Selasa, 07 Mei 2013

(Ngaji of the Day) Makna Perginya Orang-orang Saleh


Makna Perginya Orang-orang Saleh

Oleh: Syarif Hidayat S.

 

Belakangan ini, umat Islam Indonesia kembali dilanda kesedihan dengan wafatnya sejumlah ulama, sejak Kiai Ahmad Warsun Munawwir Yogyakarta, Kiai Abdullah Mlangi Yogyakarta, sampai Kiai Abdullah Syifa Akyas Buntet Cirebon.


Peristiwa ini mengingatkan kita pada peristiwa setahun silam, di mana Kiai Munif Djazuli Ploso, Kiai Abdullah Faqih Langitan, Kiai Sofyan Situbondo, Kiai Fawaid Syamsul Arifin Situbondo serta Mbah Liem Klaten juga meninggalkan kita. Fenomena kewafatan ulama ini cukup mengharukan, khususnya yang terjadi sejak 10 tahun terakhir di berbagai negara.

 

Dalam sebuah risalahnya, Kiai Soleh Ndarat Semarang pernah berujar bahwa kewalian seseorang terlihat manakala dia wafat. Jika pada saat wafat, para pelayat demikian melimpah atau peziarah ke makamnya begitu banyak, maka hampir mendekati kepastian bahwa orang wafat tersebut merupakan wali Allah. Dalam tradisi sufisme, mustahil mengetahui derajat kewalian seseorang hanya berdasar parameter publik. Seorang wali hanya akan diketahui status kewaliannya oleh wali lainnya. Namun, risalah Soleh Ndarat mengajarkan kepada kita tips sederhana apakah seorang mukmin termasuk wali atau tidak hanya dengan melihat banyak tidaknya pelayat yang hadir.

 

Ketika Almarhum Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani wafat pada Ramadan tahun 2004, hampir 300 ribu pelayat hadir di kota Mekkah. Jumlah pelayat yang demikian banyak itu menunjukkan betapa besar pengaruh Imam Muhaddits tersebut. Meski semasa hidup Abuya dicap sesat oleh sejumlah ulama Wahabi, namun kharismanya terpancar jelas pada saat beliau wafat. Jumlah pelayat yang sedemikian banyak memecahkan rekor para pelayat di bumi manapun di Arab Saudi. Bahkan, ketika ulama Wahabi wafat seperti Syekh Abdul Azis Bin Baz jumlah pelayat tak sebanyak itu.

 

Fenomena pelayat pada pemakaman Abuya menunjukkan bahwa penduduk Hijaz sebenarnya adalah pengagum Abuya Muhammad Al Maliki Al Hasani. Seandainya kaum Wahabi toleran dan tak memaksakan pendapatnya, kita yakin bahwa penduduk Hijaz adalah sepenuhnya penganut ahlu sunnah waljamaah. Doktrin Wahabi yang gampang mengkafirkan orang membuat gerak para penganut ahlu sunnah wal jamaah menjadi terbatas. Doktrin Wahabi sendiri berasal dari Nejed dan bukan Hijaz. Penaklukan Hijaz oleh Ibnu Saud dan pemaksaan paham Wahabinya menyebabkan penduduk Hijaz terpaksa menjadi Wahabi.

 

Jumlah pelayat yang besar juga terlihat pada pemakaman tokoh-tokoh besar yang selama hidupnya dianggap nyeleneh. Contoh aktual adalah pada figur Gus Mik dan Gus Dur. Dua tokoh bersahabat yang sering dituding menyimpang oleh kalangan puritan tersebut justru menuai banyak simpati ketika wafat. Pemakaman Gus Miek dan Gus Dur dihadiri oleh banyak orang. Ada cerita menarik tentang Gus Dur dan Gus Mik. Dalam sebuah tulisannya di Kompas, Gus Dur menyebut betapa jitunya Gus Mik meramalkan bahwa Gus Mik akan dimakamkan di makam Tembak bersama Kiai Ahmad Siddiq dan Gus Dur. Faktanya, Gus Mik memang dimakamkan di Tembak, sama dengan Kiai Ahmad Siddiq, namun tidak dengan Gus Dur yang dimakamkan di Tebuireng.

 

Kaum puritan menggunakan ketidaktepatan realitas ini sebagai amunisi bahwa Gus Mik bukan wali. Karena ramalan Gus Mik bahwa Gus Dur akan dimakamkan di Tembak tidaklah tepat. Namun, kaum puritan tak paham bahwa sufisme bukanlah soal identifikasi tentang akurasi. Sufisme berbicara tentang siginifikansi. Sufisme berjalan dengan logika fuzzy, logika yang lebih mementingkan momentum signifikansi daripada presisi sebuah peristiwa.

 

Wali adalah terma khas kaum sunni dan syiah. Kewalian berkait erat dengan tingkat kesucian tertinggi dalam hidup yaitu al arif billah. Dalam kosmologi sufisme, wali adalah pelindung bagi sebuah negeri. Wali juga berkait erat dengan kapasitas keilmuan seseorang. Seorang wali sudah pasti alim. Namun ada wali yang mengikuti parameter akademik keilmuan Islam, ada juga yang tidak. Para wali dari kelompok muhadditsin merupakan wali dari kelompok akademik Islam. Contohnya adalah Imam Syafi’i, Jalaludin Suyuti, Imam Nawawi atau Izzudin Bin Abdul Salam. Mereka terlacak kapasitas keilmuan agamanya, termasuk dari gelar akademik ilmu hadits seperti Al hafidz, Al Hujjah ataupun Imam.

 

Namun ada wali yang tak terlacak standar keilmuannya. Selama hidup para wali ini biasanya hanya belajar agama “sekedarnya”. Namun, kealimannya tak bisa ditolak. Di masa nabi, wali jenis ini contohnya adalah Uways Al Qorni. Tradisi sufi juga mencatat nama sufi tersohor murid Hasan Bashri, Habib Al Ajami. Al Ajami tercatat sebagai seorang alim yang lidahnya terbata-bata dalam berbahasa Arab. Indonesia modern mengenal Gus Mik pada wali tipe ini. Secara lahiriah, Gus Mik hanya belajar agama seadanya. Tapi banyak orang mengakui kealiman Gus Mik termasuk mereka yang secara lahiriah belajar agama secara metodologis dan sistemis seperti kiai Hamid Pasuruan dan Kiai Ahmad Siddiq.

 

Para wali nyeleneh hidup dalam suasana beragama meminjam istilah Charles Le Gai Eaton disebut ex-centric, yaitu dimensi yang jauh dari centre agama bersangkutan. Namun, dalam sufisme sendiri ex centric justru berkait erat dengan ladunni, pemberian ilmu langsung dari Tuhan. Hampir semua wali memiliki ini, lebih-lebih yang di luar standar keilmuan yang digariskan.

 

Prinsip sufi sendiri berporos pada konsep Inna lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun. Tafsir Jalalain menyebut ucapan diatas sebagai istirja’ yang menurut hadits-hadits Abu Dawud  dibaca ketika terjadi sesuatu yang mengecewakan kaum muslim. Di tangan kaum sufi, konsep ini mengajarkan tentang tiga hal, bahwa manusia adalah milik Allah, dari Allah dan seharusnya menuju kepada Allah. Martin Lings menyebutnya sebagai direction consciousness (kesadaran terhadap arah), di mana arah kesadaran ini tiada lain adalah segalanya untuk Allah. Arah spiritual di mana konsentrasi batin ditujukan secara serius berkombinasi dengan konsentrasi lahir.

 

Dalam sufisme, kematian bukanlah keterputusan. Kematian adalah jalan terabas bagi para pendoa. Para peziarah tetap menjalin harmoni dengan rajin berdoa, bertawassul dan membaca quran di makam para kekasih Tuhan. Kematian adalah insiden Kosmik, namun menggambarkan kulminasi sebuah harmoni baru tentang hubungan antara manusia. Kematian ulama besar mengajarkan kepada kita agar kita juga selalu menuju kepada Allah. Orientasi hidup kaum muslim yang banyak melenceng justru merupakan bukti bahwa konsep kaum muslim hari ini hanya berporos pada Inna Lillah tapi tidak Wa Inna Ilaihi Rajiun. Banyak muslim mengakui prinsip berasal dari Allah tapi mengabaikan prinsip menuju Allah. []

 

* Penulis adalah Pengurus LTN MWC NU Kota Sumenep. Alumni Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar