan pihak-pihak asing yang mereka anggap ikut andil
bagi kegagalan negaranya.
Belajar
dari pengalaman menyelesaikan konflik di Tanah Air dan mengamati terorisme
global, Pak JK menyebut beberapa nama tokoh teroris, baik dalam maupun luar
negeri, yang awalnya masuk kelompok preman. Jadi, akibat negaranya kacau,
banyak pemuda yang hidupnya juga kacau. Ketika mereka bertemu dengan gagasan dan
paham keagamaan yang menawarkan "jihad" melawan "orang
kafir" sebagai jalan menebus dosa dan sekaligus ke surga, mereka melihat
peluang untuk mengubah nasib, dari posisi tidak jelas dan tidak berguna menjadi
pahlawan pembela umat dengan imbalan surga.
Mereka
ingin dirinya berarti bagi agama dan negara. Mereka mendermakan pikiran dan
nyawa pada paham agama yang mereka yakini sehingga jalan terorisme menjadi
pilihan untuk membalas musuh yang membuat hidup dan negaranya gagal berantakan.
Kelompok
teroris adalah mereka yang ingin mengubah kegagalan dan kelemahan membangun
kehidupan di dunia menjadi kemenangan di balik kematian. Kematian adalah pintu
terdekat untuk meraih kemenangan dan bisa membalikkan posisi sosial yang semula
gagal menjadi pahlawan. Tentu sebuah penalaran yang absurd ketika merumuskan
kategori musuh. Jika mereka membela negaranya yang gagal, mereka akan mencari
sasaran negara lain yang membuatnya gagal.
Mereka
tidak berbicara individu, tetapi menyerang kelompok-kelompok yang secara simbolik
dianggap mewakili negara atau kelompok yang mereka benci. Dengan demikian,
terorisme bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia dan ajaran agama yang
melarang menyakiti dan membunuh orang tidak bersalah.
"Holocaust"
Pikiran
gila kelompok teroris ini pernah menjangkiti Adolf Hitler yang sangat kecewa
dan marah atas kegagalan Jerman pada Perang Dunia I. Demi membela bangsa dan
negaranya, dia tampil dengan slogan mengembalikan martabat Jerman sebagai
bangsa unggul dunia. Dia membuat semua anggota Nazi bersumpah setia dan menaati
komando apa pun darinya demi supremasi Jerman.
Dia
mencuci otak (brainwash) anak buahnya, berpuncak pada arahan membersihkan etnis
(ethnic cleansing) di seluruh Jerman, terutama Yahudi. Ketika berkunjung ke
Auschwitz, Polandia, saya melihat dari dekat gedung-gedung tahanan dipagari
kawat listrik, kamp pembakaran dengan gas, bahkan ruang-ruang penyimpan
tumpukan kaleng gas untuk kremasi, tumpukan sepatu, kacamata, alat dapur. Foto
dokumentasi berderet di tembok, membangkitkan imajinasi kekejaman Nazi.
Museum
pembersihan etnis era Hitler yang dikenal dengan sebutan holocaust menarik
minat pengunjung. Saya melihat serombongan pemuda membawa bendera Israel
meneteskan air mata. Bagi pemuda Yahudi yang ziarah ke Auschwitz, sangat
mungkin terpatri sebuah pesan ideologis yang bernama power atau kekuatan. Hanya
dengan kekuatan teknologi, ekonomi, dan politik, sebuah bangsa-kecil
sekalipun-tak akan dihinakan oleh bangsa lain. Mungkin sekali bagi generasi
muda Yahudi, ziarah ke Auschwitz bagaikan recharging motivasi untuk survive.
Sayang, bangsa Yahudi yang berulang kali merasakan pahitnya ditindas penguasa
tidak bisa berempati dengan penderitaan bangsa Palestina yang mereka kuasai.
Hitler
akhirnya bunuh diri pada 30 April 1945 setelah terkepung musuh. Saya tidak
yakin ia membayangkan surga dan bidadari. Sangat berbeda dengan psikologi
terorisme yang menjual simbol agama. Mereka meyakini kehidupan lain di balik
kematian, lebih indah dan abadi, yang dengan mudah memikat remaja yang merasa
gagal membangun kehidupan yang mereka idealkan.
Kita bisa
bayangkan, Timur Tengah yang semasa abad tengah merupakan pusat peradaban dunia
dengan simbol keislaman sekarang babak belur bertikai, berebut hegemoni
kekuasaan dan sumber minyak. Timur Tengah bak papan catur. Yang jadi raja atau
dalangnya adalah elite dalam negeri, berkolaborasi dengan kekuatan luar.
Bidak-bidak yang jadi korban sudah pasti rakyat kecil, sesama bangsa Arab dan
sesama Muslim.
Perang
yang tidak jelas awal-akhirnya ini telah mengantar negara-negara Arab menjadi
negara gagal, menyengsarakan rakyat, dan membuat masa depan tidak jelas.
Tokoh-tokoh yang semula mereka kagumi dan takuti satu demi satu tumbang. Dalam
keputusasaan ini, ideologi "jihadisme" merupakan tawaran menarik,
yaitu menyerang pihak-pihak yang mereka yakini sebagai penyebab kegagalan dan
kesengsaraan hidup.
Pihak-pihak
yang terlibat dalam perang saudara di Timur Tengah merasa berada di jalan
Tuhan. Yang mereka hadapi adalah musuh Tuhan sekalipun secara
sosiologis-demografis sama-sama Muslim. Perang di jalan Tuhan lebih menjanjikan
karena jika mati langsung ke surga, dibandingkan insentif jabatan dunia
yang tidak mungkin diraih karena kondisi negaranya sudah kacau.
Maka,
bagi mantan-mantan preman itu, bergabung dalam jaringan terorisme diyakini
sebagai jalan penebusan dosa dan bahkan naik status sosial sebagai tokoh yang
disegani. Semula hanya preman jalanan musuh polisi, sekarang berbalik menjadi
pasukan suci di medan juang global. Nyawa orang lain dan dirinya sangat murah,
ditukar dengan kematian sebagai tiket ke surga. Kompensasi kegagalannya di
dunia.
Tentu ini
sangat bertentangan dengan ajaran agama. Namun, logika gila beracun inilah yang
mereka jual melalui berbagai cara dan telah menarik pembeli dari
kelompok-kelompok yang terpinggirkan secara sosial-politik di sejumlah negara.
Kapan
berakhir?
Sulit
menjawabnya selama negara-negara Arab-khususnya-masih terus berkonflik sehingga
tidak berhasil menciptakan kemakmuran, keadilan, dan menjaga identitas
bangsanya. Saya sendiri sulit membayangkan munculnya tokoh Arab yang mampu
menyatukan mereka untuk mengakhiri nestapa dunia Arab. Bak papan catur
berdarah, setiap penguasa ingin menggulingkan yang lain.
Semua
pihak memang harus introspeksi, baik kekuatan politik di lingkungan Arab maupun
kekuatan asing. Bagi negara Arab yang secara ekonomi sudah terpenuhi, kebutuhan
mereka meningkat pada pemenuhan kebutuhan nonfisik, misalnya kebebasan
berserikat dan pendapat, yang pasti tidak disukai para monarki. Itu sebabnya,
Iran dan Turki tidak disenangi para sultan karena mempromosikan demokrasi yang
dipelintir menjadi isu Sunni-Syiah dan sekularisme.
Begitu
juga negara asing yang terlibat permainan catur politik Timur Tengah karena
ingin menguasai sumber minyak mesti berkomitmen membantu menciptakan kedamaian
dan kesejahteraan. Kalau tidak, anak-anak muda yang frustrasi melihat negerinya
kacau akan menumpahkan kemarahan kepada pihak asing yang empuk dan mudah
ditembus.
Maka,
Indonesia jangan sampai masuk perangkap negara gagal karena akan menyuburkan
terorisme. Sebaliknya, sebagai masyarakat majemuk dengan mayoritas warganya
beragama Islam, inilah peluang dan panggilan kemanusiaan untuk menunjukkan
bahwa Islam Indonesia pro kedamaian dan pro peradaban. []
KOMPAS,
28 November 2015
Komaruddin
Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar