Rabu, 24 Desember 2014

Cak Nun: Raja, Ratu dan Buto



Raja, Ratu dan Buto
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Adakah di antara Anda yang merasakan, menyadari atau setidaknya mengasumsikan bahwa banyak hal yang sedang menjadi pengalaman kolektif masyarakat kita dewasa ini — diam-diam ada kaitannya dengan idiom-idiom ‘raja’, ‘ratu’ dan ‘buto’?

Marilah sesekali berpikir jernih dan tolong kerahkan akal pikiran serta segala spektrum keilmuan Anda — untuk menjawab pertanyaan: apakah di penghujung abad 20 ini masih ada raja, ratu, atau buto?

Kalau kita berpikir formal, tak ada raja, apalagi ratu. Tapi kalau berpikir substansial atau essensial: kita-kita ini adalah raja, adalah ratu, juga adalah buto.

Kita mungkin raja atas bawahan-bawahan kita. Kita raja di rumah, di lingkungan kantor, atau mungkin di mana saja kita berada. Sekurang-kurangnya kita secara alamiah (dan diperkembangkan oleh tradisi pengalaman sosial) memiliki potensialitas untuk cenderung menjadi ‘raja’, yang sadar atau tak sadar, kita terapkan di setiap kosmos keterlibatan sosial kita.

Kita cenderung merajai rumahtangga kita, merajai lingkungan pergaulan kita, merajai segala aset di sekitar kita. Apalagi jika kita dibesarkan oleh suatu lingkungan yang atmosfer perhubungan antar-manusianya bersifat feodalistik — di mana orang hanya memiliki dua kemungkinan: kalau di atas, menginjak; kalau di bawah, menjilat atau mengemis.

Yang terbaik tentulah jika kita sanggup menjadi raja atas diri kita sendiri. Kita menjadi raja atas segala urusan hidup kita. Kita menjadi raja yang demokratis dan pensyukur atas segala kebaikan diri kita, kita menjadi raja yang diktator atas segala keburukan diri kita.

Tetapi apa beda antara ‘raja’ dengan ‘ratu’ sesungguhnya? Sehingga tulisan ini berjudul demikian? Kalau membedakan antara raja dan ratu dengan buto, masih relatif agak gampang.

Buto, atau raksasa, tak pernah ada dalam kehidupan manusia, di bagian manapun dari sejarah peradabannya. Buto atau raksasa hanyalah personifikasi dari salah satu watak gelap manusia yang berpotensi antikemanusiaan, antikebaikan, antikehalusan.

Rahwana digambarkan berbadan dan berwajah raksasa, karena ia lambang kejahatan. Meskipun demikian, menurut masyarakat Srilanka, Rahwana bisa menjadi pahlawan yang ganteng. Justru Prabu Rama itu imperialis, fasis, kolonialis, yang lebih tepat untuk digambarkan berwajah buto.

Sebagaimana orang Blambangan dan Banyuwangi tidak mengakui gambaran Menakjinggo yang oleh ‘sejarah versi Majapahit’ digambarkan sebagai buto yang buruk wajah maupun kelakuannya. Bagi mereka, justru raja-raja Majapahit yang raksasa, yang menindas, yang menampakkan kehendak.

Adapun Menakjinggo adalah pahlawan, nasionalis Blambangan sejati, pejuang demokrasi, otonomi dan kemandirian Blambangan atas imperialisme Majapahit.

Sunan Kalijaga mencoba merombak konsep paralelitas antara gambaran fisik dengan watak, moral atau perilaku. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong adalah seburuk-buruk makhluk jika dipandang dari sudut performa. Tapi nurani mereka, moral mereka, kasih sayang kemanusiaan mereka, pembelaan kerakyatan mereka, tak ada yang menandingi.

Adapun bagaimanakah filosofi dan konsep budaya manusia modern kayak kita sekarang ini? Apakah kesopanan seseorang, kenecisan penampilan seseorang, kostum seseorang, identik dengan realitas per moralnya? Masihkah kita boleh terjebak oleh surban, oleh performan kepriyayian, oleh peci, oleh gelar kiai, bahkan oleh status kehajian seseorang?

Tetapi jangan mentang-mentang performa kekiaian atau kepriyayian tidak menjamin moral dan perilaku sosial, lantas kita memitologisasikan performa yang lain: bahwa yang baik pasti yang tidak pakai peci, pasti yang tidak bersurban dan tak bergelar kiai. Mentang-mentang banyak penipu pakai sepatu dan dasi, lantas kita anggap yang pakai sendal dan kaos oblong pasti baik. Kita tetap harus obyektif dan sanggup menemukan relativitas dari simbol yang manapun. Relativisme kultur harus diterapkan pada semua gejala lambang.

Kalau warna hijau, umpamanya, dilegalisir secara kultural untuk menyebut kelompok ‘beragama’, kita tidak lantas memastikan bahwa produk perilaku kelompok ini tentu berkualitas kiai dan priyayi, tentu bermoral dan selalu berada di pihak yang benar. Sebab bisa saja dari kaum hijau justru muncul rekayasa dan perilaku ala buto atau raksasa yang menabrak apa saja dengan kasar, yang meringkus apa saja dengan brutal, yang melegalisir ‘kudeta‘ ini dan itu, mendongkel dadap dan waru, yang menggoyang dan menjatuhkan fulan dan polan. Artinya, dalam hidup ini terutama dalam dunia gawat yang bernama politik: sangat mungkin terjadi priyayi berperilaku buto, kiai bergerak secara raksasa.

Sebaliknya, dengan itu semua kita tidak lantas terjebak pada fenomena antitesis yang juga kita dramatisir dan kita mitologisasikan. Misalnya bahwa kita langsung menganggap bahwa yang non-hijau pasti yang benar, yang sopan, yang bermoral, yang pro-demokrasi.

Kita sungguh-sungguh memerlukan kejernihan akal, hati yang sejuk dan jiwa yang selapang-lapangnya, untuk mempersepsikan segala sesuatu yang hari-hari ini kita baca di koran-koran dan kita tonton di teve dan kita dengar di radio maupun di warung-warung.

Atau jangan lupa bisa juga ada raja yang benar-benar raja atau ratu yang benar-benar ratu, namun ia dikelilingi oleh buto-buto. Segala akses informasi yang diterima oleh telinga sang raja berasal dari buto-buto. Kepada raja dikatakan “Paduka, mereka sudah tak suka sama si Waru, jadi sangat dibutuhkan pergantian”. Dan kepada ‘mereka’ dikatakan: “He anak-anak, Paduka sudah tidak berkenan lagi sama si Waru, jadi segera bikin kumpul untuk penggantian….”

Termasuk jangan lupa bahwa sesungguhnya para buto tidak senantiasa merupakan makhluk yang benar-benar buto. Para priyayi, priyagung, kiai, atau apapun, yang penuh sopan santun, yang tampak bermoral dan khusyu — bisa pada momentum tertentu terpaksa menjadi buto, untuk kepentingan tertentu yang harus dilaksanakan secepat-cepatnya.

Oleh karena itu jika Anda sudah menjadi Ratu, pada saat yang diperlukan bersikaplah segera menjadi Raja. Raja itu jelas kehendaknya, dhawuhnya, perintahnya, rancangannya. Kalau Ratu, cenderung diam karena anggun dan penuh wibawa.

Ratu lebih banyak senyum-senyum saja. Namun kemudian yang berlangsung di seluruh negeri adalah interpretasi para buto tertentu atas senyum sang Ratu. Kalau interpretasi murni, masih lumayan. Tapi kalau interpretasi berdasar kepentingan para buto, susahlah semua rakyat. []

Gelar Kepahlawanan



Gelar Kepahlawanan

Hanya orang yang benar-benar berjasa yang berhak mendapatkan gelar kepahlawanan. Sementara pengakuan kepahlawanan itu tidak selalu datang dari lembaga resmi pemerintah atau partai politik termasuk agama. Pengakuan yang tidak kalah pentingnya adalah pengakuan dari masyarakat sendiri.

