Mu’jizat
Besar Bernama Rosy
Oleh: Dahlan Iskan
Selesai membaca buku ini,
terbayang oleh saya sosok Rosy Riyadi, isteri Tahir: betapa hebatnya wanita
ini. Bisa membawakan diri begitu baiknya di antara dua pihak yang dicintainya:
sang suami di satu pihak dan ayah beserta saudara kandungnya di pihak lain.
Belum tentu satu juta orang bisa ada satu yang seperti Rosy.
Saya
membayangkan seperti apa body language Rosy di saat sang suami curhat kepadanya
mengenai mertua yang tidak lain adalah ayah kandungnya. Tergambar di buku itu
bahwa di satu pihak Rosy membenarkan penilaian suaminya mengenai karakter
bapaknya. Tapi di sisi lain, apapun itu adalah bapaknya yang juga jadi
idolanya.
Hebatnya
dalam suasana seperti itu rumah tangga Tahir-Rosy bisa bertahan sangat
harmonis. Perkawinan itu kini sudah berumur 38 tahun. Sudah menghasilkan empat
orang anak dan 11 cucu (4 laki-laki, 7 perempuan). Di buku itu Tahir memuji
habis-habisan Rosy sebagai bidadari kiriman Tuhan. “Rosy itu isteri yang tidak
pernah berbuat salah,” kata Tahir. “Satu-satunya kesalahan yang dia perbuat
adalah kawin dengan saya,” tulis Tahir setengah bergurau, setengah merendah.
Inilah
bukti bahwa cinta abadi tidak harus muncul sejak sebelum perkawinan. Tahir-Rosy
membuktikan cita abadi bisa muncul setelah perkawinan. Dan Tahir menilai
keharmonisan itu berkat sikap Rosy yang istimewa. Rosy sama sekali tidak pernah
menampilkan diri sebagai anak seorang konglomerat papan atas Indonesia. Kalau
tidak ada nama Riyadi di belakangnya orang akan mengira dia gadis dari keluarga
biasa. Yang juga istimewa, kata Tahir, Rosy mau menurunkan standar hidupnya
mengikuti standar hidup saya.
Sewaktu
Tahir bisa membeli rumah di Slipi, Jakarta, hatinya masih belum tenang. Tahir
membayangkan apakah isterinya, yang sudah terbiasa tumbuh dan berkembang di
rumah seorang konglomerat, bisa menerima tinggal di rumah biasa. Tapi hati
Tahir langsung mengembang mana kala melihat untuk pertama kalinya sang isteri
memasuki rumah itu. Wajahnya berbinar. Tidak ada mimik terkejut atau ragu atau
canggung sedikit pun. Bahkan di rumah biasa itu Rosy langsung menata sendiri
segala perabotan dengan semangatnya. Juga bersih-bersih. Bahkan Rosy hanya mau
ada satu pembantu saja di rumah itu. Terasa sekali Rosy bahagia mereka akan
tinggal di rumah sendiri. Rosy seperti ingin menunjukkan itulah saatnya dia
menjadi ibu dari sebuah rumah tangga yang mandiri.
Tahir
menduga sikap istimewa Rosy itu menurun dari ibunya, Ny. Mochtar Riyadi. Tahir
memuji mertua perempuannya itu sebagai wanita yang istimewa di dalam keluarga
besar Mochtar Riyadi. Mampu menjaga keseimbangan di antara sayap-sayap dalam
keluarga itu. Tahir tidak lupa keberhasilannya mencapai gelar S-2 adalah berkat
paksaan dari ibu mertua. “Tahir, semua menantu saya harus lulus S-2. Kamu harus
kuliah lagi. Di Amerika. Saya yang membiayai,” ujar mertua perempuan itu
seperti dikutip Tahir.
Tahir
mencatat ada tiga wanita hebat yang menentukan hidupnya. Tapi yang terutama
adalah ibu dan isterinya. Dan yang di atas segala-galanya itu adalah ibunya.
Ibunyalah, di samping yang mengandung dan melahirkan, adalah juga yang
mendidiknya dengan keras. Ibunyalah yang menyiapkannya menjadi pedagang.
Ibunyalah yang menjadi inspirasi dalam hidupnya.
Karena
itu foto sang ibu dia pasang secara khusus di lorong kantornya. Di posisi yang
mau tidak mau dia menatapnya saat memasuki kantornya. Setiap kali itu pula
Tahir merasa mendapat tambahan semangat hidup. Bahkan, sang ibu, setelah ikut
pindah ke Jakarta, diberinya kesibukan sebagai salah satu kepala cabang Bank
Mayapada di Jakarta. Sampai sekarang. Saat usia beliau sudah 84 tahun. Cabang
tersebut menjadi cabang terbaik di antara seluruh cabang Bank Mayapada di
Indonesia.
Kini,
setelah jadi konglomerat papan atas Indonesia, Tahir dikenal begitu banyak
memiliki kegiatan sosial. Termasuk yang bekerjasama dengan Bill Gate. Itu dia
lakukan untuk memenuhi wasiat bapaknya, yang meninggal karena stroke lebih dari
20 tahun yang lalu. Wasiat itu diucapkan di tahun 1966. Saat nama Tahir
ditetapkan oleh bapaknya sebagai pengganti namanya yang lama: Ang Tjoen Ming.
Wasiat
itu intinya: Tahir, namamu nama Indonesia. Hanya satu kata. Kamu lahir di
Indonesia. Besar di Indonesia. Mendapat hidup dari Indonesia. Kamu adalah orang
Indonesia. Dan akan mati di Indonesia. Mengabdilah untuk Indonesia.
Sejak
hari itu bapaknya, yang kelahiran Fujian, memanggilnya dengan nama Tahir.
Mula-mula, karena belum terbiasa, nama Tahir diucapkan bapaknya dengan susah
payah. Tapi lama-lama terbiasa: Tahir!
Meski
tidak pernah percaya pada ramalan, Tahir merasa keberuntungannya begitu banyak
dalam hidupnya. Yakni ketika bertemu orang yang tidak disangka-sangka
menolongnya. Seorang pejabat bea cukai di Singapura, tanpa dimintanya tiba-tiba
menawarinya modal. Dirjen perdagangan luar negeri yang tanpa dia minta
memberinya kuota ekspor garmen ke Amerika. Wakil menteri keuangan yang tidak
dia sangka memperlancar ijinnya mendirikan bank. Dan tentu Dr Mochtar Riyadi
yang kok bisa-bisanya mengambilnya jadi menantunya.
Menarik
juga bagian buku yang menceritakan saat Tahir berhasil mendirikan bank. Saat
itu, mertunya gagal mendapat ijin serupa. Diceritakan bagaimana dia harus
bersikap menghadapi keinginan mertuanya. Sebuah pelajaran memadukan sikap
hormat dan teguh yang piawai.
Tapi,
tulis Tahir, semua itu tidak ada artinya. Keberuntungannya menumpuk harta,
memperbanyak asset dan memperbesar kekayaan itu kalah dengan keberuntungannya
yang satu ini: mengawini Rosy. “Keberuntungan saya yang paling besar adalah
bukan asset, bukan momen bisnis. Keberuntungan saya paling besar adalah Rosy”.
“Dia
mu’jizat paling besar dalam hidup saya”.
Sayangnya,
Rosy tidak tampak hadir saat buku ini diluncurkan di sebuah pesta besar di
Hotel Shangrila, Jakarta, pekan lalu. Tidak juga mertua dan ipar-iparnya. []
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar