Gila di Zaman Edan
Oleh: Ali Maschan Moesa
ORANG disebut gila jika berperilaku aneh di tengah masyarakat.
Biasanya mereka mempunyai jalan pikiran yang kacau dan bicaranya ngelantur.
Pakaian mereka compang-camping, bahkan ada di antara mereka yang
telanjang bulat. Maklum, ’’sak piring kurang sak sendok”, kata banyak orang.
Pada zaman dahulu, banyak orang yakin bahwa gila adalah kutukan
Tuhan (madness was seen as a curse of God). Atau, paling tidak, secara
supranatural gila adalah hukuman atas dosa yang ia lakukan (a punishment for
sin). Sikap yang agak soft adalah pandangan masyarakat yang meyakini bahwa
orang gila disebabkan faktor genetik dan keturunan.
Sebenarnya secara medis para dokter jiwalah yang lebih mengetahui
derajat gangguan kejiwaan (illness) seseorang. Mereka memandangnya sebagai
gejala mental abnormality. Sementara itu, dalam perspektif sosiologi, penyakit
tersebut disebabkan faktor lingkungan. Bahkan, gila dan bunuh diri pernah
menjadi kajian yang melahirkan karya yang monumental dari Emile Durkheim dan
melahirkan karya Suicide atau la suicide. Ia meyakini bahwa gejala sakit jiwa
dan bunuh diri berkorelasi kuat dengan derajat integrasi sosial.
Namun, saat ini orang menjadi bingung atau tanda tanya mengapa
orang-orang gila ini sedang memusuhi tokoh-tokoh agama. Mereka sedang melakukan
kekerasan terhadap kiai, ustad, pendeta, romo, dan para rohaniwan hampir semua
agama.
Dalam perspektif ramalan R. Ng. Ranggawarsita, mungkin memang
’’jaman edan’’ sudah datang. Ia mengemukakan’grandnarrative”sebagai
berikut:”Yen wis Pulo Jawa kalungan wesi. Yen wis ono perahu melaku nang
awang-awang. Yen wis ono kereta tanpo jaran. Yen wis ono pasar ilang kumandange.
Yen wis ono kali ilang kedunge. Udan salah mongso, dulur dadi musuh, guru dadi
sateru. Yen wis akeh perawan tuwa-tuwa, nanging akeh randa ngelahirna anak.
Wong pinter keblinger, wong bener tenger-tenger, wong apik ditampik-tampik,
wong jahat munggah pangkat… Mengko yen wis ono perang soko lor, soko kidul,
soko etan, soko kulon; iku tandane menungso ketekan jaman edan”.
Selanjutnya, di akhir ramalan agung tersebut, ia berwasiat sebagai
berikut:”Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan ora tahan, yen
ora melu edan, bakal ora keduman kaliren wekasane. Dilalah kersane ngalah
(Allah), sak begja-begjane wong kang lali isih begja wong kang eling (Tuhan)
lan waspada”. Namun, sekarang sudah diubah, ’’Sak begja-begjane wong kang lali
isi begja wong kang ’maling’ kelawan waspada’’.
Memang mulai tahun ini adalah tahun politik. Sudah barang tentu
banyak bensin yang siap dibakar. Apalagi, politisi kita tampaknya tidak mau
naik kelas. Mereka tidak ingin menjadi negarawan. Mereka tetap istiqamah
sebagai pengikut Las Well bahwa politik itu exercise of power. Politik adalah
who get what, when, and how. Orang bawah menyatakannya sebagai ayat kursi. Jika
sudah dapat kursi, lupa ayatnya; atau dengan ungkapan lain politik adalah
’’berjuang” (beras, baju, dan uang). Dalam budaya politik seperti ini, sering
kali tanpa sadar pengertian ’’bersaing” dikacaukan dengan pengertian ’’tak mau
kalah”. Budaya tak mau kalah sering membuat para politisi melakukan apa saja,
benar maupun salah, yang penting tidak kalah dari kompetitor. Dampak yang
paling berbahaya adalah kebiasaan saling tuding, balas dendam, debat kusir,
korupsi, dan rusuh. Mental tak mau kalah ini selalu menafikan harkat dan
martabat sebagai manusia, tidak mempunyai rasa malu, bahkan sering menimbulkan
kebrutalan.
Alhasil, dalam perspektif ini, ada empat model respons masyarakat
terhadap hal-hal yang negatif. Pertama, buffaloes wallowing (kerbau yang
melenguh dalam lumpur). Mereka adalah kelompok yang selalu menyalahkan pihak
lain. Para politisi menyalahkan pemerintah, pemerintah menyalahkan pengusaha,
dan pengusaha menghujat kelompok lain. Ditambah lagi saat ini mulai banyak
tokoh agama yang pekerjaannya caci maki sana-sini dan disertai marah melulu.
Sementara itu, problem pokok bangsa tidak terselesaikan.
Kedua, wolves prowling (serigala yang buas yang selalu mencari
mangsa). Mereka adalah kelompok yang ingin melestarikan kegaduhan dan
kegelapan. Sebab, rezeki mereka justru bertambah banyak kalau situasinya
’’andilau” (antara dilema dan galau). Ketiga, birds crumbling (burungburung
yang berebut sisa makanan). Mereka ini adalah kelompok yang menjadi makmum
kelompok kedua. Sebab, memang rezeki mereka menyadong sisa-sisa makanan
binatang buas tersebut.
Keempat, fire-flies arising (kunangkunang bermunculan). Mereka
adalah komunitas yang lebih arif membaca tanda-tanda zaman. Mereka adalah
kelompok yang selalu berpikir untuk mencari solusi. Mereka meyakini, saling
menghujat dan marah-marah terhadap kegelapan tidak akan menyelesaikan masalah.
Mereka adalah yang bertausiah bahwa dalam kegelapan, yang diperlukan adalah
segera menyalakan lampu atau lilin agar segera jelas apa penyebab dari ’’kisah
nyata orang gila’’ tersebut. Karena itu, dalam perspektif shaping the future,
sungguh relevan pemikiran model keempat ini bagi bangsa ini.
Namun, persoalannya, berapa banyak orang yang memilih model
keempat ini. Ya,… para agamawan sendiri yang harus memulainya dan selalu
berupaya mendinginkan situasi bersama para domba-dombanya. Dan… kita harus
tetap mempunyai mimpi besar agar bangsa ini tetap ’’jaya-jaya wijayanti nir ing
sambikala dalah reribet ” []
JAWA POS, 27 Februari 2018
Ali Maschan Moesa ; Wakil rais syuriah PW NU
Jatim; Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar