Tampilkan postingan dengan label Tradisi of the Day. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi of the Day. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juni 2014

(Tradisi of the Day) Padusan, Bersihkan Diri Sebelum Puasa



Tradisi Padusan, Bersihkan Diri Sebelum Puasa

Menyambut Ramadhan, ratusan warga di kawasan Umbul Tirtomarto Pengging Boyolali melangsungkan tradisi Padusan. Padusan dimulai sejak pagi. Setelah dibuka dengan penampilan tari tradisional dan pembacaan doa, padusan pun dimulai.

Bupati Boyolali Seno Samodro yang hadir dalam kesempatan itu mengatakan, tradisi padusan ini dimaksudkan untuk menyucikan diri dari segala kotoran baik secara fisik maupun rohani.

“Siraman atau padusan ini diartikan sebagai pembersihan diri dari segala kotoran sebelum menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Ini sudah menjadi tradisi turun temurun,” kata Seno.

Menurut keterangan panitia, padusan ini digelar selama dua hari. Dari pantauan, ratusan pengunjung yang datang dari berbagai daerah memadati kawasan Umbul Tirtomato, untuk meramaikan acara padusan. []

(Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Jumat, 27 Juni 2014

(Tradisi of the Day) Manjalang Pusaro, Menyambut Ramadhan di Pariaman



TRADISI
Manjalang Pusaro, Menyambut Ramadhan di Pariaman 

Beragam tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat Nusantara dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Ibarat pepatah, lain lubuk lain pula ikannya. Lain masyarakat, lain pula yang dilakukan dalam menyongsong bulan suci Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi.

Di Pariaman, baik Kota Pariaman maupun Kabupaten Padangpariaman, Provinsi Sumatera Barat, menjelang Ramadhan, masyarakat melakukan kegiatan manjalang pusaro. Di sebagian nagari (desa, di Jawa), ada yang menyebutnya ka pusaro atau ratih pusaro. Kegiatan ini dilakukan oleh satu kaum/suku di pandam pekuburan (taman pemakaman) milik kaum tersebut. Misalkan yang mengadakan ka pusaro suku Tanjung di pandam pekuburan kaumnya, hanya diikuti suku Tanjung yang keluarganya dimakamkan di kuburan tersebut. Mereka yang boleh dikuburkan di pandam kuburan itu hanyalah keluarga dari kaum itu sendiri yang berasal dari jalur keturunan ibu. Sedangkan sumando (suami dari perempuan kaum itu), boleh dimakamkan jika sudah mendapat izin dari ninik mamak kaum. Sementara anak-anak dari kaum laki-laki tidak boleh dimakamkan di pandam kuburan kaumnya, melainkan di pandam pekuburan ibunya pula.

Pada acara ka pusaro ini, kaum perempuan membawa jamba yang berisi nasi dan beragam sambal. Ditambah dengan makanan snack seperti, agar-agar, kue bulu, roti dan buah-buahan seperti pisang, pepaya, semangka dan lainnya. Pelaksanaan manjalang pusaro sudah boleh dilakukan mulai bulan Sa’ban hingga sehari menjelang Ramadhan.

Beberapa urang siak (pembaca ayat-ayat Al Qur’an dan doa) duduk di atas hamparan tikar yang sudah disediakan di sekitar kawasan kuburan. Ada juga pandam kuburan yang sudah memiliki bangunan tempat meletakan jamba dan urang siak. Bangunan sederhana tersebut biasanya pondok beratap seng, berlantai semen, namun tidak ada dinding.

Seperti yang dilakukan suku Tanjung di Desa Sungai Pasak Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, pada Sabtu (14/6/2014), beberapa urang siak kampung duduk bersama anggota kaum. Baik kaum perempuan, laki-laki, anak-anak, muda-mudi, orang dewasa maupun orang tua. Semuanya berkumpul.

Urang siak memulainya dengan membaca Al-Fatihah, dilanjutkan membaca surat Al Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, awal dan akhir surat Al-Baqarah, tahlilan, salawat kepada Nabi Muhammad Saw, dan diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin salah seorang urang siak. Pada bagian tertentu, bacaan yang dibaca urang siak juga diikuti oleh seluruh hadirin. Selesai doa bersama, dilanjutkan makan bersama di tempat yang sudah disediakan. Jika belum ada pondok di sekitar pemakaman, bisa saja di sekitar pemakaman yang tanahnya datar dan tidak ada kuburan dibentangkan tikar. Semua yang hadir turut makan bersama tanpa kecuali.

Saat berlangsung rangkaian tahlilan dan bacaan-bacaan ayat Al-Qur’an, seseorang pemuda menjalankan sumbangan dengan topi atau kotak kepada yang hadir. Masing-masing menyumbang ala kadarnya sesuai dengan kemampuan. Ada yang menyumbang Rp 5.000, 10.000, juga ada yang Rp 50.000, bahkan Rp 100.000. Itu tergantung kondisi ekonomi, makin sehat ekonominya, tentu sumbangannya makin besar. Sumbangan yang terkumpul diserahkan kepada datuak kaum. Selanjutnya sumbangan dibagi untuk sadakah (amplop) urang siak yang turut berdo’a dan tahlilan.

Rangkaian acara ka pusaro ini dimulai pagi hari dengan membersihkan lahan pandam pekuburan dari semak belukar yang sudah memenuhi areal pekuburan. Kaum laki-laki dan sebagian perempuan yang ada nenek moyang dan dunsanak (saudara) yang sudah dikuburkan di areal ini datang bergotongroyong bersama-sama. Biasanya menjelang masuknya waktu shalat zuhur, semua lahan sudah bersih. Semuanya kembali ke tempat masing-masing.

Sesaat menjelang waktu Ashar, 3 hingga 6 orang kembali ke areal pandam pekuburan. Persis usai shalat Ashar, semua warga kaum berkumpul yang diiringi pula urang siak ke pandam pekuburan untuk memimpin doa.

Menurut Pimpinan Pondok Pesantren Jamiatul Mukminin Nagari Sintuak Kecamatan Sintuak Tobohgadang Kabupaten Padangpariaman Azwar Tuanku Sidi kepada NU Online, Kamis (19/6/2014) tata cara manjalang pusaro di beberapa nagari ada perbedaan. Di Nagari Sintuak, Tapakih, Ulakan, Tobohgadang dilakukan usai lebaran Idul Fitri. Waktunya mulai sehari usai lebaran hingga 6 hari lebaran. Artinya selama waktu puasa enam Syawal. Urang siaknya berkisar antara 8–12 orang. Karena ditambah pula dengan ratik labai (labai=pegawai masjid di nagari). Tentu di hari lebaran Idul Fitri keluarga dari rantau pulang kampung. Sehingga semua keluarga punya kesempatan untuk hadir bersama di pusaro.

“Menjelang Ramadhan, umumnya warga mengundang beberapa orang siak untuk mando’a. Di rumah, warga menyampaikan maksudnya kepada urang siak, yakni mendoakan para orangtua (leluhur) yang sudah wafat, tanaman dan harta pusaka sawah ladang yang ditinggalkan agar berkah, keluarga yang masih hidup rukun, rezeki penuh berkah,” kata Azwar Tuanku Sidi yang juga Mustasyar PC Nahdlatul Ulama Kabupaten Padangpariaman ini.

Berbeda di nagari kawasan Kecamatan Sungailimau, manjalang pusaro dinamakan pula ratih pusaro. Menjelang Ramadhan, beberapa keluarga sepakat mengumumkan ratik pusaro dimulai pada hari yang sudah ditetapkan. Jumlah urang siaknya lebih sedikit, cukup 3 orang.

Ka pusaro ada beberapa hikmah yang dapat dipetik. Pertama, mendekatkan para anggota kaum yang masih hidup pada kuburan. Semua yang hadir teringat akan mati, pada suatu hari kelak juga akan dikuburkan di pandam pekuburan kaum tersebut. Sehingga selalu mengingat kematian, menjauhi perbuatan dosa dan memperbanyak amal shaleh.

Kedua, memupuk rasa bergotongroyong dengan bersama-sama bersihkan pandam pekuburan. Ketiga, meningkatkan silaturrahmi sesama anggota kaum. Selama ini masing-masing anggota keluarga sibuk dengan urusan sendiri, sudah banyak pula muncul generasi baru (anak kemenakan) sehingga perlu diperkenalkan dengan dunsanak yang lain. Keempat, memperkenalkan tradisi yang sudah dilakukan kaum sejak lama kepada anak-anak dan generasi muda.

Menurut Azwar, manjalang pusaro sama saja dengan ziarah. Bedanya, ziarah dilakukan kepada kuburan guru, ulama dan wali Allah. Ziarah waktunya bisa dilakukan kapan saja. Sedangkan ka pusaro dilakukan pada waktu tertentu kepada kuburan orangtua, nenek/kakek atau keluarga terdekat. “ Tradisi manjalang pusaro ini, kata Azwar, mulai dilakukan sejak Syekh Burhanuddin menyebarkan Islam di Pariaman, umumnya di Minangkabau. Sehingga dapat dikatakan manjalang pusaro ini tradisi yang dikembangkan oleh Syekh Burhanuddin, Ulakan, untuk mengingatkan umat Islam akan kematian dan tempat akhir perjalanan seorang manusia. Yakni kuburan.

KH. Muhyiddin Abdusshomad dalam Hujjah NU menyebutkan, pada masa awal Islam, Rasulullah Saw. memang melarang umat Islam untuk melakukan ziarah kubur, karena khawatir umat Islam akan menjadi penyembah kuburan. Setelah akidah umat Islam kuat, dan tidak ada kekhawatiran untuk berbuat syirik, Rasulullah Saw membolehkan para sahabatnya untuk melakukan ziarah kubur.

“Dari Buraidah, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Saya pernah melarang kamu berziarah kubur. Tapi sekarang, Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah!. Karena perbuatan itu dapat mengingatkan kamu pada akhirat.” (HR. Al-Tirmidzi).

Ketika berziarah, seseorang dianjurkan untuk membaca al-Qur’an atau lainnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. “Dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda,”Bacalah surat Yasin pada orang-orang mati di antara kamu.” (HR. Abu Dawud).

Dalil itu membuktikan bahwa ziarah kubur itu memang dianjurkan. Terlebih jika yang diziarahi itu adalah makam para wali dan orang shaleh. Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengan melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab, berziarah ke makam para wali adalah ibadah yang disunnahkan. Demikian dengan perjalanan ke makam mereka. (Al-Fatawi al-Kubra, juz II, hal. 24).

Ulama salaf Imam al-Syafi’i mencontohkan berziarah ke makam Laits bin Sa’ad dan membaca al-Qur’an sampai khatam di sana (al-Dzakhirah al-Tsaminah, hal. 64). Bahkan diceritakan bahwa Imam Syafi’i jika ada hajat, setiap hari beliau berziarah ke makam Imam Abu Hanifah. Demikian KH. Muhyiddin Abdusshomad menjelaskan. []

(Bagindo Armaidi Tanjung)

Rabu, 25 Juni 2014

(Tradisi of the Day) Berebut Ayam Nazar, Syukur kepada Ilahi



TRADISI MONDOSIYO
Berebut Ayam Nazar, Syukur kepada Ilahi

Selasa sore yang cerah di Dusun Pancot, Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, suasana terlihat ramai. Ratusan warga keluar rumah, untuk kemudian berbondong-bondong menuju sebuah rumah joglo yang berada di tengah dusun.

Rupanya mereka tengah bersiap untuk ikut meramaikan tradisi bersih dusun yang digelar setiap Selasa Kliwon wuku Mondosiyo. Oleh karena itu, tradisi ini disebut Mondosiyo.

Di sekeliling rumah joglo itu, atraksi reog mengiringi rangkaian upacara adat yang sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang dusun setempat.

Selepas doa dibacakan, seketika ratusan pemuda yang sudah sedari siang berkumpul pun mulai bersiap. Rupanya, tetua dusun sudah menyiapkan belasan ayam. Itu lah yang ternyata menjadi sasaran tembak ratusan pasang mata pemuda itu.

“Kyaaak… Kyaaak… Kyaaak,” jeritan ayam-ayam itu mulai menyeruak usai mereka dilepaskan oleh tetua dusun.

Para pemuda desa itu langsung berhamburan mengejar ayam-ayam. Dengan berbagai cara, mereka berusaha menangkap ayam untuk bisa dibawa pulang. Satu per satu ayam pun mulai berhasil ditangkap meski para pemuda harus rela memanjat tiang bahkan atap demi ayam nazar yang sudah didoakan itu.

Dalam Tradisi Mondosiyo, tiap warga yang sudah bernazar bakal menyerahkan dua ekor ayam untuk dibiarkan 'dimangsa' para pemuda. Salah satu warga, Riyani yang ikut bernazar, mengaku dua ekor ayam yang diserahkannya ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur karena putrinya telah diberi kesembuhan oleh Allah dari penyakit tifus yang cukup lama dideritanya.

“Anak saya sudah didiagnosa dokter terkena tifus. Saya tidak punya uang untuk merawatnya di rumah sakit. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh dan ini nazar saya,” ujarnya sembari tersenyum haru.

Tradisi Mondosiyo yang rutin digelar setiap tujuh bulan, diawali dengan cebukan atau mengumpulkan aneka ubo rampe. Kemudian prosesi dilanjutkan dengan nutuk bende keliling desa. Sementara para tetua desa menyembelih kurban kambing dan ayam yang nantinya akan dimakan bersama warga.

“Tradisi ini sudah turun-temurun sejak ratusan tahun silam,” kata Kepala Lingkungan Dusun Pancot, Sulardiyanto.

Selain melestarikan tradisi leluhur, acara adat ini juga mampu mendongkrak ekonomi warga. Sebab, dengan acara ini warga bisa menjual aneka produk kerajinan kepada wisatawan yang datang dari berbagai daerah. []

(Rodif/Ajie/Mahbib)

Sumber: NU Online

Selasa, 17 Juni 2014

(Tradisi of the Day) NU Ngadirejo Giatkan Kembali Tradisi Nyekar Jelang Ramadhan



NU Ngadirejo Giatkan Kembali Tradisi Nyekar Jelang Ramadhan


Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Ngadirejo, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menggiatkan kembali tradisi nyekar ke makam kakek-nenek, orang-tua, dan saudara. Hal ini dilakukan berdasarkan imbauan dari Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Mojogedang yang menegaskan agar tradisi-tradisi baik menjelang Ramadhan dilakukan kembali.

Wati, salah satu warga Ngadirejo, mengatakan, awalnya tradisi nyekar sudah ada di desanya namun sempat terhenti beberapa tahun setelah ada seseorang yang mengatakan bahwa tradisi ini tidak boleh dilakukan.

“Masih ada beberapa yang melakukan namun dengan tata cara yang kurang sesuai misalnya dengan membawa makanan ke makam lalu makanan tersebut dibagi-bagi dan diletakkan pada masing-masing makam keluarga dan terkadang makanan tersebut lalu dibuang. Jadi hemat kami itu adalah bentuk pemubadziran,” ungkapnya kepada NU Online usai nyekar, Ahad (15/6).

Momen Kebersamaan

Lebih lanjut Wati menyatakan bahwa acara nyekar tahun ini berbeda. Dengan bimbingan dari salah satu pengurus Ranting NU Ngadirejo nuansa kebersamaan dan inti dari nyekar tersebut lebih mengena.

“Acara dimulai dari bakda maghrib. Jadi para warga berkumpul di masjid dengan membawa bunga yang ditaruh dalam air serta membawa makanan untuk dibagikan kepada anak-anak kecil serta tetangga yang tidak membawa makanan. Setelah itu pengurus ranting NU mulai memimpin pembacaan yasin serta tahlil dan dilanjutkan dengan tausyiah yang isinya adalah penjelasan dari makna dan tujuan tradisi tersebut,” imbuhnya.

Usai acara ini, lanjutnya, pagi harinya para warga mulai dari anak kecil hingga orang tua kembali berkumpul di masjid untuk kemudian berjalan bersama-sama ke makam. Memang semua dianjurkan untuk tidak membawa motor kecuali bagi yang udzur misal sudah sangat tua. Hal ini dimaksudkan agar tercipta rasa kebersamaan dan keakraban. Pasalnya, semenjak banyak warga yang memiliki motor sudah tidak ada lagi momen yang bisa membuat warga berjalan bersama-sama.

Sesampainya di kompleks makam para warga kemudian duduk untuk mendengarkan pengarahan dari pengurus Ranting NU tentang tata cara nyekar sebagaimana tata cara berziarah. Dilanjut membaca tahlil dan tak lupa membacakan satu persatu nama ahli kubur dari masing-masing keluarga yang sudah ditulis. Barulah kemudian warga menuju makam keluarga untuk nyekar atau menaburkan sekar (bunga).

Dengan adanya pengarahan dari Ranting NU seperti ini, warga tampak sangat antusias karena tradisi yang hampir punah ini bisa dilanjutkan lagi. Warga pun sekarang sudah bisa membedakan tata cara nyekar atau ziarah yang tidak diperbolehan dan nyekar yang dianjurkan. []

(Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Jumat, 16 Agustus 2013

(Tradisi of the Day) "Gerebeg Kupat" Warga Dawung, Magelang


Tradisi "Gerebeg Kupat" Warga Dawung, Magelang

 

Magelang, NU Online

Warga Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada Selasa menggelar "Gerebeg Kupat". Anak-anak dan orang dewasa berkumpul di Lapangan Dawung untuk menyaksikan tradisi tahunan setelah Hari Raya Idul Fitri tersebut. Warga mengawali gerebeg kupat atau ketupat dengan bersalam-salaman, saling memaafkan, lalu mengusung gunungan setinggi 2,5 meter yang terdiri atas sekitar 800 ketupat, sayur mayur, dan buah-buahan keliling dusun.


Kesenian topeng ireng dan tarian dayakan khas Magelang mengiringi kirab gunungan ketupat tersebut. Usai kirab, gunungan diletakkan di tengah lapangan. Sekelompok anak perempuan lantas menarikan Tarian Prawita Lestari. Musik gamelan menghentak setelah sesepuh dusun membacakan doa. Dan begitu mendengar aba-aba "Gerebeg Kupat Dimulai", ratusan warga langsung menyerbu gunungan tersebut.


Mereka berebut mendapatkan ketupat pada gunungan yang berisi uang dan macam-macam kupon. Koordinator acara Gerebeg Kupat dan Lintas Budaya Kampung, Gepeng Nugroho, mengatakan, acara gerebeg kupat sarat dengan makna. Ia menjelaskan, kata gerebeg mengandung arti kebersamaan dan berlomba-lomba, sedangkan kata kupat, dalam bahasa Jawa berarti ngaku lepat atau mengakui kesalahan.


"Jadi acara ini dimaksudkan untuk sama-sama mengakui kesalahan dan menghabiskannya dengan permintaan maaf," katanya.


Ketupat yang mendominasi gunungan, lanjut dia, merupakan simbol kesalahan yang harus dimaafkan secara bersama-sama.


"Uang atau kupon yang ada di dalam ketupat merupakan bentuk kegembiraan di bulan Syawal ini. Kami bersenang-senang, namun tetap membagi kegembiraan pada orang lain. Uang atau kupon ini juga dikumpulkan dari warga sebagai ungkapan syukur," katanya.


Redaktur: Mukafi Niam

Sumber : Antara