Bisa saja seorang dengan tidak memiliki jasa memadai pada negara atau bahkan pengkhianat, tapi diberi gelar pahlawan. Gelar itu tidak memberi arti apapun, kecuali kebanggaan buat anak cucu. Tiada keteladanan yang bisa dipelajari oleh bangsanya. Semetara orang yang benar-benar berjasa, diakui secara resmi atau tidak, masyarakat akan tetap menghargai, dan mengenang jasanya, bahkan mengenangnya dengan penuh kecintaan.

Hal itu yang dialami oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Walaupun gelar kepahlawanan tidak jadi diperoleh saaat ini dan membuat sementara orang kecewa, tapi penghormatan masyarakat yang begitu besar. Masyarakat dari segala penjuru dari anegaka golongan menziarahi makamnya setiap hari. Makam mendiang Gus Dur di Tebuireng, Jombang tidak pernah sepi penziarah.

Di berbagai universitas dan kelompok kajian selalu berbagai pemikiran Gus Dur tak henti dikaji. Macam-macam perspektif dipakai untuk mendekati ide-ide pembaruan Gus Dur.

Semuanya, ekpresi cium tangan pada Gus Dur, Pengkajinya, hingga menziarahi makamnya, adalah bentuk hakiki dari gelar kepahlawanan itu sendiri.

Kesederhanaan dan keikhlasan menghiasi gerakan cucu Kiai Hasyim Asy'ari ini. Kepeduliannya yang luar biasa pada masyarakat adalah jasa yang tidak bisa dilupakan orang. Mereka yang merasa ditolong dan diperjuangkan nasibnya itulah yang sehari-hari berbondong-bonding menziarahi makamnya.

Contoh lain adalah Bung Karno. Ketika rakyat dilarang untuk menghormati saat meninggalnya, rakyat secara menaruh simpati padanya, bahkan simpati itu begitu meluas sehingga meledak menjadi luapan yang tak terbendung lagi. Rasa cinta dan hormat tidak bisa disembunyikan pada tokoh yang memerdekakan dan membawa kebangggaan republik ini.

Sebaliknya, tidak ada fenomena yang mengharu biru saat presiden Soeharto pergi. Ini tentu karena kepemimpnannya yang penuh korupsi dan represi. Kepergiannya tidak mengundang simpati, bahkan para kerabat dan temannya pun datang dengan sembunyi-sembunyi. Padahal tak ada kekuatan apapun yang melarang untuk menghormatinya. Citra buruk yang dibuat selama kepemimpinanya membuat orang merasa risi mendekatinya.

Semuanya memberi pelajaran pada kita bahwa kesungguhan dan ketulusan hati dalam mengerjakan sesuatu apakah itu bersipat sosial, bersifat politik, akan memperoleh penghargaan dari keikhlasannya itu. Sebaliknya, kalau yang dituju sekedar harta dan kekuasaan, mereka hanya akan peroleh harta dan kekuasaan itu sebagaimana ia suka. Tapi jangan berharap dia akan mendapatkan penghormatan secara sosial. Sebab, kepemimpinanaya mengabaikan keadilan sosial dan martabat manusia.

Pahlawan bukanlah orang yang banyak pamrih dengan mengambil seluruh kekayaan rakyat dan negara. Sebaliknya seorang pemipin sejati yang berani mengorbankan pikirannya, hartanya, tenaganya bahkan nyawanya untuk bangsa dan negara, mereka itulah yang bisa disebut pahlawan. Dalam berjuang tidak mengharapkan upah yang diharapkan adalah in ajriya alallah (mengharapkan ridlo dan ganjaran dari allaah), bukan pengharagaan duniawi.

Gelar kepahlawanan yang bersifat resmi sebenarnya sangat relatif, tetapi penghgargaan orang atas jasa yang pernah dibuatkan itu yang terpenting. Sebab, rintisan perjuangan yang pernah dilakukan itu akan memberi insprasi bagi generasi penerus. Dan ini menurut Islam sebuah amal jariah, yang dari padanya orang tidak hanya akan memperoleh pahala, tapi juga akan memperoleh kemasyhuran duniawi. Ketika nama dan pikirannya selalu meghiasi berbagai pertemuan, diskusi ilmiah serta menjadi pedoman di lapangan pergerakan, itulah pahlawan.

Banyak sebenarnya tokoh besar yang diakui perjuangannya tetapi karena takaran tertentu tidak bisa diakui sebagai pahlawan nasional. Gadjah Mada misalnya peran besarnya menyatukan Nusantara ini sama sekali tidak diakui, paling diingat hanya sekadar dongeng.

Patih Yunus dari Demak yang paling awal menantang Portugis, hingga sekarang hanya dikenang sebagai perintis perjuangan tetatpi tidak pernah betul-betul dipahlawankan. Banyak tokoh yang diabaikan seperti itu.

Di Nahdlatul Ulama sendiri, tokoh besar pergerakan seperti KH. Wahab Hasbullah, KH Munasir Ali, KH Yusuf Hasyim, KH Saifuddin Zuhri dan sebagainya, kegigihannya melawan penjajah tidak diragukan lagi dan ketekunannya mendidik rakyat dikenang sepanjang zaman. Oleh pemerintah mereka bukan pahlawan, tapi oleh rakyat, mereka pahlawan.

Tanpa menuntut pengakuan, tokoh NU seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim dan KH Zainul Arifin mendapatkan gelar pahlawan. asala usulnya jelas, saat itu Bung Karno tahu persis bagaimana mereka berjuang membela negara, sehingga tanpa prosedur berbelit, mereka dikukuhkan sebagai pahlawan.

Mereka itu tidak berharap penghargaan, karena semuanya diniati dengan ikhlas. Mereka tidak mengharap sesuatu imbalan, asal NU sudah berkembang, Islam sudah maju dan Indonesia sudah merdeka dan tentarm, maka hati mereka sudah tenteram.

Mereka mengabdikan seluruh hidupnya pada Tuhan, untuk bangsa dan negara. Bahkan di NU ini tidak hanya tidak diakui kepahlawanannya tetapi juga dicoret dari halaman sejarah. Penulisan sejarah mengabaikan peran NU, padahal NU selalu aktif dalam perjuangan memerdekaan dan membentuk negeri ini. []

(Abdul Mun’im DZ)

(Ngaji of the Day) Samudra-samudra Pengetahuan Nabi sallallahu 'alayhi wasallam



Samudra-samudra Pengetahuan Nabi sallallahu 'alayhi wasallam

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wasshalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa'ala Aalihi Washahbihi Waman Walaah amma ba'du…

Subhanaka! Subhanaka! Subhanaka! [ya Allah!]

Halaman-halaman baru. Halaman-halaman yang tak terbatas. Semua yang dimiliki Allah Yang Maha Agung adalah tak terbatas. Jika kalian mampu untuk menemukan suatu limit atau batas dari bilangan, kalian boleh untuk berbicara sedikit tentang karunia-karunia Allah Ta'ala. Karena itulah, Allah 'Azza wa Jalla mengatakan bahwa seandainya samudera dan lautan menjadi tinta, dan pohon-pohon menjadi pena untuk menulis, maka itu semua hanya akan menjadi setitik zarah kecil dari pengetahuan surgawi yang dimiliki Allah Ta'ala. Dan tinta tersebut akan habis, bahkan jika seandainya kalian membawa tujuh samudera bukan hanya satu samudera.[1]

Bahkan seluruh samudera yang menjadi tinta itu akan habis dan kering, sedangkan pengetahuan dan ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta'ala terus karuniakan pada Penutup Para Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, tak akan pernah habis, karena beliaulah satu-satunya yang berbicara mewakili Allah Ta'ala – yang pertama! Allah Ta'ala tak pernah berbicara pada siapa pun yang lain dalam Hadirat Ilahiah-Nya kecuali pada dia yang paling terhormat di antara seluruh ciptaan, Sayyidina Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Tak seorang pun mampu mendekati Hadirat Ilahi seperti Penutup para Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Allah Ta'ala mula-mula menciptakan ruhnya, ruhnya yang berkilau bercahaya, dan ruh tersebut adalah 'nur'. Dan dari 'nur' tersebut, Allah menciptakan (segala sesuatu lainnya, red.)! Segala sesuatu diciptakan (oleh-Nya) dari 'nur' tersebut. Tak seorang pun atau apa pun mampu mencapai langsung esensi (Dzat) dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tak ada yang dapat mencapainya – tak mungkin. Hanya melalui Penutup para Nabi – ringkasan dan esensi dari seluruh ciptaan adalah bersama beliau sallAllahu 'alayhi wasallam. Itu telah dikaruniakan pada beliau, dan karunia tersebut terus berlanjut bagi beliau tanpa berhenti, mengalir, tak pernah berhenti, tak pernah terputus!

A'udhu billahi mina-sh-shaitani-r-rajim, bismillahi-r-Rahmani-r-Rahim. La haula wa la quwatta illa billahi-l 'aliyyi-l 'adhim.

Sultan-ul-Arifin[2] Aba Yazid al-Bisthami, semoga Allah merahmatinya, (menasihati kita) untuk menjaga dan memelihara zikir mereka, untuk menjaga tetap mengingat mereka, untuk berusaha selalu bersama dengan para pewaris dari Penutup para Nabi, untuk berusaha agar ruh kalian (selalu) berada dalam samudera-samudera dari ruh-ruh suci mereka; karena setiap orang dari mereka – Awliya' (para Waliyyullah – kekasih Allah), para pewaris dari Penutup para Nabi, para Grand Wali (Wali-wali besar) tersebut – telah dianugerahi samudera-samudera pula. Tetapi, samudera-samudera milik mereka, bahkan seandainya seluruh samudera milik para Nabi dan Wali dikumpulkan bersama dan disatukan, jika itu semua dibandingkan dengan apa yang telah dianugerahkan Allah Ta'ala pada Penutup para Nabi, yaitu Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam, seluruh samudera mereka itu hanyalah bagaikan setetes air yang menempel di ujung jarum ketika kalian mencelupkan jarum itu sesaat ke dalam suatu samudera. Hanya seperti itulah perbandingan seluruh samudera (milik para Nabi dan Wali) dengan samudera milik Penutup Para Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Dan seluruh Awliya' dan para Wali, terutama Grand Wali, Grand Syaikh, orang-orang pada barisan pertama, yang dekat dengan Penutup para Nabi, Sayyidina Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, mereka mengambil secara langsung dari beliau dan mereka telah diberi lebih banyak dari yang lain. Dan ruh-ruh mereka tengah meminum 'air' dari samudera-samudera itu dan ruh-ruh mereka pun menjadi samudera-samudera. Ruh dari setiap orang dari mereka adalah bagaikan sebuah samudera dan hanya Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam yang mengetahui apa yang ada dalam samudera tersebut. Allah tentu saja mengetahui segala sesuatunya; tetapi, pada maqam [3] dari ciptaan (makhluq), apa yang telah dikaruniakan pada seluruh Nabi, dan demikian pula pada para Nabi-nabi besar, Awliya' besar, Syaikh-syaikh besar – mereka yang berada pada saf pertama pewaris Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam – hanya Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam-sajalah yang mengetahuinya. Dan apa yang berada dalam samudera milik setiap orang, mereka mengetahuinya, demikian pula Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mengetahuinya.

Karena itulah, mereka memiliki alam semesta-alam semesta, 'awalim', ciptaan-ciptaan dalam samudera-samudera mereka. Dan ciptaan tersebut adalah suatu karunia dari Penutup para Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Dan karunia Tuhannya bagi dirinya terus bertambah lebih banyak dan lebih banyak, dan karunia tersebut tidaklah tetap sama. Allah Ta'ala berfirman: "Wahai hamba-Ku yang tercinta! Wa ladaynaa maziid! [4] Aku memberi dan tak akan pernah berhenti. Apa yang Ku-karuniakan padamu tak akan pernah berakhir". Karena itulah, apa yang dikaruniakan pada RasulAllah sallAllahu 'alayhi wasallam ketika beliau bersama kita, tidaklah sama saat ini. Setiap detik, setiap tarikan nafas, karunia tersebut digandakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Karena itulah, ketika kami berkata tentang Aba Yazid al-Bisthami (r.a.): Jagalah Auliya', berusahalah untuk berada bersama mereka, bahkan sekalipun hanya dengan nama-nama mereka dan dengan asosiasi/majelis mereka. Saat kita menyebut nama-nama mereka, suatu kasyf [5] atau pembukaan datang pada diri kita. Tidak kosong. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mengatakan bahwa saat kita menyebut orang-orang yang salih – para Wali, Grand Wali, para Nabi, Nabi-nabi Besar, dan Penutup para Nabi, 'tanzil-ur-Rahmah', rahmah dari samudera-samudera rahmah akan mendatangi diri kita. Karena itulah, 'manakib-ul-aulia' (pembacaan kisah para Wali) diadakan. Quran Suci menyebut pula nama-nama para Nabi, karena setiap kali kita menyebut nama mereka, rahmah yang berlimpah dari samudera-samudera rahmah mengaliri diri kita. Karena itulah, diulang berkali-kali (dalam Quran) akan apa yang terjadi pada Bani Israil, apa yang terjadi pada Sayyidina Adam, apa yang terjadi pada Sayyidina Nuh, apa yang terjadi pada Sayyidina Ibrahim dan pada Nabi-nabi lain. Ini adalah untuk menerima kemuliaan dari mereka, untuk mengambil bagian dari 'nur' mereka, dari cahaya-cahaya ilahiah milik mereka, agar datang pada dirimu. Dan ini adalah suatu persiapan bagi kalian untuk kehidupan abadi kalian, karena keabadian dapat menampung sebanyak apa pun yang telah dikaruniakan pada kalian, tanpa batas. Mereka yang berada pada (atau berusaha untuk) kehidupan abadi dan memiliki target untuk meraih keabadian, mereka boleh meminta lebih dan lebih – tak terbatas. Sama seperti suatu pesawat terbang yang tengah terbang melayang – semakin banyak petrol (minyak bahan bakar) yang kita isikan ke dalamnya, semakin lama ia akan terbang, tak pernah berkata 'cukup', tidak! Sebanyak yang kita isikan ke dalamnya, ia akan terus terbang. Dan ruh-ruh kita dalam Hadirat Ilahiah – jangan berpikir bahwa ruh-ruh terebut diam berhenti – mereka berlari dan berenang melalui samudera-samudera yang tak terkira banyaknya. Semuanya itu milik dari keabadian.

Karena itu, adalah suatu perintah – untuk melakukan suhbat, asosiasi – kalian harus menjaga jalur (hubungan) dengan mereka secara langsung. Hubungan itu akan mengalir melalui wujud sejatimu. Jangan berpikir bahwa ini (tubuh wadag kasar kita) adalah wujud kita yang sejati. Ini hanyalah suatu bayangan dari wujud sejatinya. Wujud sejati tersebut, dunia ini tak mampu menampungnya. Karena itulah, Pemimpin Malaikat Jibril ('alayhissalam) kadang-kadang datang dalam bentuk seorang laki-laki, dan kita berkata Jibril ('alayhissalam) baru datang. Apakah ia meninggalkan maqam (posisi)nya dan datang ke sini? Saat ia datang pada Nabi, apakah maqamnya kosong ia tinggalkan? Apakah ia datang dengan wujud sejatinya? Bagaimana mungkin? (Apa yang nampak datang) hanyalah perwakilan (dari wujud sejatinya), sebagai suatu bayangan dalam bentuk seorang laki-laki. Wujud sejatinya tak pernah bergerak ke sini dan ke sana dari Hadirat Ilahi. Tak pernah! "Tak seorang pun yang matanya dapat melihat ke sana-sini!" Apakah kalian pikir bahwa adalah wujud sejati Penutup para Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam yang pernah bersama kita (saat beliau hidup, red)? Bagaimana mungkin dunia ini dapat menampungnya? Seluruh ciptaan akan lenyap jika wujud sejati beliau termanifestasikan untuk eksis di sini. Tak ada lagi ciptaan, segala sesuatunya akan lenyap dalam samudera-samudera beliau, tak ada yang akan pernah muncul. Tetapi segala sesuatunya, melalui Hikmah Ilahiah, telah diatur dan diprogram. Tak seorang pun tahu bagaimana keadaannya dan bagaimana ia wujud, tidak! Kita berada pada maqam kedudukan kita, dan Firman Ilahiah datang mula-mula pada Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam dan kemudian pada kita. Jika seandainya Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tidak menjadi perantara (mediator), Wahyu Ilahiah akan membakar segala sesuatunya di muka bumi ini.

[Syaikh membaca ayat]

"Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quraan ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.." [Surat al-Hashr, 21]

Karena itulah, orang-orang jahil yang berpikiran sempit itu masih pula mengatakan bahwa Sayyidina Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam hanya seperti seorang tukang pos – hanya membawa dan menyampaikan suatu pesan. Betapa bodohnya! Dan kebodohan ini kini menjalar ke seluruh dunia Islam, di Timur dan di Barat. Mereka sama sekali tak memahami hikmah diutusnya Sayyidina Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam dan karunia Qur'an Suci bagi beliau. Gunung-gunung tak mampu memikul (beban ini); tapi, hanya kalbu dari ia yang paling berkilau bercahaya dan paling mulia-lah yang mampu untuk memikul berat dari Wahyu Ilahiah. Bagaimana mungkin kalian mengatakan bahwa ia telah habis dan mati sekarang, kemudian kita bisa bersama Allah tanpa Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam? Kebodohan macam apa ini yang kini kita tengah berada di dalamnya?

Karena itu, begitu banyak masalah berdatangan pada orang-orang itu. Ya, memang ini adalah suatu samudera yang demikian dalam yang kami tengah coba untuk tunjukkan bagimu; kita tak mampu mencapainya. Aba Yazid al-Bisthami – semoga Allah merahmatinya, dan semoga cahaya-cahaya dari samuderanya menerangi kalbu-kalbu kita. Qalbu-qalbu yang bercahaya, itulah qalbu-qalbu yang hidup! Qalbu dan hati yang tak bercahaya, itulah hati yang mati, qalbu yang terkunci. Karena itulah, qalbu-qalbu dari begitu banyak ulama besar tengah terkunci. Mereka tidak memahami apa yang kalian katakan. Terkunci! Allah membuka qalbu dan hati kita pada Awliya'-Nya. Kita memohon agar saat kita berbicara tentang Awliya', agar mereka mengaruniakan pada kita sesuatu, yang sesuai dengan kebutuhan kita. Karena itu, inilah yang disebut 'rabithah' – koneksi dari qalbu ke qalbu. Saat kalian melakukan 'rabitah' [6], cahaya-cahaya Ilahiah yang dianugerahkan pada Wali tersebut, Grand Wali, atau Nabi, atau Grand Nabi, atau Khatm ul-Anbiya' [7], akan mengalir melalui qalbu kalian, dan kalian akan tercahayai olehnya.

Saat kita melihat ke langit di waktu malam, kita melihat bintang-bintang yang bercahaya; tapi, ada pula miliaran bintang yang tidak bercahaya, karena 'nur' itu tidak datang pada mereka. Dan hal ini serupa pula pada manusia. Makhluk-makhluk Langit tengah melihat manusia dan memperhatikan siapakah di antara manusia tersebut yang bercahaya dan berkilau – sama seperti ketika kita melihat bintang-bintang yang berkilau di langit. Karena itu, 'rabitah', koneksi, hubungan, adalah medium yang paling penting untuk meraih cahaya-cahaya surgawi. Siapa yang menyangkal hal ini akan terputus, tak ada cahaya yang datang ke qalbu mereka – habis! Orang-orang, karena itu, kini tengah berada dalam kegelapan, karena mereka tidak memiliki hubungan dengan 'orang-orang langit' atau dengan hamba-hamba Allah yang bercahaya yang hidup di dunia ini di antara kita. Kebanyakan orang kini tidak peduli lagi, mereka tidak tertarik, dan mereka senang untuk hidup dalam kegelapan mereka, dalam 'dunya' mereka yang gelap. Sama seperti burung-burung malam (kelelawar) yang senang untuk berada dalam kegelapan malam. Mereka tak suka untuk keluar di siang hari, karena mereka tak menyukai cahaya. Dan kini, 99% orang-orang di bumi tidak mau mencari cahaya-cahaya surgawi agar diri mereka pun bercahaya, dan mereka pun senang berada dalam dunia yang gelap, dalam suatu atmosfer yang gelap. Karena itulah mereka melakukan begitu banyak hal, yang jika mereka dapat melihatnya, tentu mereka tak akan mau melakukannya. Jika hati mereka tercahayai, mereka tak akan berkelahi, tak akan bertengkar dan tak akan mengeluh. Mereka akan berbahagia dengan apa yang telah dikaruniakan pada mereka dari Sang Pencipta, Rabb as-Samaawaati. Tapi, kegelapan telah mencegah dan menghindarkan mereka dari mencapai titik itu, karena mereka tak mau mencari hubungan ke dunia spiritual (ruhaniyya) atau hubungan dengan spiritualitas dan makhluq-makhluq surgawi di muka bumi atau di langit. Itulah masalahnya. Semua orang-orang yang hidup dalam atmosfer gelap ini, yang tak mau meminta hubungan dengan makhluk-makhluk surgawi, dengan wujud spiritual makhluk-makhluk itu, semua orang-orang ini adalah pembuat masalah.

Semoga Allah mengampuni saya, dan memberikan pada kita pemahaman yang baik, karena ini adalah suatu hal penting yang mesti diketahui bangsa-bangsa. Seluruh bangsa dan negara telah memutuskan hubungan mereka dengan makhluk-makhluk langit, mereka menyangkal keberadaannya, mereka menyangkal kenabian (nubuwwah) dan kewalian (wilayah), dan segala sesuatunya yang terkait dengan Langit, dan mereka terjatuh dalam dunia yang gelap. Dunia gelap, ke mana pun mereka berlari, mereka hanya akan menjumpai kegelapan dan masalah.

Allah! Allah! Ya Rabb! Ampuni kami, Ya Rabb! Kami memohon ampun dan maaf dan barakah-Mu. Demi kehormatan dari ia yang paling terhormat dalam Hadirat Ilahiah-Nya, Nabi Muhammad sall-Allahu 'alaihi wasallamal-Faatihah!

===============
Catatan Kaki
[1] Quran Surat Al-Kahfi (18) ayat 109
[2] Sultanul 'Arifin bermakna pemimpin dari mereka yang mengenal Allah; suatu gelar yang lazim dinisbatkan pada Syaikh 'Aba Yazid al-Bistami
[3] maqam secara literal bermakna stasiun atau kedudukan, posisi seseorang di Hadirat Ilahi
[4] Wa ladayna maziid, secara literal bermakna dan di sisi Kami selalu bertambah. Karunia Allah SWT bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam selalu bertambah setiap saat.
[5] kasyf adalah suatu terminologi dalam ilmu tasawwuf yang bermakna tersingkapnya hijab antara seseorang dengan kegaiban.
[6] rabithah, secara literal bermakna ikatan; suatu istilah ilmu tasawwuf melukiskan ikatan hati karena cinta suci, antara seorang murid dengan Syaikh Mursyid pembimbingnya
[7] Khatm ul-Anbiya' bermakna Penutup para Nabi atau Stempel para Nabi, suatu gelar bagi Rasulullah Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam