Jumat, 02 Januari 2015

Kang Sobary: Biksu Tak Berjubah



Biksu Tak Berjubah
Oleh: Mohamad Sobary

Sitor pernah muda. Dan seperti anak muda pada umumnya dia punya ambisi besar. ”Taklukkan Kota Paris / mimpiku dulu /angan-angan muda: menggetarkan langit!” Tapi dia tahu, impiannya dianggap sepi.

Dan langit sama sekali tak tergetar. Dia berkata dengan datar, mungkin malu, mungkin heran, mungkin kecewa: ”Tapi langit bisu saja”. Langit menganggap tak penting kehadiran Sitor di dunia ini? Ini bait pertama puisinya, yang berjudul Biksu Tak Berjubah, yang kemudian menjadi judul buku kumpulan puisinya yang diterbitkan Komunitas Bambu pada 2004, sepuluh tahun lalu, ketika Sitor berusia 81 tahun.

Penyair dari Danau Toba, yang tangkas sekali berdebat ini lahir pada 2 Oktober 1924. Kini dia pergi untuk takkan kembali pada usia 91 tahun lebih dua bulan. Dia pergi seperti begitu saja, dan kita tak bisa menemuinya lagi.

Kita pun tak akan lagi mendengar dia membaca puisinya dengan nada yang begitu khas: bergumam pelan, tapi tekanan-tekanan suaranya, pilihan-pilihan nadanya, untuk segi-segi penting dalam kandungan puisinya sangatlah Sitor. Penyair lain tidak begitu. Tiap membaca puisi, Sitor tidak berdeklamasi, sebagaimana diajarkan guru-guru di sekolah, dengan ”acting”, dengan mimik yang dipas-paskan dengan nada, dan semangat dalam puisi, tapi tidak pernah pas.

Sitor membaca puisi seperti kakek membacakan cerita pada cucunya. Gumam dibuat jelas, semangat diberi tekanan suara dari dalam jiwanya. Dan bacaan berakhir seperti film Eropa yang bersifat anti-hero. Berakhir duka, atau suka, bertanya, atau menjelaskan, bagi Sitor sama saja. Pendek kata, Sitor membaca puisi seperti gaya dia membaca kitab suci.

Sabda, berupa perintah, atau larangan, atau sejarah, dibaca dengan nada sama, tapi getaran jiwanya berbeda, seperti ketika berkata: ”Tapi langit bisu saja” di atas. Kemudian disambungnya: ”Paris pun jadi tua/aku dewasa.” Sejarah tak berarti guncangan, dan bukan pula kegetiran. Dalam dewasanya itu dia ”pasrah”, tanpa kecewa, tanpa protes. Dengan kepasrahan ”seperti biksu tua/berkemas/masuk biara mati raga.”

Di sini, kita tidak tahu mengapa, menjelang titik puncak kematangan rohaniah, dengan kepasrahan totalnya, tiba-tiba Sitor mementahkan diri. Kelihatannya dia tidak tuntas memasuki dunia rohani. Cintanya ttanpa dalam imajinasinya tpada tanah air, Nusantara, ditonjolkan secara naif, di saat seharusnya dia bicara tentang kesejatian cinta, seperti layaknya seorang biksu, ”tanpa jubah...”, karena ”jubahnya” berupa cinta.

Tapi mengapa jubah Sitor berupa cinta, yang bukan wujud kesejatiannya, melainkan pada benda, pada rupa: Nusantara? Apa perlunya Nusantara, tanah air, di saat kita sudah berhadapan dengan apa yang lebih sejati, yang tak lagi perlu diuji, karena dia kebenaran tertinggi?

”Biksu tanpa jubah”, yang dalam situasi meditatif tertinggi, ketika ada suara tak didengar, ada bau tak dihirup, ada rupa tak dilihat, dan kita hanya terpesona pada SATU esensi, yang tertinggi, mengapa kita balik ke bumi, dan sibuk mengurus Nusantara, yang dalam konteks rohaniah itu tak penting, tak menarik sama sekali, dan tak relevan? Ah, biarlah, Sitor yang tahu jawabnya.

Dia, yang kini dalam perjalanan ”pulang”, biarlah berjalan lempang, ke ”rumah” sejatinya, dan semoga dia lupakan Nusantara, supaya jalannya tak usah membelok-belok. Ya, tapi bagaimana bisa kita mencelanya? Betul, saya memang tak pernah meragukan cintanya pada tanah air.

Dia ini seorang nasionalis bukan karena warna partainya, bukan karena aliran politiknya, melainkan karena jiwanya yang utuh, penuh, cinta pada tanah air itu. Tak mengherankan, dalam batas dunia ini dan dunia sana, yang dia ingat Nusantara. Pernah dia mau menginap di rumah saya. Kamar sudah saya siapkan beberapa lama sebelumnya, tapi mendadak dia membatalkan lewat seorang teman.

Dia bilang: ”Katakan pada Sobary, buat orang seusia saya, cinta tanah air ternyata bisa dikalahkan oleh cinta pada istri.” Itu kurang dari sepuluh tahun lalu, ketika istrinya, Ibu Barbara, sakit. Dan saya memahaminya. Istri sakit pun diperhadapkan pada persoalan cinta tanah air. Kita tahu, atau merasakan, dia ”menjerit” ketika cinta tanah air itu dikalahkan oleh cinta pada istri. Kalau watak nasionalis itu hanya gincu, dan sejenis ”wedhak pupur ” niscaya peduli apa tiap saat bicara tanah air? Sitor merantau jauh.

Tapi hatinya di tanah Batak, di Toba tercinta. Seekor burung boleh terbang tinggi. Tapi dia mana dia hinggap bila bukan di kubangan? Dan apa kubangan di sini, bila bukan sekeping tanah, tempat ketika darah pertamanya tumpah, disusul hirupan napas pertama, di udara terbuka, di tanah airnya sendiri? Di kantor saya, dia mau membaca sesuatu, tapi dia tak memakai kaca mata.

Dia minta kacamata saya, dan saya ”pinjamkan”. Dia pun membaca dengan kacamata itu. Sampai akhir. Kemudian kacamata dimasukkan ke saku kiri bajunya, dengan cara begitu rupa. ”Kacamata,” kata saya, sambil mengulurkan tangan kanan, untuk memintanya. ”Saya membaca pakai apa kalau ini kau minta?” katanya kalem, kemudian berdiri, seolah tak terjadi apa-apa.

Saya merangkulnya dari belakang, dengan perasaan bahwa hal itu luar biasa, dan saya menerimanya tanpa protes. Bung Sitor, saya mengenangmu, dengan kehangatan, demi apa yang mungkin bernama kekaguman, atau persahabatan, yang tak mungkin saya berikan pada banyak orang. Kenangan ini, dilihat dengan cara lain, bisa berarti seolah saya mengkritikmu.

Tapi persetan apa kata orang, karena bukankah kita sama-sama mengerti apa maknanya? Bung, selamat jalan. Biksu yang tak lagi berjubah, memang karena tak memerlukan jubah. Di sana, buat Bung, ada jubah yang lain. Penyair yang nasionalis, senasionalis-nasionalisnya pun, dalam posisi Bung sekarang, tak memerlukan lagi tanah air, seperti Nusantara ini, karena di sana, untuk Bung ada tanah air tersendiri.

Ada jubah, bagi yang melupakan jubah lahiriah. Ada tanah air, bagi yang melupakan tanah airnya yang dulu, karena tanah air yang akan datang, lebih otentik, lebih sejati. Dan jubahmu, di sana lebih bagus. Biksu tak berjubah, bukan karena tak punya jubah. []

KORAN SINDO,  23 Desember 2014
Mohamad Sobary  ;   Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi; Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan

Azyumardi: Bencana dan Politik



Bencana dan Politik
Oleh: Azyumardi Azra

BENCANA demi bencana masih melanda Indonesia. Julukan Indonesia sebagai ring of fire (cincin api) mungkin tidak memadai lagi. Karena itu, Phil Sylvester, editor Travel Insight, menyatakan, ”Indonesia telah selalu menjadi hotbed of earthquake activity, but in the past few years there have been more deadly quakes than usual.”

Mempertimbangkan gejala itu, jangan-jangan julukan Tanah Air kita harus diganti jadi ring of disasters, lingkaran bencana. Ini terlihat, misalnya, pada bencana longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah, yang menewaskan sekitar 85 orang dan mungkin ratusan orang lainnya hilang tertimbun longsoran.

Meski kita selalu berdoa agar bencana tidak terus melanda Indonesia, hampir bisa dipastikan musibah tetap bakal datang. Banyak lokasi alam Indonesia secara alamiah sangat rawan bencana. Namun, kian merosotnya kualitas lingkungan hidup karena perusakan hutan atau penggarapan lahan rawan longsor mengakibatkan bencana longsor dan banjir bandang semakin sering.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sampai menjelang bencana di Banjarnegara, pada 2014 tercatat 248 korban bencana longsor. Pada 2011, menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, terjadi 452 longsor dan banjir bandang, menewaskan 371 jiwa; dan 2010 dengan korban 635 orang. Menurut Prevention Web, pada 1980-2010 rata-rata 6.209 setiap tahun orang tewas karena berbagai bentuk bencana.

Jumlah kerugian harta benda akibat bencana tidak sedikit. Menurut Bappenas, dalam 10 tahun terakhir, jumlah kerugian akibat bencana Rp 162 triliun, sedangkan menurut data Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) Rp 400 triliun. Berhadapan dengan bencana silih berganti dengan jumlah kerugian begitu besar, pemerintah, khususnya melalui BNPB dan Kementerian Sosial, sering terlihat gagap. Sering pula bantuan tak bisa cepat disalurkan karena hambatan birokrasi dan administrasi.

Namun, Indonesia beruntung karena solidaritas masyarakat masih kuat untuk meringankan beban warga. Banyak warga spontan turun tangan membantu. Selain itu, organisasi dan kelompok filantropi yang bergerak dalam penyantunan korban bencana (relief) juga terlihat cepat bergerak memberikan berbagai bentuk kontribusi berupa dana infak, sedekah, dan sumbangan lain dari masyarakat. Kelas menengah yang terus bertumbuh menjadi tulang punggung (backbone) filantropi Indonesia memungkinkan mereka bergerak lebih aktif dan lebih cepat.

Bagaimana hubungan bencana dengan politik? Dalam pengalaman Indonesia, bencana bisa menjadi momentum untuk perdamaian dan rekonsiliasi politik di Aceh setelah konflik berdarah-darah selama beberapa tahun (1976-2005). Kasus ini terlihat dalam bencana tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, yang tahun ini genap 10 tahun. Bencana dahsyat yang menewaskan sekitar 160.000 jiwa itu memaksa Pemerintah Indonesia berunding dengan pimpinan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang menghasilkan Persetujuan Helsinki (15 Agustus 2005). Dengan begitu, bencana tsunami Aceh menjadi blessing in disguise bagi NKRI.

Bencana demi bencana di Tanah Air juga mengundang parpol atau elite politik ”turun tangan”. Gejala ini tidak unik di Indonesia, tetapi juga bahkan di AS. David G Twigg dalam The Politics of Disaster: Tracking the Impact of Hurricane Andrew (2012) menyimpulkan, bencana alam sejak dari gempa sampai tornado dapat meninggalkan bekas tidak terhapuskan dalam karier politik seseorang. Kecepatan figur politik dalam turut menangani korban bencana dapat memberikan manfaat baginya sebab dengan begitu ia telah melakukan ”kampanye tanpa kampanye”.

Keterlibatan elite politik dan parpol di Tanah Air mewujud dalam pemberian bantuan berbarengan dengan pemasangan bendera parpol masing-masing di wilayah terlanda dan terdampak bencana. Keadaan ini kadang-kadang mengesankan adanya ”perang bendera” di antara parpol berbeda. Namun, keadaan agak berbeda dengan bencana longsor Banjarnegara. Tidak terlihat banyak bendera parpol meski sebenarnya ada di antara mereka yang juga turun ke sana.

Apakah gejala ini mengindikasikan meningkatnya ”sensitivitas” parpol untuk tidak ”memanfaatkan” bencana guna meningkatkan popularitas mereka, seperti sering dikritik banyak kalangan. Atau, boleh jadi juga karena memang tidak banyak parpol yang datang ke daerah bencana. Boleh jadi hal terakhir ini yang lebih benar. Hal ini terkait disorientasi yang dialami banyak parpol setelah Pemilu 2014. Parpol-parpol terbelah dalam dua kubu yang terlibat dalam kontestasi dan kegaduhan politik yang tak kunjung usai. Boleh jadi, jangankan memikirkan dan turut turun tangan dalam menyantuni korban bencana, DPR saja, tempat mereka bertarung, terlihat mengalami kemacetan.

Lalu, ada lagi konflik internal seperti yang terus membara dalam PPP dan Partai Golkar. Pembelahan dan friksi yang entah sampai kapan menunjukkan parpol lebih sibuk dengan dirinya daripada menyantuni korban bencana yang merupakan konstituen mereka. Keadaan ini patut disayangkan. Alangkah eloknya jika sumber daya manusia dan keuangan yang dimiliki elite politik dan parpol digunakan untuk kemaslahatan warga, khususnya korban bencana. Sudah saatnya elite politik dan parpol meninggalkan kegaduhan internal dan eksternal sehingga dapat lebih bermanfaat bagi negara-bangsa. []

KOMPAS,  23 Desember 2014
Azyumardi Azra  ;  Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta

Mahfud MD: Belokan Pluralisme Gus Dur



Belokan Pluralisme Gus Dur
Oleh: Moh Mahfud MD

Tiga hari lagi, genap lima tahun kita ditinggalkan oleh Presiden Republik Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, yang wafat pada 30 Desember 2009.

Di Indonesia, kalau orang berbicara Gus Dur, tak bisa dilepaskan dari gerakan pluralisme sebagai bagian penting dari paham kebangsaan kita. Tak kurang dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengatakan bahwa Gus Dur adalah Bapak Pluralisme Indonesia, seperti yang diucapkan pada sambutan resminya saat pemakaman Gus Dur di kompleks Ponpes Tebuireng, Jombang.

Gus Dur memang gigih memperjuangkan pluralisme untuk merawat Indonesia. Bagi Gus Dur, pluralisme adalah fakta dan keharusan karena perbedaan primordial antarmanusia ke dalam berbagai agama, ras, suku, daerah, bahasa takmungkin dihindari. Orang yang beriman pasti yakin bahwa Tuhan sendirilah yang menciptakan perbedaan itu.

Maka itu kita harus mau hidup di dalam perbedaan primordial, tetapi bersatu dalam kesamaan tujuan berbangsa dan bernegara. Konsekuensinya, bangsa ini harus menerima Pancasila sebagai dasar negara untuk kemudian perbedaan-perbedaan yang niscaya ada di dalam masyarakat yang plural harus diatur dengan prinsip dan sistem demokrasi.

Di dalam demokrasi harus ada persamaan dan kebebasan tetapi harus dikawal dengan tegaknya hukum. Itulah sebabnya pluralisme tidakdapatdipisahkandari kedaulatan rakyat (demokrasi), kedaulatan hukum (nomokrasi) dan ketaatan pada konstitusi sebagai dasardasar pengaturan berdemokrasi dan bernomokrasi.

Bagi Gus Dur, mengonsepkan pluralisme tak perlu rumit-rumit, apalagi sampai menggeser debat konsep ke debat kusir. Kata Gus Dur, bayangkan saja kita hidup di sebuah rumah besar yang banyak kamarnya dan kita mempunyai kamar sendiri-sendiri.

Saat di dalam kamar maka masing-masing pemilik kamar bisa menggunakan dan merawat kamarnya sendiri-sendiri serta boleh berbuat apa pun di dalamnya, tetapi ketika ada di ruang keluarga atau di ruang tamu maka kepentingan masing-masing kamar dilebur untuk kepentingan rumah bersama.

Penghuni rumah, tanpa mempersoalkan asal kamar masing-masing, harus bersatu merawat rumah itu dan mempertahankannya secara bersama-sama dari serangan yang datang dari luar. Begitulah gambaran pluralisme. Kita mempunyai rumah besar NKRI yang sudah dibangun dengan fondasi kokoh Pancasila dan yang terdiri dari kamar-kamar primordial.

Kita harus bersatu menjaga rumah NKRI ini tanpa kehilangan identitas primordial masing-masing. Tentu saja sangat banyak pejuang pluralisme lainnya di Indonesia, tetapi Gus Durlah yang paling efektif memperjuangkannya sebab dia mempunyai puluhan juta umat NU yang tawadu terhadapnya. Terlebih lagi keulamaan dan intelektualitas Gus Dur sangat mumpuni.

Mengapa dan sejak kapan Gus Dur meyakini dan kemudian memperjuangkan pluralisme? Pertanyaan ini penting karena kalau mau jujur sebenarnya pada awalnya NU maupun Gus Dur berada dijalur perjuangan Islam eksklusif. Pada tahun 1945 di Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tokoh NU Wachid Hasyim berada di barisan kelompok pejuang dasar negara Islam bersama Agus Salim, Ki Bagoes Hadikusumo, dan tokoh-tokoh lain yang kemudian ikut aktif menyusun Piagam Jakarta.

Wachid Hasyim pun membantah ketika Hatta menyatakan bahwa perubahan Piagam Jakarta menjadi Pembukaan UUD 1945 sudah di-mintakan persetujuan terhadap empat tokoh Islam, termasuk dirinya. Dalam perjuangan di Konstituante, NU berada dalam satu barisan dengan Masyumi memperjuangkan dasar Islam bagi Indonesia.

BPUPKI dan Konstituante memang forum resmi untuk memperjuangkan dasar negara secara sah, sehingga pilihan politik NU pun saat itu adalah sah. Gus Dur sendiri saat mudanya adalah pengikut paham al-Ikhwan al-Muslimun satu gerakan politik Islam yang sangat radikal di bawah pimpinan Hasan al Banna.

Menurut Syafii Anwar pada 1963 Gus Dur sempat membuka cabang al- Ikhwan al-Muslimun sendiri di Jombang tetapi Greg Barton mengatakan, Gus Dur belum sempat mendirikan cabang Ikhwan meskipun memang penganut politik gerakan tersebut. Keduanya mengonfirmasi bahwa Gus Dur adalah penganut Ikhwan.

Yang kita tahu, sepulang dari studinya di Mesir dan Irak, Gus Dur tampil sebagai penganut inklusivisme Islam serta pejuang pluralisme yang paling berpengaruh di Indonesia. Bahkan ketika masih banyak kaum muslimin menolak asas tunggal Pancasila, pada tahun 1984, Gus Dur berduet dengan K. Achmad Sidiq menyatakan bahwa NU menerima Pancasila sebagai asas kehidupan berbangsa dan bernegara. Tak banyak yang tahu, bagaimana dan kapan belokan dari eksklusivisme ke pluralisme itu terjadi.

Saya sendiri hanya pernah mendengar cerita kecil. Pada suatu hari di tahun 1970-an Gus Dur mampir ke perpustakaan di Kota Fes, Maroko. Setelah hampir seharian membaca sebuah buku Gus Dur menangis tersedu-sedu sampai menarik perhatian petugas perpustakaan yang kemudian menanyakan kalaukalau dirinya sakit dan perlu bantuan.

Gus Dur bercerita bahwa di perpustakaan itu dia membaca karya filosof Yunani Aristoteles, “Etika Nikomakean”. Dari buku itu dirinya menemukan filsafat yang sangat tinggi tentang manusia, masyarakat, dan negara yang dasar-dasarnya juga ada di dalam Quran dan Sunah Nabi.

 Di dalamnya ada penjelasan tentang asal-muasal (di dalam Islam disebut fitrah) manusia, adanya perbedaan-perbedaan, dan tuntutan etik yang harus dilaksanakan oleh manusia. Tentu saja, kisah buku Ethika Nomkeia di Fes itu hanya setetes peristiwa yang ikut membangun falsafah pluralisme Gus Dur. Secara akademis, kita masih ingin tahu lebih rinci tentang kapan dan bagaimana belokan ke pluralisme itu terjadi. Kami selalu berdoa untukmu, Gus. []

KORAN SINDO,  27 Desember 2014
Moh Mahfud MD  ;   Guru Besar Hukum Konstitusi

(Ngaji of the Day) Setiap Ayat Quran adalah Penghormatan dan Pengagungan atas Nabi



Setiap Ayat Quran adalah Penghormatan dan Pengagungan atas Nabi

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wasshalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa'ala Aalihi Washahbihi Waman Walaah amma ba'du…

Didengar dari seorang Syaikh yang 'aliim dan salih – semoga Allah memeliharanya dengan pemeliharaan yang terbaik – dalam suatu kesempatan bersamanya di suatu sore dan malam hari di kota Damaskus yang terberkati:

"Tak ada satu ayat pun dalam Qur'an Suci melainkan pasti ia berisi penghormatan (ta'zim) dan penghargaan yang tinggi (tawqir) atas Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Sebagai contoh, ketika kita membaca, "Wa man ahsanu qawlan mimman da'aa ila-Allahi wa 'amila saalihan wa qaala innanii mina l-muslimiin" "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata:"Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri" (QS 41:33). Ayat ini mengacu pada Nabi (s), karena ialah (yang memiliki) pembicaraan terbaik dan petunjuk terbaik, dan ia pulalah Muslim pertama yang diciptakan (Allah) menurut sekelompok Ahl ul-Haqaiq (Shiddiqin). Sebagai tambahan, Allah Ta'ala berfirman pula: "Inna akramakum 'inda-Laahi atqaakum" "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu" (QS. 49:13) dan telah dimafhumi pula bahwa Nabi (s) –lah Yang Paling Bertaqwa sebagaimana beliau (s) sendiri telah menjelaskan secara eksplisit dalam hadits beliau (s). Jadi, dari ini semua kita bisa pahami bahwa beliau-lah ciptaan terbaik di Hadirat Allah SWT. Ketika dalam hadits qudsi dinyatakan: "Wahai Anak-anak Adam, ketahuilah seandainya seluruh manusia di antara kalian dan seluruh jinn, dan seluruh malaikat berkumpul menjadi satu dengan qalbu dari manusia terbaik di antara kalian…", qalbu itu adalah qalbu Nabi Muhammad (s)."

"Artinya, sesuai dengan hal tersebut, maka setiap jama'ah atau majelis yang berkumpul untuk melantunkan salawat dan salam atas Nabi (s) adalah pula suatu majelis Qur'aniy, karena mereka mendedikasikan majelisnya bagi ia yang dipuji dalam ayat demi ayat dalam Quran Suci."

"Maqam Ihsan adalah maqam kedekatan kepada Nabi (s) menurut huruf dalam ayat Qur'an. Karena Allah Ta'ala telah berfirman: "Inna rahmat Allahi qaribun min al-muhsinin"- "Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. 7:56) tanpa meletakkan qaribun dalam bentuk femininnya (qariibatun) sekalipun rahmah adalah bentuk feminin (mu'annats), karena dalam hakikatnya rahmah yang disebut itu adalah Nabi (s), sebagaimana secara eksplisit disebut dalam ayat: "wa ma arsalnaka illa rahmatan lill`alamin"- "Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) melainkan sebagai rahmah bagi seluruh alam." (QS. 21:107)

"Para Nabi dan Awliya' (kekasih Allah) serta mu'min (orang beriman) tidaklah mati dengan cara seperti yang tertangkap oleh indera biasa, karena doktrin Ahl as-Sunna menyatakan bahwa ruh tidaklah hancur atau lenyap, melainkan berpindah menuju lain tempat dan memasuki suatu keadaan tak terlihat setelah sebelumnya dibusanai dengan keterlihatan selama masa hidupnya di muka bumi. Saat kematian, yang terjadi tidak lain adalah suatu perpindahan dari wujud barzakhi [makna literal barzakh: perbatasan, red] yang satu ke bidang lain dari wujud barzakhi. Tidak pula ruh-ruh tersebut terkungkung dalam suatu daerah dari kubur atau makam mereka, melainkan sebagaimana Imam Malik berkata [dalam Muwatta']: "Telah sampai (diriwayatkan) pada kami bahwa ruh-ruh Mu'min (orang-orang yang beriman) datang dan pergi dengan bebas." Dan ini pun telah dikonfirmasi oleh huruf dan ayat dalam Qur'an Agung dalam ayat: "farawhun wa rayhanun wa jannatu na`im" (QS. 56:89) [yaitu "maka dia memperoleh rezki serta surga kenikmatan."] karena akar kata dari rawh yaitu rawaha berarti untuk melakukan perjalanan dan untuk pergi."

"Nabi (s) suatu saat pernah terlihat oleh seorang awliya' di atap Al-Azhar di Mesir. Sang wali berkata pada beliau (s): "Mereka mengatakan bahwa Anda telah mati." Nabi (s) menjawab: "Semua dapat melihat diriku dan berbicara padaku kecuali mereka yang terhijab." Dan para awliya' melihat, berbicara dengan, mendengar, dan mencium bau Nabi (s). Artinya, adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Nabi (s) telah wafat, namun yang lebih tepat adalah kita katakan bahwa beliau telah meninggalkan keadaan terlihat, beliau telah terhijab dari diri kita."
Tak Satupun Tersembunyi dari Nabi (s)

"Lebih jauh, Nabi (s) memiliki ilmu atas apa pun yang ada dan mengetahui alam semesta yang tercipta ini dengan cara yang sama seperti seseorang mengetahui seluk beluk kamar di mana ia duduk di dalamnya. Tak ada yang tersembunyi bagi beliau (s). Ada dua ayat Qur'an Suci yang menegaskan hal ini, yang pertama adalah "Fa kayfa idzaa ji'na min kulli ummatin bi-syahiidin wa ji'na bika 'alaa haa-ulaa-i syahiidan" "Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)." (QS 4:41) dan yang lain adalah "Wa kadzaalika ja'alnaakum ummatan wasathan litakuunuu syuhadaa' 'alan-Naasi wa yakuuna ar-Rasuulu 'alaykum syahiidan" "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat pertengahan (yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu" (QS 2:143) tak mungkin pula Nabi (s) dipanggil sebagai seorang saksi atas apa yang tidak ia ketahui atau tidak ia lihat. Kami telah sebutkan di sini ayat-ayat Quran dan bukannya hadits, bahwa 'amal dan perbuatan Ummat ditunjukkan kepada Nabi (s) karena ada segelintir orang yang menolak kenyataan ini. Dan bahkan mereka menolak ayat-ayat ini pula. Dan ini adalah karena kebodohan (Jahl) mereka akan Qur'an dan kebodohan (Jahl) mereka akan Sunnah, dan disebabkan oleh kejahilan mereka akan Allah Ta'ala dan Nabi-Nya (s).

Cahaya para Awliya'

Salah seorang murid dalam majelis berkata pada sang Syaikh: "Istri saya berkata pada saya: Bagaimana mungkin, jika dirimu menghadiri begitu banyak majelis Salawat atas Nabi (s), tapi tidak ada cahaya bersinar dari wajahmu?" Aku berkata pada diriku sendiri: Ia benar, ini karena aku tidak tulus (sadiq). Sang Syaikh bertutur:

"Semakin sabar seorang Wali terhadap istrinya, semakin tinggi maqam-nya. Dan semakin sedikit cahaya-nya nampak, semakin tinggi maqam-nya. Sidi al-Sya'rani [Syaikh Ábdul Wahhab al-Sya'rani, seorang Wali tersohor dari Mesir, ed.] bertanya pada Syaikhnya 'Ali al-Khawwass mengapa hal itu demikian dan yang terakhir menjawab: "Jika cahaya seorang Muslim yang tak patuh disingkapkan bagi semuanya untuk melihatnya, maka cahaya itu akan mengisi segala sesuatunya yang terletak di antara bumi dan tujuh langit; dan jika cahaya seorang Wali dari Awliya' disingkapkan, orang-orang akan lupa atas Allah (terkesima atas keindahan cahaya tadi) dan tidak lagi menyembah-Nya. Tapi cahaya itu disembunyikan, semata-mata karena rahmat dan kasih sayang bagi para hamba Allah."

"Kesamaan seorang wali di antara keluarganya adalah bagai seekor keledai lokal. Mereka memukulnya, mereka membebaninya, mereka tidak menghormatinya. Namun, ketika seekor keledai liar muncul, mereka berlari kepadanya untuk barakah. Sama seperti itu pula, seorang wali tidak dihormati oleh kaumnya sendiri tetapi ketika ia pergi keluar menemui kaum lainnya, mereka memberinya pengakuan."

"Salah seorang awliya' – Sidi al-Rawwas – menjadi demikian jenuhnya atas pelecehan dari kaumnya – ia berjalan dan mereka bahkan tidak lagi membalas salamnya – ia pun meninggalkan kotanya dan berkelana. Ia berhenti pada Maqam dari Sidi Ahmad al-Sayyad. Di sana ia salat dan beristirahat. Kemudian ia melihat seseorang datang dan ilham datang ke kalbunya bahwa orang tersebut adalah al-Khidr (as). Orang itu salat dua raka'at dan kemudian duduk di samping al-Rawwas. Al-Rawwas menceritakan kesulitannya. Orang tadi menjawab dengan mengutip suatu ayat Qu'ran: "Wa man nu'ammir-hu nunakkis-hu fi-l khalqi" "Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan mereka kepada kejadian(nya). (membuatnya kembali menjadi lemah setelah kuat)" (QS. 36:68). Al-Rawwas berkata: "Aku memahami makna tersembunyinya dalam lubuk batinku yang terdalam." Bermakna: Siapa pun yang telah diangkat mencapai kedudukan-kedudukan yang tinggi secara batiniah, akan mendapatkan perlakuan buruk secara lahiriah."

"Mereka yang memiliki suatu rahasia spiritual dan menempatkan diri mereka dalam pandangan orang-orang yang memiliki Wilayah (Kewalian) akan dipenuhi dengan kekuatan spiritual yang dengannya mereka mengalirkan rahmah dan kasih sayang ke seluruh benda dan makhluq termasuk malaikat, jinn, batu-batuan, hewan, dan tanaman. Dus, ketika murid dari seorang wali diundang ke suatu tempat mana pun ia pun harus pergi untuk memenuhi kewajibannya terhadap makhluq-makhluq yang mendiami tempat itu, mulai dari malaikat hingga batu-batu jalanan, karena mereka pun memiliki hak untuk mendapat bagian dari cahayanya. Dan ini semua datang dari Nabi (s) karena beliau adalah Kasih Sayang (Rahmah) bagi seluruh alam dan tidak hanya bagi manusia dan jinn."

"Suatu saat seorang laki-laki keluar dari khalwah-nya, saat mana awliya' menyimpan cahaya-cahaya dalam kalbunya. Ketika ia keluar, pandangannya jatuh pada seekor anjing. Karena pandangan itu pula, anjing tersebut menjadi sultan dari para anjing zaman itu. Kapan pun sang Sultan Anjing itu berdiri, mereka (para anjing lainnya) pun berdiri. Ke mana pun ia melangkahkan kakinya, mereka mengikutinya. Bagaimana pula dengan manusia yang haus akan curahan-curahan spiritual?"

Dan salawat serta salam atas Nabi Allah dan atas keluarganya, sahabatnya dan pengikut-pengikutnya. []