Rabu, 02 Desember 2020

Nasaruddin Umar: Membaca Trend Globalisasi (10) Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Pembedaan Astrologi dan Astronomi

Membaca Trend Globalisasi (10)

Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Pembedaan Astrologi dan Astronomi

Oleh: Nasaruddin Umar

 

Sekian lama dunia astrologi menguasai kosmologi dunia. Kehadiran Islam membawa perubahan dalam dunia kosmologi karena para ilmuan Islam menemukan kemampuan untuk membedakan antara astrologi yang lebih menekankan mistis yang irasional dan cenderung menyesatkan. Para ilmuan Islam di zaman pertengahan memilah antara astrologi dengan astronomi yang berdasar pada kajian rasional yang berdasar pada fakta-fakta empiris.

 

Dunia Astronomi atau Ilmu Falak harus berterima kasih kepada dunia Islam. Peletak dasar-dasar astronomi modern yang kemudian berkembang pesat sesudahnya hingga saat ini berkat kegigihan ilmuan Islam, khususnya di dalam zaman pemerintahan Kerajaan Umaiyah dan Abbasiah. Nama-nama astronom terbesar di zaman Umaiyah antara lain Khalid bin Yazid Al-Amawi, yang juga dikenal dengan nama Hakim Ali Marwan (w.85H). Ia dianggap orang pertama yang menerjemahkan buku-buku termasuk buku-buku ilmu perbintangan pada pertengahan kurun ke-4 Hijrah. Di zaman pemerintahan kerajaan Abbasiah, dikenal juga nama yang amat popular dalam bidang astronomi, yaitu Khalifah Abu Jaffar al-Mansur, khalifah pertama yang memberi perhatian kepada kajian astronomi. Ia menganggarkan biaya penelitian dalam bidang astronomi sangat besar. Ia menggunakan bagian dari istana sebagai laboratorium dan dikumpulkan para ilmuan astronomi untuk bekerja di dalamnya dengan upah yang besar. Ia mengangkat Naubakh sebagai pimpinan proyek ini. Mereka semua melakukan penelitian mendalam, termasuk mempelajari warisan ilmiah bidang yang sama yang pernah dikembangkan di Yunani, Parsi, dan India.

 

Perkembangan berikutnya semakin canggih lagi, terutama dengan tampilnya Mohammad Al-Fazari, sebagai orang Islam yang pertama yang menemukan astrolube (jam matahari untuk mengukur tinggi dan jarak bintang). Buku karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad pertengahan oleh Johannes de Luna Hispakusis, yang kemudian dijadikan buku rujukan utama dalam bidang astrolabe di sejumlah universitas di Eropa. Selain karya Al-Fazari, masih ada sejumlah tokoh ilmuah astronomi dan karya-karyanyanya menghiasi perpustakaan universitas-universitas Eropa, ketika itu Amerika Serikat belum lahir. Di antara tokoh itu ialah Abu Sahl bin Naubakh, Ali bin Isa yang dikenal sebagai Phoenix pada zamannya (Zaman Abbasiyah).

 

Kota Baghdad sendiri telah didirikan sebuah observatorium di zaman Al-Makmun. Di zaman Al-Makmun juga telah didirikan sebuah observatorium yang digunakan untuk mengukur daya dan kekuatan cahaya matahari. Semakin banyak lagi observatorium di dirikan di beberapa tempat dengan spesifikasinya masing-masing, seperti observatorium di Bukit Gaisun di Damaskus, untuk mengamati equinox, gerhana bintang berekor (comet) dan berbagai fenomena langit lainnya. Kota Bangdad dan Damaskus tampil sebagai kota sains yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah kemanusiaan.

 

Puncak kejayaan astronomi di dalam dunia Islam ditandai dengan tampilnya Al-Battani (w.930M/317H) yang mengembangkan penelitian yang bukunya menjadi sangat tersohor di Eropa setelah diterjemahkan oleh Nallino pada tahun 1903M. Karya Al-Battani inilah yang mengispirasi penemuan jam dinding dan jam tangan seperti yang ada saat ini. Al-Battani juga yang menemukan secara pasti setahun sama dengan 356 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik.

 

Di zaman kekuasaan Hulagu Khan, kerajaan Mongol, tampil pula nama-nama besar dalam sejarah sains muslim, yaitu Nasiruddin al-Tusi (abad ke tujuh) yang hidup di zaman Hulagu Khan, dan Al-Biruni (362-442H) yang amat terkenal di zaman Sultan Mahmud al-Ghaznawi. Beliau telah meninggalkan berbagai-bagai hasil karya yang antara al-Athar al-Baqiah yang juga diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggeris oleh Dr. Sachan. []

 

DETIK, 16 Agustus 2020

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(Ngaji of the Day) Tawar-menawar Penduduk Tsaqif dengan Nabi Muhammad usai Masuk Islam

Nabi Muhammad saw dan beberapa sahabatnya hijrah ke Thaif, tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah. Mereka hendak meminta perlindungan dan pertolongan kepada masyarakat Thaif dari penindasan kaum musyrik Makkah. Namun, Nabi Muhammad saw. dan sahabatnya malah mendapatkan perlakuan buruk dari penduduk Thaif. Kaum Tsaqif –yang saat itu menjadi penguasa wilayah Thaif- melempari Nabi Muhammad saw. dengan batu hingga kakinya terluka.

 

Setelah beberapa tahun berlalu, umat Islam semakin kuat. Mereka berhasil mendirikan negara Madinah dan menghimpun kekuatan yang semakin hari semakin besar. Orang-orang Arab tidak memiliki kekuatan lagi untuk berperang melawan umat Islam. Semuanya sudah berbaiat dan memeluk Islam.

 

Hanya tinggal beberapa suku saja yang belum menerima Islam. Rupanya keadaan ini membuat penduduk Tsaqif ‘ciut’. Tidak ingin mengalami sesuatu yang tidak diinginkan, akhirnya penduduk Tsaqif mengirim utusan yang dipimpin Kinanah bin Abdul Yalil untuk menemui Nabi Muhammad di Madinah. Kejadian itu berlangsung pada bulan Ramadhan, beberapa saat setelah Nabi Muhammad pulang dari Tabuk.

 

Utusan Tsaqif tersebut membangun tenda-tenda. Mereka tinggal di Madinah beberapa hari agar bisa mengetahui aktifitas umat Islam sehari-harinya. Diceritakan Ibnu Sa’ad, Nabi Muhammad menemui utusan Tsaqif tersebut setiap malam setelah Shalat Isya. Nabi Muhammad dan mereka terlibat dialog yang cukup intens. Mereka bertanya tentang Islam, Nabi Muhammad memberikan penjelasan.

 

Diantara pertanyaan yang mereka lontarkan kepada Nabi Muhammad adalah "Bagaimana menurutmu tentang zina karena kami gemar berzina? Bagaimana menurutkmu tentang riba, seluruh harta kami berasal dari riba? Bagaimana pendapatmu tentang khamar, pendapatan kami dari khamar? Dan bagaimana dengan orang yang meninggalkan shalat?"

 

Nabi Muhammad menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan tegas. Singkatnya kata Nabi Muhammad, baik riba, zina, dan khamar itu adalah sesuatu yang diharamkan Allah. Larangan berbuat zina ada dalam QS al-Isra: 32. Sementara ayat yang mengharamkan praktik riba dan khamar tertera –berturut-turut- dalam QS Surat al-Baqarah: 278 dan al-Maidah: 90.

 

“Tidak ada kebaikan dalam Islam tanpa shalat,” jawab Nabi Muhammad terkait pertanyaan orang yang meninggalkan shalat.

 

Setelah mendengarkan dakwah dan penjelasan Nabi Muhammad tentang Islam, utusan Tsaqif tersebut akhirnya memeluk Islam. Kendati demikian, mereka mengajukan permintaan kepada Nabi Muhammad. Dikutip buku The Great Episodes of Muhammad saw (Said Ramadhan al-Buthy, 2017), mereka meminta agar Latta, berhala yang pernah disembah penduduk Tsaqif, tidak dihancurkan dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.

 

Nabi Muhammad langsung menolak permintaan itu dengan tegas. Kemudian mereka memangkas waktunya menjadi dua tahun. Nabi juga Menolak. Tidak menyerah, mereka mengajukan lagi permohonan kepada Nabi Muhammad agar Latta tidak dihancurkan hingga sebulan lamanya terhitung sejak mereka tiba di Madinah. Lagi-lagi Nabi menolak.

 

“Jika demikian, pergilan Anda untuk menghancurkannya. Kami tidak mau menghancurkannya,” kata utusan Tsaqif kepada Nabi Muhammad. Mereka akhirnya menyerah. Tidak lagi mengajukan permohonan agar Latta tidak dihancurkan.

 

Nabi Muhammad kemudian mengirimkan utusan yang dipimpin Khalid bin Walid ke Tsaqif untuk menghancurkan berhala Latta di Tsaqif. Diriwayatkan bahwa ketika Latta dihancurkan, kaum perempuan Tsaqif menangis.

 

Ada alasan tersendiri mengapa utusan Tsaqif meminta kepada Nabi Muhammad agar Latta tidak langsung dihancurkan, namun ditunda sebulan, dua tahun, dan tiga tahun sesuai permintaan mereka. Menurut Ibnu Ishaq, utusan Tsaqif khawatir dengan ancaman dari para pemimpin, istri, dan keturunan mereka nanti jika Latta langsung dihancurkan. Mereka juga tidak ingin mencerca kaumnya dengan menghancurkan berhala yang selama ini menjadi sesembahan. Sebaliknya, utusan Tsaqif tersebut ingin agar kaumnya sendiri lah yang nantinya menghancurkan Latta manakala Islam sudah masuk ke dalam hatinya yang paling dalam.

 

Nabi Muhammad memiliki sikap terkait hal ini. Beliau tegas jika sudah menyangkut prinsip Islam. Terlebih, hal itu berkaitan dengan berhala yang selama ini disembah dan menjadi sekutu Allah, Tuhan sekalian alam. Beliau tidak akan memberikan toleransi sedikitpun terkait hal itu. []

 

(A Muchlishon Rochmat)

Selasa, 01 Desember 2020

(Do'a of the Day) 16 Rabiul Akhir 1442H

Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Allaahumma laa sahla illaa maa ja'altahuu sahlan wa an taj'alal hazna idzaa syi'ta sahlaa.

 

Ya Allah, tiada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sedang tanah yang gersang saja apabila Engkau kehendaki dapat menjadi subur.

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 5, Bab 11.

(Ngaji of the Day) Rasulullah SAW Larang Takbir dengan Teriak

Rasulullah SAW pernah menegur rombongan sahabat yang ikut seperjalanan dengannya karena bertakbir terlalu keras serupa teriak. Rombongan Rasulullah SAW ini biasa bertakbir saat melintasi jalan mendaki dan bertasbih ketika melalui jalan menurun.

 

روينا في "صحيح البخاري" عن جابر رضي الله عنه قال: كنا إذا صعدنا كبرنا، وإذا نزلنا سبحنا

 

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami dalam Shahih Bukhari dari Jabir RA, ia berkata, ‘Bila melintasi jalan menanjak, kami bertakbir. Ketika melewati jalan menurun, kami bertasbih,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 190).

 

Ketika tiba di sebuah lembah, sebagian sahabat bertakbir dengan keras seperti teriak. Hal ini menuai teguran Rasulullah SAW. Menurut Rasulullah SAW, Allah yang diseru itu bukan Tuhan yang tuli dan jauh. Dia adalah Tuhan yang maha mendengar dan maha dekat sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim yang dikutip Imam An-Nawawi berikut ini:

 

وروينا في "صحيحيهما" عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم، فكنا إذا أشرفنا على واد هللنا وكبرنا وارتفعت أصواتنا، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: "يا أيها الناس اربعوا على أنفسكم، فإنكم لا تدعون أصم ولا غائبا، إنه معكم، إنه سميع قريب"

 

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari, ia bercerita bahwa bila melewati sebuah lembah, kami saat bersama Rasulullah SAW membaca tahlil dan takbir. Dan suara kami meninggi, lalu Rasulullah SAW mengingatkan, ‘Wahai manusia, bersikaplah yang lembut terhadap diri kalian karena kalian semua tidak sedang menyeru tuhan yang tuli dan ghaib. Dia bersama kalian. Dia maha mendengar, lagi dekat,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 190-191).

 

Ibnu Alan dalam Syarah Al-Adzkar mengatakan bahwa seseorang tidak perlu berteriak dalam melafalkan takbir dan lafal zikir lainnya. Pasalnya, takbir dan zikir secara umum dengan suara yang wajar tanpa teriak menunjukkan adab terhadap Allah atau bahkan makrifat seseorang sebagai keterangan berikut ini:

 

معناه ارفقوا بأنفسكم واخفضوا أصواتكم فإن رفع الصوات يحتاج إليه الإنسان لبعد من يخاطبه ليسمعه وأنتم تدعون الله وليس هو بأصم ولا غائب بل هو سميع قريب وهو معكم أينما كنتم بالعلم والإحاطة ففيه الندب إلى خفض الصوت بالذكر إذا لم تدع حاجة إلى رفعه فإذا خفضه كان أبلغ في توقيره وتعظيمه فإن دعت الحاجة إلى الرفع رفع كما جاءت به الأحاديث ذكره المصنف في شرح مسلم

 

Artinya, “Pengertian ‘bersikaplah yang lembut terhadap diri kalian dan rendahkan suara kalian’ karena mengeraskan suara dibutuhkan seseorang untuk mengajak bicara orang yang jauh agar ia mendengar. Sedangkan kalian menyeru Allah, Tuhan yang tidak tuli dan tidak lenyap. Dia maha mendengar dan dekat. Dia (ilmu dan cakupan-Nya) bersama kalian di mana pun kalian berada. Hadits ini merupakan anjuran untuk merendahkan suara dalam berzikir bila tidak diperlukan mengeraskannya. Bila seseorang merendahkan suaranya, maka itu sangat menunjukkan kerendahan hati dan takzimnya kepada Allah. Tetapi bila diperlukan suara untuk mengeraskannya, maka perlu dikeraskan sebagaimana keterangan sejumlah hadits yang disebutkan oleh penulis (Imam An-Nawawi) dalam Syarah Muslim,” (Lihat Muhammad bin Alan As-Shiddiqi, Al-Futuhatur Rabbaniyyah, [Beirut: Daru Ihyait Al-Arabi, tanpa catatan tahun], juz V, halaman 144-145).

 

Riwayat ini bukan berarti melarang seseorang mengeluarkan suara dalam bertakbir atau zikir secara umum. Takbir boleh dilafalkan dengan suara tinggi, serupa teriak, atau dengan dengan bantuan pengeras suara bila ada hajat syar‘i. Hajat syar‘i antara lain adalah takbiran pada malam Id atau takbir dalam adzan dan iqamah. Tanpa ada hajat syar’i, takbir cukup dilafalkan dengan level suara yang wajar, tanpa teriakan atau suara tinggi. Wallahu a‘lam. []

 

Sumber: NU Online

Buya Syafii: Orang-Orang Baik dalam Hidup Ini

Orang-Orang Baik dalam Hidup Ini

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

 

Saya belum tentu orang baik, tetapi cukup banyak orang baik dari berbagai lapisan, golongan, dan agama yang memperkaya kepekaan kerohanian saya. Saya tak akan menyebut nama mereka, kecuali yang terbaru saja dialami yang menyebabkan mata saya berkaca-kaca dalam keharuan.

 

Pada sekitar pukul 11.00 WIB, 22 November 2020, Prof DR Dr Nyoman Kertia, S.PD.-K.R dari Fakultas Kedokteran UGM, diantar Ketua RW 016 Perum Nogotirto, Yogyakarta, mendatangi kediaman saya dengan menyetir sendiri.

 

Apa yang terjadi? Karena masih takut dengan kedatangan tamu dalam suasana Covid-19 ini, saya hanya menerimanya dari jendela, sesuatu yang sebenarnya tidak patut. Tetapi, Prof Nyoman sangat paham dalam membaca kekhawatiran saya itu.

 

Ketua RW lalu membantu Prof Nyoman meletakkan sebuah bungkusan di teras rumah. Setelah dibuka istri saya, ternyata isinya macam-macam: obat-obat herbal, buah, masker, dan lain-lain.

 

Karena belum punya nomor WA Prof Nyoman, saya mohon Dr Ariffuddin, Sp.OT dari RS PKU Gamping, Yogyakarta, membantu untuk mencarikannya. Hanya dalam tempo 33 menit, alamat WA itu telah saya terima.

 

Dengan alamat ini, saya segera mengontak Prof Nyoman. Maka terjadilah pembicaraan mengharukan batin saya (ditulis lengkap sesuai kaidah ejaan baru bahasa Indonesia).

 

Saya: “Profesor, saya wajib mohon maaf karena saat profesor ke rumah tidak dipersilakan masuk. Maklumlah seorang berusia 85 tahun terasa rentan hadapi Covid-19. Matur nuwun sanget, Prof Nyoman terlalu baik kepada saya, herbal dan buah diantar sendiri. Saya tidak bisa membalas budi mulia profesor.” Kiriman WA saya, pukul 13.30.

 

Tak lama kemudian, pukul 15.38, Profesor Nyoman membalas: “Assalamu'alaikum ww. Semoga Buya dan Ibu selalu sehat serta dalam rahmat dan hidayah-Nya. Saya tiga malam lalu mimpi, Buya mendatangi saya. Dahi Buya berkerut meskipun Buya tampak sangat tenang. Buya berkata perlahan dengan wajah agak sedih pada saya: ‘Saya sudah tua Pak Nyoman. Lalu Buya menghilang’. Saya merasa sangat terharu, saat bangun saya mencucurkan air mata. Pada umur Buya yang begitu uzur, masih begitu banyak tugas berat yang harus Buya jalani. Itulah sebabnya tadi (mumpung hari Minggu), saya menyiapkan obat herbal antirematik yang saya ambil dari pabrik obat saya, vitamin peningkat imun dari apotek saya, masker KN-95, dan lain-lain. Lalu saya tanyakan di mana ndhalem Buya, syukur tadi langsung diantar Pak RW. Buya adalah panutan saya, saya merasakan sebagai pengganti ayah saya yang sudah berpulang. Semoga berkenan menerima sekadar buah tangan wujud bakti saya pada Buya. Semoga Buya dan Ibu selalu sehat. Matur sembah nuwun.”

 

Pukul 16.07, saya balas: “Saya belum tentu orang baik, tapi saya merasakan Profesor Nyoman berhati halus. Nuwun sanget."

 

Pada 16.56, Profesor Nyoman membalas lagi yang menyebabkan saya tersanjung terlalu tinggi, “Saya merasakan, Buya adalah orang yang telah mampu mengatasi dirinya, sebab sepemahaman saya, ketika orang telah mampu mengatasi dirinya maka tidak akan ada lagi yang mampu mengatasinya kecuali Tuhan itu sendiri. Semoga Allah SWT selalu memberkati Buya.”

 

Saya katakan terlalu tinggi, karena saya jauh dari posisi yang dibayangkan itu. Sepanjang ingatan saya, baru sekali bertemu Profesor Nyoman di pesawat Garuda Yogyakarta-Jakarta tahun lalu.

 

Saya bersyukur karena sahabat Hindu Bali ini selalu ingat saya sampai-sampai jadi buah mimpi yang mengesankan itu. Profesor Nyoman bukan orang sembarangan. Di UGM dia punya nama dan posisi terhormat.

 

Hasil penelitiannya di bidang obat-obat herbal, dipatenkan dan dikenal secara nasional. Sebagai profesor, sahabat kita ini tak jarang diminta menguji calon doktor, seperti di Fakultas Kedokteran UI dan Universitas Udayana, Bali.

 

Mengapa artikel seperti ini harus saya tulis? Sebagai seorang yang sudah lanjut usia, kedatangan Profesor Nyoman ke rumah dengan segala buah tangannya, bagi saya punya makna sangat dalam.

 

Semakin pahamlah saya, perbedaan dalam keyakinan tak boleh jadi sekat dalam mempererat persaudaraan sejati antarmanusia karena kemanusiaan itu tunggal adanya. Rumusan saya yang sudah dikenal luas tentang persaudaraan adalah: “Bersaudara dalam perbedaan, berbeda dalam persaudaraan.”

 

Rumusan ini saya bawa ke mana-mana. Buahnya sangat luar biasa: terciptanya persahabatan lintas batas dengan radius luas sekali, sekalipun kadang disalahpahami teman seiman.

 

Rupanya, Profesor Nyoman punya getaran batin yang sama dengan saya sehingga dia datang ke rumah, dengan menyopiri sendiri setelah bermimpi tentang saya yang sudah tua renta. Seperti tersebut di atas, dalam hidup ini banyak orang baik yang saya jumpai.

 

Kebaikan mereka belum tentu bisa saya imbangi. Semua itu, pasti punya tempat tersendiri dalam kamus hidup saya yang takkan pernah terlupakan. Selamat berkarya tanpa henti, Profesor Nyoman Kertia.

 

Obat herbal untuk sendi telah mulai saya gunakan. Matur nuwun sanget! []

 

REPUBLIKA, 24 November 2020

(Ngaji of the Day) Penambahan Doa ‘Rabbighfir li’ ketika Selesai Membaca al-Fatihah

Sudah maklum bahwa hal yang dianjurkan setelah selesai menyelesaikan bacaan surat Al-Fatihah pada saat shalat adalah membaca kata “âmîn”. Hal ini berlaku baik bagi orang yang membaca surat tersebut ataupun bagi orang yang mendengarkan. Anjuran ini didasarkan pada salah satu hadits:

 

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ: {غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} فَقَالَ: «آمِينَ»، وَمَدَّ بِهَا صَوْتَهُ

 

“Diceritakan dari sahabat Wail bin Hujr, ia berkata: “Aku mendengar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ‘Ghairil maghdlûbi ‘alaihim wa ladl-dhâllîn’ lalu Nabi Mengucapkan “âmîn” dengan mengeraskan bacaannya” (HR Tirmidzi).

 

Namun demikian, tidak jarang sebagian dari kita pernah menemui orang yang shalat, ketika setelah selesai membaca al-Fatihah, ia tidak hanya membaca kata “âmîn” saja, tapi juga menambahkan lafadz “rabbighfir lî amin”. Bukankah menyela-nyelai kalimat lain antara akhir surat Al-Fatihah dan kata “âmîn” adalah hal yang menghilangkan kesunnahan membaca “âmîn”? Lalu sebenarnya apakah menambahkan kata “rabbighfir lî” sebelum mengucapkan kata “âmîn” adalah hal yang dapat dibenarkan, atau bahkan dianjurkan?

 

Kata rabbighfir lî sebenarnya merupakan sebuah doa yang memiliki arti “Wahai Tuhanku, semoga Engkau mengampuni (dosa)ku”. Para ulama berpandangan bahwa membaca kata rabbighfir lî setelah selesai membaca surat Al-Fatihah saat shalat adalah hal yang tidak sampai menghilangkan kesunnahan membaca âmîn, sehingga kata âmîn sebaiknya dilafalkan setelah membaca kata tersebut. Hal demikian berdasarkan sebuah hadits Nabi, berikut penjelasan mengenai hal ini dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj:

 

ـ (تَنْبِيهٌ) أَفْهَمَ قَوْلُهُ عَقِبَ فَوْتَ التَّأْمِينِ بِالتَّلَفُّظِ بِغَيْرِهِ وَلَوْ سَهْوًا كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ عَنْ الْأَصْحَابِ وَإِنْ قَلَّ، نَعَمْ يَنْبَغِي اسْتِثْنَاءُ نَحْوِ رَبِّ اغْفِرْ لِي لِلْخَبَرِ الْحَسَنِ «أَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ عَقِبَ الضَّالِّينَ رَبِّ اغْفِرْ لِي آمِينَ»

 

“Penjelasan penting. Ucapan penulis “Hilangnya kesunnahan membaca âmîn dengan mengucapkan kalimat yang lain, walaupun dalam keadaan lupa, seperti dijelaskan dalam kitab al-MAjmu’ dari para pengikut Imam as-Syafi’I, meskipun hanya kalimat yang sedikit” hendaknya dikecualikan penambahan kalimat rabbighfir lî berdasarkan hadits hasan bahwa “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda setelah melafalkan ad-dhallîn adalah doa “rabbighfir lî âmîn” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 2, hal. 49)

 

Lebih lengkap lagi, Syekh Ali Syibramalisi menambahkan tambahan kata “Wa li wâlidayya wa li jamî’il muslimîn” agar doa semakin bertambah lengkap. Dalam kitab hasyiyahnya, beliau menjelaskan:

 

وَيَنْبَغِي أَنَّهُ لَوْ زَادَ عَلَى ذَلِكَ وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ لَمْ يَضُرَّ أَيْضًا

 

“Hendaknya jika menambahkan kalimat Wa li wâlidayya wa li jamî’il muslimîn juga tidak masalah” (Syekh ‘Ali Syibramalisi, Hasyiyah as-Syibramalisi ‘ala Nihayah al-Muhtaj, juz 1, hal. 489).

 

Namun hal yang perlu diperhatikan, anjuran mengucapkan doa “rabbighfir lî” setelah membaca Al-Fatihah ini tidak sama seperti halnya anjuran membaca kata “âmîn” yang disunnahkan baik bagi orang yang membaca surat Al-Fatihah ataupun orang yang mendengarkan, sebab doa “rabbighfir lî” hanya disunnahkan bagi orang yang membaca surat Al-Fatihah saja, sehingga tidak berlaku bagi orang yang mendengarkan, seperti halnya bagi makmum yang mendengarkan Fatihah Imam, ataupun orang yang berada di sekitar orang yang membaca Al-Fatihah. Dalam kitab Hasyiyah I’anah at-Thalibin dijelaskan:

 

وانظر هل الذي يقول ما ذكر القارئ فقط؟ أو كل من القارئ والسامع؟ والذي يظهر لي الأول، بدليل قوله في الحديث المار قال عقب: * (ولا الضالين) * أي قال عقب قراءته * (ولا الضالين) فليراجع

 

“Lihatlah, apakah yang (dianjurkan) mengucapkan lafadz tersebut (rabbighfir lî) adalah orang yang membaca al-Fatihah saja, atau juga bagi orang yang membaca dan mendengarkan? Hal yang tampak jelas bagiku adalah yang pertama (Orang yang membaca saja) dengan dalil dalam hadits yang telah dijelaskan berupa “setelah lafadz Waladdhallien” maksudnya setelah membaca lafadz Waladdhallien, maka perhatikan kembali” (Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 1, hal. 173)

 

Meski demikian, jika ditinjau dari kekuatan hadits yang menjadi landasan anjuran membaca “Rabbighfir lî” rupanya para ulama hadits cenderung berselisih antara mengkategorikan hadits ini sebagai hadits hasan atau dhaif, mengingat salah satu perawi hadits yang menjelaskan mengenai hal ini cenderung didhaifkan (dianggap lemah) oleh para ulama ahli jarh wa ta’dil. Dua rawi yang dianggap bermasalah adalah Ahmad bin ‘Abdul Jabbar al-‘Utharidi dan Abu Bakr an-Nahsyali. Mengenai rawi yang disebutkan pertama, Abu al-Hasan Nuruddin al-Haitsami menjelaskan:

 

وَفِيهِ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ الْعُطَارِدِيُّ، وَثَّقَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُ، وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: رَأَيْتُ أَهْلَ الْعِرَاقِ مُجْمِعِينَ عَلَى ضَعْفِهِ

 

“Di dalam perawi hadits terdapat Ahmad bin ‘Abdul Jabbar al-‘Utharidi, Imam ad-Daruquthni dan Imam lainnya menganggap perawi tersebut tsiqqah (Dapat dipercaya). Imam Ibnu ‘Adhi berkata: “Aku melihat para ulama iraq bersepakat mendlaifkannya” (Abu al-Hasan Nuruddin al-Haitsami, Majma’ az-Zawa’id wa Manba’ al-Fawaid, juz 2, hal. 293).

 

Maka dari itu, tidak bisa dipungkiri bahwa hadits yang menjadi landasan anjuran membaca “âmîn” cenderung lebih kuat dan shahih dibandingkan dengan hadits yang menjadi pijakan membaca kata “rabbighfir lî amin”. Kesimpulan inilah yang dijadikan pedoman oleh salah satu ulama hadits kenamaan Mesir, Syekh Abdullah bin Muhammad al-Ghumari dalam himpunan fatwanya:

 

والحاصل: أن الحديث بدون زيادة: «رب اغفر لي» حسن صحيح كما قال ابن حجر وغيره، وهو بها ضعيف كما قال الحافظ العراقي، فظهر أن لا تناقض بين القولين لاختلاف موردهما وإن كان أصل الحديث واحد، وبالله التوفيق.

 

“Kesimpulannya bahwa hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah tidak menambahkan kata rabbighfir lî dianggap hasan dan shahih, seperti yang dijelaskan Imam Ibnu Hajar al-‘Asyqalani dan Imam lainnya, sedangkan dengan menambahkan kata tersebut dihukumi dhaif, seperti yang diungkapkan al-Hafidz al-‘Iraqi, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada pertentangan diantara dua pendapat karena berbeda-bedanya dasar (hadits) dari keduanya, meskipun asal dari (dua) hadits tersebut tetaplah satu” (Abdullah bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari, Mausu’ah Abdullah al-Ghumari Fatawa wa Ajwibah, juz 16, hal. 181).

 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca kata “âmîn” saja setelah melafalkan surat al-Fatihah ketika shalat dipandang lebih utama, sebab berlandaskan pada dalil hadits yang lebih kuat. Meski begitu, orang yang menambahkan kata “rabbighfir lî” setelah membaca al-Fatihah, tidak bisa kita salahkan begitu saja, sebab amalan ini juga berlandaskan pada dalil yang dapat dijadikan pijakan dan memang terdapat ulama yang menyebut hadits tersebut sebagai hadits yang hasan, sehingga dapat diamalkan, terlebih membaca doa “rabbighfir lî” ini berada pada ranah fadha’ilul a’mal yang hadits dhaif pun juga bisa dijadikan sebagai pijakan, selama bukan berupa hadits maudlu’ dan hadits munkar. Wallahu a’lam. []

 

Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember

Nasaruddin Umar: Membaca Trend Globalisasi (9) Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Penggunaan Angka Perhitungan

Membaca Trend Globalisasi (9)

Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Penggunaan Angka Perhitungan

Oleh: Nasaruddin Umar

 

Selain kalender Hijriyah yang merupakan kalender khusus yang ditawarkan peradaban Islam ke dalam dunia global, juga penggunaan angka perhitungan yang lebih dikenal dengan angka Arab. Nabi Muhammad Saw sudah memberikan isyarat untuk menggunakan angka perhitingan yang lebih praktis tetapi wujud formal ide Nabi direalisasikan oleh Al-Khawarizmi (780-850). Ia dikelnal di Barat dengan berbagai nama seperti al-Cowarizmi, al-Ahawizmi, al-Karismi, al-Goritmi, al-Gorismi dan beberapa cara ejaan lagi. Ia dilahirkan di Bukhara, Ketika usianya masih muda ia pernah mengabdi pada pemerintahan Khalifah al-Ma'mun, terutama di Baitul Hikmah, sebuah lembaga akademik paling bergengsi saat itu di Baghdad. Ia bekerja dalam sebuah observatorium yaitu tempat belajar matematika dan astronomi. Al-Khawarizmi juga dipercaya untuk memimpin perpustakaan khalifah.

 

Angka perhitungan yang sudah popular saat itu ialah angka Romawi. yang sangat tidak praktis. Jika kita akan menuliskan tanggal 8-8-1998 maka kita harus menulisnya: VIII-VIII- MCMLXXXVIII. Dengan adanya angka Arab-Islam maka dengan mudah kita memainkan perhitungan yang serumit apapun dengan mudah bisa diselesaikan. Komputer canggih sekalipun tidak bisa memainkan angka-angka Romawi selincah dengan angka-angka atau bilangan Arab. Al-Khawarizmi menyederhanakan simbol angka dengan: 0,1,2,3,4,5,6,7,8, dan 9. Untuk penambahan ke depan tinggal mengombinasikan angka-angka yang diinginkan. Bahkan kita juga bisa menghitung mundur di belakang angka nol (0) sekalipun dengan hanya menambahkan symbol minus (-) di belakang angka-angka yang diinginkan, misalnya -3013. Anggka-angka mikro yang lebih rigit pun dapat diungkapkan dengan menggunakan angka nol (0), misalnya 0,1 atau 00,00001, dll. Untuk menghindari perpanjangan penulisan angka dapat digunakan symbol pangkat yang diinginkan di sudut atas sebuah angka.

 

Bandingkan dengan angka romawi: I,II,III,IV,V,VI,VII,VIII, IX,X, XL=40, L=50, LX=60, LXX=70, XC=90, C=100, CD=40, D=500, DCLXVI=666, CM=900, M=1000, I)) (dobel C terbalik)=5000, dan seterusnya. Jika kita melibatkan perhitungan triliunan, maka pasti kita semua akan repot membaca angkanya. Denagn adanya angka praktis yang ditemukan oleh Al-Khawarizmi, maka matematika dan aritamatika semakin berkembang. Perkembangan ilmu hitung ini merubah secara drastic peradaban manusia. Ilmu fisika yang paling berjasa dengan hadirnya angka-angka praktis tersebut.
Ia juga menemukan Secans dan Tangen dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi. Ia pernah memperkenalkan angka-angka India dan cara-cara perhitungan India pada dunia Islam. Beliau juga merupakan seorang penulis Ensiklopedia dalam berbagai disiplin. Al-Khawarizmi adalah seorang tokoh yang pertama kali memperkenalkan aljabar dan hisab. Banyak lagi ilmu pengetahuan yang beliau pelajari dalam bidang matematika dan menghasilkan konsep-konsep matematika yang begitu populer yang masih digunakan sampai sekarang. Karena itu, dunia berhutang budi terhadap Al-Khawarizmi. Ia dikenal bukan hanya sebagai Matematikawan tetapi juga ahli di dalam Ilmu Fikih sebagaimana ulama-ulama lainnya. Jenis keilmuan yang dikuasainya ialah Matematika, Aritmatika, Geometri, Kimia, Fisika, Observatorium, Ilmu Falak, Logika, Filsafat, Sejarah Islam, dan Musik.


Dari kualitas tokoh Al-Khawarizmi ini mengindikasikan bahwa umat Islam semenjak masa awal sudah lebih siap menghadapi globalisasi. Sayang sekali dinia Islam pernah mengalami sejarah kelam saat para penguasanya mengalami krisis kepemimpinan. Sendi-sendi kepemimpinan yang pernah dicontohkan Nabi ditenggelamkan oleh selerah rendah yang mengakibatkan dunia Islam takluk di bawah keperkasaan dunia Barat yang bangkit dalam waktu cepat. Mapukan dunia Islam mengambil alih posisi sebagai trend setter globalisasi? Kita tunggu sejarah yang sedang berproses. Semoga dunia Islam kembali mengulang sejarah emasnya di masa silam. []

 

DETIK, 15 Agustus 2020

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(Ngaji of the Day) Kisah Nabi Muhammad dan Sahabat Disabilitas Amr bin Al-Jamuh

“Demi Dzat yang diriku yang ada pada tangan-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada orang yang jika ia bersumpah, ia pasti melakukannya. Di antara mereka adalah Amr al-Jamuh. Dan sungguh aku telah melihatnya menginjakkan kakinya yang pincang di surga,” kata Nabi Muhammad dalam hadits riwayat Ibnu Hibban.

 

Nabi Muhammad adalah suri teladan bagi umat Muslim dalam hal memperlakukan orang berkebutuhan khusus (disabilitas). Beliau memperlakukan mereka dengan perlakuan yang sangat baik dan penuh hormat. Tidak membedakan mereka dengan sahabatnya yang normal secara fisik.

 

Hal ini terlihat dari sikap Nabi Muhammad kepada Amr bin al-Jamuh sebagaimana tertera dalam buku Rasulullah Teladan Untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011). Amr adalah seorang sahabat yang pincang. Ia memiliki empat orang anak laki-laki yang mengikuti beberapa peperangan bersama Nabi Muhammad.

 

Suatu ketika, menjelang Perang Uhud, Amr bin al-Jamuh mengutarakan keinginannya untuk ikut bergabung dengan pasukan umat Muslim melawan kaum musyrik Makkah. Namun keempat anaknya menghalanginya, mengingat kondisi bapaknya yang demikian. Tidak terima dengan itu, Amr bin al-Jamuh mendatangi Nabi Muhammad. Ia mengadu kepada Nabi bahwa alasan dirinya ingin berperang adalah agar kakinya yang pincang bisa menginjak surga.

 

“Sesungguhnya anak-anakku ingin menahanku untuk keluar bersamamu pada perang (Uhud) ini. Padahal demi Allah, aku benar-benar ingin kakiku yang pincang ini dapat menginjak surga,” kata Amr bin al-Jamuh kepada Nabi Muhammad.

 

Nabi Muhammad merespons aduan Amr bin al-Jamuh tersebut dengan jawaban yang menarik. Jawaban yang diberikan kepada Amr berbeda dengan anaknya. Kepada Amr, Nabi mengatakan bahwa Allah sudah memaafkannya sehingga ia tidak memiliki kewajiban lagi untuk ikut berperang. Sementara kepada anak-anaknya Amr, Nabi mengimbau agar tidak melarang bapaknya tersebut.

 

“Hendaklah kalian jangan menghalanginya, semoga Allah menganugerahinya mati syahid,” kata Nabi kepada anak-anak Amr bin al-Jamuh.

 

Amr bin al-Jamuh akhirnya ikut berperang bersama dengan Nabi Muhammad dan pasukan umat Muslim. Ia kemudian terbunuh dalam Perang Uhud. Setelah itu, Nabi bersabda bahwa dirinya melihat Amr bin al-Jamuh menginjakkan kakinya yang pincang di surga.

 

Nabi Muhammad juga begitu perhatian kepada sahabatnya yang sedang sakit, dengan mengunjungi dan mencurahkan kasih sayangya, sehingga mereka dan keluarganya merasa bahagia. Suatu ketika, Nabi Muhammad dan beberapa sahabatnya menjenguk Sa’ad bin Ubadah yang sedang sakit. Beliau mendapati banyak orang ketika memasuki rumah Sa’ad bin Ubadah.

 

Nabi bertanya apakah Sa’ad bin Ubadah sudah meninggal. Keluarga Sa’ad menjawab bahwa Sa’ad bin Ubadah belum meninggal. Nabi kemudian menangis. Para sahabat yang ketika itu berada di rumah Sa’ad bin Ubadah juga ikut menangis setelah melihat Nabi menangis.

 

Jika ada sahabatnya yang sakit, Nabi Muhammad selalu mendoakan dan memberikan kabar gembira kepada mereka. Kata Nabi, mereka yang sakit akan memperoleh pahala sebagai hasil dari penyakit yang dideritanya.

 

“Bergembiralah wahai Ummu al-‘Ala, karena sakitnya seorang Muslim, Allah jadikan penghapus kesalahan-kesalahannya sebagaimana api menghilangkan kotoran pada emas dan perak,” kata Nabi Muhammad menjenguk Ummu al-‘Ala yang tengah sakit. []

 

(Muchlishon Rochmat)

Senin, 30 November 2020

(Do'a of the Day) 15 Rabiul Akhir 1442H

Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Yaa maalika yaumid diin, iyyaaka a'budu wa iyyaaka asta'iinu.

 

Wahai Tuhan Penguasa hari kemudian, hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan.

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 5, Bab 8.