Rabu, 18 Juni 2014

Kang Sobary: Teka Teki Satrio Piningit



Teka Teki Satrio Piningit
Oleh: Mohamad Sobary

Sebuah media di Jawa Tengah mengangkat isu Satrio Piningit. Saya ditanya, kenapa dalam dunia modern yang sudah demikian rasional, kita masih percaya pada gagasan Satrio Piningit?

Mungkin sebabnya, di dunia modern yang disebut sudah demikian rasional ini pun, hidup kita—juga di dunia politik—sangat sering tidak rasional. Tidak jarang kita berhadapan dengan yang serba-“tidak ideal”. Kita mau memilih tokoh, misalnya, tapi yang mau dipilih itu tidak ada.

Kita “dipaksa” memilih stok lama yang sejak dulu tidak kita pilih. Kita menghindarinya karena bayangan kita mengenai “yang ideal” itu tak terpenuhi.

Kita lalu merasa skeptis. Kemudian perasaan tanpa semangat, serba-apatis, dan tak ingin terlibat dalam politik, meluas. Kita bicara mengenai “golput”, atau sikap tak peduli yang menjengkelkan.

Orang—sampai saat ini—masih juga bertanya, kita akan memilih siapa. Ketika dijawab, memilih yang terbaik, keresahan selanjutnya muncul, “yang terbaik” itu tidak ada. Politik lalu berhadapan dengan sejenis jalan buntu.

Ketika para pemimpin di Jakarta, yang masing-masing memiliki kepentingan politiknya sendiri, berpendapat seorang perempuan, tak peduli partainya menang, tak boleh menjadi pemimpin, arti praktisnya tak boleh menjadi presiden, jalan politik pun betul-betul buntu.

Mereka berakrobat. Tiap pihak merasa dirinya yang pantas menjadi presiden. Tapi entah bagaimana, saat itu posisi tersebut ditawarkan pada Gus Dur, dan ia pun menjadi presiden.

Sekali lagi, di dunia modern, yang sudah demikian rasional ini, orang-orang pandai yang disebut tokoh-tokoh masyarakat, melakukan tindakan tidak rasional. Apa gunanya pemilihan umum kalau pemenangnya tak boleh menjadi presiden? Bukankah ini berarti pemenang tak boleh menjadi pemenang karena ia seorang perempuan?

Kalau dirumuskan dengan akal yang logis, lurus, dan apa adanya, berarti seorang perempuan tidak boleh menang. Kalau dalam kontes politik terbuka ia ternyata menang, kemenangannya dibatalkan. Pembatalan ini wajib hukumnya.

Siapa di antara tokoh-tokoh itu—yang punya ambisi politik sendiri—yang bisa dianggap paling bertanggung jawab? Amien Rais merumuskan apa yang disebut “poros tengah”, pencari jalan keluar, pada hakikatnya sama dengan yang lain. Itu karena bayangannya, jalan keluar hendaknya memihak dirinya. Namun, ketika Gus Dur menerima tawaran tanpa berpikir panjang, ambisi para tokoh pun lenyap.

Serasional-rasionalnya dunia politik modern, yang sudah menempuh cara memilih pemimpin dengan “pemilu” dan menggunakan prinsip rasional, yang diterima semua pihak: one man one vote, kenyataannya diperlukan sebuah poros yang dicari-cari. Politik rasional pun masih tidak rasional.

“Kartu Langit”

Dalam politik rasional yang tidak rasional ini, apa salahnya muncul campur tangan dari dunia mitologi, yang bicara tentang Satrio Piningit tadi? Dalam logika macam ini, bisa juga disebutkan Satrio Piningit itu “kartu langit” yang dimainkan diam-diam.

Tokoh yang disebut “kartu langit” ini bisa siapa saja. Kita boleh menyebut siapa saja nama yang mana pun juga, sejauh penjelasan kita masuk akal. Nama yang piningit, artinya yang dipingit, jelas bukan nama-nama yang sudah lama kita ketahui sebagai calon presiden.

Mari kita sebut semua nama yang dianggap potensial oleh partai mereka, atau oleh masyarakat pendukung mereka masing-masing. Semua nama boleh disebut, disertai rangkaian prestasinya, sikap politiknya, garis perjuangan politiknya, juga idealisme yang hendak diperjuangkannya.

Kalau dikatakan “semua nama”, berarti nama siapa pun boleh disebutkan dan boleh dianggap dialah yang Satrio Piningit tadi. Dengan ukuran-ukuran rasional tertentu, serta dengan subjektivitas yang tak disembunyikan, saya menyebutkan di sini nama Jokowi.

Saya bukan anggota tim suksesnya, bukan teman ngopinya, dan bukan bagian apa pun yang berseliweran di sekitarnya beberapa jam sehari. Saya berada di jarak yang jauh. Meskipun begitu, bagi saya tampaknya Jokowi yang disebut “kartu” yang dimainkan kekuatan-kekuatan langit secara rahasia.

Ia “dimainkan” dengan baik di Solo dan menyandang sukses di luar dugaan. Belum selesai tugasnya di sana, ia “dimainkan” lagi di Jakarta, dengan cara yang begitu elegan meskipun agak kurang pantas. Kurang pantas karena tugasnya di Solo belum selesai, dan kurang pantas—maaf, penampilannya yang tak meyakinkan bagi orang-orang Jakarta. Namun, “kartu” ini menang dengan gemilang di Jakarta.

Soal pro-kontra mungkin lumrah dan biasa terjadi di dunia politik. Main bola tingkat kampung saja bisa menimbulkan pro-kontra. Apalagi, mungkin secara pribadi Jokowi tak tertarik dunia politik, dan karena itu mungkin tak berambisi untuk bermain di wilayah politik.

Fenomena ini mungkin malah bisa menjadi penjelasan yang bagus, bahwa ia sekadar “kartu” yang dimainkan kekuatan-kekuatan langit tadi. Sekarang ia menjadi calon presiden, berhadapan dengan tokoh Jakarta yang gagah-gagah, hebat-hebat, semua serbamentereng, serbaberpengalaman, dan punya postur paling “josss” untuk duduk di Istana Negara. Ini tentu saja dengan catatan, yang seperti itulah yang didambakan rakyat.

Kalau rakyat membutuhkan tampah “ndeso” yang sangat sederhana, bagaimana? Mungkin ini bisa membuat banyak kalangan jengkel. Namun, adakah pemilu di dunia ini yang betul-betul rasional, serta semua pemilih membuat keputusan memilih hanya sepenuhnya rasional? Ini masalahnya.

Sekali lagi, “kartu” ini dimainkan kekuatan-kekuatan langit dengan penuh keyakinan. “Langit” menjadikannya seorang Satrio Piningit, artinya “jago” yang siap bertarung di medan laga yang keras sekalipun.

Satrio Piningit memang serbapenuh rahasia dan kelihatan tidak cocok menurut ukuran biasa. Tapi “langit” sering punya rencana dan takdir tersendiri yang tak masuk akal bagi kita. Hidup memang sering tak masuk akal. []

SINAR HARAPAN, 21 Mei 2014
Mohamad Sobary ; Budayawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar