Selasa, 17 Juni 2014

(Tradisi of the Day) NU Ngadirejo Giatkan Kembali Tradisi Nyekar Jelang Ramadhan



NU Ngadirejo Giatkan Kembali Tradisi Nyekar Jelang Ramadhan


Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Ngadirejo, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menggiatkan kembali tradisi nyekar ke makam kakek-nenek, orang-tua, dan saudara. Hal ini dilakukan berdasarkan imbauan dari Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Mojogedang yang menegaskan agar tradisi-tradisi baik menjelang Ramadhan dilakukan kembali.

Wati, salah satu warga Ngadirejo, mengatakan, awalnya tradisi nyekar sudah ada di desanya namun sempat terhenti beberapa tahun setelah ada seseorang yang mengatakan bahwa tradisi ini tidak boleh dilakukan.

“Masih ada beberapa yang melakukan namun dengan tata cara yang kurang sesuai misalnya dengan membawa makanan ke makam lalu makanan tersebut dibagi-bagi dan diletakkan pada masing-masing makam keluarga dan terkadang makanan tersebut lalu dibuang. Jadi hemat kami itu adalah bentuk pemubadziran,” ungkapnya kepada NU Online usai nyekar, Ahad (15/6).

Momen Kebersamaan

Lebih lanjut Wati menyatakan bahwa acara nyekar tahun ini berbeda. Dengan bimbingan dari salah satu pengurus Ranting NU Ngadirejo nuansa kebersamaan dan inti dari nyekar tersebut lebih mengena.

“Acara dimulai dari bakda maghrib. Jadi para warga berkumpul di masjid dengan membawa bunga yang ditaruh dalam air serta membawa makanan untuk dibagikan kepada anak-anak kecil serta tetangga yang tidak membawa makanan. Setelah itu pengurus ranting NU mulai memimpin pembacaan yasin serta tahlil dan dilanjutkan dengan tausyiah yang isinya adalah penjelasan dari makna dan tujuan tradisi tersebut,” imbuhnya.

Usai acara ini, lanjutnya, pagi harinya para warga mulai dari anak kecil hingga orang tua kembali berkumpul di masjid untuk kemudian berjalan bersama-sama ke makam. Memang semua dianjurkan untuk tidak membawa motor kecuali bagi yang udzur misal sudah sangat tua. Hal ini dimaksudkan agar tercipta rasa kebersamaan dan keakraban. Pasalnya, semenjak banyak warga yang memiliki motor sudah tidak ada lagi momen yang bisa membuat warga berjalan bersama-sama.

Sesampainya di kompleks makam para warga kemudian duduk untuk mendengarkan pengarahan dari pengurus Ranting NU tentang tata cara nyekar sebagaimana tata cara berziarah. Dilanjut membaca tahlil dan tak lupa membacakan satu persatu nama ahli kubur dari masing-masing keluarga yang sudah ditulis. Barulah kemudian warga menuju makam keluarga untuk nyekar atau menaburkan sekar (bunga).

Dengan adanya pengarahan dari Ranting NU seperti ini, warga tampak sangat antusias karena tradisi yang hampir punah ini bisa dilanjutkan lagi. Warga pun sekarang sudah bisa membedakan tata cara nyekar atau ziarah yang tidak diperbolehan dan nyekar yang dianjurkan. []

(Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar