Jumat, 04 Desember 2020

Sindhunata: Kepergian Seorang ”Mesias”

Kepergian Seorang ”Mesias”

Oleh: Sindhunata

 

Kematian Maradona memang menyibakkan kembali bahwa sepak bola bukan sekadar sepak bola. Sepak bola sungguh bersentuhan dengan yang transenden, semacam ”agama” yang mencuat di tengah sekularisme, fenomena ritual manusiawi di tengah ritualitas agama yang kering, kaku, dan tidak memberi alternatif bagi hidup.

 

Kata teolog Eckhard Bieger, sepak bola adalah pertaruhan, yang tidak bisa dipastikan. Sebuah kesebelasan mempunyai peluang tapi kalah, sementara lawannya minim penguasaan bola tapi menang. Tak sedikit fans bola yang percaya, itu bisa terjadi karena adanya campur tangan kekuatan di luar manusia. Kekuatan itu seperti dewa nasib, yang kadang-kadang tidak adil.

 

Contoh untuk itu tentu adalah Maradona. Di Piala Dunia 1986, ia menyambar bola sapuan pemain Inggris, Steve Hodge, bukan dengan kepala atau kaki, melainkan dengan tangannya. Kiper Inggris, Peter Shilton, terlambat menghalaunya. Mata wasit Tunisia, Ali bin Nasser, seperti terkelabui oleh kelebat Maradona dan mengesahkan gol yang dibuat dengan tangan itu. Tak segan-segan, Maradona mengakui, itu adalah gol tangan Tuhan. Betapa tidak adilnya ”Tuhan” bagi kesebelasan Inggris di Piala Dunia Meksiko itu.

 

Maradona kemudian membuat aksinya lagi. Ia menggiring bola bagaikan seorang penari, melewati enam pemain Inggris. Ia bermanuver sedemikian rupa, sampai pemain Inggris seakan tidak melihatnya, dan akhirnya mencetak gol yang dibukukan sebagai gol abad itu. Gol itu abadi karena lahirnya seakan dari luar kemampuan manusia biasa. ”Maradona adalah pemain bola yang terberkati. Ia bukan pemain bola. Ia seorang seniman, penari. Ia seorang genius,” kata Franz Beckenbauer. ”Memang,” kata pelatih dan filsuf bola César Luis Menotti, ”apa yang dibuat Diego dengan kakinya, kami, manusia insani ini, tak sekali pun bisa membuatnya dengan kedua tangan kami.”

 

Menurut teolog Bieger, walau bukan agama, sepak bola itu religius. Bola memberikan ekstase, yang mengangkat fans-nya keluar dari rutinitas hidup harian dan memberinya suatu pengalaman tentang dunia lain. Maradona bisa memberikan perasaan ekstasis itu. Tak heran bila fans-nya di Buenos Aires menyebut dia ”D1OS”. Kata Spanyol ini berarti ”Tuhan”, dan menunjuk angka 10, nomor punggung Maradona. Bagi fans-nya, Maradona bagaikan orang kudus, sampai mereka mendirikan Iglesia Maradoniana, gereja Maradona. Kalau berkumpul, mereka mengenakan T-shirt bertulisan, ”Saya telah melihat Tuhan”.Itu memang sebuah ide yang gila, tapi ada alasannya. ”Ia telah memberikan demikian banyak kegembiraan bagi kami, rakyat Argentina. Di luar dia, tak ada rasanya yang bisa membuat kami gembira.” Begitu orang-orang meratapi kepergiannya.

 

Maradona telah menjadi simbol harapan orang kecil. Maradona hanyalah anak pekerja miskin. Masa kecilnya dilewatkan di Villa Florito, daerah kumuh di pinggiran Buenos Aires. Siapa dilahirkan di tempat miskin itu, dia akan terhukum untuk tidak mempunyai peluang di masa depan.

 

Ternyata Maradona bisa mematahkan takdir itu. Dan, karena pernah senasib, ia selalu menghidupi detak harapan dari mereka yang terpinggirkan. ”Dengan uangnya, ia bisa hidup sendiri. Tetapi ternyata ia tidak melupakan dari mana ia berasal. Karena itu, kami sangat mencintainya,” kata mereka-mereka yang miskin di sana. Memang, buat mereka, Maradona lebih daripada bola: Ia adalah rakyat. Maradona adalah tempat berpaling ketika rakyat tak menemukan harapannya dalam agama atau negara.

 

Di Napoli, Maradona juga menjadi penyelamat. Bersama Maradona, Napoli meraih gelar scudetto Serie A untuk pertama kalinya pada musim 1986/1987. Masih lagi gelar Piala UEFA 1989 dan scudetto kedua di musim 1989/1990. Ini adalah kehormatan bagi klub di Italia selatan. Selama itu, hanya klub-klub kaya di Italia utara yang bisa menjadi juara. Maka Maradona lalu dijuluki mesias. Di rumah banyak fans Napoli, foto Maradona digantungkan di sebelah salib. Malah ada juga lukisan Madonna dengan si kecil Maradona di pangkuannya. Tak heran koran Vatikan, L’Osservatore Romano, marah dan menyebut Maradona sebagai pribadi menyebalkan, yang suka menghina.

 

Dalam bola

 

Menotti pernah mengungkapkan kata-kata puitis tentang Maradona, ”Bola dan dia lahir bersama-sama ke dunia”. Dan, katanya lagi, ”Diego tidak berada di dunia lain selain dunia bola. Bolalah hidup dan impiannya.” Kata-kata Menotti, filsuf bola ini, ada benarnya. Hanya dalam bola, Maradona menjadi dirinya. Di luar bola, ia ternyata tersasar dalam labirin hidup yang menyesatkannya.

 

Memang di luar bola, hidup Maradona hanyalah ketragisan belaka. Ia kecanduan narkotika, menderita depresi dan skizofrenia. Ia juga menjadi agresif, sampai pernah mengancam hendak menembak wartawan yang membuatnya tak berkenan ketika ia menjadi pelatih kesebelasan Argentina. Beberapa kali ia mencoba bunuh diri. Kerusakan psikis dan mentalnya nyaris tak terobati. Belum lagi obesitas yang mengancam kesehatannya. Hidup keluarganya juga tak terpuji. Paling tidak, ia mempunyai delapan anak dengan enam perempuan. Baru tahun 2019 ia mengaku punya tiga anak di Kuba.

 

Di Kuba, ia berusaha untuk sembuh dari kecanduan narkotikanya, dan bangga karena persahabatannya dengan Fidel Castro. Tetapi sekaligus tercela karena kedekatannya dengan diktator Amerika Latin, seperti Chavez dan Maduro. Ia benar-benar kehilangan orientasi. ”Banyak orang ingin melihat saya mati,” katanya. Akhirnya ia pun mati karena serangan jantung.

 

Maradona bukan hanya el pibe de oro, the golden boy. Ia juga Dios, ”tuhan”. Menurut Friedrich Nietzsche, Tuhan dalam agama Kristiani hanyalah penghalang bagi manusia untuk menjadi dirinya. Maka, katanya, Tuhan harus mati, manusia harus membunuh-Nya, supaya manusia bisa menjadi dirinya, sesempurna-sempurnanya, tanpa hambatan lagi.

 

Maradona bagaikan tesis yang meneguhkan pandangan Nietzsche: ia sempat menjadi superman dan menjadi ”tuhan”. Tetapi sekaligus Maradona adalah antitesis bagi filsafat Nietzsche: pada diri Maradona akhirnya ”tuhan” itu memang mati, tapi bersamaan dengan matinya, mati pula ke-superman-annya. Itulah tragika seorang ”tuhan”, yang di dunia ini masih harus menyandang kemanusiaannya: ”tuhan” itu akhirnya dibunuh oleh kemanusiaannya sendiri, kemanusiaan yang tak terlepas dari kelemahan, kesalahan, kerapuhan, kebuntuan, dan kefanaannya. []

 

KOMPAS, 29 November 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar