Rabu, 14 Oktober 2020

Nasaruddin Umar: Al-Ta'lim al-Muta'allim (21) Ontologi Alam Malakut

Al-Ta'lim al-Muta'allim (21)

Ontologi Alam Malakut

Oleh: Nasaruddin Umar

 

Alam Malakut sudah masuk wilayah alam gaib mutlak. Alam ini dihuni oleh para makhluk spiritual seperti para jin, malaikat, termasuk iblis. Alam ini tidak bisa diakses dengan panca indera atau kekuatan-kekuatan fisik manusia. Alam ini hanya bisa diakses oleh manusia jika mereka mampu menggunakan potensi lahut atau malakut yang dimilikinya. Cara mengaksesnya ialah dengan jalan mukasyafah, yaitu penyingkapan hijab-hijab yang selama ini menyelimuti diri manusia karena faktor dosa dan pencemaran yang terjadi di dalam diri manusia, sehingga menyelubungi rohani atau kalbu manusia Tentu hal ini bisa dicapai manakala manusia melakukan upaya-upaya spiritual secara intensif (mujahadah).

 

Alam malakut ini memiliki keistimewaan di banding alam-alam yang ada di bawahnya, karena alam ini sudah lebih dekat dengan pusat wilayah sakral (wilayah al-Qudsiyyah) yang akan dibahas dalam artikel mendatang. Manusia dimungkinkan untuk mengakses alam ini jika sudah sampai pada maqam spiritual tertentu. Dalam sejarah Islam ada beberapa tokoh terkemuka yang sudah sampai kea lam ini. Bahkan nabi Muhammad saw jauh telah melampaui alam ini.


Jika kita merujuk kepada pendapat Syekh Abduk Qadir Jailani yang membagi roh itu kepada empat tingkatan, maka semakin mudah kita memahami kemungkinan itu. Menurut Syhek Abdul Qadir Jailani dalam kitabnya Sirr al-Asrar, roh itu memiliki empat tingkatan, yaitu: Roh jasadi yang berinteraksi dengan alam Mulk; roh ruhani yang berinteraksi dengan alam malakut; roh sulthani yang berinteraksi dengan alam Jabarut; dan roh al quds yang berinteraksi dengan alam lahut.


Namun perlu diingatkan di sini bahwa kita sebagai hamba tidak boleh terkecoh oleh bayangan keindahan alam-alam di atas manusia. Jangan sampai kita lengah sehingga seolah-olah pencarian kita bukan lagi tertuju kepada ridha Allah semata melainkan sudah terkecoh oleh unsur-unsur kekeramatan. Semakin tinggi tingkat pencarian seseorang semakin tinggi pula unsur pengecohnya, sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi:


"Wahai hamba-Ku, jika engkau ingin masuk ke wilayah kesakralan-Ku (Haramil Qudsiyah), maka jangan engkau tergoda oleh alam Mulk, alam Malakut, dan alam Jabarut; karana alam Mulk adalah syaitan bagi orang alim, alam Malakut, syaitan bagi orang arif, alam Jabarut syaitan bagi orang yang akan masuk ke alam Qudsiyah".


Yang penting bagi manusia mengerjakan secara tulus, ikhlas, dan pasrah apapun perintah Tuhan dan meninggalkan segala rangannya maka dengan sendirinya manusia akan mendaki ke martabat spiritual lebih tinggi. Semakin bersih seseorang dari dosa semakin terbuka peluang untuk mengakses alam gaib, termasuk alam gaib mutlaq, sebagaimana diisyaratkan dalam hadis Nabi: "Seandainya bukan karena setan menyelimuti jiwa anak cucu Adam maka niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit". (H.R. Ahmad).


Dengan demikian, tebal atau tipisnya alam gaib tidak sama bagi setiap orang. Ada orang yang alam gaibnya sangat tebal dan dan orang yang merupakan pilihan Tuhan alam gaibnya sudah sangat tipis bahkan sudah transparan. Para Nabi, khususnya Nabi Muhammad saw sepertinya diberi kemampuan untuk memahami rahasia tuhan seluas-luasnya karena sudah sampai ke alam puncak, Sidratil Muntaha, ketika ia Isra'Mi'raj. Kita sebagai umatnya juga diberi peluang melakukan mi'raj. Bukankah Nabi telah mengatakan: Al-Shalatu Mi'raj al-mu'minin (Shalat adalah mikrajnya orang-orang beriman). []

 

DETIK, 10 Juli 2020

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar