"Alangkah bencinya apa yang ku lihat darimu sekarang wahai Khadijah, dan sungguh terkadang Allah jadikan dalam kebencian banyak kebaikan," kata Nabi Muhammad ketika Sayyidah Khadijah wafat.
Pemboikotan ekonomi dan sosial oleh kaum kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad
dan keluarga besarnya sedikit banyak telah menyita kesehatan Sayyidah Khadijah.
Bagaimana tidak, dalam rentang waktu tiga tahun, Sayyidah Khadijah, Nabi
Muhammad, dan keluarganya kekurangan makanan dan minuman, dibatasi
gerak-geriknnya, dikucilkan, dan dilarang melakukan ini-itu. Di samping itu,
usia Sayyidah Khadijah yang sudah tidak muda lagi pada saat itu juga
mempengaruhi kesehatannya.
Kondisi kesehatan Sayyidah Khadijah semakin menurun setelah kejadian itu.
Badannya semakin lemas karena menahan sakit yang menghinggapi tubuhnya. Meski
demikian, tidak ada riwayat yang menyebutkan penyakit apa yang mengakibatkan
Sayyidah Khadijah Wafat. Dalam keadaan itu, sebagaimana diuraikan Ibrahim
Muhammad Hasan al-Jamal dalam Khadijah (2014), Sayyidah Khadijah hanya
berdzikir kepada Allah, meminta ampun kepada-Nya, mengharapkan ridha dan
rahmat-Nya, serta mengosongkan hatinya dari segala sesuatu yang berbau duniawi.
Sementara Nabi Muhammad dengan setia dan penuh kasih sayang mengunggui belahan
hatinya tersebut yang tengah terbaring sakit. Tidak ada kata-kata lain yang
keluar dari mulut beliau kecuali doa kebaikan untuk Sayyidah Khadijah. Ketika
ajal Sayyidah Khadijah sudah dekat, orang-orang terdekat, keluarga, dan
kerabatnya hadir untuk meringankan pertemuannya dengan Allah.
Hingga akhirnya, Sayyidah Khadijah mengembuskan nafas terakhirnya di hadapan
Nabi Muhammad pada hari kesepuluh bulan Ramadhan tahun
kesepuluh Nubuwah. Saat itu, Sayyidah Khadijah berusia 65 tahun, sementara
Nabi Muhammad 50 tahun. Sama seperti manusia pada umumnya, Nabi Muhammad tidak
kuasa membendung air matanya untuk tidak keluar ketika orang terkasihnya pergi.
Terlebih ketika itu Nabi Muhammad sangat membutuhkan kehadiran Sayyidah
Khadijah yang menjadi penyeimbang, penyemangat, dan pendukung setia Nabi dalam
mendakwahkan Islam, di tengah penolakan dan penganiayaan yang dilakukan kaum
kafir Quraisy terhadap beliau dan umatnya.
Kabar wafatnya Sayyidah Khadijah langsung tersebar ke seluruh penjuru Kota
Makkah. Orang-orang bersedih atas kabar tersebut, mengingat perangai dan akhlak
Sayyidah Khadijah yang baik, cerdas, lembut, suka membantu, dan tidak pernah
menyakiti orang. Penduduk Makkah dan kabilah sekitar kota berbondong-bondong
datang ke rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Sayyidah
Khadijah.
Nabi Muhammad sendiri yang turun ke liang lahat kuburan Sayyidah Aisyah. Sambil
malafalkan doa-doa, beliau sendiri juga yang meletakkan jenazah sang belahan
jiwa di tempat persinggahan terakhirnya itu. Tampak jelas kesedihan di wajah
Nabi Muhammad karena ditinggal istri tercintanya.
Wafatnya Sayyidah Khadijah tersebut menambah kesedihan Nabi Muhammad karena
tiga har, riwayat lain dua atau tiga bulan, sebelumnya Abu Thalib, paman
yang menjadi pelindung Nabi mendakwahkan Islam juga meninggal. Maka kemudian
tahun wafatnya Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah (tahun kesepuluh nubuwah)
tersebut dikenang sebagai Tahun Kesedihan (‘Am al-Huzni). Seperti dijelaskan M
Quraish Shihab dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw(2018), kesedihan di sini
maksudnya bukan berarti Nabi Muhammad berduka selama satu tahun atas wafatnya
Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah. Namun, mangkatnya dua tokoh pendukung
mengakibatkan semakin besar kemungkinan tertutupnya banyak peluang dakwah Islam
bagi umat manusia. Padahal sebelumnya beliau melihat ada secercah harapan
tersebarnya dakwah Islam karena dukungan dan pertolongan dua orang tersebut.
Merujuk Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018), rumah Nabi Muhammad menjadi sunyi setelah kepergian Sayyidah Khadijah. Tidak ada lagi keceriaan di sana karena suasana rumah berubah menjadi duka cita. Bahkan setelah wafatnya Sayyidah Khadijah, Nabi Muhammad tidak berkeluarga dalam waktu cukup lama. Beliau tidak langsung menikah karena yakin tidak ada perempuan yang setara dengan Sayyidah Khadijah.
Keadaan Nabi yang hidup sendiri membuat saudara Sayyidah Khadijah, Khaulah,
prihatin. Khaulah kemudian menyarankan kepada Nabi Muhammad agar menikah lagi sehingga
ada yang merawat, menghibur, dan menjadi teman hidupnya. Khaulah kemudian
menyebutkan dua nama; Saudah binti Zam’ah dan Aisyah binti Abu Bakar. Nabi
Muhammad setuju dengan usulan itu dan kemudian menikahi Sayyidah Saudah dan
kemudian Sayyidah Aisyah.
Meski Nabi Muhammad sudah menikah dengan perempuan lain, namun posisi Sayyidah
Khadijah di benak Nabi tidak tergantikan. Beliau mengenang dan menghormati
segala hal yang berkaitan dengan Sayyidah Khadijah—walau sang belahan hati
sudah lama meninggalkannya. Mulai dari barang-barang, perhiasan, kerabat,
sahabat, dan orang-orang yang pernah berinteraksi dengan Sayyidah Khadijah. []
Sumber: NU Online
Tidak ada komentar:
Posting Komentar