Kamis, 15 Agustus 2013

(Ngaji of the Day) “Moratorium “ Idul Fitri, Mengakhiri Sikap Permusuhan


“Moratorium “ Idul Fitri, Mengakhiri Sikap Permusuhan

Oleh: Abdullah Hamid*

 

Pengertian moratorium secara letterlijk berarti penundaan. Namun dalam konteks tulisan ini secara istilah mengalami perluasan, merupakan keputusan untuk mengakhiri selamanya. Penggunaan istilah ini mengingatkan penulis pada Moratorium TKI yang disebabkan banyak kasus penganiayaan terjadi menimpa mereka, dan sebagai simpati penulis kepada mereka yang tidak mungkin bisa mudik untuk berlebaran bersama keluarga, karena bekerja jauh di tanah rantau.


Perhelatan pesta demokrasi Bangsa Indonesia dipastikan tahun depan. Dimana tahapan tahun ini baru saja menetapkan DCS DPRD dan DPR RI dan di sejumlah parpol bergulir Konvensi Capres. Kecenderungan menjelang PEMILU 2014 ini seperti biasa sikap persahabatan dan permusuhan semakin kentara. Mereka mulai memilah-milah, memetakan mana lawan mana kawan. Kadang tak segan-segan menggasak meski korbannya masih terbilang saudara sendiri, karena di ranah politik saudara abadi adalah kepentingan. Kadang karena emosional dan ambisinya, sampai kehilangan akal sehat, tidak obyektif lagi, menghalalkan segala cara. Situasi tersebut tentunya sangat rentan bagi kehidupan sosial.


Maka persaingan politik tersebut perlu dikelola secara dinamis dan produktif dalam kerangka fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Memang bisa dimaklumi, di negeri ini mewarisi banyak raja, gudangnya asset pemimpin. Namun sekaligus berpotensi konflik, persaingan, sikut sana-sini, kecemburuan, dan penuh intrik.


Dengan momentum Idul Fitri 1434 H ini sesungguhnya ummat Islam melakukankan testimoni pengakuan dosa diiringi keinginan yang tulus berma’af-ma’afan, atau dalam tradisi di Indonesia dikenal dengan istilah halal bi halal. Hendaklah dilakukan bukan basa-basi atau cuma seremonial. Namun harus dilandasi semangat suci/ ritual untuk kembali kepada kehidupan yang fitri. Mengakhiri sikap permusuhan dalam dada dan tindakan. Bukan sebaliknya, membangkitkan rasa permusuhan. Dalam kehidupan pribadi/ rumah tangga, bertetangga, pergaulan, bahkan kehidupan berbangsa. Agar dalam bermasyarakat dapat hidup tenang, bersahabat, penuh kekeluargaanm, saling mendukung dan membantu. Sebagaimana kepribadian bangsa kita yang dikenal ramah dan guyub. Tidak berangasan, bersumbu pendek. Meski disadari tantangan hidup sekarang ini yang dihadapi bisa dibilang sangat keras. Di tengah perekonomian Indonesia yang belum kunjung membaik 100% dan degradasi nilai-nilai, ditengarai semakin menguatnya mental materialistik.


Maka nilai-nilai puasa dan idul fitri harus mampu melepas ego pribadi dan golongan. Mengutamakan kepentingan agama dan negara. Mengatasi kepentingan politik yang sempit atau picik. Meski semakin mendekati Hari H-Pemilu semakin banyak godaan uang panas yang terkumpul dan beredar. Hendaklah jangan kemaruk dan berkelahi. Bersiap mental lah. Maukah mengesampingkan pragmatisme, lebih mempertimbangkan akal sehat atau idealisme. Bukankah nilai-nilai puasa, idul fitri dan menunaikan Zakat fitrah dan mal mengajarkan pentingnya menerima atau memberi justru untuk membersihkan harta kita.. Meningkatkan kepedulian sosial atau kepekaan terhadap sesama. Sehingga setelah melewati fase puasa ramadhan diharapkan dapat menahan hawa nafsu yang dipicu haus kekuasaan/ tahta, harta dan wanita dengan cara merawat hati, kebersihan jiwa.


Agar hati selalu terjaga, Ulil Hadrawi memberikan rumusan atau resep hendaklah kita menghindar dari empat perkara ini, yaitu: riya’, ujub, takabbur, serta hasad. Riya’ adalah pamer, Riya menurut imam al-Ghazali adalah mencari kedudukan di hati manusia dengan cara mempertontonkan ibadah dan amalnya. Dengan kata lain riya’ selalu mencari modus pencitraan dirinya. Kedua ‘ujub Menurut al-Ghazali ujub adalah sifat merasa diri serba berkecukupan dan berbangga hati atas nikmat yang dimilikinya, dan lupa cuma titipan Allah kelak akan sirna. Ujub merupakan induk dari sifat takabbur, bedanya jika takabbur berdampak pada pihak yang ditakabburi, kalau ujub terbatas pada dirinya sendiri. Sabda Rosulullah saw:


“Ujub itu bisa memakan amal amal baik sebagaimana api makan kayu bakar” (al-hadist).


Ketiga adalah takabbur adalah merasa dirinya lebih sempurna dari yang lainnya, Kesombongan adalah dosa pertama yang dilakukan oleh makhlukNya (iblis) terhadap Allah swt.


Firman Allah swt : Turunlah engkau dari surga karena engkau menyombongkan diri didalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk orang orang yang hina” (Al-A’raf:13).


Keempat adalah hasad atau dengki. Untuk menjelaskan hal ini cukuplah petikan seorang sufi dalam kitab Risalah Qusyairiyah bahwa “orang dengki adalah orang yang tak beriman sebab dia tidak merasa puas dengan takdir Allah”. Sementara ulama yang lain berpendapat orang yang dengki adalah orang yang selalu ingkar karena tidak rela orang lain mendapatkan kenikmatan. Indikasi dari sifat dengki adalah menipu atau berpura-pura apabila dihadapan orang lain, mengumpat apabila orang lain itu pergi, dan menyumpahi apabila musibah tak kujung tiba pada orang itu.”


Mengenai pendalaman keempat penyakit ini sudah bisalah kiranya kita meraba diri masing-masing. Penulis hanya bisa mengingatkan saja, merasa belum pantas untuk memberikan nasehat. Namun yang jelas, biasanya keempat tersebut satu mata rantai penyakit yang saling terkait antara satu dan lainnya. Sehingga apabila mengidap salah satu maka dapat pula mengidap yang lainnya.


Lantas bagaimana cara menghiasai hati? Selanjutnya al-Ghazali berpesan dalam kitab mizanul amal, bahwa hendaknya hati dihias dengan empat induk kesalehan, yakni hikmah, kesederhanaan (‘iffah), keberanian (syaja’ah) dan keadilan (‘adalah). Beliau menjelaskan bahwa kerelaan memaafkan orang yang telah menzaliminya adalah kesabaran dan keberanian (syaja’ah) yang sempurna. Kesempurnaan ‘iffah terlihat dengan kemauan untuk tetap memberi pada orang yang terus berbuat kikir terhadapnya. Serta kesediaan untuk tetap menjalin silaturrahim terhadap orang yang sudah memutuskan tali persaudaraan adalah wujud dari ihsan yang sempurna. Mampu menegakkan keadilan terhadap diri dan keluarganya serta orang lain.


Untuk menjaga hati dari kekacauan atau bolak baliknya iman, setiap manusia itu dhaif perlu selalu taqarrub kepada Allah SWT, agar selalu ingat Yang Kuasa, tetap dalam suasana religiositas tinggi (fresh), misalnya antara lain dengan menjalani lelaku Tombo Ati Sunan Bonang, meliputi 5 perkara:1, Membaca Qur’an dengan maknanya, 2.Sholat malam, 3.Dekat dengan Orang Sholeh (masih hidup atau telah meninggal), 4. Perut tidak kekenyangan, 5.Dzikrullah yang lama/ sesering mungkin. Dan di dalam kehidupan pribadi dan masyarakat menjadikan Rasulullah SAW menjadi panutan utama atau uswatun hasanah, bukan sekedar udwatun hasanah. Beliau terbukti, tercatat dalam sejarah sebagai pemimpin sosial dan politik paling sukses sepanjang abad.


Adapun ciri-ciri rusaknya hati yang harus diwaspadai dan setiap muslim harus menghindarinya antara lain:ghibah (menjelekkan orang lain, suka adu domba), pendusta, khianat, dan tamak (tidak ada puasnya).
Sehingga dengan pengendalian diri atau hati tersebut, insyaallah iklim demokrasi di Indonesia akan kondusif, karena perjalanan bangsa dikawal dengan nilai-nilai agama, diharapkan roda pemerintahan dan sendi kehidupan masyarakat tetap berjalan tertib, kokoh, dan berwibawa. Memberikan kekuatan berdirinya baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Gemah ripah loh jinawi. Rizqi mengalir berkah. Dibangun dari fondasi masyarakat marhamah, penuh kasih sayang dan taat hukum. Jarang terdengar lagi berita negatif segala bentuk kriminalitas duka lara pemilu yang berdarah-darah yang miris, apalagi sampai merambat ke masalah keluarga, lembaga pendidikan bahkan birokrasi (kekuasaan) dan ormas, bukan saja parpol. Dimana tantangan rakyat ke depan di samping masalah ekonomi juga menghadapi tirani politik atau belenggu kepentingan sesaat dan sektarian.


Dalam situasi demikian dituntut bersikap independent dan adil, beraktualisasi secara berani, terbuka dan cerdas, tetap berkomitmen dan konsisten memperjuangkan nasib rakyat atau kepentingan ummat yang lebih besar atas dasar peri kemanusiaan yang universal. Maka dituntut juga kemampuan menggandeng semua kekuatan politik dan non politik untuk membangun kepentingan bersama yang lebih luas dan mendasar.

 

*Pengasuh Pesantren Budaya Asmaulhusna (SAMBUA) Lasem dan Pengelola Pokjar Beasiswa Bidik Misi Prodi Administrasi Negara UPBJJ-UT Semarang

Rabu, 14 Agustus 2013

Perjuangan Lesbumi dalam Membangun Perfilman


Perjuangan Lesbumi dalam Membangun Perfilman

 

PADA pertengahan 1960-an terjadi gerakan anti Amerika Serikat (AS) besar-besaran karena terlibat dalam Pemberontakan PRRI-Permesta, dan berujung pada gerakan penolakan pengedaran film AS yang saat itu dipegang oleh AMPAI. Gerakan itu dipelopori oleh Lekra, kebetulan Lesbumi tidak ikut dalam gerakan itu, karena itu salah seorang pimpinan Lekra Masri S menuduh Lesbumi tidak berjiwa Manipol dan anti revolusi, karena tidak ikut menolak AMPAI seperti yang dilakukan Lekra dan LKN.

 

Melihat serangan yang bertubi-tubi di berbagai media dan forum itu akhirnya pada 30 Agustus 1964 Usmar Ismail Ketua Umum Lesbumi memberikan jawaban secara publik, bahwa Lesbumi didirikan oleh para tokoh yang sejak tahun 1950-an telah gigih melawan dominasi film asing terutama Ampai dari AS dan J Arthur Pank dari Inggris dan beberapa perusahaan Film Belanda. Perlawanan itu antara lain dilakukan dengan cara membuat filam sendiri.

 

Selain itu Lesbumi juga membuat terobosan penting seperti memasukkan film dari Asia seperti India, Cina dan Jepang sebagai bandingan sambil mempelajari kultur tetangga. Karena itu Lesbumi paling awal merasakan pahit getirnya menentang dominasi film asing di negeri ini dalam persaingan yang tidak kenal ampun.

 

Bayangkan tahun 1950 AMPAI mengedarkan 250 judul film setahun, sehingga menguasai gedung bioskop nasional. Ketika Lesbumi berdiri “kami memiliki kekuatan lalu kami berjuang keras untuk menerapkan kuota untuk menghidupkan film nasional, akhirnya pada tahun 1962 AMPAI hanya mengedarkan separuhnya 160 judul film pertahun.”

 

Tidak berhenti di situ, Lesbumi terus melakukan tekanan sehingga pada tahun ini 1964 AMPAI hanya tinggal separuhnya lagi yakni mengedarkan 80 judul film pertahun, itu pun harus disensor secara ketat, agar film tersebut tidak membahayakan kultur bangsa Indonesia dan indeologi nasional. Dan Amerika yang gagah perkasa itu tidak berkutik menghadapi tekanan Lesbumi ini. Akhirnya semua perusahaan film asing mengalah. Semua itu bentuk Manipolis dari politik kebudayaan Lesbumi.

 

Sebagai konsekwensinya strategi penting yang dilakukan Lesbumi saat itu adaalah menghindari kekosongan film nasional itu dengan membuat film sendiri, sehingga produksi film nasional saat itu sangat tinggi. Hal itu dilakukan agar kekosongan itu tidak diisi dengan melakukan impor film dari Uni Soviet seperti yang hendak dilakuakan oleh Lekra. Menurut Lesbumi hal itu berarti menyingkirkan imperialis kebudayaan dari AS yang liberal, lalu memberikan peluang masuknya imperialisme budaya yang lain dari pihak Soviet yang anti Tuhan. Apalagi saat itu Ketua Sinematografi Uni Soviet Alexey Romanov mulai gencar mempropagandakan film Soviet sebagai pengganti Amerika.

 

Denga tegas Usmar menjawab bahwa kita Lesbumi menolak Declaration of Independence-nya Amerika yang liberal dan imperialis, disaat yang sama kita juga menolak Manifesto Komunis yang ateis, sebab kita telah memiliki falsafah hidup dan ideologi negara yang lebih unggul dan lebih relevan yaitu Pancasila. Inilah sikap seorang Manipolis sejati, yang selalu membela kemandirian dan martabat bangsa dan tanah air sebagai wujud dan pelaksanaan dari khitah politik NU yang populis dan nasionalis. []

 

(Abdul Mun’im DZ)

Adhie: Catatan Pasca Lebaran


Catatan Pasca Lebaran

Jum'at, 09 Agustus 2013 , 23:55:00 WIB

Oleh: Adhie M. Massardi

 

DALAM khotbahnya, para khatib salat Ied lazim mengutip hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah yang bunyinya begini: “Andaikan tiap hamba mengetahui apa yang ada dalam (bulan) Ramadhan, niscaya ia akan berharap satu tahun itu seluruhnya Ramadhan.”


Kerinduan umat Muslim di muka bumi kepada Ramadhan, seperti sudah banyak diriwayatkan, karena pada bulan ini Allah SWT melimpahkan begitu banyak barokah. Sekurang-kurangnya ada 15 alasan yang bisa Anda googling di internet kerinduan setiap Muslim pada Ramadhan.


Ada tiga poin penting yang saya catat. (1) Semua ibadah pada bulan Ramadhan pahalanya dilipatgandakan. (2) Ramadhan sarana meningkatkan ketaqwaan yang dengan (ketaqwaan) itu semua masalah (insya Allah) bisa diterima dengan tawakal sehingga tidak menjadi beban hidup. (3) Turunnya Lailatul Qadar, salah satu malam di bulan (Ramadhan) yang nilainya lebih dari seribu bulan.


Benar, memang tidak ada catatan kerinduan umat Muslim pada Ramadhan karena puasanya, tidak makan dan minum mulai Subuh (dinihari) hingga Magrib.


Mungkin kalau hanya sekadar puasa, sepanjang periode kedua pemerintahan SBY – Boediono, terutama dalam setahun terakhir ini, mayoritas Muslim dan puluhan juta rakyat Indonesia yang non-Muslim sudah terbiasa. Seakan memang ada kebijakan pemerintah untuk memaksa rakyatnya berpuasa.


Makanya, pada Ramadhan 1434 H ini, mungkin akan dicatat umat Islam Indonesia sebagai bulan puasa paling ringan untuk dilaksanakan. Sehingga lebih banyak orang yang berpuasa ketimbang yang tidak.


Mungkin karena itu FPI (Front Pembela Islam) yang Ramadhan tahun-tahun sebelumnya rajin melakukan sweeping di warung remang-remang, kali ini sepi dari buka front dengan publik. Tercatat FPI hanya beraksi di dua kota, Kendal (Jateng) dan Makasar (Sulsel). Itu pun mendapat perlawanan heroik dari masyarakat sekitarnya yang merasa puasanya justru terganggu komplotan intoleran ini.


Kita tidak tahu apakah kebijakan rezim SBY-Boediono menaikkan harga BBM yang mendongkrat kenaikkan semua harga kebutuhan pokok menjelang Ramadhan itu merupakan upaya mengurangi aksi sweeping FPI di bulan puasa?


Faktanya, kenaikkan harga kebutuhan hidup yang nyaris tak terkendali itu memang membuat rakyat Indonesia yang daya belinya terus merosot, harus berpuasa untuk mempertahankan hidupnya. Maka, alhamdulillah, ketika memasuki Ramadhan, ikhtiar (berpuasa) itu oleh Allah SWT diganjar pahala. Insya Allah, SBY dan para anggota kabinetnya yang sukses mengondisikan umat Muslim Indonesia untuk ramai-ramai dan sukarela puasa, juga mendapat ganjaran Allah Aza Wa Jalla setimpal dengan amal perbuatannya.


Makanya, kalau Ramadhan boleh ditafsirkan hanya sekedar bulan untuk menjalani kewajiban berpuasa, sebagaimana diperintahkan Allah pada umat sebelumnya (QS 2:183), Muslim di Indonesia mungkin termasuk yang paling berbahagia. Karena pada hari-hari di bulan setelah Lebaran 1434 H ini, dan entah sampai kapan, masih akan menikmati bulan-bulan harus berpuasa.


Sebab kenyataan dalam kehidupan di negeri yang diperintah oleh rezim SBY-Boediono ini, harga-harga kebutuhan hidup akan terus merangkak naik. Bila sebelumnya kenaikan harga-harga itu didongkrak oleh kenaikkan harga BBM dan memasuki bulan Ramadhan, maka kenaikan harga setelah Lebaran dipicu oleh melemahnya nilai rupiah atas hampir semua mata uang asing, wabil khusus dollar AS.


Mata uang sebuah negara memang mencerminkan kepercayaan masyarakat, di dalam dan luar negeri. Itulah sebabnya, mata uang negara yang ditopang oleh kebohongan dan korupsi yang merajalela, martabatnya akan jatuh di hadapan mata uang negara yang dikelola dengan jujur dan taat hukum.


Tapi selain rupiah yang terus melemah karena rezimnya sangat korup, perekonomian nasional juga kian terperosok karena didorong oleh defisit anggaran berjalan dan defisit neraca pembayaran.


Susah menjelaskan teori defisit ekonomi pemerintahan ini. Tapi kita semua, insya Allah, sudah merasakan dampaknya.


Jadi, selamat Lebaran. Selamat berpuasa lagi…! [***]

 

Sumber:

(Tradisi of the Day) Istilah Halal Bihalal Muncul dari Solo?


Istilah Halal Bihalal Muncul dari Solo?
 

Pada saat Lebaran, masyarakat Indonesia mengadakan acara halal bihalal atau bersilaturahmi untuk saling memaafkan. Di masyarakat Jawa, tradisi ini disebut juga dengan Sungkeman. Konon tradisi ini dari kota Solo.

Menurut keterangan Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger, Pengageng Kasentanan Keraton Surakarta, tradisi sungkeman di Keraton Kasunanan Surakarta, dan Kadipaten Pura Mangkunegaran, pertama kali dilakukan di era KGPAA Sri Mangkunegara I.

 

“Saat itu, beliau bersama seluruh punggawanya berkumpul bersama dan saling bermaafan setelah salat Id dilakukan,” kata Gusti Puger, Kamis (8/8) lalu.

 

Namun seiring dengan pergolakan yang terjadi di Nusantara pada saat itu, pihak Keraton sendiri tak bisa leluasa menggelar tradisi sungkeman. Penyebabnya karena kaum kolonial mencurigai tradisi sungkeman, sebagai pertemuan terselubung untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah.

 

Bahkan, pernah suat kali saat terjadi prosesi sungkeman di gedung Habipraya, Singosaren, saat Lebaran pada tahun 1930, Belanda nyaris saja menangkap Ir Soekarno, dan dr R. Radjiman Widyodiningrat yang merupakan dokter pribadi SISKS Paku Buwono (PB) X, Raja Keraton Surakarta.

 

“Jadi memang sangat diawasi pihak kolonial saat itu. Tapi karena peristiwa itulah, akhirnya PB X justru malah membuka tradisi sungkeman menjadi semacam open house seperti sekarang,” jelas Gusti Puger.

 

Senada, Kanjeng Raden Arya (KRA) Hudayaningrat, salah satu pengamat sejarah di kota Solo membenarkan jika tradisi Halal Bihalal berasal dari Solo. Menurutnya semua itu berawal dari sabda PB X, saat peristiwa pengepungan oleh Belanda di Gedung Habipraya terjadi saat hari raya Idul Fitri tahun 1930.

 

“Betul sekali. Saat itu Ir Soekarno, dan dr Radjiman Widyodiningrat mau ditangkap Belanda, karena dituduh menggalang masa untuk melawan kolonialisme di Gedung Habipraya saat Lebaran,” ungkap Hudayaningrat.

 

PB X yang juga berada di lokasi pada saat itu, spontan menjawab jika itu bukan aksi penggalangan masa, tapi halal bi halal saat Lebaran. Dan yang dimaksud halal bi halal yang sungkeman itu sendiri.

 

“Para ulama Keraton Surakarta sendiri pada saat itu bingung apa arti halal bi halal. Tapi karena itu sabda Raja yang juga merupakan pemuka agama tertinggi di Surakarta, maka dianggap menjadi sebuah kesepakatan bersama, dan terus dipakai hingga sekarang,” kata Hudayaningrat. []

 

(Ajie Najmuddin/Red:Anam)

(Ngaji of the Day) Perang Melawan Hawa Nafsu Belum Usai


Perang Melawan Hawa Nafsu Belum Usai

Oleh: Abd. Mun’im

 

Idul Fitri merupakan puncak dari rangkaian ibadah puasa. Ketika hilal dapat dilihat di penghujung bulan Ramadhan maka di hari itu juga seluruh umat Islam diharuskan untuk berbuka dan melaksanakan shalat hari raya sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "La tashumu hatta tarawul hilal wala tufthiru hatta tarauhu". Artinya: Janganlah kalian berpuasa kecuali kalian melihat hilal (bulan) dan janganlah kalian berbuka kecuali melihatnya (hilal)".

 

Demikianlah, sesuai dengan makna harfiyahnya. Idul fitri = hari berbuka, maka di hari ini kewajiban umat Islam menahan diri dari makan dan minum secara hawa nafsu sepanjang bulan Ramadhan telah selesai. Bahkan puasa tepat di hari ini sama sekali tidak diijinkan atas alasan apapun juga.

 

Namun apakah perang melawan hawa nafsi telah selesai? Tentu tidak. Satu bulan puasa hanya merupakan latihan untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi pada bulan-bulan berikutnya.

 

Akan tetapi dengan selesainya kewajiban puasa, bukan berarti seluruh umat Islam bisa berpesta pora dan meluapkan segala keinginan yang sebelumnya sempat tertahan di bulan puasa. Karena jika hal itu terjadi maka latihan pengendalian diri selama Ramadhan tidak berhasil dengan baik.

 

Terlebih lagi jika Idul Fitri dianggap sebagai hari raya kebebasan untuk makan dan minum dan berpesta pora maka dikhawatirkan kita akan menjadi terlampau berlebihan sehingga melanggar larangan Allah: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (QS Al-A’raf 7: 31).

 

Dengan kata lain, dalam ayat ini, Allah memperingatkan kita untuk hidup bersahaja dan jauh dari prilaku konsumtif, baik dalam sandang pangan maupun papan. Tidak perlu membeli pakaian yang mahal-mahal serta berpesta pora dalam hal makanan dan minuman.

 

Dalam konteks Idul Fitri kali ini, sikap berlebih-lebihan dan konsumtif kiranya tidak seharusnya ditumbuhkembangkan. Karena bagaimanapun juga, ibadah puasa merupakan ibadah yang ditujukan untuk membersihkan diri dan mengendalikan keinginan kita menjadi makhluk yang konsumeris. Sebaliknya, Ibadah puasa menyokong kita untuk merasakan ketidakberdayaan orang-orang yang tidak dapat mencukupi kebutuhan makan dan minum mereka sehari-hari.

 

Oleh sebab itu, tidak selayaknya kita mengenakan pakaian yang sangat mahal ketika umat Islam yang lain tidak dapat membelinya. Karena hal tersebut sama saja dengan memperdalam jurang kesenjangan sosial yang di bulan puasa ingin dikikis dari kehidupan sosial kita.

 

Yang seharusnya dikembangkan dalam situasi dan kondisi bangsa dan masyarakat kita yang hidup dalam keprihatinan ini adalah sikap kita untuk kembali kepada spirit kemanusiaan. Semangat untuk memandang diri kita sama dengan anggota masyarakat yang lain tanpa membeda-bedakan si kaya dan si miskin. Lebih jauh, semangat memandang diri kita sebagai bagian dari kehidupan orang lain dan melihat kehidupan orang lain sebagai bagian dari kehidupan kita sendiri.

 

Dengan demikian, maka Idul Fitri tahun ini, dapat mempererat tali silaturrahim di seluruh lapisan masyarakat, menekan kerakusan terhadap materi atau pola hidup konsumeristik serta menggantikannya dengan keinginan untuk saling berbagi serta memperkukuh kembali bangunan umat Islam sebagai satu bangunan yang utuh. Amin ya Rabbal ‘Alalamin.

 

* Abd. Mun’im

Alumni Universitas Islam Malang (Unisma)

Selasa, 13 Agustus 2013

Sendiri Menunggu Sebungkus Nasi

Bersendiri Menanti Sebungkus Nasi. Boleh Uduk, boleh kuning, dan boleh juga rames.

Cak Nun: Mudik Dunia Akhirat


Mudik Dunia Akhirat

Oleh: Emha Ainun Nadjib

 

Kerinduan untuk pulang ke kampung halaman dan bersilaturahmi dengan sanak famili, sesungguhnya adalah episode awal dari teater kebutuhan batin manusia untuk kembali ke asal usulnya.


Mudik Lebaran itu episode pulang secara geografis dan kultural. Dari alam nasional, global, universal dan liar, manusia beramai-ramai balik ke lingkungan primordial.


Kampung halaman adalah tanah air konkret. Tanah dan air sejarah kelahiran mereka. Sehingga mudik episode kedua adalah kesadaran atau ikrar kembali bahwa diri manusia berasal dari tanah dan air yang akan kembali ke tanah dan air.


Episode mudik yang ketiga adalah kesadaran tentang Ibu Pertiwi dalam pengertian yang lebih batiniah. Yakni kekhusyukan menginsafi kasih sayang Ibunda, kandungan dan rahim Ibunda.


Betapa di puncak kepusingan hidup ini kita terkadang ingin kembali masuk ke gua garba Ibunda. Episode mudik berikutnya adalah kembalinya kita semua ke pencipta tanah air, ke sumber dan asal usul. Jadi, senantiasa siap kembali kepada Allah adalah puncak mudik, adalah mudik sejati. []

(Ngaji of the Day) Idul Fitri vs. Prilaku Konsumtif


Idul Fitri vs. Prilaku Konsumtif

Oleh: Ab. Hadi Mulyono

 

Di tengah rasa bahagia menyambut hari raya Idul Fitri, lihat betapa pasar, swalayan, supermarket dan mal-mal menjadi lebih menarik untuk dikunjungi ketimbang tempat-tempat peribadatan. Bahkan tampaknya, pusat-pusat perbelanjaan ini telah menjadi tempat ibadah itu sendiri. Belanja besar-besaran seakan merupakan ekspresi keberagamaan mereka, dalam menyambut datangnya hari kemenangan.

 

Tidak! Menyambut Idul Fitri bukan dengan cara menghambur-hamburkan harta.

 

Kita mengenal istilah konsumerisme, yakni sebuah ajaran yang mengarahkan kita menjadi objek bahkan korban dari berbagai inovasi produk-produk baru yang diciptakan oleh para pemodal dan pedagang; menjadikan kita merasa membutuhkan sesuatu yang sesungguhnya tidak kita butuhkan. Singkatnya konsumerisme mengarahkan kita untuk mengkonsumsi sesuatu secara tidak wajar, entah itu barang-barang fisik ataupun berupa gaya hidup (live style).

 

Konsumerisme tidak terlepas dari banyaknya model satu produk yang diciptakan, ditambah banyaknya fasilitas penunjangnya. Juga tidak lepas dari peran media informasi yang kemudian berubah bentuk menjadi media iklan. Melalui media iklan, kehausan manusia akan informasi telah mengantarkan kita pada bentuk kecanduan sesuatu di luar batas kebutuhan kita.

 

Tak peduli sekalipun penghasilan dan anggaran keuangan keluarga tak mencukupi, yang penting bisa memborong hal-hal yang diinginkan merupakan kepuasan. Ditambah decak kagum dan sorot mata kecemburuan yang dikombinasi dengan komentar ”wah” dari para tetangga mampu membawa kita ke alam konsumerisme ini.

 

Konsumerisme bukan sesuatu hal yang baru. Sebab pada dasarnya ajaran yang satu ini ternyata sudah lama ada dan sejak awal telah mengakar kuat di dalam kemanusiaan kita (our humanity). Hal ini bisa kita lihat dari ekspresinya yang paling primitif hingga yang paling mutakhir di jaman modern ini.

 

Tendensi yang ada dalam diri manusia untuk selalu tak pernah puas (never-ending-discontentment) dengan hal-hal yang telah mereka miliki, ditambah dengan dorongan kuat ambisi pribadi dan semangat kompetisi untuk mencapai sesuatu yang lebih daripada tetangga sebelah membuat pola hidup konsumerisme semakin subur dan berkembang amat cepat saja.

 

Pola hidup konsumerisme ini tak ubahnya virus yang yang mampu menular dengan amat halus dari satu individu ke individu lainnya. Apalagi bila budaya gengsi, pamor dan status sosial-keningratan masih saja dijadikan patokan untuk menilai kemanusiaan seseorang.

 

Konsumerisme ini telah mengubah banyak aspek dalam kehidupan manusia di jaman ini. Sayangnya perubahan yang terjadi ini, lebih menjurus pada hal-hal yang bersifat negatif dan menyengsarakan hidup manusia itu sendiri.

 

Nah, orang-orang yang beragama yang sudah terkena virus konsumerisme itu sering membuat-buat semacam alasan untuk memenuhi kebutuhan konsumerisnya. Dia beralasan mengkunsumsi ini dan itu dengan alasan untuk menjalankan perintah agama: agar lebih mudah menjalankan pengabdian kepada Allah SWT, tapi ternyata tidak. Alasan keagamaan hanya menjadi tameng.

 

Budaya konsumtif yang sementara ini menjadi penyakit yang sangat akut di negeri ini adalah sebab warganya terutama umat islamnya tidak menjalankan ajaran agama secara benar. Warga yang taat beragama seharusnya tidak akan dikejar-kejar oleh gemerlap produk-produk baru, terutama yang bermerek dari negeri sebrang.

 

Lebih luas lagi, masyarakat dan bangsa Indonesia masih terlalu bergantung kepada bangsa lain. Bangsa Indonesia kurang rela menerima apa adanya dan mendayagunakan anugerah yang telah diterima. Ini berbahaya. Apalagi jika ketergantungan itu justru terkait dengan produk-produk konsumsi yang sesungguhnya remeh dan tidak penting.

 

Ada baiknya kita mengulang kembali pelajaran tentang qona’ah, menerima apa adanya, menikmati harta dunia secukupnya. Rasulullah SAW menyatakan, orang yang tidak qona’ah akan mencari gunung emas yang kedua, ketiga dan seterusnya, jika dia telah mendapatkan satu gunung emas. Maka setidaknya ajaran mengenai qana’ah ini bisa mengerem prilaku konsumtif kita.

 

Kita yang bekerja keras sepanjang tahun semestinya bisa memanage harta benda yang kita cari sepanjang tahun. Hasil keringat kita mestinya bisa ditasharufkan untuk sesuatu yang lebih berguna untuk diri kita, keluarga kita dan masyarakat sekitar kita. Anda yang mudik berlebaran ke kampung halaman tidak perlu memanjakan keluarga di kampung dengan mengajak berbelanja habis-habisan berbagai barang konsumsi. Mestinya uang THR yang kita persiapkan, atau apapun namanya, bisa diberdayakan dalam bentuk usaha produktif untuk bisa dijalankan oleh keluarga atau masyarakat kampung kita.

 

Ab. Hadi Mulyono

Pengajar sosiologi perkotaan, warga nahdliyin tinggal di Bekasi

Kamis, 01 Agustus 2013

(Do'a of the Day) 23 Ramadlan 1434H


Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Rabbij'alnii laka syaakiran, laka dzaakiran, laka raahiban, laka mithwaa'an, ilaika mujiiban au muniiban.

 

Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang bersyukur kepada-Mu, berdzikir mengingat-Mu, takut kepada-Mu, tunduk mentaati perintah-Mu, memperkenankan panggilan-Mu atau kembali kepada-Mu.

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 18.

Cak Nun: Kasan Kusen


Kasan Kusen


SESUDAH dibantai dengan jenis kekejaman yang sukar dicari tandingannya dalam peradaban umat manusia, penggalan Sayidina Husein putra Fatimah putri Muhammad Rasulullah SAW diarak, diseret dengan kuda sampai sejauh 1.300 kilometer. Wallahua'lam, ada yang bilang dibawa sampai ke Mesir, yang lain bilang ke Syria --sebagaimana ada beberapa makam Sunan Kalijogo di Pulau Jawa-- tapi pasti pembantaian sesama muslim itu terjadi di Karbala.


Orang yang mencintai beliau bisakah menangis hanya dengan mengucurkan air mata, dan bukan darah? Jutaan pencintanya memukul-mukul dada mereka agar terasa derita itu hingga ke jantung dan menggelegak ke lubuk jiwa. Ribuan lainnya membawa cambuk besi atau apa saja yang bisa melukai badan mereka agar kucuran darah itu membuat mereka tidak siapa pun kecuali Imam Husein sendiri. Orang yang mencintai melarutkan eksistensinya, melebur, hilang dirinya, dirinya sirna, menjadi orang yang dicintainya.


Keperihan maut Husein itulah yang menjadi sumber kebesaran jamaah Syii di dunia. Duka yang mendalam atas apa yang dialami cucu Nabi itulah yang membuat kaum Syiah menyerahkan hatinya dengan sangat penuh perasaan kepada komitmen ahlulbait, keluarga Nabi. Sementara di pusat Islam sendiri, Arab Saudi --kerajaan yang didirikan oleh koalisi keraton Abdul Aziz dengan ulama Wahabi-- konsentrasi emosional terhadap ahlulbait sangat dicurigai sebagai gejala syirik yang melahirkan berbagai jenis bid'ah, yakni perilaku-perilaku budaya keagamaan yang diciptakan tidak atas dasar ajaran Nabi sendiri, sehingga dianggap mengotori kemurnian peribadatan Islam.


Semacam ''dendam sejarah'' yang berasal dari tragedi Karbala itulah yang melahirkan soliditas sistem imamah dalam budaya keagamaan kaum Syii. Kepemimpinan dan keumatan dalam Syiah merupakan kohesi horizontal-vertikal yang sangat berbeda vitalitasnya dibandingkan dengan tradisi kaum Sunni. Seandainya di Indonesia orang mengatakan ''Gus Dur dengan 30 juta umat NU-nya'' atau ''Amien Rais dengan 25 juta umat Muhammadiyahnya'' --yang dimaksud adalah kaum Syii, maka tidak ada kekuatan apa pun yang bisa mengalahkan koalisi NU-Muhammadiyah dalam perpolitikan Indonesia.


Kaum Sunni menyebut Abu Bakar, Umar, dan Utsman dulu sebelum Ali. Bahkan tidak secara spesifik menyebut Hasan dan Husein. Orang Syii jengkel kepada ketiga khalifah itu karena menurut versi sejarah mereka, tatkala Nabi Muhammad SAW wafat, yang menguburkan hanya Ali, Aisyah, Fatimah, Abbas, dan seorang lagi pekerja penguburan. Sementara Abu Bakar, Umar, dan Utsman sibuk di Tsaqifah, ''KPU'' yang memproses siapa pemimpin pengganti Nabi --tanpa memedulikan jenazah Nabi.


Bahkan, ketika tengah malam usai penguburan, sejumlah rombongan dipimpin Umar menggedor rumah Ali untuk memaksa menantu Nabi ini menandatangani pengesahan pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah pertama.


Sayidina Hasan, kakak Husein, juga tak kalah sialnya. Pagi-pagi, ia disuguhi racun oleh istrinya yang lantas mengaku bahwa itu atas suruhan Muawiyah. Hasan memaafkan istrinya, dan besok pagi sesudah kejahatannya dimaafkan, sang istri kembali menyuguhkan racun, Hasan meminumnya dan menemui ajal.


Dalam kandungan hati orang Syiah, memang tidak banyak orang menderita seperti Rasulullah Muhammad SAW: jenazah beliau belum diurus, orang-orang yang sangat dicintainya sudah ribut memperebutkan jabatan.


Nabi unggul dan sangat populer sepanjang sejarah, tapi rumah yang ia tempati bersama Aisyah istrinya hanya seluas 4,80 x 4,62 meter. Makhluk diciptakan oleh Allah berupa cahaya, namanya Nur Muhammad --meskipun secara biologis ia dihadirkan 600 tahun sesudah Isa/Yesus-- namun semasa hidupnya ia menjahit sendiri baju robeknya, mengganjal perut laparnya dengan batu di balik ikat pinggangnya, dan waktu wafat masih punya utang beberapa liter gandum.


Manusia yang paling mencintai Allah dan paling dicintai Allah, namun Allah merelakan keningnya berdarah dilempar batu oleh pembencinya, mengizinkannya mengalami tenung sebelum menerima tiga surah firman-Nya. Tak ada kemewahan dunia apa pun melekat padanya. Bahkan, ia tak sanggup menolong Fatimah putrinya yang beberapa hari bersembunyi telanjang dalam selimut di kamar karena pakaiannya dijual Ali suaminya untuk bisa makan.


Muhammad dan keluarganya sangat disayang, bahkan dicintai dengan gelegak rasa perih, karena derita. Ia pun memilih karakter abdan nabiyya, nabi yang rakyat jelata, dan menolak ditawari Allah menjadi mulkan nabiyya, nabi yang raja diraja.


Allah menawarinya jabatan raja agung dengan kekayaan berupa gunung emas --yang ternyata memang sudah disediakan oleh-Nya, di wilayah antara Madinah dan Mekkah, yang hari ini menjadi cadangan kekayaan Arab Saudi, di samping tambang minyak temuan baru di perbatasan Saudi-Yaman yang hari ini bisa menjadi sumber konflik antara kedua negara. Sebab, jika Yaman menguasai sumber minyak itu, karena daerah geografisnya lebih rendah, maka minyak Saudi di perut bumi akan terserap olehnya.


Rasulullah pernah bersabda bahwa kelak kaumnya akan mengalami kekalahan dan hidup dalam kehinaan, karena ''hubbud dunya wa karohiyatul maut'' --kemaruk pada harta dunia dan takut mati.


Wallahua'lam. Dalam hal maut, mestinya kaum Syii lebih memiliki etos dan kesadaran spesifik, karena riwayat Ali, Hasan, dan Husein yang mereka tokohkan. Maut dan derita Husein adalah sumber tenaga sejarah. Kematian Husein bukan balak atau tragedi, melainkan kebanggaan yang melahirkan kesadaran baru mengenai ideologi ''jihad'' dan ''syahid''.


Jihad adalah persembahan total diri seseorang kepada kepentingan Allah melalui perjuangan kebenaran yang diyakini. Jihad membuat dunia menjadi kecil, remeh, dan tidak penting. Jika seseorang sudah terpojok, bedil musuh di depan dan kiri-kanannya, sementara kebuntuan di belakangnya, maka jiwa jihad menjadi menggelegak. Keterpojokan membuatnya bersyukur karena dunia, hedonisme, kemewahan, dan segala hiasannya sudah tidak punya makna lagi. Tinggal satu: Allah.


Jika Ia sendirilah yang merupakan tuan rumah dalam kehidupannya, maka kematian adalah sesuatu yang dirindukan. Maka, ia terus bersemangat untuk berperang. Bukan karena perang itu sakit atau nikmat, melainkan karena Allah memberinya jalan syahid tanpa hambatan dunia. Maka peluru musuh tidak dihindarinya, melainkan disongsongnya.


Karena itu, bisa dipahami tatkala pasukan koalisi kecele bahwa ternyata kelompok Syiah tidak begitu saja bisa diprovokasi untuk serta-merta mensyukuri kedatangan pasukan koalisi, hanya karena sepanjang hidup di Irak mereka ditekan oleh Saddam Hussein.


Akan tetapi, pada level kualitas perjuangan yang lebih tinggi, juga sangat disayangkan bahwa kaum Syiah tidak mampu secara kolektif meneruskan konsistensi etos jihad dan syahidnya sampai ke tingkat substansi yang lebih berkemuliaan. Ketika mereka melakukan pawai ke Karbala untuk mengekspresikan rasa cinta Husein, yang terjadi baru semacam pelampiasan bahwa kini Saddam penghalang mereka sudah tidak memiliki kekuatan.


Pawai itu tidak membawa mereka kepada nilai kepemimpinan dan perjuangan yang lebih tinggi yang menyangkut: (1) Nasionalisme Irak tanah persemayaman mereka, (2) Martabat bangsa-bangsa Timur Tengah, juga (3) Harga diri kaum muslimin di hadapan fundamentalisme Bush.


Pawai Karbala hanya menyampaikan kaum Syiah pada keperluan lokal kaum Syiah sendiri. Peta yang tergambar hanya kekuasaan Saddam dan eksistensi kaum Syiah di Irak. Padahal, sesungguhnya mereka kini berada dalam posisi yang relatif sama dengan Saddam dan negara-negara Arab lainnya, dalam konteks adikuasa Amerika Serikat.


Bush barusan menyatakan bahwa minyak Irak bukanlah milik Saddam dan keluarganya. Sesungguhnya Bush utamanya sedang berkata kepada monarki Arab Saudi: minyak di Saudi bukanlah milik Raja Saudi beserta para amir dan keluarga serta keluarga kerajaan. Bersiaplah pada suatu hari wacana itu akan diaplikasikan. Kerajaan Arab kini berada dalam ketakutan yang mendalam: Raja Fahd sudah hampir terkikis kesehatannya, Fahd yang menggenggam de facto kekuasaan sudah berumur 84 tahun, beberapa pangerannya sakit kaki.


Sejak 1980, Arab mengizinkan tanahnya menjadi salah satu pijakan kekuatan militer Amerika Serikat. Kerajaan mendapat jaminan bahwa keluarganya tak akan diutik-utik. Silakan ambil Irak, Suriah, atau mana pun, asal keluarga Saudi tidak diganggu. Kalau perlu, apa boleh buat, Mekkah dan Madinah dikuasai, asalkan kerajaan tetap selamat. Tapi, siapakah yang menjamin keselamatan eksistensi keraton Saudi tanpa ia sendiri membangun kekuatan di dalam dirinya? Apakah Amerika Serikat menjamin keamanan mereka, meskipun rudal-rudal Patriot milik Kerajaan Saudi di-''infak''-kan kepada pasukan koalisi untuk dipakai menghancurkan Irak, saudaranya sendiri, pada peperangan Maret-April kemarin?


Kekuasaan Saudi tak usah dibayangkan akan sanggup melindungi Mekkah dan Madinah. Tidak mustahil, dua sampai lima tahun lagi, keluarga Kerajaan Saudi tak akan sanggup mempertahankan eksistensinya dari gejolak dan pemberontakan rakyat Saudi yang sudah benar-benar sangat bosan hidup dalam situasi kenegaraan yang tanpa rasionalitas, tanpa demokrasi, tanpa kebudayaan, tanpa tradisi ilmu, tanpa etos-etos modern, dan sepertiganya kini menjadi penganggur, tidak terbiasa bekerja keras, jualan sayur saja gagal.


Kemarin saya mendatangi tumpukan batu tinggi kokoh bekas benteng pertahanan keluarga Yahudi Kaab bin Asraf di kota Madinah. Rasulullah sebelumnya telah mengumpulkan semua segmen masyarakat Madinah untuk bersama-sama menandatangani Piagam Madinah --etika masyarakat plural. Namun, Kaab melanggar perjanjian itu. Terjadi peperangan, Kaab kalah. Dan di milenium III abad ke-21 ini, Kaab akan hadir kembali mengambil Madinah.


Jadi, masalahnya bagi kaum Syiah bukan sekadar bagaimana mereka mendapatkan kemerdekaan hidup di Irak, karena sesungguhnya sekadar di Irak pun, pasca-Saddam, kemerdekaan kaum Syiah itu juga semu. Peta Timur Tengah dan dunia sudah berubah total. Konflik Sunni-Syiah seharusnya sudah menjadi sekunder. Kalau orang Syiah memukul-mukul dada mereka, merintih-rintih, menangis, dan memekik-mekik --konsentrasi keperihan itu kini tidak lagi an sich derita Sayyid Husein belasan abad yang lalu.


Kasan Kusen --demikian masyarakat santri tradisional Jawa menyebut nama kedua cucu Nabi itu-- abad ke-21 tak kalah menderitanya. Mereka tak hanya dicacah-cacah tubuhnya dan dipenggal kepalanya. Mereka bahkan dirudal, dibom, dimusnahkan, disirnakan, diinjak-injak harga diri kemanusiaan dan martabat kebangsaannya, bahkan dirampok hartanya secara terang-terangan.


Emha Ainun Nadjib, Budayawan

(Taushiyah of the Day) Dalam Tarawih Kita Belajar Banyak Hal


Dalam Tarawih Kita Belajar Banyak Hal

Oleh: Ajie Najmuddin*

 

Shalat tarawih merupakan salah satu amalan ibadah yang hanya ada di bulan Ramadlan. Karena itu tarawih menjadi istimewa. Bagi sebagian masyarakat, mungkin kedudukannya seakan mengungguli shalat sunah rawatib.

 

Ini bisa kita lihat di masjid sekitar kita. Fenomena tarawih ini menjadi pesona tersendiri, yang mampu menyedot masyarakat untuk berduyun-duyun pergi ke masjid. Orang yang biasanya malas ke masjid jadi ikut terlecut untuk menyambangi rumah Allah.

 

Hal ini, mungkin tak lepas dari berbagai keterangan yang menyebutkan tentang keutamaan dan pahala tarawih. Mulai dari diampuni dosa seperti bayi baru dilahirkan ibunya, sampai dijanjikan pertemuan dengan Sang Khaliq. Ini tentu akan menjadi motivasi tersendiri bagi seseorang yang akan menjalankannya.

 

Namun, di balik segala keutamaan tarawih itu, siapa sangka juga terselip ruang pembelajaran untuk memupuk sikap toleransi. Toleransi yang dalam bahasa sederhana bisa kita maknai sebagai sikap menghargai perbedaan. Perbedaan ini acap kali terjadi di lingkungan kita, dan bahkan melibatkan diri kita.

 

Perbedaan ini mungkin jarang kita temui, apabila kita masih dalam satu lingkup (ideologi, ormas, suku, dan sebagainya). Namun, ketika kita sudah dihadapkan pada sebuah masyarakat yang majemuk, maka perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Seperti yang penulis alami sendiri, ketika dalam sebuah musyawarah persiapan menyambut Ramadlan.

 

Pada awalnya kami sepakat, tentang perlunya pengadaan tarawih di kompleks perumahan yang kami tinggali. Meskipun belum memiliki masjid, panitia sangat bersemangat untuk menyambut Ramadlan dengan gegap gempita. Sampailah pada pembahasan tarawih, dan justru di bagian ini yang paling lama dan alot.

 

Mulai dari jumlah Rakaat (20 atau 8 rakaat tarawih), format salat (2 atau 4 raka’at salam). Ini pun belum selesai, karena ada yang masih belum sepakat ketika witir mesti 2 rakaat ditambah 1 rakaat, mereka menginginkan 3 rakaat sekaligus. Setelah dicapai kesepakatan, akhirnya diputuskan salat 8 rokaat, dimana tiap 2 rakaat salam. Dilanjut witir 2 rakaat salam, ditambah 1 rakaat salam.

 

Selesai? Ternyata belum, karena masih ada kelanjutan seperti bagaimana dengan bacaan basmalahnya? lalu apakah memakai bilal atau tidak? dan tak ketinggalan, doa tarawih dan witir. Alhasil, pada malam itu pembahasan menjadi lama, padahal tadinya hanya ingin membahas: apakah ada tarawih atau tidak?

 

Tarawih Masjid Agung Solo

 

Hal di atas mungkin lumrah (mungkin pula sudah mentradisi) terjadi di sebuah kampung atau masjid, yang masyarakatnya memiliki beragam latar belakang. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah dengan berbagai perbedaan tersebut, mesti membuat umat Islam terpecah belah, dengan mendirikan jamaah sendiri atau bahkan membangun masjid baru?

 

Ternyata tidak semestinya hal tersebut terjadi. Bahwa perbedaan tersebut apabila dapat kita kelola dengan baik, justru dapat menjadi khazanah tersendiri. Bukan berarti hendak mencampurkan mazhab, namun cobalah tengok kearifan di Masjid Agung Solo.

 

Di masjid tersebut sempat terjadi dualisme pendapat tentang pelaksanaan tarawih, yang berujung pada pemisahan jamaah. Dalam waktu yang sama terjadi 2 kubu jamaah tarawih, jamaah 8 rokaat di ruang utama, sedangkan 20 rokaat di ruang samping (pawastren). Bisa kita bayangkan, apabila kejadian tersebut terjadi di masjid lingkungan kita ataupun masjid yang lain, tentu bukan sebuah hal yang baik.

 

Namun, pada awal Ramadlan ini dibuat sebuah konsensus baru, dimana salat tarawih disatukan di ruang utama, dengan menggunakan 20 rakaat tarawih. Bagaimana dengan yang 8 rakaat tarawih, apakah mereka kemudian harus menyingkir? Tidak, tetapi mereka tetap sholat bersama, bahkan diberi keistimewaan, yakni saat selesai 8 rakaat, mereka yang akan melanjutkan hingga 20 rakaat, mesti menunggu selesai witirnya (8 rakaat).

 

Pun yang di masjidnya menerapkan 8 rakaat, tentu yang hendak melaksanakan 20 rakaat, juga perlu berbesar hati dengan tetap mengusung asas persatuan. Tidak perlu membuat jamaah sendiri, tetapi ikut bersama salat dengan jamaah 8 rakaat. Kemudian untuk meneruskan hingga 20 rakaat, dapat meneruskan sendiri ataupun berjamaah.

 

Kedua kebijakan di atas, menjadikan masalah perbedaan pendapat rakaat salat tarawih, sedikit banyak dapat ditengahi. Bukankah suatu contoh yang indah, apabila dapat diterapkan di kehidupan masyarakat kita? Dimana perbedaan tidak mesti diberangus, tapi dikelola dengan arif dan merangkul yang lain.

 

Tarawih Perkuat Persaudaraan

 

Selain itu, secara tidak langsung, tarawih secara berjamaah mampu memperkuat ikatan persaudaraan (ukhuwah islamiyyah). Bagaimana tidak, hampir setiap hari kita akan bertemu dengan saudara kita. Bagi masyarakat di desa mungkin ini hal yang biasa, namun bagi masyarakat di perkotaan yang memiliki kultur individual, tarawih berjamaah ini akan jadi momentum berharga untuk mengenal tetangga di lingkungannya, atau bahkan mengenal tetangga sebelah rumah yang mungkin belum kenal.

 

Jangan lupakan pula, tradisi berbagi jaburan (makanan atau minuman) usai tarawih. Tradisi yang dilakukan oleh sebagian masyarakat kita ini, menanamkan karakter untuk saling berbagi. Bukan dilihat dari air teh atau gorengan yang disajikan, tapi nilai tasammuh dan peduli sesama, itulah yang diharapkan.

Pada kesimpulannya, dalam tarawih (mulai dari persiapan sampai pelaksanaannya) kita dapat belajar banyak hal. Diantaranya sikap toleransi, demokratis dan sikap tawassuth. Sikap demokratis terdapat pada musyawarah penentuan rakaat. Toleransi dengan menghargai perbedaan yang ada. Sedangkan sikap tawassuth perlu dalam pelaksanakan tarawih, dimana imam semestinya tidak terlalu cepat, juga tidak terlalu lambat.

 

Oleh karena itu, mari kita jaga nilai-nilai tersebut. Jangan sampai perbedaan yang ada, justru menimbulkan bibit perpecahan dan perdebatan yang tak kunjung reda. Jadikanlah perbedaan ini sebagai sebuah rahmat, yang membuat nyaman umat.

 

Mari kita ramaikan tarawih, di masjid, langgar, atau mushola kita. Jadikan tarawih sebagai ruang pembelajaran salat bagi anak-anak kita. Terakhir, semoga tarawih yang kita kerjakan semoga dapat menghapus dosa-dosa kita, sebagaimana keterangan dalam sebuah hadits, sehingga nanti ketika Ramadhan berakhir kita sudah dalam keadaan benar-benar fitrah. Amin.

 

*Ajie Najmuddin

Aktivis Ansor Solo

(Ngaji of the Day) Ketentuan Malam Lailatul Qadar


Ketentuan Malam Lailatul Qadar

 

Malam lailatul qadar yang memiliki 1000 keistimewaan itu menjadi misteri bagi setiap hamba yang mencari dan menanti kehadirannya, hanya sedikit orang yang dapat menemukannya, seakan malam lailatul qadar menjadi rahasia Allah SWT semata, dan hanya hamba-hambaNya tertentu yang dikehendaki untuk menemukannya.


Mengenai ketentuan waktu kapan malam qadar itu terjadi, tidak ada ketetapan secara pasti dalam tanggal-tanggal Ramadhan. Akan tetapi kalau dianalisa dan difahami dari surat al-qadar tersebut akan dikaitkan dengan surat al-Baqarah,


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِى اَنْزَلَ فِيْهِ الْقُرْاَنُ هُدًى للِّنَّاسِ وَبَيِنَتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةُ مِنْ اَيَّامٍ اُخَرَ يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوْا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَاهَدَىكُمْ وَلَعَلَكُمْ تَشْكُرُوْنَ

 

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. al-Baqarah, 2: 185)


Tetapi malam lailatul qadar menjadi kesepakatan ulama, bahwa malam istiwema itu ada dalam satu diantra malam-malam bulan Ramadlon, dan pendapat ulama yang kuat mengatakan; malam lailatul qadar itu terjadi salah satu diantara malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan ramadlon (21, 23, 25, 27, dan 29).


عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا اَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرُّوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ


Dari Aisyah r.a, ia menuturkan, “sesungguhnya Rasulullah s.a.w, bersabda: “carilah malam qadar pada malam-malam ganjil pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari:1878 dan Muslim: 1998)


اِلْتَمِسُوْهَا فِى الْعَشْرِ الْاَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَاِنْ ضَعُفَ اَحَدُكُمْ اَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي


“Carilah lailatul qadar pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan . bila salah seorang diantaramu merasakan lemah atau lelah, maka jangan kamu kalah dalam mencarinya pada tujuh malam terakhir (bukan Ramadhan)”. (Hadits Shahih, riqayat Muslim: 1989)


Dan diantara pendapat-pendapat di atas yang lebih masyhur adalah malam ke-27 bulan ramadlon itulah turunnya lailatul qadar, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan Imam Ahmad dengan sanad shahih:


عَنِ ابْنِ عَمْرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيْهَا فَلْيَتَحَرَّهَافىِ لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ


Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW, bersaabda: barang siapa mencari malam lailatul qadar, maka seyogyanya mencari pada malam ke-27 bulan ramadhan (Hadits Hasan, riwayat Ahmad:4577).


Ubay bin Ka’ab r.a, juga meriwayatkan bahwa malam qadar jatuh pada tanggal 27 Ramadhan:


عَنْ اُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ

 

Dari Ubay bin Ka’ab r.a, ia berkata: “malam Qadar adalah malam tanggal 27 (ramadhan)”. (Hadits Hasan, riwayat Ahmad:20265)Riwayat ini didukung pula oleh hadits Zar bin Hubaisy yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:


قَالَ اُبَيّ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَاللهِ اِنِّي لَا اَعْلَمُهَا قَالَ شُعْبَةُ وَاَكْبَرُ عِلْمِي هِيَ اَللَّيْلَةُ الَّتِي اَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ


Ubay bin Ka’ab berkata tentang malam Qadar: “demi Allah sungguh aku mengetahuinya, syu’bah r.a, berkata: “pengetahuanku yang paling utama adalah tentang suatu malam yang Rasulullah s.a.w, memerintahkan kepada kami untuk menghidupkannya (malam qadar) adalah malam tanggal 27 (Ramadhan)”. (Hadits Shahih, riwayat Muslim:2000). []

 

Penulis: KH. Syaifullah Amin